NovelToon NovelToon
Warisan Saudara Kembar

Warisan Saudara Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Janda
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Hero dan Awan adalah dua sisi mata uang yang berbeda. Hero begitu hangat dan penuh kasih, sementara Awan sedingin es dan tak tersentuh. Namun, maut merenggut Hero terlalu cepat, meninggalkan Jasmine yang sedang hamil muda dalam kehancuran.
Sebelum napas terakhirnya, Hero menitipkan "warisan" yang paling berharga kepada Awan: istri dan calon anaknya.
Kini, Jasmine harus terjebak satu atap dengan pria yang paling ia hindari. Awan yang ketus, kaku, dan sudah memiliki kekasih matre bernama Celine. Bagi Awan, menjaga Jasmine adalah beban wasiat yang menyebalkan. Bagi Jasmine, melihat wajah Awan adalah luka yang terus terbuka.
Di tengah duka dan tuntutan harta, mampukah Awan menjalankan wasiat kembarannya? Ataukah kebencian di antara mereka justru berubah menjadi benih cinta yang tak seharusnya ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3

Suara nyaring dari mesin patient monitor di ruang ICU berubah menjadi melodi yang paling menakutkan bagi Jasmine. Garis-garis hijau yang biasanya naik turun secara teratur, kini mulai mendatar dan melambat. Hero, pria yang selalu tersenyum itu, kini tampak sedang berjuang dalam pertarungan terakhir yang tidak mungkin ia menangkan.

Jasmine Aurora berdiri di samping ranjang dengan tubuh gemetar hebat. Air matanya sudah kering, menyisakan jejak asin di pipinya yang kuyu. Ia merasa dunianya runtuh. Dalam keputusasaan, ia mengambil ponselnya yang retak. Hanya satu nama yang bisa ia hubungi. Satu-satunya orang yang memiliki golongan darah dan wajah yang sama dengan suaminya.

Panggilan itu diangkat pada nada kedua.

"Kak Awan... ini... Mas Hero..." suara Jasmine tercekat, hanya isakan kecil yang sanggup keluar.

Di seberang sana, Awan yang sedang berada di tengah rapat direksi langsung berdiri hingga kursinya terpelanting ke belakang. Tanpa bertanya lebih lanjut, tanpa mempedulikan wajah bingung para koleganya, ia menyambar kunci mobilnya.

"Oke, gue kesana sekarang!" jawab Awan singkat. Suaranya rendah, namun ada getaran kepanikan yang tidak bisa ia sembunyikan.

Awan berlari menyusuri koridor rumah sakit seperti orang kesetanan. Saat ia masuk ke ruang ICU, pemandangan itu menghantam jantungnya. Jasmine sedang bersimpuh di samping ranjang, sementara tim medis mulai memeriksa alat-alat.

Awan mendekat, berdiri di sisi lain ranjang Hero. Ia melihat kembarannya perlahan membuka mata yang sayu. Hero seolah sengaja menunggu kehadiran Awan sebelum ia menyerah sepenuhnya. Dengan tenaga terakhir yang tersisa, Hero menggapai tangan Awan, mencengkeramnya dengan lemah namun penuh makna.

Hero memberikan kode agar Awan mendekatkan telinganya. Jasmine hanya bisa menatap dengan pandangan kabur oleh air mata.

Di sela napasnya yang pendek, Hero membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh Awan.

"Jaga dia lebih baik dari lo jaga diri lo sendiri, Wan. Jangan biarin dia nangis lagi karena gue... Janji sama gue, jangan pernah tinggalin dia sendirian."

Detik setelah kalimat itu selesai dibisikkan, genggaman tangan Hero melonggar. Bunyi panjang dari mesin monitor—sebuah nada tunggal yang statis—mengisi keheningan ruangan.

"Mas... Mas Hero! Nggak! Kamu jangan ninggalin aku!" Jasmine menjerit, memeluk tubuh Hero yang mulai mendingin. Ia mengguncang bahu suaminya, berharap keajaiban datang dan membuat pria itu kembali bangun untuk sekadar mengusap rambutnya.

Awan mematung. Matanya memanas, namun tidak ada air mata yang jatuh. Ia hanya menatap wajah kembarannya yang kini tampak sangat damai. Di sisi lain, kepalan tangannya mengeras. Ia baru saja menerima warisan yang paling berat dalam hidupnya: tanggung jawab atas kebahagiaan perempuan yang sedang menangis histeris di depannya.

Di luar ruang ICU, Celine berdiri dengan wajah yang sulit dibaca. Ia melihat melalui kaca kecil di pintu bagaimana drama kematian itu berlangsung. Alih-alih merasa sedih, hatinya justru dipenuhi amarah dan ketakutan akan posisinya yang terancam.

Ia mengepalkan tangan erat-erat hingga kukunya memutih. "Sialan, dia beneran mati!" batin Celine geram. "Sekarang Jasmine bakal terus-terusan nempel sama Awan dengan alasan wasiat. Gue nggak bakal biarin ini jadi jalan buat dia ngerebut harta Awan."

Celine pura-pura mengusap matanya saat beberapa kerabat mulai berdatangan, memasang topeng kesedihan yang sempurna di balik hatinya yang sekeras batu.

Hari pemakaman terasa begitu abu-abu. Tanah merah itu masih basah karena sisa hujan semalam. Jasmine, dengan balutan kerudung hitam, duduk bersimpuh di samping pusara yang masih bertabur bunga melati.

Ia mengelus nisan kayu yang bertuliskan nama suaminya. Hero Dirgantara.

"Kamu tega banget ninggalin aku..." bisik Jasmine tanpa suara. Air matanya jatuh satu per satu membasahi tanah. "Gimana aku bisa besarin anak kita sendirian, Mas? Aku takut..."

Di belakangnya, agak jauh dari kerumunan, Awan berdiri tegak dengan kacamata hitam yang menutupi matanya yang merah. Ia tidak mendekat, seolah memberikan ruang bagi Jasmine untuk mengucapkan selamat tinggal. Namun, pandangannya tidak sedetik pun lepas dari punggung ringkih perempuan itu.

Awan ingat betul kata-kata Celine tadi pagi yang memintanya segera mengurus pembagian warisan, dan itu membuatnya semakin muak. Di saat tanah kuburan saudaranya belum kering, Celine sudah memikirkan angka-angka.

Malam harinya, rumah Jasmine terasa begitu luas dan mencekam. Setiap sudut ruangan mengingatkannya pada Hero. Kursi goyang di teras, cangkir kopi yang masih ada di rak, hingga aroma parfum Hero yang masih tertinggal di bantal.

Jasmine tidak bisa tidur. Pukul dua dini hari, tenggorokannya terasa sangat kering. Ia bangkit dari tempat tidur dengan langkah gontai, berjalan menuju dapur untuk mengambil minum. Rumah itu gelap, hanya lampu ruang tengah yang dibiarkan remang-remang.

Namun, langkah Jasmine terhenti saat ia melihat sosok pria duduk diam di sofa ruang tamu. Pria itu memakai kaus hitam polos, kepalanya tertunduk dengan kedua tangan bertumpu pada lutut.

Jasmine sempat mengira itu adalah Hero. Jantungnya berdegup kencang karena harapan sesaat.

"Mas Hero?" panggilnya lirih.

Pria itu mendongak. Di bawah cahaya lampu yang minim, mata tajam dan dingin itu menatap Jasmine. Bukan Hero. Itu Awan.

"Loh, Kak Awan? Kok bisa... kamu ada di sini? Masuk lewat mana?" Jasmine bertanya dengan nada bingung sekaligus terkejut.

Awan berdiri perlahan. Ekspresinya masih sama—datar dan sulit ditebak. Ia merogoh saku celananya dan menunjukkan sebuah kunci cadangan.

"Gue punya kunci cadangan rumah ini dari dulu. Hero yang kasih," jawab Awan pendek. Suaranya yang berat memecah keheningan malam.

Jasmine memegang pinggiran meja untuk menahan tubuhnya yang lemas. "Kenapa Kakak belum pulang? Ini sudah tengah malam."

Awan berjalan mendekat, berhenti tepat beberapa langkah di depan Jasmine. Ia menatap perut Jasmine sejenak sebelum kembali menatap matanya.

"Gue udah bilang ke Hero kalau dia lebay karena nitipin lo ke gue. Tapi dia tetep keras kepala," ucap Awan dengan nada ketus yang khas, namun kali ini tidak ada kebencian di sana. "Mulai malam ini, gue bakal tinggal di sini. Di kamar tamu bawah."

Jasmine terbelalak. "Apa? Tapi Kak, ini nggak bener. Kita bukan... maksudku, apa kata orang nanti? Dan Celine?"

"Gue nggak peduli sama Celine atau orang lain," potong Awan tegas. "Gue cuma peduli sama janji gue ke Hero. Lo lagi hamil, Jasmine. Lo nggak bisa sendirian di rumah ini dengan kondisi mental lo yang berantakan kayak gini."

Awan melangkah melewati Jasmine menuju dapur, mengambilkan segelas air dan menyodorkannya pada perempuan itu.

"Minum. Lo pucat banget kayak mayat," ucapnya kasar, namun tindakannya memberikan air putih itu justru berbanding terbalik dengan ucapannya.

Jasmine menerima gelas itu dengan tangan gemetar. Ia tidak tahu apakah kehadiran Awan akan menjadi pelipur lara atau justru menjadi duri baru dalam hidupnya yang sudah hancur. Satu yang pasti, bayangan Awan yang duduk di kegelapan tadi terlihat sangat kesepian, sama kesepiannya dengan dirinya.

1
pdm
semangat lanjutkan💪
Reni Anjarwani
lanjutt thorrr
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut trs thor makin seru ceritanya
Reni Anjarwani
lanjut thorr
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up thor
Siti Dede
Ungkapin aja atuh Waaan...daripada senewen nggak keruan
pdm
aduh ini potongan bwg merahny bikin mata berair/Cry//Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!