Demi menyelamatkan perusahaan ayahnya, Alina menerima pernikahan kontrak dengan pewaris konglomerat yang dingin dan kejam. Di mata semua orang, ia hanyalah wanita murahan yang menikah demi uang.
Tak ada yang tahu, Alina sebenarnya pewaris keluarga finansial terbesar yang sengaja menyembunyikan identitasnya.
Saat kontrak hampir berakhir dan rahasianya terbongkar, sang suami justru jatuh cinta. Kini, ketika kebenaran terungkap siapa yang sebenarnya sedang mempermainkan siapa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laskar Bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan Tanpa Wajah
Peringatan Daniel ternyata bukan sekadar kekhawatiran seorang mantan CEO yang kehilangan kursi.
Tiga hari setelah pertemuan itu, badai benar-benar datang.
Bukan dalam bentuk artikel anonim lagi.
Melainkan laporan resmi.
Pagi itu, ketika Alina baru saja duduk di ruangannya, ponselnya bergetar terus-menerus. Notifikasi dari tim hukum, dari Arsen, dari sekretarisnya.
Judul berita di layar membuat jantungnya berdegup sedikit lebih keras.
Otoritas Keuangan Membuka Investigasi Awal terhadap Proyek Energi Ardhana Aurora di Vietnam.
Alina membaca cepat.
Investigasi atas dugaan pelanggaran perizinan lingkungan proyek yang baru saja mereka ambil alih dari Aurora.
Waktunya terlalu tepat.
“Ini tidak kebetulan,” gumamnya.
Arsen masuk tanpa mengetuk, wajahnya tegang.
“Tim hukum sudah menghubungi otoritas. Ini laporan lama yang tiba-tiba diangkat kembali.”
“Tuduhan lama?” tanya Alina.
Arsen mengangguk. “Sudah pernah ditinjau dua tahun lalu dan dinyatakan memenuhi standar. Tapi sekarang dibuka lagi.”
Alina berdiri perlahan.
Jadi inilah serangan yang dimaksud Daniel.
Bukan menyerang langsung.
Melainkan memukul dari belakang, melalui jalur hukum dan opini publik.
Siang itu, rapat darurat digelar.
Tim hukum memaparkan kronologi.
“Dokumen perizinan lengkap,” jelas kepala divisi hukum. “Audit internal kita juga tidak menemukan pelanggaran.”
“Tapi?” tanya Alina.
“Investigasi publik tetap akan memengaruhi reputasi.”
Arsen menambahkan, “Pasar tidak peduli apakah kita salah atau tidak. Mereka peduli pada persepsi risiko.”
Alina mengangguk pelan.
“Baik,” katanya akhirnya. “Kita tidak defensif. Kita kooperatif penuh.”
Beberapa orang terkejut.
“Artinya?” tanya salah satu direktur.
“Kita buka semua data. Semua proses. Bahkan lebih dari yang diminta.”
“Tapi itu berisiko membuka celah lain.”
Alina menatapnya tenang.
“Jika kita bersih, tidak ada yang perlu disembunyikan.”
Ruang rapat terdiam.
Sore hari, saham perusahaan turun tipis.
Tidak drastis, tapi cukup untuk menimbulkan gelombang pertanyaan dari investor.
Media mulai mengaitkan investigasi itu dengan artikel anonim sebelumnya.
Narasi mulai terbentuk: apakah pembersihan internal hanya kedok untuk menyembunyikan masalah yang lebih besar?
Alina membaca satu per satu komentar publik.
Beberapa menyindir.
Beberapa meragukan.
Namun ada juga yang mendukung, menyebut langkah transparansi sebelumnya sebagai alasan untuk tetap percaya.
Ia memejamkan mata sejenak.
Ini bukan lagi soal menyerang atau bertahan.
Ini soal konsistensi.
Malamnya, rumah terasa lebih sunyi dari biasanya.
Arsen berdiri di dapur, menuangkan air mineral ke dalam gelas.
Alina duduk di sofa, masih memegang tablet.
“Kau tidak berhenti sejak pagi,” katanya pelan.
“Aku tidak bisa.”
Arsen duduk di seberangnya.
“Alina.”
Ia menatapnya.
“Kau tidak bertanggung jawab atas kesalahan lama Aurora.”
“Aku bertanggung jawab atas nama perusahaan sekarang,” jawabnya tegas.
Arsen menghela napas.
“Apa kau percaya ini murni soal proyek Vietnam?”
Alina menggeleng.
“Ini pesan.”
“Dari siapa?”
“Orang-orang yang keluar dari dewan.”
Keheningan menyelimuti ruangan.
“Mereka ingin menunjukkan bahwa kita tidak kebal,” lanjutnya.
Arsen menatapnya lama.
“Dan apakah kita kebal?”
Alina tersenyum tipis.
“Tidak. Tapi kita tidak rapuh.”
Keesokan harinya, Alina mengadakan konferensi pers dadakan.
Beberapa penasihat menyarankan untuk menunggu hasil investigasi.
Namun ia tahu, diam akan diartikan sebagai kelemahan.
Di podium yang sama dengan saat pengumuman merger, ia berdiri dengan wajah tenang.
“Kami menyambut baik investigasi ini,” katanya jelas. “Kami akan bekerja sama sepenuhnya dan membuka seluruh data proyek kepada otoritas terkait.”
Seorang wartawan bertanya tajam, “Apakah ini bukti bahwa merger dilakukan terlalu cepat tanpa due diligence memadai?”
Alina menatapnya langsung.
“Justru karena kami melakukan due diligence menyeluruh, kami yakin proyek ini memenuhi standar.”
Nada suaranya tidak meninggi.
Namun ada ketegasan yang membuat ruangan hening.
“Kami tidak takut pada pemeriksaan,” lanjutnya. “Kami takut pada ketidakjujuran. Dan itu bukan bagian dari perusahaan ini.”
Konferensi pers itu disiarkan langsung.
Reaksi pasar beragam, tapi penurunan saham mulai melambat.
Sore itu, saat kembali ke ruangannya, Arsen menunggunya.
“Kau memotong narasi sebelum mereka bisa membesarkannya,” katanya.
Alina melepas heels-nya, duduk di kursi.
“Aku tidak ingin kita terlihat seperti sedang bersembunyi.”
Arsen tersenyum tipis.
“Kau tahu, beberapa tahun lalu, aku mungkin akan memilih pendekatan berbeda.”
“Lebih defensif?”
“Lebih agresif.”
Alina tertawa kecil.
“Kita berubah.”
Arsen mengangguk.
“Karena sekarang yang kita lindungi bukan hanya posisi. Tapi nilai.”
Namun malam itu, sebuah pesan anonim masuk ke email pribadinya.
Bukan ke email perusahaan.
Isinya singkat.
Investigasi hanyalah awal. Mundur sekarang sebelum lebih banyak yang terungkap.
Alina menatap layar itu lama.
Tidak ada tanda pengirim.
Tidak ada detail tambahan.
Hanya ancaman samar.
Arsen melihat perubahan ekspresinya.
“Apa?”
Alina menyerahkan ponselnya.
Ia membaca pesan itu tanpa berkata apa-apa.
“Ini intimidasi,” katanya akhirnya.
“Ya.”
“Dan mereka pikir kau akan mundur?”
Alina berdiri, berjalan ke jendela.
Kota di luar tetap terang.
Orang-orang tetap hidup seperti biasa.
Hanya ia yang tahu betapa rapuhnya posisi di puncak.
“Aku tidak akan mundur,” katanya pelan.
Arsen mendekat.
“Tapi kita harus hati-hati.”
Alina menoleh.
“Aku sudah terlalu jauh untuk berhenti.”
Ia teringat semua yang telah ia lewati.
Tatapan meremehkan.
Kontrak dingin.
Perang saham.
Pengkhianatan dewan.
Jika ia menyerah sekarang, semua itu sia-sia.
Arsen menggenggam tangannya.
“Kita hadapi bersama.”
Alina tersenyum tipis.
Serangan tanpa wajah memang lebih menakutkan.
Karena kau tidak tahu dari mana datangnya.
Namun satu hal kini pasti ia tidak lagi sendirian.
Dan jika mereka ingin menggoyangnya melalui ketakutan mereka salah memilih sasaran.
Karena Alina mungkin pernah dianggap lemah.
Tapi sekarang, bahkan bayangan pun tidak cukup untuk membuatnya mundur.
(BERSAMBUNG)