NovelToon NovelToon
BERHENTI MENCINTAIKU YANG RAPUH

BERHENTI MENCINTAIKU YANG RAPUH

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:740
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Bagiku, mencintaimu adalah anugerah terindah. Namun, membiarkanmu terus berjuang untukku yang hampir mati adalah sebuah dosa."
Arini tahu hidupnya tidak lama lagi. Di saat Rangga datang membawa cincin dan janji masa depan, Arini justru memilih untuk menghancurkan hati laki-laki itu. Ia ingin Rangga pergi, mencari wanita yang lebih sehat, dan hidup bahagia tanpa beban dirinya.
Namun, Rangga bukanlah pria yang mudah menyerah. Semakin Arini mengusir, semakin erat Rangga menggenggam.
"Aku tidak butuh masa depan tanpa kamu, Rin. Kalau kamu bilang kamu rapuh, maka biarkan aku hancur bersamamu."
Bisakah cinta yang sekarat menang melawan takdir yang kejam? Ataukah perjuangan Rangga hanya akan berakhir pada nisan yang dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: Cahaya di Balik Jeruji Tak Kasat Mata

BAB 24: Cahaya di Balik Jeruji Tak Kasat Mata

Ambulans itu melaju membelah kegelapan malam, menyusuri jalanan pesisir yang sepi dan berkabut. Di dalamnya, Rangga duduk di samping ranjang tandu, matanya tak pernah lepas dari monitor hemodinamik yang memantau kondisi Arini. Mesin itu mengeluarkan bunyi ritmis yang menjadi satu-satunya sumber ketenangan bagi Rangga di tengah badai masalah yang mengepungnya.

"Kita akan aman, Rin. Sedikit lagi," bisik Rangga sambil merapikan selimut Arini.

Arini menatapnya dengan sayu. Ia masih terlalu lemah untuk banyak bicara, namun genggaman tangannya pada jari Rangga menunjukkan bahwa ia memercayai pria itu sepenuhnya. Arini telah menyerahkan nyawanya ke dalam tangan Rangga, dan Rangga telah bersumpah untuk menjaganya, bahkan jika ia harus kehilangan nyawanya sendiri.

Rumah rahasia itu terletak di sebuah perkebunan teh yang terisolasi di daerah perbukitan Jawa Tengah. Rangga telah mengubah villa tua milik mendiang kakeknya—satu-satunya aset yang tidak diketahui oleh Ibu Sarah—menjadi sebuah fasilitas medis mini. Ada perawat pribadi dan Dokter Bram yang sudah ia bawa serta dengan jaminan keamanan total.

Setelah Arini berhasil dipindahkan ke kamar yang jauh lebih hangat dan nyaman, Rangga tidak lantas beristirahat. Ia melangkah ke ruang depan, di mana Maya sudah menunggu dengan setumpuk berkas dan sebuah laptop yang menyala.

"Pak Rangga, informan kita baru saja mengirimkan koordinat pasti panti jompo itu," ujar Maya dengan nada rendah. "Namanya Panti Jompo Kasih Abadi. Letaknya sangat terpencil di kaki Gunung Slamet. Masalahnya, panti itu secara administratif berada di bawah yayasan yang berafiliasi dengan Ibu Sarah."

Rangga mengepalkan tinjunya. "Mama benar-benar menaruhnya di tempat yang dia kontrol. Dia memenjarakan ibu mertuaku di sana."

"Ada satu hal lagi, Pak," Maya ragu sejenak. "Kondisi kejiwaan wanita itu... dikabarkan sangat tidak stabil. Beliau sering berteriak memanggil nama Arini setiap malam. Itulah alasan kenapa Ibu Sarah menempatkan penjagaan ketat di sana, agar tidak ada informasi yang bocor ke warga sekitar."

Rangga menatap ke arah jendela yang berkabut. "Siapkan mobil biasa. Bukan mobil mewahku. Kita akan berangkat besok pagi sebelum matahari terbit. Aku harus membawa ibu Arini kembali sebelum Mama menyadari kita sudah mengetahui rahasia ini."

Pagi itu, dengan menyamar menggunakan jaket lusuh dan topi, Rangga berangkat menuju lokasi yang dimaksud. Perjalanan itu memakan waktu tiga jam melewati medan yang terjal. Saat sampai di depan Panti Jompo Kasih Abadi, Rangga melihat sebuah bangunan tua yang tampak suram, dikelilingi pagar kawat berduri yang lebih mirip penjara daripada tempat penampungan lansia.

Rangga tidak masuk melalui pintu depan. Ia menggunakan bantuan informannya untuk masuk lewat pintu belakang yang digunakan untuk pengiriman logistik. Dengan menyuap salah satu penjaga yang sedang butuh uang, Rangga berhasil masuk ke area bangsal isolasi.

Di ujung lorong yang berbau karbol dan debu, ia menemukan sebuah kamar dengan pintu jeruji besi. Di dalamnya, seorang wanita paruh baya dengan rambut yang memutih seluruhnya sedang duduk di lantai, menatap kosong ke arah tembok. Tubuhnya kurus kering, namun wajahnya... wajah itu memiliki kemiripan yang luar biasa dengan Arini.

"Ibu?" bisik Rangga, suaranya gemetar.

Wanita itu menoleh perlahan. Matanya tampak kosong, seperti jiwa yang sudah lama mati di dalam tubuh yang masih bernapas. "Arini? Apakah itu Arini-ku?" suaranya parau dan pecah.

Hati Rangga seolah hancur berkeping-keping. Pria ini, yang dulunya adalah penguasa bisnis yang sombong, kini jatuh berlutut di depan jeruji besi itu. "Bukan, Bu. Saya... saya suaminya Arini. Saya Rangga. Saya datang untuk menjemput Ibu."

Mendengar nama Arini, wanita itu—Ibu Sarahwati—langsung merangkak mendekat ke jeruji. "Di mana anakku? Sarah bilang Arini sudah mati! Dia bilang Arini kecelakaan karena aku pembawa sial! Di mana anakku?!"

Rangga tertegun. Jadi itu yang dilakukan ibunya. Sarah membohongi wanita malang ini dengan mengatakan Arini sudah mati agar dia kehilangan keinginan untuk lari atau mencari bantuan. Benar-benar sebuah kekejaman yang tak terbayangkan.

"Arini masih hidup, Bu. Dia sedang menunggu Ibu. Dia sakit, tapi dia berjuang untuk Ibu," ujar Rangga sambil mencoba meraih tangan wanita itu dari sela jeruji. "Tolong, Ibu harus percaya pada saya. Kita harus pergi dari sini sekarang juga."

Proses pelarian itu tidak mudah. Saat Rangga mencoba merusak gembok sel, alarm panti berbunyi. Tampaknya keberadaannya telah terdeteksi oleh kamera pengawas pusat yang terhubung langsung ke kantor Ibu Sarah di Jakarta.

"Tuan! Penjaga datang!" teriak informannya dari ujung lorong.

Rangga tidak menyerah. Dengan kekuatan penuh dan rasa amarah yang memuncak, ia menendang pintu jeruji itu hingga engselnya yang sudah berkarat jebol. Ia segera menggendong Ibu Sarahwati yang tubuhnya sangat ringan, seperti tumpukan tulang yang tak bertenaga.

"Lari!" teriak Rangga.

Mereka berlari menembus koridor gelap, dikejar oleh dua penjaga keamanan. Rangga tidak peduli lagi pada keselamatannya. Pikirannya hanya satu: menyatukan Arini dengan ibunya. Di pintu belakang, mobil yang dikendarai Maya sudah menunggu dengan mesin yang menderu.

Rangga melompat masuk ke dalam mobil tepat saat para penjaga hampir mencengkeram jaketnya. Mobil itu melesat pergi, meninggalkan kepulan debu di belakang panti jompo yang terkutuk itu.

Sepanjang perjalanan pulang, Ibu Sarahwati tidak berhenti menangis. Ia memegang lengan Rangga dengan sangat erat, seolah-olah takut Rangga akan menghilang.

"Benarkah dia masih hidup? Arini-ku?" tanya beliau berulang kali.

"Benar, Bu. Dia sangat cantik, persis seperti Ibu," jawab Rangga dengan air mata yang mulai mengalir.

Sesampainya di villa rahasia, Rangga membawa Ibu Sarahwati langsung menuju kamar Arini. Dokter Bram sempat melarang karena kondisi Arini yang masih rentan terhadap syok emosional, namun Rangga bersikeras. Ia tahu bahwa obat terbaik bagi Arini bukanlah kemoterapi atau sel punca, melainkan kehadiran ibunya.

Pintu kamar dibuka perlahan. Di atas ranjang, Arini sedang terjaga, menatap keluar jendela dengan pandangan kosong. Saat ia mendengar suara langkah kaki dan suara isakan yang sangat ia kenali dari masa kecilnya, tubuh Arini gemetar hebat.

"Ma... mah?" bisik Arini, suaranya nyaris tak terdengar.

Ibu Sarahwati berlari kecil menuju ranjang, ia jatuh berlutut dan memeluk tubuh Arini yang terbaring lemah. "Arini! Anakku! Maafkan Mama... Mama pikir kamu sudah tidak ada!"

Tangisan kedua wanita itu pecah di dalam ruangan tersebut. Sebuah pemandangan yang begitu mengharukan hingga Dokter Bram dan para perawat harus membuang muka untuk menyembunyikan air mata mereka. Rangga berdiri di ambang pintu, bersandar pada kusen kayu, menangis dalam diam.

Inilah kemenangan yang sesungguhnya. Bukan kenaikan saham di bursa, bukan jabatan Direktur, tapi melihat air mata bahagia dari wanita yang ia cintai.

Namun, di tengah momen haru itu, ponsel Rangga kembali berdering. Kali ini bukan dari Maya, melainkan panggilan video dari Ibu Sarah. Rangga mengangkatnya, menunjukkan wajahnya yang masih basah oleh air mata namun matanya sekeras baja.

Di layar ponsel, Ibu Sarah tampak duduk di ruang kerjanya yang mewah, namun wajahnya tampak pucat karena amarah.

"Kamu pikir kamu sudah menang, Rangga?" tanya Sarah dengan suara yang sangat tenang namun mengandung racun. "Kamu menculik seorang pasien dari yayasanku. Aku sudah melaporkan ini ke pihak kepolisian pusat sebagai kasus penculikan dan pelanggaran hukum berat."

Rangga tersenyum, sebuah senyuman penuh kemenangan yang membuat Ibu Sarah tertegun. Ia membalikkan kamera ponselnya, memperlihatkan momen di mana Arini dan ibunya sedang berpelukan erat.

"Lihat ini, Ma," ujar Rangga. "Dunia akan segera tahu bahwa Ibu Sarah Adiguna telah menyembunyikan seorang wanita sehat di panti jompo isolasi selama sepuluh tahun hanya karena dendam pribadi. Aku sudah merekam semua kondisi di panti tadi, termasuk pengakuan penjaga yang Mama suap."

Wajah Ibu Sarah di layar berubah menjadi sangat mengerikan. "Jangan berani-berani kau melakukannya, Rangga!"

"Aku sudah melakukannya, Ma. Video itu sudah terunggah di cloud dan akan otomatis tersebar ke media jika dalam satu jam aku tidak menekan tombol pembatalan," Rangga menatap layar dengan tajam. "Sekarang, aku punya satu penawaran. Mama lepaskan semua tuntutan, Mama serahkan bukti asli wasiat Ayah, dan Mama pergi dari negara ini selamanya. Jika tidak, aku sendiri yang akan mengantar polisi ke pintu rumah Mama."

Ibu Sarah terdiam. Ia tahu ia telah kalah. Putranya telah menjadi musuh yang jauh lebih cerdas dan lebih berani darinya. Cinta yang ia anggap sebagai kelemahan Rangga, ternyata justru menjadi sumber kekuatan yang menghancurkannya.

"Kamu benar-benar anak ayahmu," desis Sarah sebelum mematikan telepon.

Rangga menarik napas lega. Ia kembali ke arah ranjang, di mana Arini dan ibunya masih berpegangan tangan. Arini menatap Rangga dengan tatapan penuh terima kasih yang paling dalam yang pernah ia terima.

"Terima kasih... Suamiku," bisik Arini.

Rangga mengecup dahi Arini dan tangan ibu mertuanya. Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Rangga bisa tidur dengan tenang di sofa samping ranjang istrinya. Perang melawan ibunya mungkin masih menyisakan sisa-sisa api, namun benteng pertahanannya kini sudah sempurna.

Ia telah mengembalikan apa yang hilang. Ia telah menyembuhkan apa yang luka. Dan ia akan memastikan bahwa di bawah atap villa ini, Arini tidak akan pernah lagi merasa kesepian atau takut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!