Demi melunasi hutang ayahnya, Aluna Maheswari terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arkan Wijaya — CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh wanita mana pun. Pernikahan itu hanya sandiwara selama satu tahun. Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Tanpa perasaan. Namun siapa sangka, di balik sikap dinginnya, Arkan menyimpan luka masa lalu yang kelam. Dan Aluna… adalah satu-satunya wanita yang perlahan mencairkan hatinya. Masalahnya, mantan tunangan Arkan kembali. Dan rahasia besar tentang kematian ibu Arkan mulai terungkap. Kontrak mereka mungkin hanya satu tahun. Tapi perasaan? Tidak ada tanggal kedaluwarsa.
Warisan yang Tidak Pernah Diminta
Langit masih gelap ketika mobil yang membawa Aluna berhenti di depan sebuah bangunan tanpa papan nama di pinggir kota. Tidak ada logo. Tidak ada tanda resmi. Hanya gerbang baja tinggi dan kamera di setiap sudut.
“Tempat aman?” Aluna bertanya pelan.
Direktur Surya mengangguk singkat. “Untuk sementara.”
Arkan turun lebih dulu, lalu membuka pintu untuk Aluna. Sentuhan tangannya hangat, kontras dengan hawa dingin yang merayap di dada Aluna sejak tadi malam.
Calon Ketua Konsorsium.
Kata-kata itu masih bergema di kepalanya.
“Apa kau tahu soal itu?” Aluna bertanya tanpa menatap Arkan.
Arkan tidak langsung menjawab.
“Aku tahu mereka punya sistem suksesi internal,” katanya akhirnya. “Tapi aku tidak pernah tahu namamu ada di dalamnya.”
“Tidak pernah tahu… atau tidak pernah bilang?”
Arkan menatapnya dalam. “Aku bersumpah, bagian itu bukan sesuatu yang kusembunyikan.”
Keheningan tipis jatuh di antara mereka.
Gerbang terbuka perlahan. Mereka masuk.
Di dalam, bangunan itu jauh lebih besar dari yang terlihat dari luar. Lorong panjang dengan dinding kaca tebal dan pintu otomatis. Beberapa orang berseragam formal berjalan cepat, memberi hormat singkat pada Direktur Surya.
Aluna merasa seperti masuk ke dunia lain.
Ruang interogasi. Ruang analisis. Laboratorium forensik.
Semua nyata.
Semua berbahaya.
“Kita mulai dengan tes konfirmasi,” kata Surya sambil memberi isyarat pada seorang dokter wanita berkacamata tipis.
Aluna duduk di kursi laboratorium. Tangannya sedikit gemetar ketika jarum kecil menusuk kulitnya.
Sampel darah diambil.
Retina dipindai.
Sidik jari direkam.
Semua berlangsung cepat, profesional, tanpa banyak bicara.
Arkan berdiri tidak jauh darinya, memperhatikan setiap gerakan dengan tegang.
“Berapa lama hasilnya keluar?” tanya Aluna.
“Beberapa jam,” jawab dokter itu.
Beberapa jam.
Waktu yang terasa seperti hukuman.
⸻
Mereka dipindahkan ke ruang tunggu khusus. Dinding kaca memperlihatkan kota dari kejauhan. Matahari mulai terbit, tapi cahaya paginya terasa asing.
“Apa yang akan terjadi kalau hasilnya positif?” Aluna bertanya.
Surya menyilangkan tangan. “Artinya kau benar-benar pewaris darah pendiri. Sistem inti Konsorsium hanya bisa diakses olehmu.”
“Untuk membubarkannya?”
“Secara teknis, ya.”
Arkan menatap Surya tajam. “Secara teknis?”
Surya balas menatapnya. “Atau mengambil alihnya.”
Kata-kata itu jatuh seperti batu ke air yang tenang.
Aluna menggeleng pelan. “Aku tidak ingin kekuasaan.”
Surya tersenyum tipis. “Kekuasaan tidak peduli apakah kau menginginkannya atau tidak.”
Keheningan kembali turun.
Ponsel Arkan bergetar. Ia melihat layar sekilas, lalu wajahnya menegang.
“Apa?” Aluna langsung waspada.
“Mereka bergerak lebih cepat dari dugaan kita.”
“Siapa?”
“Konsorsium.”
Surya mendekat. “Apa maksudmu?”
Arkan menunjukkan layar ponselnya.
Berita daring baru saja muncul.
Rapat Darurat Pemegang Saham Wijaya Group Hari Ini.
“Ini jebakan,” Arkan berkata pelan.
Aluna membaca cepat isi berita itu. Agenda utama: pengumuman restrukturisasi kepemimpinan.
Namanya disebut.
Sebagai kandidat.
Tanpa persetujuannya.
“Aku bahkan belum…” napasnya tercekat.
“Mereka ingin mengikatmu secara hukum sebelum hasil tes keluar,” Surya menyimpulkan.
“Kalau publik tahu dia kandidat, tekanan akan besar,” Arkan menambahkan. “Dan jika nanti terbukti benar, mereka bisa mengklaim semuanya adalah proses suksesi sah.”
Aluna menatap keduanya.
“Jadi aku hanya pion?”
“Tidak,” Arkan berkata tegas. “Kau target.”
⸻
Beberapa jam terasa seperti bertahun-tahun.
Akhirnya dokter tadi kembali.
Wajahnya serius.
Aluna berdiri.
“Bagaimana hasilnya?”
Dokter itu menyerahkan tablet pada Surya.
Surya membaca dalam diam.
Rahangnya menegang.
Arkan mendekat.
“Surya?”
Beberapa detik yang terasa tak berujung.
Lalu Surya mengangkat wajahnya.
“Hasil DNA cocok.”
Dunia berhenti.
“Kau memiliki kecocokan 99,98% dengan profil genetik pendiri utama Konsorsium.”
Aluna merasa kakinya goyah.
“Pendiri… utama?”
Surya mengangguk. “Bukan salah satu.”
“Yang utama.”
Keheningan membeku ruangan.
Arkan mundur setengah langkah.
“Itu berarti…”
“Berarti secara hukum internal mereka,” Surya melanjutkan, “kau bukan hanya pewaris.”
Ia menatap Aluna lurus.
“Kau pemilik sah sistem inti.”
Napas Aluna tercekat.
Semua ini terlalu besar.
Terlalu cepat.
“Ayahku tahu?” tanyanya pelan.
Surya mengangguk pelan. “Kemungkinan besar. Dan itulah sebabnya dia mengadopsimu secara legal—untuk menyembunyikan identitas aslimu.”
“Siapa orang tua kandungku?” suara Aluna hampir tidak terdengar.
Ruangan itu sunyi.
Surya tidak langsung menjawab.
Arkan memperhatikan reaksinya.
“Ada apa?” Arkan bertanya.
Surya menghela napas panjang.
“Data orang tua biologismu dikunci di server utama Konsorsium.”
“Jadi kita harus mengaksesnya,” Arkan menyimpulkan.
“Dan hanya dia yang bisa membuka,” Surya menatap Aluna.
Semua mata tertuju padanya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Aluna merasa bukan sekadar korban keadaan.
Ia adalah pusat badai.
⸻
Beberapa jam kemudian, mereka berada di ruang operasi taktis.
Layar besar menampilkan peta gedung pusat Konsorsium.
“Rapat darurat akan berlangsung malam ini,” Surya menjelaskan. “Jika Aluna hadir dan sistem mengenalinya, itu akan mengunci validasi biometrik.”
“Dan kalau tidak hadir?” Aluna bertanya.
“Mereka akan menciptakan narasi bahwa kau menolak tanggung jawab,” Surya menjawab. “Lalu mereka akan mencari cara memaksakan akses.”
Arkan menoleh pada Aluna.
“Kau tidak harus melakukan ini.”
Aluna menatapnya lama.
“Kalau aku tidak melakukannya, mereka akan terus memburu.”
Arkan tidak membantah.
“Kalau aku melakukannya,” Aluna melanjutkan, “aku ingin tahu semuanya.”
Surya mengangguk.
“Maka malam ini, kita tidak hanya datang sebagai tamu.”
Ia memperbesar tampilan layar.
“Kita datang untuk membuka kebenaran.”
⸻
Sore menjelang malam ketika mobil hitam berhenti di depan gedung pusat Konsorsium.
Bangunan tinggi dengan kaca gelap memantulkan cahaya kota.
Aluna turun perlahan.
Setiap langkah terasa berat.
Arkan berjalan di sampingnya.
“Masih bisa mundur,” katanya pelan.
Aluna menatap pintu utama di depan mereka.
“Tidak lagi.”
Pintu terbuka otomatis.
Ruang lobi megah menyambut mereka.
Beberapa pria dan wanita berpakaian formal menoleh serempak.
Bisikan mulai terdengar.
“Itu dia.”
“Dia benar-benar datang.”
Di ujung ruangan, seorang pria tua berdiri dengan tongkat perak di tangannya.
Cincin perak berkilau di jarinya.
Pria yang tadi malam menonton dari kejauhan.
Ia tersenyum tipis.
“Selamat datang, Nona Aluna.”
Suaranya tenang. Berwibawa.
Namun ada sesuatu yang membuat jantung Aluna mencelos.
“Aku sudah menunggumu sangat lama.”
Arkan berdiri sedikit di depan Aluna.
“Siapa dia?” bisik Aluna.
Pria tua itu tertawa kecil.
“Oh, Arkan. Kau belum memberitahunya?”
Ia melangkah mendekat.
“Perkenalkan. Aku Adrian Pratama.”
Nama itu membuat Surya—yang berjalan beberapa langkah di belakang—langsung membeku.
“Pendiri yang… menghilang,” Surya berbisik.
Adrian tersenyum puas.
“Tidak menghilang. Hanya menunggu.”
Ia menatap Aluna dalam.
“Kau sangat mirip ibumu.”
Darah Aluna membeku.
“Ibuku?”
Adrian mengangguk pelan.
“Putriku.”
Dunia runtuh.
“Apa?” suara Aluna pecah.
Arkan menatap Adrian dengan tajam.
“Kau mengatakan…”
“Ya,” Adrian memotong tenang. “Aluna adalah cucuku.”
Keheningan memekakkan telinga.
“Tidak mungkin,” Aluna mundur satu langkah.
“Putriku melarikan diri bertahun-tahun lalu,” Adrian melanjutkan seolah sedang menceritakan cuaca. “Ia menolak sistem yang kubangun. Ia membawa bayi kecilnya dan menghilang.”
Napas Aluna tercekat.
“Ayah angkatmu menemukanmu. Dan sisanya… sejarah.”
Arkan menggenggam tangan Aluna tanpa sadar.
Adrian tersenyum tipis.
“Sekarang kau kembali.”
“Aku tidak kembali,” Aluna berbisik.
“Kau datang ke rumahmu.”
Suasana ruangan berubah tegang.
Para anggota Konsorsium berdiri diam, menyaksikan momen yang terasa seperti pengukuhan takdir.
Adrian mengangkat tangannya.
“Rapat akan segera dimulai. Dan malam ini…”
Tatapannya tajam.
“Kita akan menentukan masa depan.”
Aluna menatap pria tua itu.
Kakek biologisnya.
Pendiri utama.
Dalang di balik semua kekacauan.
Namun sebelum ia sempat berbicara—
Lampu di seluruh gedung tiba-tiba padam.
Gelap total.
Teriakan terdengar.
Layar-layar mati.
Beberapa detik kemudian, generator darurat menyala, namun sistem utama tidak kembali aktif.
Surya menatap Arkan.
“Bukan kita.”
Arkan mengangguk.
Wajah Adrian berubah.
“Siapa yang berani—”
Suara baru terdengar melalui pengeras suara.
Suara yang sangat dikenal.
Raisa.
“Halo, Tuan Adrian.”
Semua orang membeku.
“Kau pikir hanya kau yang punya rencana cadangan?” suara Raisa terdengar dingin. “Fase terakhir dimulai sekarang.”
Layar besar di aula menyala kembali.
Menampilkan dokumen rahasia.
Rekening tersembunyi.
Transaksi ilegal.
Nama-nama pejabat tinggi.
Wajah Adrian menegang.
Raisa muncul di layar.
Masih mengenakan pakaian tahanan.
Namun tersenyum.
“Terima kasih, Aluna,” katanya pelan. “Tanpa kehadiranmu, sistem takkan terbuka.”
Aluna membeku.
“Apa maksudnya?”
Arkan menatap layar dengan ngeri.
“Begitu retina dan DNA-nya terverifikasi saat masuk gedung…”
Surya menyelesaikan kalimat itu.
“Sistem inti aktif.”
Dan ternyata—
Raisa tidak pernah sepenuhnya kalah.
Ia hanya menunggu.
Menunggu Aluna membuka pintu yang selama ini terkunci.
Lampu berkedip.
Alarm mulai berbunyi.
Di tengah kekacauan itu, Adrian menatap Aluna dengan mata penuh amarah.
“Kau menghancurkan semuanya.”
Aluna gemetar.
“Aku bahkan tidak tahu apa yang kubuka.”
Di layar, Raisa tersenyum tipis.
“Sekarang kau tahu siapa dirimu sebenarnya.”
Dan dengan satu kalimat terakhir, ia membuat darah Aluna membeku.
“Selamat datang di permainan sesungguhnya, Ketua.”
END BAB 21 🔥