Demi kebebasan sejati, Abimanyu, Sang Profesor, membakar masa lalunya dan meninggalkan peradaban "Manusia Kertas" di Lembah Nama. Dengan mendaki Gunung Kehendak, ia bertransformasi dari pemikul beban menjadi pencipta nilai dalam sebuah pencarian filosofis untuk melampaui batas kemanusiaan dan menjadi arsitek atas nasibnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 ARSITEKTUR DEBU
Fajar menyingsing dengan warna abu-abu yang ragu, seolah matahari sendiri enggan menyaksikan sisa-sisa penghancuran di alun-alun Lembah Nama. Embun pagi yang dingin mulai turun, namun ia tidak mampu memadamkan sisa-sisa panas yang masih berdenyut dari gundukan abu hitam di tengah alun-alun. Abu itu bukan lagi kertas; ia telah kembali menjadi materi dasar, melepaskan semua klaim intelektual yang pernah tertera di atasnya.
Abimanyu berdiri di tepi lingkaran hitam itu. Ia merasa seperti seorang arsitek yang baru saja meruntuhkan katedral megah yang ia bangun seumur hidupnya, hanya untuk menyadari bahwa ia lebih menyukai kekosongan yang ditinggalkan daripada bangunan itu sendiri. Angin pagi berhembus pelan, membawa serpihan abu—sisa-sisa teori ontologi, catatan kaki tentang etika, dan fragmen disertasi tentang estetika—terbang seperti kunang-kunang hitam yang sekarat.
Ia berlutut. Gerakan ini bukan sebuah sujud syukur, melainkan sebuah penyelidikan. Jemarinya yang biasanya hanya menyentuh permukaan halus kertas kalkir atau layar monitor, kini bersentuhan langsung dengan abu yang kasar dan hangat.
"Kebijaksanaan yang dibekukan dalam tinta adalah kebohongan yang rapi," bisiknya, suaranya parau tertiup angin. "Tetapi abu... abu adalah kejujuran yang telanjang. Ia tidak lagi menjanjikan keabadian. Ia hanya menjanjikan realitas."
Ia mulai mengumpulkan abu itu dengan tangannya. Satu genggam demi satu genggam. Ia merasakannya—tekstur dari pemikiran yang telah mati. Di dalam genggaman pertamanya, ia seolah merasakan beratnya ribuan jam yang ia habiskan di perpustakaan, kini hanya menjadi beberapa gram debu karbon. Ia memasukkan abu itu ke dalam botol kaca kecil yang ia temukan di ransel tuanya. Inilah "Arsitektur Debu" miliknya.
Bagi orang-orang yang masih terlelap di dalam asrama-asrama beton di sekelilingnya, apa yang dilakukan Abimanyu adalah kegilaan tingkat akhir. Mengapa seseorang mengumpulkan sampah pembakaran? Namun bagi Abimanyu, abu ini adalah semen bagi jembatan yang belum ada. Untuk membangun sesuatu yang melampaui "Manusia Kertas", seseorang tidak bisa menggunakan bahan yang sama dengan yang digunakan sistem untuk membangun penjara mereka. Ia harus menggunakan sisa-sisa kehancuran sistem itu sendiri sebagai pijakan.
Setiap butiran debu ini adalah pengingat bahwa "kebenaran" institusional adalah sesuatu yang bisa terbakar. Dan jika ia bisa terbakar, maka ia bukanlah Kebenaran yang sejati. Kebenaran yang ia cari haruslah sesuatu yang kebal terhadap api, sesuatu yang tetap tegak berdiri setelah semua kertas di dunia ini menjadi abu.
Abimanyu berdiri, ranselnya kini terasa sedikit lebih berat, bukan karena beban material, tapi karena simbolisme yang ia bawa. Ia mulai berjalan meninggalkan alun-alun, menuju batas terluar kampus.
Jalan setapak itu dibatasi oleh pagar besi tinggi yang ujungnya runcing, seperti tombak yang menjaga agar pemikiran tidak keluar dari batas yang telah ditentukan. Di balik pagar itu, terbentang parit besar yang memisahkan universitas dengan tanah liar yang memanjang menuju kaki gunung. Di mata para akademisi, parit itu adalah selokan pembuangan. Di mata Abimanyu, itu adalah Rubicon.
Ia berhenti di tepi parit. Air di dalamnya mengalir keruh, membawa sampah-sampah plastik dan dedaunan busuk. Namun bagi Abimanyu, ini adalah ujian teknik pertamanya. Bagaimana seorang manusia yang selama ini hanya hidup di atas karpet tebal dan lantai marmer bisa menyeberangi ketidakpastian tanpa bantuan fasilitas?
Ia merogoh botol abunya. Ia menaburkan sedikit debu hitam itu ke telapak tangannya, lalu meniupnya ke arah aliran air.
"Aku membangun jembatan di sini," katanya pada kesunyian. "Bukan jembatan dari beton yang kaku, tapi jembatan dari keberanian untuk menjadi debu."
Ia tidak mencari titian. Ia tidak mencari jembatan penyeberangan orang yang aman. Ia mundur beberapa langkah, menarik napas panjang yang memenuhi paru-parunya dengan udara pagi yang tajam, lalu berlari.
Hup!
Satu lompatan. Di udara, selama sepersekian detik, Abimanyu tidak memiliki gelar. Ia tidak memiliki posisi sosial. Ia tidak memiliki sejarah. Ia hanya sebuah massa yang bergerak melawan gravitasi, sebuah kehendak yang membelah ruang.
Saat kakinya mendarat di tanah berlumpur di seberang parit, ia merasakan hantaman yang nyata di sendi-sendinya. Rasanya sakit. Tanah itu keras, tidak rata, dan penuh dengan duri semak liar. Kakinya terperosok sedikit ke dalam lumpur hitam yang berbau tanah basah.
Abimanyu tertawa. Bukan tawa kemenangan yang angkuh, tapi tawa seorang anak kecil yang baru saja menemukan bahwa dunia ini memiliki tekstur.
"Lihat ini," gumamnya sambil menatap lumpur yang mengotori sepatu kulitnya yang mahal. "Tanah ini tidak meminta sitasi. Lumpur ini tidak membutuhkan akreditasi untuk menelan kakiku."
Ia menoleh ke belakang. Kampus Lembah Nama kini tampak seperti makam putih yang megah, diselimuti kabut yang membuatnya tampak tidak nyata. Gedung-gedungnya dibangun dengan simetri yang sempurna, melambangkan keteraturan logika manusia yang mencoba menjinakkan semesta. Namun dari tempatnya berdiri sekarang, gedung-gedung itu tampak rapuh, seperti maket yang terbuat dari kartu-kartu yang bisa runtuh hanya dengan sekali tiup.
Di depannya, dunia yang sesungguhnya menanti. Tidak ada jalan setapak yang rata di sini. Hanya ada semak belukar, bebatuan tajam, dan pohon-pohon tua yang akarnya mencuat ke permukaan seperti pembuluh darah bumi. Dan jauh di atas sana, Gunung Kehendak menjulang, puncaknya masih tersembunyi di balik awan tebal yang berkilat-kilat terkena sinar matahari pagi.
Abimanyu mulai berjalan. Setiap langkahnya kini adalah sebuah tindakan arsitektur. Ia harus memilih di mana kakinya akan berpijak. Ia harus menghitung keseimbangan tubuhnya sendiri tanpa bantuan sandaran kursi ergonomis. Ia menyadari bahwa selama ini, universitas telah melumpuhkan otot-otot eksistensinya dengan cara memberikan semua kemudahan.
"Mereka memberimu jembatan agar kau lupa cara berenang," pikirnya. "Mereka memberimu peta agar kau tidak pernah benar-benar melihat jalannya."
Ia melewati sebuah pohon ek raksasa yang batangnya penuh dengan lumut. Ia menyentuh kulit pohon itu, merasakan kekasarannya yang jujur. Inilah ilmu pengetahuan yang sejati—pengetahuan yang didapat melalui sentuhan, melalui luka, melalui keletihan fisik yang nyata.
Setiap seratus langkah, ia berhenti sejenak untuk menenangkan napasnya yang mulai memburu. Jantungnya berdetak kencang, sebuah pengingat bahwa ia adalah organisme biologis, bukan sekadar entitas intelektual. Keletihan ini terasa nikmat baginya. Ini adalah "ibadah" pertamanya di luar kuil kertas.
Ia mulai merumuskan "Arsitektur Debu"-nya dalam batin. Fondasi pertama adalah Penghancuran. Seseorang tidak bisa membangun bangunan baru di atas tanah yang masih dipenuhi puing-puing lama. Ia telah membakar puing-puing itu menjadi abu. Fondasi kedua adalah Gerakan. Kebenaran bukan sebuah titik koordinat yang statis di atas peta; ia adalah garis yang terbentuk dari langkah kaki yang tidak mau berhenti.
"Jika menetap adalah kematian," Abimanyu berbisik pada dirinya sendiri sambil menanjak bukit kecil pertama, "maka bergerak adalah satu-satunya bentuk keabadian yang diizinkan bagi manusia."
Matahari kini telah naik lebih tinggi, menyinari padang ilalang yang bergoyang tertiup angin. Warna keemasan ilalang itu kontras dengan botol abu hitam di tasnya. Abimanyu menyadari bahwa ia sedang membawa kematian (abu) menuju kehidupan (pendakian).
Di kejauhan, ia melihat sosok manusia kertas lainnya—seorang petani tua yang sedang menggarap sawah di kaki bukit. Petani itu berhenti sejenak, menatap Abimanyu dengan heran. Mungkin ia heran melihat seorang pria berpakaian rapi, namun kotor oleh lumpur, berjalan menuju hutan lebat di lereng gunung dengan tas ransel tua.
Petani itu tidak menyapa, dan Abimanyu pun tidak. Tidak ada kata yang perlu diucapkan. Bahasa yang digunakan di Lembah Nama tidak berlaku di sini. Di sini, keberadaanmu didefinisikan oleh apa yang kau lakukan, bukan oleh apa yang kau katakan.
Langkah kaki Abimanyu mulai memasuki area di mana pepohonan tumbuh lebih rapat. Cahaya matahari hanya masuk melalui celah-celah dedaunan, menciptakan pola-pola aneh di atas tanah yang penuh dengan sisa-sisa daun kering. Aroma hutan—perpaduan antara humus, kayu basah, dan kehidupan yang membusuk—memenuhi indranya.
Ini adalah laboratoriumnya yang baru. Tanpa dinding, tanpa atap, tanpa jaminan keselamatan.
Ia duduk sejenak di atas sebuah batu besar yang dingin. Ia mengeluarkan botol abu itu lagi, menatapnya di bawah cahaya yang remang-remang. Abu itu tampak diam, namun di mata Abimanyu, ia mengandung potensi yang meledak-ledak. Abu ini adalah bukti bahwa manusia bisa melampaui batas-batas kertasnya jika ia memiliki cukup keberanian untuk menyalakan api.
"Hari ini, aku membangun jembatan pertama," ucapnya pelan. "Jembatan yang tidak akan pernah bisa dilihat oleh mata Dr. Hardi atau Profesor Danu. Jembatan yang menghubungkan antara siapa aku di masa lalu, dengan siapa aku yang seharusnya."
Ia memasukkan kembali botol itu, mengencangkan tali ranselnya, dan berdiri. Otot-otot kakinya mulai terasa kaku, namun kehendaknya justru semakin lentur. Ia telah meninggalkan arsitektur beton dan kertas untuk menjadi arsitek dari nasibnya sendiri, meskipun bahan bangunannya hanyalah debu dan langkah kaki.
Gunung di hadapannya seolah berbisik, memanggilnya dengan suara angin yang menderu di antara pepohonan. Abimanyu menjawab panggilan itu dengan langkah berikutnya. Sebuah langkah yang lebih berat, lebih dalam, dan lebih nyata dari semua kalimat yang pernah ia tulis dalam hidupnya.
Di belakangnya, dunia lama telah menjadi abu. Di depannya, debu itu mulai membentuk jalan.