"Menikahi ku atau melihat ayahmu membusuk di penjara?"
Elena tidak punya pilihan. Demi melunasi utang yang dijebak oleh Arkan—pria masa lalunya yang kini menjadi penguasa angkuh—ia setuju menjadi istri di atas kertas. Namun, di balik kemewahan rumah Arkan, Elena bukanlah nyonya, melainkan budak. Ia dijambak, diludahi, bahkan dipaksa melayani selingkuhan suaminya sendiri.
Setiap hari adalah neraka, hingga Arkan melampaui batas dengan menyentuh satu-satunya alasan Elena untuk hidup.
Di saat Elena hampir menyerah, sosok pria dari masa lalu yang menghilang selama lima tahun kembali. Ia bukan lagi pemuda desa yang miskin, melainkan putra mahkota dinasti mafia yang haus darah.
"Siapa pun yang menyentuh milikku, hanya punya satu tempat: liang lahat."
Pembalasan dendam dimulai. Ketika Sang Mafia menjemput ratunya, istana emas Arkan akan berubah menjadi abu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Gaslighting: "Ini Semua Salahmu, Elena"
Seharian itu, rumah mewah Arkan berubah menjadi penjara yang mencekam. Sejak ancaman Eros di telepon saat sarapan pagi tadi, Arkan kehilangan akal sehatnya.
Ia mematikan seluruh akses keluar, memerintahkan para pengawal berjaga di setiap jengkal pagar, dan membiarkan Elena terduduk lemas di lantai ruang makan—tanpa air, tanpa pelarian.
Matahari mulai tenggelam, menyisakan gurat merah yang suram di ufuk barat, sebelum akhirnya kegelapan malam mengambil alih.
Keheningan di dalam rumah itu terasa lebih mematikan daripada ledakan bom. Arkan masih mematung di ujung meja makan yang kini berantakan, ponselnya ia genggam erat dengan tangan yang gemetar hebat. Di seberang meja, Selin dan Ibu Widya tampak pucat pasi, menyadari bahwa benteng kekuasaan yang selama ini melindungi mereka mulai retak seiring berjalannya waktu menuju malam.
Elena berdiri tegak di tengah kegelapan yang mulai merayap masuk ke ruang makan. Untuk pertama kalinya, pundaknya tidak merosot karena beban ketakutan. Ada cahaya kecil di matanya yang merah—sebuah binar kemenangan yang membuat Arkan merasa terhina hingga ke sumsum tulangnya.
"Kamu..." Arkan berbisik, suaranya parau karena seharian berteriak frustrasi. Tiba-tiba, ia tertawa. Tawa yang kering, pecah, dan penuh dengan kegilaan yang mulai merayap keluar di bawah remang lampu dinding. "Kamu pikir ini sudah berakhir karena malam sudah tiba? Kamu pikir pria itu—Eros—adalah pahlawanmu?"
Arkan melangkah mendekat. Ia tidak menjambak atau memukul kali ini. Gerakannya melambat, hampir terasa seperti perhatian, tapi justru itulah yang membuat suasana malam itu semakin mengerikan. Ia meraih tangan Elena yang bengkak, membelainya dengan ibu jari seolah-olah Elena adalah benda rapuh yang sangat ia cintai.
"Elena, dengarkan aku," ucap Arkan, suaranya kini berubah menjadi lembut, penuh dengan nada manipulatif yang memuakkan.
"Eros bukan datang untuk menyelamatkanmu. Dia datang untuk menghancurkan apa yang tersisa darimu. Kamu tahu kenapa dia menghilang selama lima tahun? Karena dia adalah bagian dari dunia yang berlumuran darah. Dia monster, Elena. Jauh lebih monster dariku."
Elena mencoba menarik tangannya, tapi cengkeraman Arkan mengencang secara halus dalam kegelapan.
"Pikirkan baik-baik, El," Arkan menatap dalam ke mata Elena, mencoba menyusup ke dalam celah keraguannya. "Siapa yang memberimu makan selama ini? Aku. Siapa yang memastikan ayahmu tetap bernapas dengan obat-obatan mahal? Aku. Dan sekarang, karena egomu, karena kamu memanggil 'hantu' dari masa lalu mu itu, rumah ini akan menjadi medan perang malam ini. Kalau ada peluru yang menembus jantung ayahmu atau pelayan di rumah ini, itu bukan salahku. Itu salahmu."
Elena menggeleng pelan. "Tidak... Ayah sudah aman. Kamu tidak bisa mengancam aku lagi dengan nyawanya."
"Aman?" Arkan tertawa lagi, kali ini lebih keras, suaranya bergema di langit-langit ruang makan yang tinggi.
"Kamu benar-benar polos. Kamu pikir berpindah tangan ke seorang mafia berarti aman? Kamu hanya berpindah dari satu sangkar ke sangkar lain yang lebih berdarah. Dan semua ini terjadi karena kamu tidak pernah bisa puas dengan apa yang kuberi. Kamu yang menghancurkan kedamaian kita, Elena. Kamu yang membuatku harus bersikap kasar setiap hari. Kalau saja kamu patuh sejak awal, kita tidak akan sampai di titik ini."
Arkan membelai rambut Elena, menyelipkan helai yang kusut ke belakang telinga wanita itu. "Lihat sekelilingmu. Lihat Selin, lihat Ibu. Mereka takut sekarang. Dan penyebab ketakutan mereka adalah kamu. Kamulah pembawa sial di rumah ini. Kamulah alasan kenapa semua orang yang kamu cintai akan berakhir tragis."
Teknik gaslighting Arkan mulai bekerja. Elena merasakan pening di kepalanya. Meski dia tahu Arkan berbohong, tapi bayangan tentang perang darah yang akan terjadi di kegelapan malam membuat nuraninya terusik. Arkan sangat mahir memutarbalikkan fakta hingga korban merasa dialah pelakunya.
"Jangan dengarkan dia, Nyonya!" Bi Inah berteriak dari sudut dapur yang gelap, tidak tahan lagi melihat Elena dimanipulasi.
"Diam kamu, pelayan tua!" bentak Ibu Widya, ikut berdiri dan menunjuk Elena dengan jari yang gemetar karena amarah dan ketakutan.
"Arkan benar! Gara-gara perempuan desa ini, rumah kita terancam! Kamu itu cuma sial, Elena! Harusnya kamu mati saja daripada membawa masalah ke keluarga kami!"
Selin ikut menimpali sambil terisak palsu, memecah kesunyian malam yang mencekam. "Gara-gara kamu, Arkan jadi stres! Kamu yang buat dia berubah jadi pemarah! Kamu jahat, Elena!"
Elena merasa dikepung oleh kegelapan dan suara-suara itu. Suara-suara itu berdengung di telinganya seperti ribuan lebah. Salahmu... salahmu... salahmu...
Namun, di tengah tekanan mental itu, tangan Elena meraba saku gaun tidurnya. Ia menyentuh ponsel kecil pemberian Bi Inah. Dinginnya benda itu mengingatkannya pada pesan Eros di jendela: Jangan biarkan dia menghancurkan jiwamu.
Elena menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan. Ia menatap Arkan dengan tatapan dingin, tanpa emosi, tepat saat jam dinding berdentang menunjukkan pukul delapan malam.
"Kamu benar, Arkan," ucap Elena tenang. "Aku memang pembawa sial. Tapi hanya untukmu. Aku adalah akhir dari kesombonganmu."
Arkan tertegun. Ekspresi lembut palsunya menghilang, digantikan oleh kemarahan murni. Ia mengangkat tangannya, bersiap untuk mendaratkan tamparan keras di wajah Elena. "Berani kamu—"
DOR!
Suara tembakan dari luar gerbang rumah menggetarkan kaca-kaca besar di ruang makan, membelah kesunyian malam. Suara itu diikuti oleh suara gesekan ban mobil yang mengerem secara mendadak dan teriakan para pengawal Arkan di luar yang kalah jumlah.
Arkan menarik Elena dengan kasar, menjadikannya perisai di depannya sambil mundur ke arah tangga.
"Cepat kunci semua pintu! Selin, Ibu, naik ke atas!"
Keadaan menjadi kacau balau. Lampu kristal di atas meja makan tiba-tiba berkedip, lalu padam total, meninggalkan rumah itu dalam kegelapan yang mencekam. Hanya cahaya dari lampu darurat yang memberikan siluet remang-remang yang mengerikan.
Di kegelapan itu, ponsel di saku Elena bergetar. Ia berhasil mengeluarkannya dan melihat satu pesan singkat yang bercahaya di layar: "TIARAP SEKARANG."
Elena tidak berpikir dua kali. Ia menyentakkan tubuhnya sekuat tenaga, menggigit lengan Arkan yang melingkar di lehernya hingga pria itu berteriak kesakitan dan melepaskannya. Elena langsung menjatuhkan diri ke lantai, berlindung di bawah meja makan kayu jati yang berat.
DOR! DOR! DOR!
Kaca-kaca jendela ruang tengah hancur berkeping-keping akibat rentetan tembakan dari arah taman. Arkan merangkak di lantai, berteriak memanggil para pengawalnya yang ternyata sudah tidak memberikan jawaban.
Tiba-tiba, pintu depan yang besar itu jebol. Bukan karena didobrak, tapi karena diledakkan dengan rapi. Debu dan asap memenuhi ruangan. Di tengah kepulan asap itu, muncullah siluet beberapa pria berpakaian taktis hitam dengan senjata laras panjang.
Di depan mereka, seorang pria berjalan dengan langkah santai, mengabaikan segala kekacauan di sekelilingnya. Ia mengenakan kemeja hitam yang kerahnya terbuka, memperlihatkan tato kecil di lehernya. Di tangannya, ia memegang sebuah pistol dengan peredam.
Arkan mencoba meraih pistol di laci meja kecil dekat tangga, tapi sebuah peluru melesat lebih cepat, menghancurkan meja itu hingga kayu-kayunya berhamburan.
"Jangan sentuh itu, Arkan," suara itu tenang, dingin, namun mengandung otoritas yang membuat nyali siapa pun menciut.
Pria itu melangkah maju hingga cahaya remang-remang menyinari wajahnya. Itu adalah Eros. Tapi, dia bukan lagi Eros yang dikenal Arkan sebagai pemuda desa yang naif. Dia tampak seperti malaikat maut yang tampan.
Eros mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang hancur. "Di mana dia?"
Elena keluar dari bawah meja dengan tubuh gemetar, tertutup debu kaca. "Eros..."
Eros segera menurunkan senjatanya. Ia melangkah cepat menuju Elena, menarik wanita itu ke dalam pelukannya yang kokoh. Ia mengabaikan Arkan yang masih tergeletak di lantai dengan wajah penuh ketakutan.
"Aku di sini, El. Sudah selesai," bisik Eros, mengecup puncak kepala Elena yang kotor.
Arkan, yang melihat pemandangan itu, tiba-tiba tertawa histeris di sela ketakutannya.
"Kamu lihat, Elena? Monster itu sudah datang menjemputmu! Kamu akan hidup dalam darah sekarang! Dia akan membunuhku di depan matamu!"
Eros melepaskan pelukannya perlahan, berbalik menghadap Arkan. Ia menatap Arkan seolah-olah pria itu hanyalah kotoran di sepatunya.
Eros menodongkan pistolnya tepat ke dahi Arkan yang kini memohon ampun dengan tangisan yang memuakkan. Eros kemudian melirik ke arah Elena.
"Dia benar, Elena. Aku bisa membunuhnya sekarang juga atas apa yang dia lakukan padamu. Tapi aku ingin memberimu satu pilihan..." Eros menyodorkan pistol itu ke arah Elena, gagangnya menghadap wanita itu.
"Kamu yang menarik pelatuknya, atau aku yang meratakan kepalanya?"
Elena menatap pistol di tangan Eros, lalu menatap Arkan yang gemetar di bawahnya.
gas up yng bnyk ka semoga makin sukses dikarya" nya aamiin 🤲
smngat up kaka🤗
smngat up kaka🤗🤗
semangat cerita smpai pnjang dan semangat update juga kaka
novel kaka good
semoga makin sukese disemua karya" nya
ceritanya bagus kak
dan mudah dipahami
semangat kaka untuk update iya