NovelToon NovelToon
Aku, Kamu, Dan Takdir

Aku, Kamu, Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Kisah cinta masa kecil / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Persahabatan / Berbaikan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nita Karimah

Aldivano Athariz, pewaris keluarga religius yang memandang cinta sebagai ibadah, memilih jalan serius sejak awal hidupnya. Didikan orang tua yang tegas menjadikannya lelaki sholeh yang tak pernah melangkah tanpa niat dan tanggung jawab—termasuk saat takdir mempertemukannya kembali dengan Celine Chadia Cendana.
Di balik popularitasnya sebagai selebgram muda dengan jutaan pengikut, Celine menyimpan sisi liar yang tak banyak diketahui: balap motor dan kebebasan yang berseberangan dengan citra putri keluarga terpandang. Pertemuan mereka di arena balap menjadi awal dari rangkaian rahasia besar—sebuah pernikahan yang telah terjadi, namun disembunyikan dari Celine atas kesepakatan orang tua.
Saat kebenaran terungkap di tengah fase terpenting hidupnya, Celine merasa dikhianati dan memilih menjauh. Antara luka, kepercayaan, dan ikatan suci yang terlanjur terjalin, Aldivano dan Celine diuji oleh takdir.

Instagram: @itsmeita.aa_
Visualnya di ig author yaa🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita Karimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24 Berdamai

Berdamai dengan keadaan memang sulit, namun bukan berarti pahit.

—Celine Chadia Cendana—

Keesokan harinya, pagi di apartemen terasa berbeda.

Cahaya matahari yang masuk melalui jendela tak lagi terasa dingin seperti biasanya. Sinar itu jatuh di lantai putih seperti tangan lembut yang membelai pelan, seolah memberi isyarat bahwa sesuatu dalam dirinya telah berubah.

Celine berdiri di depan cermin.

Wajahnya tampak lebih tenang. Bukan karena semua sudah sempurna. Tetapi karena badai di dalam dadanya tak lagi mengamuk seperti malam-malam pertama.

Ia menyentuh cincin di jarinya.

Dulu, cincin itu terasa seperti simbol keputusan sepihak.

Kini, ia mulai melihatnya sebagai awal yang belum sempat ia pahami.

Perasaannya tidak lagi seperti kaca retak. Retakan itu masih ada, tetapi tak lagi tajam. Seperti tanah setelah hujan—lembek, namun siap ditanami kembali.

Ia menarik napas panjang.

Hari ini ia akan pulang.

Mobil yang membawanya memasuki halaman rumah keluarga Cendana terasa seperti mengantar seseorang kembali dari perjalanan jauh, meski jaraknya hanya beberapa kilometer.

Gerbang terbuka perlahan.

Rumah itu berdiri seperti biasa—megah, tenang, anggun. Namun bagi Celine, rumah itu tak lagi sekadar bangunan. Ia adalah tempat yang menyimpan pelajaran paling pahit sekaligus paling berharga.

Mommy Chailey sudah berdiri di depan pintu.

Seperti biasa.

Seperti seorang ibu yang tak pernah berhenti menunggu.

Saat Celine turun dari mobil, Mommy Chailey langsung memeluknya.

Pelukan itu terasa lebih lama dari biasanya. Lebih erat. Lebih dalam. Seperti seseorang yang takut kehilangan sesuatu yang sangat berharga.

“Mommy minta maaf,” bisiknya.

Celine menggeleng pelan di bahu ibunya.

“Celine juga minta maaf karena pergi tanpa benar-benar bicara panjang.”

Mommy Chailey menatap wajah putrinya. “Kamu tidak salah. Kamu hanya sedang menjaga hatimu.”

Kalimat itu terasa seperti pelukan kedua.

Di belakang, Daddy Caesar berdiri dengan wajah yang lebih lembut dari biasanya. Calvin melambaikan tangan, mencoba mencairkan suasana dengan senyum khasnya.

Namun ada satu sosok yang berdiri sedikit lebih jauh.

Aldivano.

Ia tak melangkah mendekat. Tak pula menunduk. Ia hanya berdiri, seperti seseorang yang menunggu keputusan tanpa ingin memaksa arah.

Tatapan mereka bertemu.

Dan untuk pertama kalinya sejak malam itu, Celine tidak mengalihkan pandangan.

Malamnya, keluarga berkumpul di ruang tengah.

Tidak ada dekorasi. Tidak ada kejutan.

Hanya percakapan yang jujur.

Celine duduk di sofa, tangannya saling bertaut di pangkuan.

“Aku ingin kita bicara,” ucapnya pelan.

Semua memperhatikannya.

“Aku tidak marah karena kalian menikahkanku. Aku marah karena aku merasa seperti tidak dipercaya untuk menghadapi kenyataan.”

Hening.

Kata-katanya tidak tajam, namun terasa seperti cermin yang memantulkan kejujuran.

Daddy Caesar mengangguk perlahan. “Kami salah dalam caranya.”

Ayah Aarash menambahkan, “Kami terlalu takut kehilanganmu waktu itu. Kami pikir dengan melindungimu, kami sudah melakukan yang terbaik.”

Celine menatap mereka satu per satu.

“Aku tahu niat kalian baik. Tapi aku bukan lagi anak kecil.”

Mommy Chailey tersenyum sendu. “Itulah yang paling sulit bagi seorang ibu untuk diterima.”

Ruangan itu dipenuhi kejujuran yang terasa seperti udara segar setelah hujan.

Tak ada pembelaan berlebihan. Tak ada tuduhan yang dilempar kembali.

Hanya pengakuan.

Dan pengakuan, sering kali, adalah awal penyembuhan.

Beberapa saat kemudian, Celine berdiri.

“Aku ingin bicara dengan Aldivano.”

Kalimat itu sederhana. Namun membuat jantung beberapa orang berdetak lebih cepat.

Mereka berjalan ke taman belakang.

Malam itu, langit bersih. Bulan menggantung seperti lentera yang digantung Allah di atas sana.

Angin berembus pelan, menggoyangkan dedaunan seperti bisikan yang tak terdengar jelas.

Mereka berdiri berhadapan.

Tak terlalu dekat. Tak terlalu jauh.

“Terima kasih sudah memberiku waktu,” ucap Celine lebih dulu.

Aldivano mengangguk. “Aku akan memberimu waktu sebanyak yang kamu butuhkan.”

Celine menatapnya dalam.

“Kenapa kamu yakin sekali bisa menungguku?”

Aldivano tersenyum tipis. “Karena sejak awal aku tidak menikahimu untuk memiliki. Aku menikahimu untuk menjaga.”

Jawaban itu tidak berlebihan. Tidak dramatis.

Namun terasa seperti tanah yang kokoh di bawah kaki.

Celine terdiam.

“Waktu itu,” lanjut Aldivano pelan, “aku melihatmu seperti seseorang yang hampir tenggelam. Dan aku hanya ingin menjadi tangan yang menarikmu ke permukaan. Aku tidak berpikir sejauh ini.”

Celine memandang bulan.

“Dan sekarang?”

“Sekarang,” jawabnya, “aku ingin kamu memilihku. Bukan karena situasi. Bukan karena keputusan keluarga. Tapi karena hatimu sendiri.”

Angin malam terasa lebih hangat.

Kalimat itu seperti pintu yang dibuka perlahan.

Selama ini, Celine merasa pernikahan itu adalah sesuatu yang terjadi padanya.

Namun malam itu, untuk pertama kalinya, ia merasa diberi pilihan.

Ia menatap Aldivano lagi.

“Kalau aku bilang… aku belum sepenuhnya siap menjadi istri dalam arti yang sesungguhnya?”

“Aku tidak pernah menuntutmu menjadi apa pun lebih cepat dari waktumu,” jawabnya tenang.

Jawaban itu seperti laut yang luas—tidak mendesak ombak untuk datang lebih cepat.

Celine tersenyum kecil.

Ia menyadari sesuatu.

Cinta tidak selalu datang dengan dentuman besar seperti petir.

Kadang ia tumbuh seperti akar pohon—perlahan, diam-diam, namun kuat.

Dan mungkin, selama ini, akar itu sudah ada.

Hanya saja ia terlalu sibuk dengan badai untuk menyadarinya.

Hari-hari setelah itu terasa berbeda.

Bukan karena semua tiba-tiba menjadi manis.

Namun karena kejujuran mulai menjadi fondasi baru.

Celine tak lagi tinggal di apartemen. Namun ia juga tak kembali sepenuhnya seperti dulu.

Ia dan Aldivano mulai berbicara lebih sering.

Tentang masa depan.

Tentang harapan.

Tentang ketakutan.

Tanpa tekanan.

Tanpa peran yang dipaksakan.

Suatu sore, mereka duduk di ruang kerja kecil.

“Apa kamu menyesal?” tanya Celine tiba-tiba.

Aldivano menoleh. “Menikahimu?”

Celine mengangguk pelan.

“Tidak pernah,” jawabnya mantap. “Aku hanya menyesal tidak menjelaskan semuanya lebih cepat.”

Celine terdiam.

Hatinya terasa seperti kain yang perlahan dijahit kembali—bekasnya mungkin tetap ada, namun tak lagi menganga.

Ia sadar, luka itu tidak akan hilang seketika.

Namun ia juga sadar, tidak semua luka harus dihindari.

Beberapa luka mengajarkan kita untuk melihat lebih dalam.

Dan mungkin—

inilah cara Allah membentuk kedewasaannya.

Bukan dengan jalan yang lurus tanpa rintangan.

Tetapi dengan belokan yang memaksanya berhenti, berpikir, dan memilih.

Suatu malam, Celine kembali berdiri di balkon rumah.

Langit dipenuhi bintang.

Namun kali ini, hatinya tidak lagi terasa gelap.

Ia memejamkan mata.

“Ya Allah… jika ini adalah takdir yang Engkau pilihkan, jadikan aku istri yang mampu mencintai dengan ikhlas. Bukan karena keadaan, tapi karena pilihan.”

Air matanya jatuh.

Namun bukan air mata kecewa.

Melainkan air mata yang terasa seperti hujan pertama setelah musim panjang.

Dan di belakangnya, tanpa ia sadari, Aldivano berdiri beberapa langkah.

Tidak mendekat.

Tidak mengganggu.

Hanya berdiri.

Seperti biasa.

Menunggu.

Dan untuk pertama kalinya, Celine tidak merasa terjebak dalam takdir.

Ia merasa sedang berjalan menuju sesuatu—

perlahan,

pasti,

dan atas keinginannya sendiri.

Seperti fajar yang tak pernah terburu-buru datang,

namun selalu tiba tepat waktu.

Dan mungkin,

inilah awal sebenarnya.

Bukan tentang rahasia.

Bukan tentang kecewa.

Melainkan tentang dua hati

yang akhirnya memilih

untuk berjalan bersama—

bukan karena dipaksa,

tetapi karena dipahami.

1
Nita
Aku terlalu takut untuk mendekat..dan aku terlalu takut untuk menjauh...karena ak jgu Diam-diam mencintaimu..
aku mencintaimu dalam Diam..Bukan karena aku pengecut..Karena aku sedang memantaskan diri agar sebanding denganmu...
dan percayalah Aku sangat mencintaimu...
Nita Karimah: wahhh... siapa nih??
total 1 replies
Ai_Li
Saya mampir kak
Ai_Li: Mampir juga ya kak🥰
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!