Pembalasan Item Surgawi
"Sampah tidak berguna." Itulah julukan bagi Tian Feng. Di saat murid lain bertaruh nyawa demi setetes energi kultivasi, Feng justru memilih tidur malas sebagai pelayan di Paviliun Pengobatan.
Namun, dunia tidak tahu bahwa Feng menyembunyikan rahasia besar: Ia adalah keturunan terakhir Aliran Tao Terlarang yang diburu seluruh dunia.
Dengan bantuan Perkamen Alkimia Arus Balik, Feng mengambil jalan pintas mematikan. Ia bisa menjadi kuat dalam semalam tanpa latihan! Tapi, surga tidak memberi cuma-cuma. Setiap kekuatan instan menciptakan Hutang Karma—sebuah "penagihan" nyawa yang datang dalam bentuk petir bencana dan musuh-musuh haus darah.
Demi menyembunyikan identitasnya, Feng rela difitnah sebagai "Kelinci Percobaan Medis" yang sekarat. Namun, saat segel giok di dadanya retak dan para Tetua mulai mengincarnya, si pemalas ini terpaksa bangun.
Satu pil untuk menghancurkan pedang jenius. Satu teknik untuk membungkam langit.
Mampukah Tian Feng melunasi hutang karmanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: PIL PEMBALIK NAPAS
Asap hitam pekat berbau belerang memenuhi ruang bawah tanah Paviliun Pengobatan. Tian Feng terbatuk, wajahnya coreng-moreng oleh jelaga. Di depannya, sebuah kuali perunggu kecil bergetar hebat di atas api biru yang bersumber dari arang kayu kuno.
"Tahan suhunya, Feng! Jangan biarkan apinya menyentuh dinding dalam kuali!" bentak Guru Lin yang berdiri di sudut ruangan dengan masker kain tebal menutupi hidungnya.
Feng menggertakkan gigi, telapak tangannya memancarkan cahaya hijau tipis yang ia tekan sekuat tenaga agar tidak meledak keluar. Ia sedang mempraktikkan Teknik Pernapasan Tungku Kosong. Energinya tidak lagi dibiarkan meluap, melainkan diputar di dalam meridiannya sendiri untuk mengontrol panas kuali secara presisi.
"Pil ini... kenapa lebih sulit dibuat daripada menahan serangan Lu Chen?" keluh Feng dengan napas memburu.
"Karena kau sedang mencoba memadatkan racun karma dan esensi obat menjadi satu," jawab Guru Lin datar. "Pil Pembalik Napas bukan untuk menyembuhkan. Ia akan menciptakan ilusi bahwa kau sedang mengalami kegagalan kultivasi yang parah. Saat lawan menyentuhmu, energi mereka akan tersedot ke dalam 'kekosongan' yang diciptakan pil ini dan berbalik menghantam organ dalam mereka sendiri."
KLANG!
Tutup kuali melonjak kecil. Sebuah aroma manis yang memuakkan tercium. Feng segera menarik energinya dan terduduk lemas di lantai yang dingin. Di dalam kuali, terdapat tiga butir pil berwarna ungu gelap dengan urat-urat merah darah yang berdenyut pelan.
Pesan Sistem: Produksi Item Terlarang Berhasil. Hutang Karma meningkat: 5%.
"Hanya lima persen? Surga mulai murah hati," gumam Feng sambil menyeka keringat di lehernya. Ia meraba liontin gioknya yang kini terasa hangat, seolah memberikan persetujuan atas tindakannya.
"Simpan pil itu baik-baik. Jangan gunakan kecuali kau benar-benar terdesak di arena," Guru Lin mendekat, mengambil satu butir pil dan memeriksanya. "Hutang karma yang kau tanam di pil ini sangat pekat. Jika kau menelannya, kau akan merasakan sakit yang luar biasa selama satu jam sebelum efeknya aktif."
"Sakit adalah teman baru saya, Guru. Saya sudah terbiasa," jawab Feng sambil memasukkan pil-pil itu ke dalam botol giok kecil.
Keesokan harinya, suasana di Puncak Awan Putih mulai memanas. Murid-murid dari berbagai klan mulai berdatangan. Bendera-bendera besar dengan lambang Klan Lu dan Klan Han berkibar di sepanjang jalur menuju arena utama.
Feng sedang berjalan menuju gudang penyimpanan bahan obat saat ia dicegat oleh tiga murid dari Puncak Disiplin. Mereka bukan Lu Chen, melainkan pengikutnya yang ingin mendapatkan hadiah sepuluh ribu batu roh lebih awal.
"Hei, Tikus Lab! Aku dengar kepalamu dihargai sangat mahal," ujar salah satu murid bertubuh tinggi dengan bekas luka di pipinya. Ia menarik pedang kayu yang telah diperkuat dengan energi besi.
Feng berhenti melangkah, wajahnya kembali ke mode malas yang sempurna. Ia menguap lebar sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ah, sepuluh ribu batu roh lagi. Kalian orang kaya benar-benar tidak punya cara lain untuk menghabiskan uang? Kenapa tidak kalian sumbangkan saja ke panti asuhan atau beli bakpao untuk warga kota?"
"Jangan banyak bicara! Serahkan satu tanganmu, dan kami akan membiarkanmu merangkak kembali ke gubukmu!" Murid itu menerjang maju.
Pedang kayunya melesat cepat menuju bahu kiri Feng. Namun, kali ini Feng tidak menggunakan Langkah Bayangan Mabuk yang mencolok. Ia hanya memiringkan tubuhnya sedikit, membiarkan pedang itu lewat hanya beberapa milimeter dari bajunya.
Mata Naga Pengintai: Aktif.
Dunia di mata Feng berubah. Ia melihat aliran Qi murid di depannya terkumpul di lengan kanan, namun pertahanan di bagian ulu hatinya sangat rapuh.
Feng melangkah maju, tangannya bergerak seperti kilat. Bukan pukulan berat, melainkan sentuhan dua jari ke arah ketiak lawan.
"Aduh!" Murid itu berteriak. Tangannya mendadak lemas, pedangnya jatuh berdenting ke lantai batu. "Apa yang kau lakukan? Tanganku... kenapa tidak bisa digerakkan?"
"Hanya sedikit penyumbatan pembuluh darah," kata Feng santai. "Mungkin kau kurang olahraga pagi."
Dua murid lainnya geram dan menyerang bersamaan. Feng bergerak dengan efisiensi yang menakutkan. Ia tidak memukul, ia hanya "menggeser" serangan mereka. Saat pukulan lawan datang, ia menggunakan energi lawan untuk menjatuhkan lawan yang lain. Dalam hitungan detik, ketiga murid itu tergeletak di tanah dengan posisi tubuh yang aneh.
"Dengar," Feng berjongkok di samping murid yang tadi menyerangnya pertama kali. "Katakan pada Lu Chen. Jika dia ingin mengambil anggota tubuhku, suruh dia datang sendiri. Dan beritahu dia, sepuluh ribu batu roh itu... akan menjadi biaya pengobatannya nanti."
Feng berdiri dan berjalan pergi, meninggalkan ketiga murid itu yang masih mengerang bingung. Ia tahu bahwa mulai saat ini, tidak ada lagi jalan untuk bersembunyi.
Sore harinya, Guru Lin memanggil Feng ke paviliun utama. Wajah pria tua itu tampak lebih tegang dari biasanya.
"Ada apa, Guru? Apa stok telur kita habis?" tanya Feng mencoba mencairkan suasana.
"Tetua Lu baru saja mengeluarkan perintah baru. Hari pertama turnamen, kau tidak akan diundi secara acak," Guru Lin menatap Feng dengan tatapan tajam. "Kau akan langsung ditempatkan di arena 'Sepuluh Serigala'."
Feng mengerutkan kening. "Sepuluh Serigala? Itu arena di mana satu orang harus bertahan melawan sepuluh penantang sekaligus untuk bisa lolos ke babak berikutnya?"
"Benar. Dan Lu Chen telah memastikan sepuluh orang itu adalah murid-murid terbaik dari faksi Lu yang ingin melihatmu mati."
Feng terdiam sejenak. Ia meraba botol pil di pinggangnya, lalu melihat ke arah tangannya yang kini memiliki otot-otot yang lebih padat berkat latihan berat selama beberapa minggu terakhir.
"Sepuluh orang ya? Berarti sepuluh kali lipat kesempatan untuk membuat mereka bangkrut," Feng tersenyum tipis. "Guru, siapkan kantong besar. Kita akan butuh tempat untuk menyimpan semua batu roh yang akan kita menangkan dari taruhan ini."
Guru Lin mendengus, namun ada sedikit rasa bangga di matanya. "Jangan mati, Feng. Jika kau mati, siapa yang akan mengaduk sup bau kakiku setiap pagi?"
"Saya akan tetap hidup, Guru. Menjadi mayat itu terlalu melelahkan."
Malam itu, Puncak Awan Putih bersinar terang oleh ribuan lampion. Turnamen Awan Berdarah akan dimulai saat fajar menyingsing. Di kamarnya, Tian Feng menelan satu butir Pil Pembalik Napas.
Seketika, rasa sakit seperti ribuan jarum yang membara menusuk seluruh tubuhnya. Feng menggertakkan gigi hingga berdarah, menahan diri agar tidak berteriak. Ia merasakan energinya mulai terbalik, menciptakan pusaran hampa di dalam Dantiannya.
Status: Efek Pil Pembalik Napas Aktif. Waktu tersisa: 12 Jam.
"Mari kita mulai permainannya, Lu Chen," bisik Feng di tengah derita panasnya. "Pembalasannya... akan sangat mahal."