Seruni (20 tahun) adalah kembang desa cantik, lugu dan polos yang tinggal di wilayah terpencil daerah Tapal Batas.
Pernah bertunangan dengan salah satu pemuda dari kampung sebelah. Berujung putus dan gagal menikah karena ditikung adik tirinya bernama Rasti.
Suatu hari, Seruni dijodohkan dengan seorang pria dari kota. Musibah datang menerpa, di mana rombongan bus calon pengantin laki-laki mengalami kecelakaan, lalu terbakar hebat. Semua penumpang tewas di TKP termasuk calon suami Seruni.
Kepercayaan masyarakat setempat, jika sampai seorang gadis gagal menikah dua kali maka dianggap pembawa sial. Pastinya tak ada pemuda yang akan sudi menikahi Seruni.
Pak Tono selaku Kades yang berstatus sebagai ayah kandung Seruni, terpaksa menerima laki-laki asing bernama Bastian Fernando Malik yang mendadak bersedia menjadi suami Seruni. Tanpa diketahui semua orang bahwa Bastian tengah lari dan bersembunyi dari kasus pembunuhan yang menjeratnya.
Bagian dari Novel : Maafkan Mama, Pa🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 - Menginap
Motor yang dikendarai Bastian tak lama tiba di sebuah halaman rumah sederhana.
Tentunya mereka berdua sangat mengenal rumah tersebut, terutama Seruni. Sedangkan Bastian pernah satu kali bertandang ke sini bersama Seruni dan Mamat beberapa minggu yang lalu.
"Kenapa kita ke rumah Ningsih, Bang?" tanya Seruni dengan mi_mik wajah heran seraya kakinya turun dari motor.
"Malam ini kita nginap di sini," jawab Bastian.
"Oh, apa Abang sakit?" tanya Seruni menatap cemas ke arah wajah Bastian.
"Enggak, abang sehat. Malah lagi sehat-sehatnya," ujar Bastian seraya terkekeh di depan Seruni.
Pria bergelar suami Seruni ini memang saat ini sehat, bugar dan prima. Apalagi sesuatu dalam diri mendadak terbangun dari hibernasi panjang yang ingin segera dituntaskan.
Bukan karena omongan Rasti yang bak kompor meleduk tentang Seruni. Tapi, rasa cemburu di hatinya yang tak mampu dikendalikan olehnya.
Konon kata orang-orang di luar sana, cemburu itu adalah tanda cinta.
Apakah ia sudah jatuh cinta pada Seruni ?
Entahlah, Bastian belum berani menyimpulkan. Ia takut akan perasaannya sendiri disertai masa depan pernikahannya kelak.
Tapi satu yang pasti, ia akan berusaha melindungi Seruni apapun yang terjadi. Memberi bahagia semampu yang ia bisa.
"Oh ya, tapi ading lupa minta kunci rumah Ningsih." Ucap Seruni seraya menarik lengan Bastian sehingga langkah kaki mereka terhenti.
"Tenang saja, nih udah abang bawa kuncinya." Sahut Bastian seraya mengambil kunci rumah Ningsih dari saku celananya dan menunjukkannya pada Seruni.
"Abang dapat dari mana?"
"Ya, dari Ningsih sendiri. Masa abang ny0long!" jawab Bastian seraya berjalan menuju pintu rumah Ningsih guna membuka gembok.
Ningsih sudah yatim piatu dan belum menikah, jadi wanita itu hanya tinggal sendirian di rumah sehari-hari. Ada dua bilik kamar di sana, ruang tamu berukuran sangat kecil, dapur dan kamar mandi.
Rumah sederhana tersebut peninggalan dari orang tuanya. Tak ada tembok dari semen atau batu bata. Rumah Ningsih terbuat dari kayu dan bagian dapur terbuat dari bambu.
Kamar mandi berada di dalam rumah. Berbeda dengan tempat pengasingan Bastian dan Seruni, di mana letak kamar mandinya di luar rumah dan bagian atas setengah terbuka.
Di rumah Ningsih, Bastian juga tak perlu menimba air sumur untuk mengisi bak mandi. Dikarenakan air mengalir dari saluran yang terhubung dengan mata air pegunungan terdekat.
Setengah dari rumah warga desa di sana telah menggunakan sistem air bersih seperti itu. Setiap bulan mereka akan membayar sepuluh ribu rupiah mau berapa banyak pun pemakaian air dikenakan harga sama. Sebagian warga desa sisanya tetap setia menggunakan air sumur.
☘️☘️
Seruni perlahan mengekori langkah kaki suaminya untuk masuk ke dalam rumah sahabatnya itu.
Ceklek...
Derit pintu terbuka, Bastian dan Seruni masuk ke dalam rumah Ningsih. Tak lupa Bastian kemudian mengunci kembali pintu utama rapat sempurna.
"Tadi abang ketemu Ningsih di tempat rias?" tanya Seruni.
"Iya," jawab Bastian. "Niatnya mau cari kamu di sana, tapi yang aku cari malah gak ada. Hilang entah ke mana perginya istri abang dan bersama siapa," lanjutnya dengan nada sedikit menyindir sang istri.
Seruni pun merasa bersalah dengan Bastian. Seruni menghela nafas beratnya.
"Maafkan ading ya, Bang. Tadi ading tak sengaja berpapasan dengan Kak Ardi. Dia ngajak aku bicara,"
"Iya, abang mengerti kok."
"Abang gak marah kan sama ading?"
"Kalau abang gak marah, namanya bohong. Cuma sedikit saja kok,"
Grepp...
Seketika pelukan hangat Seruni layangkan pada tubuh Bastian dari arah belakang. Keduanya saat ini dalam kondisi berdiri dan posisi Bastian berada di depan Seruni.
"Maafin ading," cicit Seruni terdengar sendu seakan hendak menangis.
"Abang maafin," ucap Bastian seraya mengelus lembut tangan Seruni yang sedang memeluknya.
"Abang bohong. Huhu..." isak tangis Seruni perlahan menyeruak. Rasa bersalah membuat air mata Seruni tak mampu ditahannya.
Bastian segera membalikkan tubuhnya. Kini keduanya saling berhadapan satu sama lain. Jari-jemari Bastian menyeka air mata di wajah cantik Seruni.
"Abang beneran gak bohong. Udah abang maafin,"
Seruni mendongakkan kepalanya karena postur tubuh sang suami lebih tinggi darinya. Ia menatap intens wajah Bastian lekat-lekat. Seruni tak menemukan kebohongan tersebut.
"Kamu mau ngabulin permintaan abang malam ini?"
"Permintaan apa, Bang?"
Bastian membungkukkan tubuhnya ke depan, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Seruni dan membisikkan sesuatu. Hal yang seketika membuat wajah Seruni memerah bak tomat rebus.
Setelah itu, Bastian kembali menegakkan tubuhnya.
"Gimana, kamu mau?" tanya Bastian.
"Abang gak perlu minta izin ke ading. Lakukan saja. Semua yang ada pada diri ading adalah milik abang," jawab Seruni seraya tersipu malu.
"Aku tetap ingin meminta izin. Walaupun kamu istriku, aku tetap ingin menghargai segala pendapat dan ingin mu. Bukan hanya keinginanku sendiri,"
Blushh...
Seruni semakin terpesona akan Bastian. Bukan hanya wajah suaminya yang tampan rupawan, tapi sikap Bastian begitu menghormatinya sebagai istri.
Dikarenakan ada beberapa rumah tangga yang sering terjadi suara istri tak didengar. Hanya ada suara mutlak dari sang suami sebagai kepala rumah tangga dalam melakukan apapun.
Di luar rumah Ningsih, Ardi datang lebih dahulu. Sedangkan Rasti memantau dari kejauhan.
"Dasar brengsek! Ngapain Kak Ardi sampai ngikutin Seruni ke rumah Ningsih!" geram Rasti dengan nada kesal.
"Apa dia masih cinta dan pengin balikan ke Seruni?" lanjutnya.
Ardi tak tau keberadaan Rasti. Sedangkan Rasti tau posisi Ardi yang perlahan melangkah guna memasuki pekarangan rumah Ningsih.
Lalu, pria itu menyelinap di samping rumah Ningsih sembari kedua matanya seakan mengintip pada celah dinding kayu yang terdapat lubang kecil untuk melihat apa yang terjadi di dalamnya.
Bersambung...
🍁🍁🍁