"Bara, sebaiknya kamu ceraikan saja Aira. Kita bukan orang kaya, dari mana uang sebanyak itu untuk membiayai pengobatannya? " bujuk Norma.
"Bu, uang bisa di usahakan. Bara tak mungkin meninggalkan Aira begitu saja. Aira anak yatim Bu, Bara sudah janji pada kepala panti akan menjaganya."
Bara memohon dengan mata memelas.
Dari dalam kamar, Aira tertunduk mendengar keributan suami dan ibu mertuanya.
Ia menghela nafas dalam. Antara pasrah dan juga berharap.
Aira menatap lekat kertas hasil diagnosa dokter yang masih ada di tangannya. Bulir air mata, menetes satu-satu membasahi kertas itu.
"Apa aku bercerai saja ya dari Mas Bara?" gumam Aira lirih.
Mungkinkah kehidupan rumah tangga yang baru hitungan hari itu mampu bertahan dari ujian itu?
Ikuti kisahnya dalam "WANITA AMNESIA ITU ISTRIKU"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RINDU
"Tapi---"
"Jangan jawab sekarang," potong Rega.
"Pikirkan saja dulu, aku nggak bermaksud mengajakmu menikah segera. Kamu punya banyak waktu buat pertimbangkan tawaranku," sambung Rega dengan senyumannya yang hangat.
Rega berdiri, kembali ke gedung panti. Punggungnya tegap, langkahnya pasti. Tak ada keraguan dalam setiap geraknya, pun saat ia menyampaikan pertanyaan tadi pada Aira.
Aira memandang punggung pria itu. Ada rasa keheranan dalam hatinya.
'Untuk apa Rega begitu serius mendekatiku yang janda ini?' batinnya.
"Rega mau kemana, Aira?"
Aira terkejut, Reina tiba-tiba duduk di sampingnya.
Aira refleks menggeleng.
"Aku pulang dulu ya, aku lupa ada jadwal lagi setelah ini dan aku ikut motornya Rega."
Reina melambai pada Aira dan buru-buru pergi menyusul Rega yang sudah jauh. Aira balas melambai sambil tersenyum.
"Mereka pulang? "tanya Alan, Bowo dan yang lain melihat Reina dan Rega pergi.
"Sepertinya, iya," sahut Aira.
"Kalau begitu kami pamit juga ya, Aira. Kita lanjut diskusi di grup chat. Kalau ada apa-apa info aja di grup jangan malu-malu komen, Oke, " minta Alan.
Aira mengangguk. "Terima kasih ya, sudah datang."
Mereka berpamitan satu-satu, lalu berjalan menuju gedung panti. Aira mengajak anak-anak kembali, untuk bersih diri. Hari memang sudah senja, waktunya mereka bersiap menyambut malam.
Malamnya setelah anak-anak bersiap tidur, Aira berkeliling memeriksa kondisi mereka. Menarik selimut, membelai kepala, menyentuh pipi lembut.
Ada tanggung jawab berat di pundaknya. Tapi, demi anak-anak ini Aira akan mengabdikan dirinya untuk mereka sampai akhirnya mereka pergi meninggalkan panti dengan segala kekuatan, kemandirian dan kepercayaan diri yang mereka dapatkan selama tinggal di panti.
Aira menutup pintu, kamar. Menyusuri lorong dan melewati ruang kerja Siska. Ia melihat Siska masih di depan komputer menatap layar, sesekali memeriksa berkas didepannya.
"Bu, sudah malam. Nggak dilanjut besok? " tanya Aira sambil melangkah masuk.
"Sedikit lagi, ibu mau pengajuan dana ke dinsos siapa tahu bisa bantu tambah-tambah untuk acara nanti."
"Aira aja Bu yang urus itu. Ibu istirahat, besok kasih arahan Aira harus ngapain."
"Oke, ibu serahkan pada mu, Ya."
Siska melepas kacamatanya dan duduk bersandar melepas penat.
"Aira, ibu sempat lihat Rega seperti berbicara sesuatu dengan mu di bawah pohon tadi. Apa dia mengatakan sesuatu yang penting? " tanya Siska menyelidik.
"Oh, itu.. nggak kok bu cuma cerita biasa, " sahut Aira canggung.
Siska tersenyum, ia tahu ada yang disembunyikan Aira. Ia melihat ekspresi terkejut itu dari kejauhan. Tapi Siska tak ingin memaksa.
"Ayo, tidur. Kita lanjut besok."
Aira mengangguk, memapah Siska ke kamarnya.
Saat dikamarnya Aira berbaring telentang menatap langit-langit kamar dengan cat yang mulai terkelupas. Ia teringat pertanyaan Rega sore tadi. Aira masih tak menyangka, Rega seyakin itu ingin menikah dengannya.
"Mas Bara, aku harus apa?" gumam Aira lirih.
Sejak mereka bercerai, mereka tak pernah bertukar kabar. Ia tak tahu bagaimana kehidupan Bara setelah mereka berpisah. Apakah Bara sudah menemukan cinta baru? Atau kah masih setia menunggunya untuk kembali bersama? Aira tak tahu.. ia tak pernya tahu soal itu.
"Aku rindu, Mas."
***
Norma duduk canggung dikursi ruang makan. Ia masih berat hati menyetujui permintaan Bara, tapi terpaksa mengiyakan dan bersedia hadir ke acara ulang tahun panti bulan depan.
Bara makan dengan perasaan lega. Ia berhasil membujuk ibunya untuk menyetujui rujuk dengan Aira. Senyuman tak hilang terulas di bibirnya.
"Bu, besok kita ke rumah pak Salim bicarakan soal pinjaman Ibu. Alhamdulillah, Bara sudah urus perpanjangan pinjaman di bank."
"Kamu pinjam lagi Bara? "
"Mau bagaimana lagi, Bu. Itu jalan paling aman. Lebih legal, dan terjamin. Pinjaman sebelumnya juga hampir selesai jadi sekalian saja Bara perpanjangan."
Norma hanya terdiam.
"Bara, kamu benar-benar tak ingin kencan dulu dengan Rasti? Siapa tahu kamu cocok dengannya."
Bara menghela nafas, tak mau menanggapi pertanyaan Ibunya.
"Mb Rasti beda loh sekarang, Mas. Nggak pencicilan kayak dulu. Lebih lembut, tenang dan dewasa, " sambung Puspa.
"Puspa, " tegur Bara.
"Puspa bukannya meragukan kondisi kak Aira. Cuma, kalau melihat kondisinya yang rapuh, memang akan sulit punya anak nantinya, Mas."
Bara duduk bersandar, meletakkan sendok dengan kasar.
"Berapa kali, Mas bilang. Perkara hamil itu hak Allah Puspa. Bukan kita yang menjamin. Sudahlah, Mas nggak mau kita bahas soal Rasti."
Puspa akhirnya diam saja. Ia bukannya tak mendukung Bara kembali pada Aira, hanya khawatir suatu saat Bara menyesali keputusannya di belakang hari dan berakhir cerai lagi.
Makan malam berakhir dingin, Bara masuk ke kamarnya setelah menyelesaikan makan malamnya.
Ucapan Puspa dan bujukan ibunya cukup membuat emosinya menegang.
" Ujian apalagi ini ya Allah. Kenapa saat tekadku bulat kembali pada Aira, orang di sekitar ku perlahan menjauhkan ku lagi dengannya? ini pertanda atau memang ujian?"
Bara menghela nafas kasar, menatap foto terakhirnya saat bersama Aira.

Mereka sempat mengambil foto selfie di kontrakan bu wulan beberapa bulan lalu, seolah merayakan kehidupan baru mereka. Sayang, kebahagiaan itu tak berlangsung lama.
Bara menutup kepalanya dengan bantal, memaksa diri untuk terlelap.
***
"Bagaimana Ma, apa kata bu Norma? "
"Nggak berhasil, Pa. Tapi.. bu Norma sempat kasih saran. Bagaimana kalau kita menyumbang untuk panti tempat mantan istrinya tinggal. Ambil hatinya, lalu perlahan kita bujuk."
Salim menyeringai, lalu mengangguk setuju.
"Ide cerdas itu, Ma. Ternyata bu Norma seserius itu ingin Bara bersama Rasti."
Hani menghela nafas kasar, menatap putrinya yang duduk termenung di teras rumah, padahal hari sudah malam.
"Semoga saja..Bara mau menerima Rasti. Dia butuh orang yang bisa memberinya semangat untuk kembali lagi seperti dulu."
Salim ikut menatap, putrinya. Tatapan penuh harap seorang ayah untuk putri semata wayangnya.
Setelah kecelakaan yang merenggut suami dan anaknya di luar negri, Rasti makin murung. Pun sudah di ajak kembali pulang ke kampung halaman. Tak ada kenangan manis yang tersisa, hanya kenangan tentang cinta pertamanya, Bara.
Meski saat itu cintanya pada Bara hanya cinta tersembunyi, entah mengapa perasaan itu masih lekat tersimpan di dasar hatinya. Itulah hal utama yang menjadi alasan Salim dan Hani berupaya keras menjodohkan keduanya.
"Apa sebaiknya, kita sampaikan saja pada Bara alasan kenapa kita mendesak Bara, Ma?"
Hani tertegun, ia khawatir Bara merasa ia hanya menjadi pelarian, bukan harapan. Tapi, kalau tak di bicarakan, Bara tak akan pernah tahu bagaimana perasaan Rasti padanya sejak dulu.
"Baiklah, Pa. Kita coba sampaikan besok saat mereka ke sini. Kebetulan, bu Norma tadi kirim pesan akan ke sini bersama Bara soal pinjaman bu Norma."
"Baguslah, itu waktu yang tepat. Ia pasti sungkan karena sudah melibatkan kita untuk penyelesaian pinjaman ibunya."
"Betul, Pa. Apalagi kalau usulan bu Norma ke panti itu kita lakukan. Pasti peluang berhasilnya makin besar."
Mata Hani berbinar penuh harapan. Bagaimana pun juga mereka harus mengupayakan kebahagiaan putrinya. Bara dudadan putrinya janda, tak ada yang salah dengan usaha mereka itu. Soal rasa bisa hadir dan dibangun setelahnya.
Rasti yang mendengar lirih percakapan kedua orang tuanya itu di teras, merasa lega. Orang tuanya berada disisinya memberi dukungan. Harapannya juga muncul, meski lukanya belum benar-benar sembuh.
Ia menatap foto suami yang berparas Eropa dan putranya yang bermata coklat itu di ponselnya. Air mata kerinduan mengalir lagi di pipinya, bersama angin malam yang membawa kesejukan pada hati yang menunggu datangnya keajaiban.