Alek seorang remaja SMA nakal beragama kristen sering bertanya soal kebenaran tentang hidup ini hingga datang seorang yang menjadi jawaban bagi Alek, Masya Khansa azza Nabila menjadi awal perubahan kehidupan Alek cahaya di kegelapan,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon abangku_ss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10 ketahuan
# TERPISAH OLEH DINDING AGAMA
## BAB 10: Ketahuan
Seminggu setelah kegiatan mengajar anak-anak SD, kehidupan Alek berubah dengan cara yang tidak dia sangka-sangka.
Setiap pagi, dia bangun lebih pagi dari biasanya. Alarm jam enam sudah cukup—tidak perlu ditampar ibunya atau dibentak ayahnya seperti dulu. Dia mandi dengan tenang, sarapan bersama keluarga dengan suasana yang tidak lagi tegang, lalu berangkat ke sekolah tepat waktu. Tidak ada lagi terlambat. Tidak ada lagi bolos.
Di sekolah, Alek duduk di bangku paling depan—sesuatu yang membuat semua teman sekelasnya terkejut. "Alek duduk di depan? Dunia mau kiamat apa?" ledek salah satu temannya. Tapi Alek hanya tersenyum tipis. Dia tidak peduli lagi dengan ejekan. Dia punya prioritas yang berbeda sekarang.
Nilai-nilainya mulai membaik drastis. Ulangan Matematika yang biasanya dia dapat 40, sekarang 75. Bahasa Inggris naik dari 50 ke 82. Fisika yang selalu jadi momok—dari 35 naik ke 70. Pak Hendra, guru BK, bahkan sempat memanggil Alek ke ruangannya, bukan untuk memarahi, tapi untuk memberikan apresiasi.
"Alek, apa yang terjadi sama kamu? Nilai kamu naik drastis. Sikap kamu berubah total. Guru-guru pada kaget semua," kata Pak Hendra sambil melihat rapor dengan senyum bangga.
Alek tersenyum malu. "Gue lagi... belajar jadi lebih baik, Pak."
"Karena apa? Ada motivasi baru?"
Alek terdiam sebentar, memikirkan jawabannya. "Karena... gue ketemu orang yang bikin gue sadar. Sadar kalau hidup gue selama ini salah. Gue nggak mau jadi orang yang sama lagi."
Pak Hendra mengangguk puas, matanya berkaca-kaca sedikit. "Syukurlah, Nak. Syukurlah. Terus pertahankan, ya. Dan ingat, kalau kamu butuh bantuan apapun, Bapak selalu siap."
Yang paling terlihat adalah perubahan di wajahnya. Mata yang dulu selalu tajam dan penuh amarah, sekarang lebih lembut, lebih tenang. Senyum yang dulu jarang sekali muncul, sekarang sering terlihat—meski hanya senyum tipis yang hampir tidak kentara. Bahkan cara jalannya pun berbeda. Lebih tegap tapi tidak arogan. Lebih tenang tapi tidak lemah. Ada aura berbeda yang melingkupinya.
Riki, sahabatnya sejak SMP, adalah orang pertama yang menyadari semua perubahan ini dengan detail.
Rabu siang, saat istirahat kedua, Riki duduk di samping Alek yang sedang serius membaca buku Bahasa Inggris—hal yang sangat aneh karena Alek biasanya paling males baca.
"Lex," panggil Riki pelan sambil membuka kotak makan siangnya.
"Hmm?" Alek tidak mengalihkan pandangan dari buku.
"Lo... berubah banget. Beda dari dulu."
Alek menutup bukunya, menoleh ke Riki. "Berubah gimana?"
"Lebih... tenang. Lebih... kayak orang yang punya tujuan hidup gitu. Dulu lo tuh kayak zombie—jalan tapi mata kosong, ngomong tapi nggak ada isi. Sekarang beda. Ada cahaya di mata lo. Ada... semangat."
Alek tersenyum kecil. "Lebay lo, Rik."
"Gue serius, Lex. Gue sahabat lo dari SMP. Gue tau lo kayak gimana. Dan perubahan lo ini... luar biasa." Riki menatap mata Alek dalam-dalam. "Dan gue tau... ini ada hubungannya sama kegiatan sosial kemarin kan?"
Alek tidak langsung menjawab. Dia menatap keluar jendela, ke arah pesantren yang terlihat samar dari kejauhan.
Riki tersenyum paham. "Lo suka salah satu dari mereka ya? Khansa atau Maryam?"
Alek tersentak sedikit. Lalu menghela napas panjang. "Gue... gue nggak tau, Rik."
"Maksudnya nggak tau?"
"Gue bingung." Alek menggaruk kepala yang tidak gatal. "Gue... kagum sama mereka. Cara mereka hidup, cara mereka ngomong, cara mereka memperlakukan orang—semuanya beda. Tapi apa ini suka? Apa ini cinta? Atau gue cuma... terpesona sama cara hidup mereka?" Alek menatap Riki frustasi. "Gue sendiri nggak ngerti perasaan gue sendiri."
Riki menepuk bahu sahabatnya. "Ya udah, pelan-pelan aja. Lo cari tau sendiri sambil jalan. Nggak usah buru-buru kasih label. Yang penting sekarang... lo udah berubah jadi lebih baik. Itu yang paling penting. Gue bangga sama lo."
Alek tersenyum tulus. "Makasih, Rik. Lo satu-satunya yang ngedukung gue dari awal."
"Itu kan tugas sahabat."
Mereka tertawa kecil bersama. Tapi kebahagiaan dan ketenangan itu tidak akan bertahan lama.
***
Senin pagi, minggu berikutnya. Kevin kembali ke sekolah setelah menjalani skorsing dua minggu yang terasa seperti siksaan baginya.
Wajahnya lebih keras dari sebelumnya. Rahang selalu mengencang. Mata yang dulu hanya tajam, sekarang penuh dengan kebencian yang membara. Dia masuk kelas dengan langkah berat, mengabaikan sapaan ramah dari beberapa teman yang mencoba bersikap baik. Duduk di bangku paling belakang dengan wajah cemberut seperti awan mendung yang siap menurunkan hujan.
Saat istirahat pertama, Kevin berdiri di koridor lantai dua, bersandar di pagar, menatap Alek dari kejauhan. Alek sedang tertawa dengan Riki sambil makan roti—sesuatu yang sangat simpel tapi membuat Kevin makin kesal.
"Dia ketawa? Setelah bikin gue di-skors? Setelah bikin gue dipermalukan di depan semua orang?" gumam Kevin dengan rahang mengeras, tangan mencengkeram pagar besi dengan kuat. "Gue harus tau... apa yang bikin dia berubah. Pasti ada sesuatu."
Selama tiga hari berikutnya, Kevin seperti detektif swasta yang sedang menyelidiki kasus besar. Dia diam-diam mengikuti Alek kemana-mana—tidak mendekati, hanya mengamati dari jarak aman dengan mata elang.
Selasa sore, sekitar jam empat, Kevin melihat Alek berdiri sendirian di seberang jalan Pesantren Al-Hikmah. Cuma berdiri di trotoar, menatap tembok putih tinggi itu dengan tatapan yang aneh. Bukan tatapan benci atau marah. Tapi tatapan seseorang yang sedang... memikirkan sesuatu dengan dalam. Atau memikirkan seseorang.
Alek berdiri di sana selama hampir lima belas menit, tidak melakukan apa-apa. Hanya berdiri dan menatap. Lalu tersenyum sendiri—senyum tipis yang hampir tidak terlihat—sebelum akhirnya berbalik dan pulang.
Rabu sore, hal yang sama terjadi. Tempat yang sama, waktu yang hampir sama. Alek berdiri, menatap, tersenyum tipis, lalu pulang. Kevin mencatat semua ini dengan seksama.
Kamis sore, Kevin mengikuti Alek sampai ke dalam gedung sekolah. Dia melihat Alek berhenti lama di depan mading, membaca poster tentang kegiatan sosial mendatang yang akan bekerja sama lagi dengan Pesantren Al-Hikmah. Dan untuk pertama kalinya sejak Kevin kenal Alek, dia melihat sahabat lamanya itu tersenyum lebar—senyum tulus yang sangat jarang terlihat, senyum yang mencapai mata.
"Pasti ada hubungannya sama pesantren itu," gumam Kevin sambil mencatat mental. "Gue harus cari tau lebih detail."
***
Jumat siang, di perpustakaan sekolah yang sejuk dan sepi.
Kevin duduk di pojok, pura-pura membaca buku sambil matanya memindai ruangan. Dia melihat Sarah—siswi yang baik hati, rajin, dan yang terpenting: polos dan mudah diajak bicara—sedang membaca buku di meja dekat jendela.
Kevin tersenyum tipis. Target sempurna.
Dia menghampiri dengan langkah santai, membawa buku sejarah yang bahkan tidak dia baca. "Sar, boleh duduk di sini?"
Sarah menoleh, tersenyum ramah tanpa curiga seperti biasa. "Oh, Kevin. Boleh, silakan."
Kevin duduk, membuka buku acak di hadapannya, pura-pura membaca beberapa saat untuk tidak terlihat mencurigakan. Lalu dengan nada santai dia mulai. "Sar, lo ikut kegiatan sosial minggu lalu kan? Yang ngajar anak-anak SD?"
"Iya, kenapa? Emang kenapa?"
"Seru nggak?"
Sarah tersenyum lebar. "Seru banget! Anak-anaknya lucu-lucu semua. Polos. Seneng banget bisa ngajar mereka. Rasanya... meaningful gitu."
"Lo sekelompok sama siapa waktu itu?"
Sarah tidak curiga sama sekali. Dia menjawab dengan antusias. "Aku awalnya di kelas 1 bareng Riki, terus ada dua santriwati dari pesantren—Khansa dan Maryam. Baik banget mereka berdua. Sabar, lembut, cara ngajarnya juga bagus."
Kevin mencatat mental. Dua santriwati. Khansa dan Maryam. Bingo.
Dia melanjutkan dengan hati-hati. "Wah, enak dong lo bisa sekelompok sama mereka. Terus lo ngajar kelas 1 sampai selesai?"
"Eh nggak. Alek minta tukeran sama aku di tengah-tengah. Jadi akhirnya aku yang ngajar kelas 3, Alek yang ngajar kelas 1 bareng Riki dan dua santriwati itu."
Kevin hampir tersenyum jahat tapi dia berhasil menahannya. "Oh, Alek minta tukeran? Aneh juga ya. Emang kenapa dia mau tukeran?"
Sarah mengangkat bahu polos. "Kurang tau juga sih. Dia bilang lebih suka ngajarin anak kecil. Tapi... waktu gue liat dari jauh, dia kayaknya seneng banget bisa sekelompok sama mereka."
"Seneng gimana maksudnya?" Kevin mencondongkan tubuh sedikit, berusaha terdengar seperti orang yang cuma penasaran biasa.
"Ya... dia keliatan lebih ceria dari biasanya. Lebih hidup. Senyum-senyum terus. Beda banget dari Alek yang biasanya kita kenal—yang jutek dan pendiam." Sarah tersenyum kecil. "Kayaknya dia happy banget."
Kevin mengangguk pelan sambil otaknya bekerja keras menyusun puzzle. "Jadi Alek sekelompok sama... Khansa, Maryam, dan Riki ya?"
"Iya, betul."
"Oke, Sar. Makasih banget ya infonya. Ngebantu banget."
Sarah tersenyum polos. "Iya, sama-sama. Emang kenapa sih nanya-nanya?"
"Nggak apa-apa. Cuma penasaran aja." Kevin menutup bukunya dan berdiri. "Gue duluan ya, Sar."
"Oke, Kevin."
Kevin keluar dari perpustakaan dengan senyum puas yang mengerikan. Sekarang dia punya informasi yang cukup. Dan dia tahu harus dibawa kemana informasi ini.
***
Jumat sore, jam setengah lima. Langit Bandung mulai berubah jingga. Kevin datang ke markas Venom Crew di kawasan Cibaduyut—sebuah rumah tua yang sudah lama ditinggalkan pemiliknya dan dijadikan basecamp geng.
Dimas sedang duduk sendirian di teras depan, merokok sambil menatap jalanan dengan tatapan kosong. Wajahnya lelah. Seperti orang yang sudah lama tidak tidur nyenyak.
"Bang," panggil Kevin sambil melangkah naik ke teras.
Dimas menoleh. Wajahnya datar tanpa ekspresi. "Kev. Lo udah balik sekolah?"
"Iya, Bang. Dan gue dapet info penting tentang Alek." Kevin duduk di kursi kayu di seberang Dimas, matanya berbinar penuh kepuasan dan anticipasi.
Dimas membuang puntung rokoknya ke tanah, lalu mematikannya dengan sepatu. Dia menatap Kevin dengan alis terangkat. "Info apa?"
Kevin menarik napas, seperti menikmati momen ini. "Gue tau kenapa Alek keluar dari geng, Bang."
"Kenapa?"
"Karena cewek."
Hening sejenak. Angin sore berhembus pelan. Dimas menatap Kevin dengan tatapan yang sulit dibaca.
"Cewek?" Dimas mengernyit, suaranya rendah tapi ada nada tidak percaya. "Alek nggak pernah tertarik sama cewek. Dia selalu bilang cewek cuma ganggu fokus. Dia bahkan pernah nolak cewek yang nembak dia di depan gue."
"Kali ini beda, Bang." Kevin mencondongkan tubuh. "Ini bukan cewek biasa. Ini cewek dari pesantren. Pesantren Al-Hikmah yang sering kerja sama sama sekolah kita buat kegiatan sosial."
Dimas terdiam. Rahangnya mulai mengencang. Tangannya terkepal perlahan.
Kevin melanjutkan dengan semangat, seperti reporter yang melaporkan berita besar. "Gue dapet info dari Sarah. Alek rela tukeran posisi di tengah kegiatan biar bisa sekelompok sama dua santriwati. Namanya Khansa sama Maryam."
"Dua?" Dimas mengambil rokok lagi dari bungkusnya, menyalakannya dengan tangan yang sedikit gemetar—tanda dia menahan emosi.
"Iya, Bang. Gue belum tau dia suka yang mana. Khansa atau Maryam. Tapi yang pasti... salah satu dari mereka yang bikin dia berubah total." Kevin menyeringai. "Dan gue liat sendiri, Bang—Alek sering banget nongkrong di depan pesantren itu. Tiga hari berturut-turut gue ikutin. Dia cuma berdiri di sana, menatap tembok pesantren, senyum-senyum sendiri kayak orang gila. Dia nungguin salah satu dari mereka, Bang. Gue yakin."
Dimas menarik napas dalam dari rokoknya. Asap keluar perlahan dari hidung dan mulutnya. Tangannya gemetar sedikit—tanda badai amarah sedang berkumpul di dalam dirinya.
"Panggil Alek," kata Dimas dengan suara rendah tapi penuh ancaman tersembunyi. "Sekarang. Ke sini."
Kevin nyengir lebar, seperti anjing yang baru dapat tulang besar. "Siap, Bang. Gue jemput sekarang."
***
Jumat sore, jam lima lewat sedikit. Alek baru keluar dari gerbang sekolah, berencana pulang dengan perasaan tenang, saat tiga sosok menghadangnya di parkiran motor yang sudah sepi.
Bagas berdiri di depan dengan tangan terlipat di dada. Kevin di sebelah kanan dengan senyum jahat. Joko—anggota geng yang paling besar dan tinggi—di sebelah kiri. Mereka membentuk formasi segitiga yang mengepung Alek.
"Alek," panggil Bagas dengan nada dingin yang membuat udara terasa lebih sejuk.
Alek berhenti. Jantungnya berdegup lebih cepat. Dia sudah menduga ini akan terjadi cepat atau lambat. Tapi wajahnya tetap tenang, tidak menunjukkan ketakutan.
"Ada apa?"
"Dimas mau ketemu lo. Sekarang. Di markas," kata Bagas sambil menatap Alek tajam.
"Gue nggak ada urusan lagi sama Dimas. Gue udah keluar."
Kevin melangkah maju dengan senyum yang membuat Alek ingin menonjok wajahnya. "Lo nggak ada pilihan, Lex. Ini bukan undangan. Ini perintah. Lo ikut sekarang, atau kita seret lo."
Riki yang melihat dari jauh—baru keluar dari kelas—langsung berlari dengan napas terengah. "Lex! Lo gak apa-apa?!"
Bagas mengangkat tangan, menghalangi Riki tanpa menyentuhnya. "Lo jangan ikut campur, Rik. Ini urusan geng. Bukan urusan lo."
"Alek udah keluar dari geng!" teriak Riki dengan suara yang bergetar antara marah dan khawatir.
"Makanya dia harus tanggung jawab atas keputusannya," jawab Bagas dengan nada final.
Alek menatap Riki, lalu mengangguk pelan sambil memberikan senyum tipis yang mencoba menenangkan. "Gue ikut. Tapi jangan ganggu Riki. Dia nggak ada hubungan sama ini."
Bagas mengangguk. "Deal. Selama lo ikut dengan baik, kita nggak akan sentuh dia."
Alek menepuk bahu Riki sebentar. "Gue baik-baik aja. Pulang dulu lo."
"Tapi Lex—"
"Percaya sama gue."
Alek naik ke motor Kevin, duduk di belakang dengan tangan tidak memegang apapun—tanda dia tidak takut jatuh atau kabur. Mereka berangkat ke markas dengan diapit dua motor lainnya. Sepanjang perjalanan menembus jalanan Bandung yang mulai ramai, hati Alek berdebar keras. Tapi bukan karena takut akan apa yang menunggunya. Karena... dia sudah memilih jalannya. Dan dia siap menghadapi konsekuensinya, apapun itu.
***
Markas Venom Crew di sore itu terlihat lebih ramai dari biasanya. Hampir semua anggota—sekitar dua puluh orang—sudah berkumpul di halaman depan. Mereka duduk atau berdiri membentuk setengah lingkaran, seperti penonton yang menunggu pertunjukan dimulai.
Di tengah setengah lingkaran itu, ada satu kursi kayu tua yang sudah cat-nya mengelupas. Dan di depan kursi itu, Dimas berdiri dengan tangan terlipat di dada. Wajahnya keras seperti batu. Rahang mengencang. Mata penuh amarah yang hampir tidak bisa ditahan lagi.
"Duduk, Lex," kata Dimas tanpa emosi, suaranya datar tapi ada ancaman tersembunyi di dalamnya.
Alek duduk di kursi itu dengan tenang. Semua mata menatapnya—ada yang penasaran, ada yang benci, ada yang iba. Suasana tegang seperti benang yang ditarik sampai hampir putus.
Dimas berjalan mengelilingi Alek perlahan. Seperti singa yang mengitari mangsanya sebelum menyerang. Tidak ada yang berani bicara. Hanya suara langkah kaki Dimas di tanah berbatu dan suara napas berat beberapa anggota.
"Kevin bilang..." Dimas berhenti tepat di depan Alek, menatap dari atas dengan tatapan menusuk. "Lo keluar dari geng karena cewek."
Alek tidak menjawab. Hanya menatap Dimas dengan tenang tanpa menunduk.
"Kevin bilang... lo rela tukeran posisi biar bisa sekelompok sama dua santriwati. Khansa sama Maryam."
Masih diam.
Dimas mendekat, wajahnya hanya beberapa senti dari wajah Alek. "GUE NANYA LO, LEX!" bentaknya tiba-tiba dengan suara yang menggelegar.
Alek tidak bergeming. Matanya tetap menatap mata Dimas. "Iya, Bang. Gue tukeran posisi."
"Kenapa?"
"Karena... gue pengen sekelompok sama mereka."
"KENAPA?!" Dimas menarik kerah baju Alek, mengangkatnya sedikit dari kursi. "Karena lo SUKA salah satu dari mereka?!"
Alek terdiam sebentar. Napasnya teratur meski kerahnya ditarik. Lalu dia menjawab dengan jujur, dengan suara yang lebih pelan tapi tegas. "Gue... gue nggak tau, Bang."
"MAKSUDNYA NGGAK TAU?!" Dimas melepas kerah Alek dengan kasar, membuat Alek jatuh kembali ke kursi.
"Gue bingung." Alek menatap mata Dimas dengan tatapan terluka tapi jujur. "Apa gue suka? Apa gue cinta? Atau gue cuma... kagum sama cara hidup mereka? Gue sendiri nggak ngerti perasaan gue sendiri, Bang. Yang gue tau... mereka bikin gue sadar. Sadar kalau hidup gue selama ini salah. Salah total."
Kevin tertawa sinis dari samping, suaranya memecah keheningan. "BULLSHIT! Lo cuma dikontrol cewek! Lo cuma dibuai sama cewek bercadar!"
"GUE NGGAK DIKONTROL!" Alek berdiri tiba-tiba, kursi di belakangnya terjatuh. "Mereka bahkan nggak tau gue tertarik! Mereka nggak pernah ngajak gue keluar dari geng! Mereka cuma... nunjukin cara hidup yang berbeda! Cara hidup yang punya MAKNA! Bukan cuma berantem, luka, balas dendam terus-terusan sampai mati!"
Hening total. Hanya terdengar napas berat Alek dan Dimas.
Dimas menatap Alek lama. Lalu tiba-tiba... dia tertawa. Tapi tawa yang pahit, tawa yang penuh kekecewaan dan luka. Tawa yang membuat bulu kuduk berdiri.
"Lo tau apa yang paling bikin gue sakit, Lex?" kata Dimas pelan tapi setiap kata terasa seperti pisau yang menusuk. "Bukan karena lo keluar. Gue udah bilang, siapa yang mau keluar, silakan. Tapi lo... lo keluar gara-gara CEWEK. Lo ngerusak sumpah lo. Lo ngerusak kehormatan Venom Crew. Dan yang lebih parah... lo bilang lo bahkan nggak tau lo suka mereka atau nggak?"
Dimas meludah ke tanah dengan kasar. "Menjijikkan."
Alek menatap Dimas dengan tatapan terluka tapi tetap berdiri tegak. "Gue nggak minta lo ngerti, Bang. Gue cuma minta lo lepas gue. Gue udah pilih jalan gue. Lepas gue."
"Lepas?" Dimas tertawa lagi, lebih keras, lebih pahit. "LO PIKIR GUE BAKAL LEPAS LO GAMPANG KAYAK GITU?! LO PIKIR LO BISA KELUAR TANPA KONSEKUENSI?!"
Hening.
Lalu Dimas melangkah mundur perlahan. Dia membuka jaket kulit hitamnya dengan gerakan pelan dan deliberate, melemparnya ke tanah dengan keras. Lalu dia memutar lehernya ke kanan dan kiri—terdengar bunyi "krek-krek" yang membuat beberapa anggota menelan ludah. Dia memutar bahunya, meregangkan jari-jarinya satu per satu.
Semua anggota tahu apa yang akan terjadi. Mereka pernah melihat ini sebelumnya.
"Lo mau keluar?" kata Dimas sambil menatap Alek dengan tatapan membunuh. "Oke. Gue lepas lo."
Alek merasa sedikit lega. "Terima kasih, Bang—"
"TAPI..." potong Dimas dengan suara keras. "Lo harus buktiin dulu kalau lo LAYAK keluar. Buktiin kalau lo bukan PENGECUT yang kabur gara-gara cewek."
Alek menelan ludah. Dia tau kemana arah ini.
"LAWAN GUE!" teriak Dimas dengan suara yang menggelegar, echoing di halaman markas. "Kalau lo bisa bertahan... kalau lo bisa buktiin lo bukan pengecut... gue lepas lo. Tapi kalau lo menyerah di tengah jalan... lo BALIK KE GENG. Dan nggak boleh keluar SELAMANYA!"
Semua anggota langsung bersorak keras.
"FIGHT! FIGHT! FIGHT!"
"HAJAR DIA, BANG!"
"KASIH PELAJARAN!"
Alek terdiam. Tangannya terkepal. Dia tidak mau bertarung lagi. Dia sudah janji pada diri sendiri untuk tidak kembali ke kekerasan. Untuk tidak menyakiti orang lagi.
Tapi melihat mata Dimas yang penuh amarah dan kekecewaan—mata yang dulu pernah melihatnya seperti adik—dia tahu... dia tidak punya pilihan.
Ini bukan hanya soal keluar dari geng. Ini soal kehormatan. Ini soal menutup chapter lama dengan cara yang benar.
Alek menarik napas dalam. Lalu menatap Dimas dengan tatapan serius.
"Oke, Bang," kata Alek dengan suara yang lebih tenang dari yang dia rasakan di dalam. "Gue lawan lo. Tapi ini terakhir kalinya gue bertarung. Setelah ini... semuanya selesai."
"BAGUS!" Dimas menyeringai, tapi ada kesedihan di matanya yang coba dia sembunyikan. "Jangan harap gue bakal pelan-pelan. Gue bakal fight serius. Gue bakal kasih lo pelajaran yang nggak bakal lo lupain seumur hidup."
Alek mengangguk. "Gue siap."
Semua anggota bersorak lebih keras. Arena sudah siap. Pertarungan terakhir akan segera dimulai.
***
**Bersambung ke Bab 11...**
*"Kadang, untuk menutup satu pintu dengan benar, kita harus melewati ujian terakhir yang paling berat."*
hehe semangat bangg
baguss bangett pliasss cerita nyaaa lanjutt dongg