Pernah sesekali terlintas untuk pergi dari dunia ini selamanya. Mengakhiri takdir yang telah digariskan, yang terkesan tak adil. Karena sudah terlalu lelah dengan semuanya. Akan tetapi hati kecilnya kerap berkata, 'Jangan...!!'
Hingga suatu ketika dia benar-benar tak ingin melawan lagi. Bahkan untuk protes saja tak bisa dia lakukan lagi. Karena menurutnya itu tidak akan mengubah apapun pada kehidupannya...
Karena ketidakadilan sudah terlanjur mendarahdaging dalam dirinya...
Menjalani semuanya, apapun itu. Hingga tiba waktunya. Itulah keputusan terakhirnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itsaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Balas Budi atau...?!
Tubuh Yumna tiba-tiba limbung. Kalau saja bi Nuri tidak berada di sisinya, dan tidak bergerak cepat. Yumna pasti sudah jatuh di lantai.
"Niko!!" teriak Elbara.
Tanpa menunggu aba-aba yang kedua kalinya, Niko langsung membopong tubuh lemah Yumna ke dalam kamar. Sementara Elbara sedang mencari sebuah kontak di ponsel miliknya.
"Maaf, tuan. Tidak perlu panggil dokter." kata bi Nuri.
Elbara pun mengurungkan niatnya sambil menatap bi Nuri.
"Nona baru saja menjalani pemeriksaan, dan sudah mendapatkan obatnya. Jadi, biar saya yang urus, tuan..." ujar bi Nuri dengan sopan. "Sepertinya nona terlalu syok."
Elbara hanya mengangguk, lalu dia meminta bi Nuri segera menyusul Niko ke kamar. Sementara dia sendiri menyusul di belakang bi Nuri.
"Tuan-tuan..." panggil bi Nuri lagi. "Saya belum pernah tinggal di tempat seperti ini. Saya bingung kalau sewaktu-waktu nona kenapa-napa. Dan kalau saya butuh bantuan, saya harus kemana?" wajah bi Nuri terlihat sangat khawatir.
"Apa tuan-tuan ini bisa menginap di sini?" pinta si bibi.
Niko menoleh ke arah Elbara, meminta pendapat dari bosnya itu. Elbara mengangguk singkat.
"Iya, bi." balas Niko setelah mendapat persetujuan dari Elbara.
"Terimakasih, tuan-tuan ini benar-benar baik." kata bi Nuri.
"Kami ada di luar, barang kali bibi butuh sesuatu panggil saja." kata Niko kemudian.
___
Tak lama setelah Elbara dan Niko keluar, Yumna terbangun. Kepalanya terasa sangat berat. Dia mencoba untuk bangun, tapi pinggangnya terasa sangat sakit.
"Bibi..." panggil Yumna.
Bi Nuri tergopoh-gopoh keluar dari kamar mandi. Lalu menghampiri Yumna.
"Nona sudah siuman. Tadi nona pingsan." kata bi Nuri.
Bi Nuri membantu Yumna bangun. Setelah Yumna duduk dengan posisi yang nyaman, dia mengambilkan air minum.
"Ini minumnya, non." katanya.
Bi Nuri refleks menyentuh kening Yumna, karena dia merasakan suhu panas saat tangannya bersentuhan dengan tangan Yumna.
"Nona demam...!" bi Nuri pun beranjak dari duduknya.
"Nona tunggu di sini ya. Bibi keluar sebentar." bi Nuri kemudian keluar dari kamar.
Saat tiba di ruang tamu, dia melihat Elbara sedang sibuk dengan laptopnya. Niko juga sibuk dengan ponselnya. Elbara yang lebih dulu menyadari kedatangan bi Nuri.
"Ada apa, bi?" tanya Elbara.
Mendengar suara Elbara, Niko pun mengalihkan pandangannya ke arah yang sama dengan Elbara.
"Tuan, maaf merepotkan. Apa ada plester menurun demam? Nona Yumna mendadak demam. Nona biasanya pakai plester itu." ujar bi Nuri langsung pada intinya.
"Ada?" Elbara bertanya pada Niko.
Niko berjalan menuju lemari, lalu membuka salah satu laci dan mengeluarkan kotak putih dari dalam sana. Tak ada plester yang dimaksud oleh bi Nuri. Yang ada hanya ada plester untuk luka.
"Tidak ada." jawab Niko.
"Cepat beli!! Tunggu apalagi?!!" sahut Elbara.
"Baik!"
Niko menyambar kunci mobil di atas meja. Tapi kemudian dia berhenti dan berbalik badan.
"Bibi ikut saya saja. Saya takut salah beli." ujar Niko.
"Tapi nona..." bi Nuri lagi.
"Dia akan aman sama tuan Bara. Cepatlah...!" titah Niko.
Bi Nuri pun bergegas mengikuti Niko. Sedangkan Elbara segera menyimpan hasil kerjanya, lalu pergi ke kamar menemui Yumna.
Saat Elbara tiba, rupanya Yumna sedang bersandar pada headboard dengan mata terpejam. Cukup lama Elbara memperhatikannya dalam diam. Sampai sesuatu menariknya agar lebih dekat dengan Yumna. Tiba-tiba Yumna menggeliat gelisah dalam tidurnya, sambil mencengkram selimut yang menutupi setengah tubuhnya.
"Sakit..., aku mohon hentikan. Ini sakit sekali. Jangan...!! Jangan pukul lagi, papa...!! Aku mohon...!! Ampun, paa...!!"
Elbara melihat air mata mengucur dari mata Yumna yang masih terpejam.
"Nona Yumna, bangunlah!" ujar Elbara.
Elbara menepuk-nepuk pipi Yumna, hingga Yumna tersentak dan membuka matanya dengan nafas terengah-engah.
"Jangan...!!" teriaknya.
Yumna ketakutan saat melihat sosok pria di dekatnya. Dia pun refleks menjauh. Dadanya naik turun dengan ritme yang begitu cepat. Dia belum sadar kalau orang itu adalah Elbara.
"Ini saya." kata Elbara sambil menarik tangannya menjauh.
Yumna menatap Elbara, ada rasa lega saat mengetahui kalau itu adalah Elbara.
"Maaf, pak Bara..." gumamnya lirih.
Elbara menuangkan air pada gelas kosong, lalu memberikannya pada Yumna. Tanpa mengatakan apapun, Elbara menyodorkan gelas itu pada Yumna. Yumna menerimanya dengan tangan yang masih bergetar.
"Bibi mana?" tanya Yumna.
"Dia pergi sama Niko ke apotek." jawabnya.
"Jangan khawatir, mereka akan segera datang." katanya.
Kali ini Elbara memberikan tisu pada Yumna. Untuk kedua kalinya, Elbara melakukannya pada Yumna.
"Sakit...?" tanya Elbara tiba-tiba.
Yumna mengangguk pelan. Meski dia tak tahu pasti, yang ditanyakan Elbara itu kondisi fisik atau hatinya. Karena dua-duanya terasa sangat sakit.
"Kenapa mereka lama sekali?" batin Elbara.
"Istirahatlah. Saya akan keluar." katanya.
Yumna tidak menjawab, tapi dia terus menatap kepergian Elbara. Baru saja Elbara sampai di pintu, terdengar suara langkah kaki mendekat. Niko dan Bi Nuri akhirnya datang.
Bi Nuri langsung memasang plester itu ke kening Yumna. Elbara nyaris tertawa, tapi dia tahan sekuat tenaga. Bagaimana tidak, ternyata plester yang dimaksud bi Nuri adalah plester yang sama dengan yang biasa dikenakan keponakannya saat demam.
___
Pagi harinya bi Nuri sudah menyiapkan sarapan. Bibi juga membuat bubur khusus untuk Yumna.
"Bagaimana kondisi nona Yumna?" tanya Elbara.
"Eh, tuan..." Bi Nuri yang sedang menata piring di atas meja makan pun terkejut dibuatnya.
"Saya bangun tadi, saya cek panasnya sudah turun, tuan." jawabnya.
"Maaf, tuan. Saya tidak tahu tuan biasa makan apa. Jadi saya cuma masak ini untuk sarapan tuan." kata bibi lagi.
"Terimakasih, bi." balas Elbara.
"Tuan, saya permisi mau lihat non Yumna." bi Nuri pun meninggalkan ruang makan untuk menemui Yumna.
Beberapa saat kemudian Elbara dan Niko menyantap sarapan yang sudah disajikan.
"Apa setelah ini kita langsung pergi?" tanya Niko setelah mereka makan.
"Em." Elbara mengangguk. "Pastikan mereka aman di sini!" ujar Elbara mengingatkan Niko.
"Sudah saya atur sesuai perintah tuan semalam." balas Niko.
"Bagus. Ayo kita pergi!"
Saat mereka beranjak dari meja makan, Yumna dan bi Nuri keluar dari kamar. Mau tak mau, Elbara dan Niko pun menghentikan langkahnya.
"Hari ini libur saja. Aluna akan histeris kalau melihat luka di wajah kamu." kata Elbara.
"Baik, pak Bara. Maaf, karena saya tidak bisa menjaga diri. Sehingga menghambat pekerjaan saya." balas Yumna.
Yumna merasa tak enak hati. Belum genap satu bulan dia bekerja sebagai guru privat Aluna, tapi sudah terlalu sering merepotkan keluarga Bu Kartika.
Elbara tidak mengatakan apapun untuk membalas Yumna. Dia langsung beranjak pergi bersama Niko.
"Nona, ayo makan dulu. Bibi sudah buatkan bubur untuk non Yumna." kata bi Nuri.
Mata bi Nuri berbinar-binar saat melihat makanan yang dia sajikan hanya tersisa sedikit. Padahal sebelumnya dia sudah khawatir, kalau mereka tidak akan menyukai nasi goreng buatannya.
"Nona beruntung punya rekan kerja seperti mereka. Mereka baik sekali." ujar bi Nuri sambil menyiapkan bubur.
"Pak Bara itu bos ku, bi. Kalau pak Niko, asistennya." balas Yumna.
"Aduh..., jadi pak Bara yang pakai kursi roda itu bosnya nona...?!!" bi Nuri sangat terkejut saat mendengarnya.
"Non..., sejak bibi ketemu. Apakah sikap bibi tidak sopan? Bibi jadi takut pak Bara tersinggung..."
"Pak Bara itu orang baik. Pak Niko juga. Jadi bibi tidak usah khawatir. Kalau mereka bukan orang baik, mana mungkin membawa kita ke sini." tutur Yumna.
Tentu saja bi Nuri mempercayai semua ucapan Yumna. Jadi bi Nuri bisa tenang.
___
"Menurut kamu, kenapa dia tidak ke rumah Tante Sasa seperti sebelumnya?" Elbara ingin tahu pendapat Niko.
"Mungkin nona takut merepotkan Tante Sasa." jawab Niko.
"Atau mungkin kita datangnya kecepatan, jadi non Yumna menerima uluran tangan tuan Bara." katanya lagi.
"Sudah ada data lengkap tentang keluarganya?" tanya Elbara lagi.
Awalnya Niko hanya mendapat tugas untuk mencari tahu hubungan Yumna dengan keluarganya. Dia hanya mendapatkan informasi, bahwa Yumna selalu diabaikan orang tuanya. Lantaran mereka lebih menyayangi putri kedua mereka. Dan juga adiknya yang diam-diam menjalin hubungan dengan kekasihnya. Tapi kejadian malam itu, membuat Elbara ingin tahu lebih dalam lagi soal keluarga Yumna.
"Semalam saya sudah mencoba mengorek informasi dari bi Nuri. Tapi zonk. Bi Nuri tidak mengatakan apapun. Selain..., orang tua non Yumna pilih kasih." terangnya.
"Apa karena pilih kasih, mereka bisa sekasar itu sama anak sendiri?" gumam Elbara.
Tiba-tiba Niko memiliki pemikiran lain.
"Tuan..., apa mungkin nona Yumna bukan anak mereka?!" sahut Niko yang sedang menyetir.
"Atau..., nona Yumna memang anak mereka. Tapi nona Yumna pernah melakukan kesalahan besar. Jadi mereka bersikap kasar sama nona?!" ujar Niko menambahkan.
"Segala kemungkinan itu bisa saja terjadi." balas Elbara dengan suara pelan.
Niko hanya mengangguk. Sebenarnya ada pertanyaan yang sudah meletup-letup di kepalanya.
"Kenapa tuan Bara sepeduli ini sama non Yumna? Hanya balas Budi? Atau sebenarnya ada sesuatu? Cinta barang kali...?!"
Saat Elbara tak sengaja menoleh pada spion, dia melihat mobil yang tak asing baginya.
"Dia mengikuti kita." celetuk Elbara.
"Siapa, tuan?" tanya Niko sambil menoleh spion. "Nona Felly..." gumamnya setelah mengetahui siapa pemilik mobil itu
"Lalu bagaimana, tuan?" Niko minta pendapat Elbara.
"Jangan pulang ke rumah. Saya tidak mau ada keributan di sana, yang akan mengganggu mama dan Aluna. Kita ke apartemen Yumna saja." balas Elbara.
"Baik, tuan." jawab Niko.
"Mampir toko bunga biasanya." kata Elbara setelah dia memesan bunga di toko yang dimaksud.
Niko mengangguk, tanda mengerti. Dia kemudian mengambil jalur menuju toko bunga langganan keluarga Elbara.
......................