NovelToon NovelToon
Senja Di Ruang Kelas

Senja Di Ruang Kelas

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Laila Kim

Mengangkat sudut pandang unik dari perspektif guru yang terjebak dalam hubungan dengan dua murid sekaligus, mempertanyakan apakah dirinya korban atau pemangsa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pandangan Pertama

Bel masuk berbunyi, menandakan pergantian jam pelajaran. Rizky malas-malasan mengeluarkan buku matematika dari tas ranselnya yang sudah usang. Kelas XII IPA 2 langsung gaduh seperti biasanya, sebagian ke luar untuk ke toilet atau sekadar membeli snack di kantin.

"Riz, lo ngerokok dulu nggak?" Wira menyenggol bahunya.

"Gue males, Ra. Lo aja duluan."

Wira mengangkat bahu lalu melenggang ke luar kelas bersama tiga teman lainnya. Rizky memilih tetap duduk di bangkunya, ponsel di tangan, jempolnya sibuk men-scroll TikTok tanpa benar-benar memperhatikan konten apa yang muncul.

Di sela-sela kebisingan kelas, ia tak sengaja mendengar obrolan beberapa temannya.

"Lo tahu Bu Ima ngajar di kelas mana sekarang?" tanya seorang siswa berkacamata.

"IPA 1 kayaknya, gue lihat tadi masuk ke situ," jawab yang lain.

"Beruntung banget mereka. Coba kita juga diajar Bu Ima."

Rizky mendengus pelan. Bu Ima. Ima Nurjanah, guru matematika yang baru dua bulan lalu pindah ke SMA Negeri 6 Jakarta. Setiap kali namanya disebut, pasti diikuti dengan bisik-bisik dan tawa nakal para siswa laki-laki. Bahkan beberapa siswi pun ikut-ikutan membicarakannya.

Beliau berhijab, dan agak—bagaimana bilangnya—berisi. Tapi entah kenapa, bentuk tubuhnya yang seperti itu justru membuat seragam batik yang dikenakannya tampak... berbeda. Pas badan, mungkin terlalu pas. Saat beliau berjalan di koridor, beberapa siswa tak bisa menahan diri untuk tidak menoleh.

Rizky termasuk yang acuh. "Emangnya lo pada nggak pernah liat perempuan?" gumamnya.

"Eh, Riz!" Wira tiba-tiba sudah kembali dan duduk di sampingnya. "Gue baru lihat Bu Ima di kantor guru. Lagi ngajar les tambahan buat kelas XII IPS. Lo lihat deh nanti, bajunya kayak..."

Rizky memutar bola mata. "Elo tuh keterusan, Ra."

"Yaelah, masa lo nggak tertarik? Coba lihat deh kalau dia jalan. Goyangnya tuh..." Wira memperagakan dengan gerakan tubuh berlebihan.

"Bego lo," Rizky mencubit lengan Wira, tapi tetap tersenyum geli.

Bel masuk berbunyi lagi. Suasana kelas perlahan tenang meski masih ada beberapa siswa yang belum masuk. Wira dan yang lain buru-buru duduk.

Dan kemudian, pintu kelas terbuka.

Bu Ima melangkah masuk dengan senyum tipisnya yang khas. "Selamat siang, anak-anak."

"Siang, Buuu..." jawab beberapa siswa malas-malasan.

Rizky sempat mengangkat muka sekilas, lalu kembali fokus pada ponselnya. Tapi entah kenapa, pandangannya seperti ditarik kembali ke depan kelas.

Bu Ima meletakkan tas ranselnya di meja guru. Hari itu ia mengenakan seragam batik lengan panjang dengan kain warna coklat tua. Hijab segi empat warna senada membalut kepalanya rapi. Saat ia membalikkan badan untuk menuliskan materi di papan tulis, Rizky melihat bagaimana ujung seragamnya sedikit terselip ke dalam rok, membuat lekuk punggungnya terlihat jelas.

Ah, biasa aja tuh, pikir Rizky. Tapi matanya masih tertuju ke sana.

Bu Ima selesai menulis lalu berbalik menghadap siswa. Ia mulai menjelaskan materi integral. Tangan kanannya sesekali memegang kerah baju yang tampak sedikit sempit di bagian dada. Gerakan itu spontan, mungkin karena merasa kurang nyaman. Tapi bagi beberapa siswa, itu jadi tontonan.

"Rumus integral kali ini memang agak rumit," suara Bu Ima berat, khas perempuan dewasa. "Ibu akan coba jelaskan pelan-pelan."

Rizky berusaha menyimak. Ia bukan siswa pintar, tapi juga bukan paling bodoh. Nilai matematikanya pas-pasan, dan ia tidak pernah terlalu peduli.

Tapi hari ini, ia merasa aneh.

Mungkin karena duduknya di barisan paling belakang, ia bisa leluasa mengamati tanpa ketahuan. Dan tanpa sadar, pandangan Rizky jatuh pada bagian belakang tubuh Bu Ima saat beliau membalik badan lagi ke papan tulis. Roknya yang agak panjang sampai mata kaki, tapi saat berjalan ke sana kemari, lipatan-lipatan kecil terbentuk di sekitar pinggul.

"Riz, lo ngeliatin apa?" bisik Wira dari samping.

Rizky terkejut. "Nggak, gue ngantuk."

"Idih, merah tuh kuping lo."

Rizky menyikut Wira. "Diem lo."

"Oke, sekarang coba kerjakan soal nomor tiga," perintah Bu Ima. "Rizky, coba maju ke depan."

Rizky menghela napas. Ia beranjak dari duduknya dan berjalan ke depan. Dari jarak dekat, aroma parfum Bu Ima tercium samar. Wangi melati campur sesuatu yang manis.

Rizky mengambil spidol dan mulai mengerjakan soal. Ia bisa mengerjakannya, meski agak lambat.

"Betul, Rizky. Kamu bisa," puji Bu Ima tersenyum.

Senyum itu... Rizky hanya mengangguk canggung lalu kembali ke tempat duduk.

 

Jam pelajaran berlangsung monoton. Bu Ima kadang berjalan di antara bangku untuk mengecek pekerjaan siswa. Saat ia melewati barisan belakang, Rizky menunduk, berpura-pura serius menulis.

Tapi dari sudut mata, ia melihat betapa langkah Bu Ima pelan, lembut. Saat berhenti di samping meja Wira, roknya yang agak ketat membentuk siluet pahanya. Rizky menelan ludah.

"Kerjakan yang benar, Wira. Jangan main-main terus," tegur Bu Ima sambil menunjuk buku Wira.

"Siap, Bu," jawab Wira dengan senyum khasnya.

Saat Bu Ima kembali ke depan, Wira mencondongkan tubuh ke Rizky. "Gimana? Udah mulai tertarik?"

Rizky mendorong kepala Wira. "Nggak, goblok."

Tapi jujur, ia mulai mengerti kenapa teman-temannya membicarakan Bu Ima.

Ada sesuatu dari perempuan itu. Mungkin dari caranya bicara yang tegas tapi lembut. Mungkin dari gerak-geriknya yang kalem, yang membuat setiap langkahnya terasa seperti tarian kecil. Atau mungkin dari seragam yang ia kenakan, yang sebenarnya biasa saja, tapi entah kenapa terlihat begitu pas di tubuhnya.

Bel pulang berbunyi. Rizky membereskan bukunya dengan cepat. Saat ia hendak ke luar kelas, Bu Ima memanggil.

"Rizky, sebentar."

Rizky menoleh. "Iya, Bu?"

Bu Ima mendekat. Dari jarak begitu dekat, Rizky sadar bahwa Bu Ima lebih pendek darinya. Mungkin hanya sampai bahunya. Saat ia berbicara, Rizky harus sedikit menunduk.

"Nilai ulangan kamu lumayan bagus. Ibu lihat potensi kamu di matematika. Jangan malas-malasan, ya," kata Bu Ima.

"Baik, Bu. Terima kasih."

"Pasti kamu sibuk main bola, ya? Ibu lihat kamu sering bawa sepatu futsal."

Rizky tersenyum kecil. "Iya, Bu. Tapi saya usahain tetap belajar."

"Bagus. Pertahankan."

Bu Ima menepuk bahunya ringan lalu berjalan meninggalkan kelas. Rizky mematung beberapa detik, menatap punggung Bu Ima yang menjauh di koridor. Di ujung lorong, Bu Ima berbelok dan lenyap dari pandangan.

Wira tiba-tiba muncul. "Lo dipanggil Bu Ima? Ngomongin apa?"

"Nggak penting," Rizky berjalan cepat.

"Ngomongin apa sih? Lo jadi kesayangan guru nih?" ledek Wira.

"Urusin aja deh nilai remedial lo."

Mereka berjalan ke parkiran motor. Rizky membuka kunci motornya, tapi pikirannya masih melayang ke kejadian tadi.

Gayung bersambut, kata orang. Atau mungkin ini hanya kebetulan. Tapi dalam beberapa hari ke depan, Rizky akan sadar bahwa panggilan Bu Ima sore itu bukan sekadar perhatian biasa seorang guru.

Tapi untuk saat ini, ia hanya menggelengkan kepala, berusaha menghapus bayangan Bu Ima dari benaknya.

"Udah, pulang," gumamnya sambil menyalakan motor.

 

Malam itu, Rizky terbaring di kamar kostnya. Matanya terpaku pada langit-langit kamar yang mulai mengelupas catnya. Ponsel di sampingnya menampilkan TikTok, tapi ia tak benar-benar melihat.

Pikirannya kembali ke Bu Ima. Caranya bicara. Senyumnya. Wangi parfumnya. Dan... tubuhnya.

Rizky menggeliat gelisah. "Astaghfirullah," gumamnya pelan.

Ia mencoba memikirkan hal lain. Tugas sekolah. Bola. Game. Tapi selalu kembali ke sosok itu.

Akhirnya, Rizky mematikan lampu dan memejamkan mata. Tapi di balik kelopak matanya, bayangan Bu Ima masih terlihat jelas.

 

Keesokan harinya, Rizky datang ke sekolah lebih awal. Bukan karena ada tugas piket, tapi entah kenapa ia tak bisa tidur nyenyak dan memilih berangkat lebih pagi.

Sekolah masih sepi. Hanya beberapa petugas kebersihan yang menyapu halaman. Rizky duduk di kantin sambil minum kopi instan.

Tiba-tiba, sebuah motor masuk ke parkiran guru. Motor matik warna hitam. Rizky mengenali pengendaranya.

Bu Ima turun dari motor, melepas helm. Rambutnya yang terikat di dalam hijab sedikit basah di bagian depan, mungkin habis keramas. Ia melipat jas hujan yang masih basah dan memasukkannya ke dalam tas motor.

Rizky mengamati dari kejauhan. Bu Ima mengenakan gamis warna biru laut dengan hijab senada. Gamisnya longgar, tapi saat ia membungkuk untuk mengunci motor, kainnya meregang di bagian pinggul.

Rizky segera mengalihkan pandangan.

Bu Ima berjalan melewati kantin. Ia menoleh dan melihat Rizky. "Rizky? Kok pagi banget?"

Rizky berdiri setengah gugup. "Eh, iya Bu. Kebangun keburu."

Bu Ima tersenyum. "Rajin amat. Sarapan dulu sana."

"Iya, Bu."

Bu Ima melanjutkan langkahnya ke ruang guru. Rizky menghela napas panjang yang tak sadar ia tahan.

Hari itu, saat jam pelajaran matematika tiba, Rizky duduk dengan perasaan berbeda. Ia benar-benar memperhatikan Bu Ima menjelaskan. Bukan hanya materinya, tapi juga gerak-geriknya. Cara bibirnya bergerak saat bicara. Cara matanya berbinar saat ada siswa yang paham.

Rizky tersadar. Ini berbahaya. Tapi entah kenapa, ia tak bisa berhenti.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!