NovelToon NovelToon
EXPIREDENS

EXPIREDENS

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Kutukan / Balas Dendam
Popularitas:992
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

Tittle : EXPIREDENS
Author : Karamellatee Clandestories

VOL. 1 : Keturunan tanah darah Kutukan

Cerita tentang bagaimana para mahasiswa yang membangun akar dari masalah menghubungkan timbal balik antara masa lalu dan masa depan, terciptanya gelombang tanpa ampunan bagi mereka sang pendosa harus diselesaikan oleh kelima mahasiswa ini. Terjebak antar ruang dan waktu merajalela nyawa satu per satu, nyawa adalah taruhan dan mereka adalah detak jantung dari setiap tragedi yang akan memutarbalikkan fakta.

Pada kenyataannya mereka adalah manusia biasa yang menjadi tokoh utama dari setiap kelam nya masa lalu?

Menyusun harmoni yang ada dalam monarki, disaat semua orang memiliki pemahaman komunisme, fanatisme, dan liberalisme. Sungguh, tekad yang membawa mereka dalam angan-angan kematian. Diiringi kisah pilu, dalam nestapa berdiam diri, goyah oleh setiap godaan ingatan terukir, takkan pernah terkikis oleh waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 34: Ikatan takdir [4]

...●◉◎◈◎◉●...

...#1 Original story [@clandestories]...

...#2 No Plagiatrism...

...#3 Polite and non-discriminatory comments...

...•...

...•...

...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...

Malam itu tidak berakhir dengan kejadian besar. Justru ketenangannya terasa mencurigakan, seperti jeda sebelum sesuatu diputuskan tanpa musyawarah. Asrama kembali tenggelam dalam suara yang akrab—kipas angin yang berdengung malas, pintu kamar yang ditutup setengah hati, dan tawa kecil dari ponsel seseorang yang menonton video terlalu keras.

Rakes memilih duduk di balkon kecil lantai atas. Udara malam menyentuh wajahnya, dingin tapi jujur. Ia menyandarkan punggung ke dinding, menatap halaman yang remang, pikirannya bergerak tanpa suara. Ia tidak sedang merencanakan apa pun secara rinci, tidak juga menyusun strategi rumit. Ia hanya membiarkan satu kesimpulan mengendap perlahan: ia tidak bisa lagi berdiri di antara semuanya sendirian seperti sebelumnya.

Di dalam, Zack duduk di tepi ranjang, punggungnya sedikit membungkuk. Dadanya naik turun lebih dalam dari biasanya, seolah tubuhnya mencoba menyesuaikan diri dengan sesuatu yang belum sepenuhnya ia pahami. Tidak ada rasa sakit yang jelas, hanya ketidaknyamanan yang samar, seperti ingatan yang mengetuk pintu tapi belum diizinkan masuk. Ia menggosok lehernya, menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.

Tidak ada kepanikan.

Hanya kebingungan yang ia simpan sendiri.

Kale muncul di ambang pintu balkon, membawa dua gelas minuman instan. Ia menyodorkan satu ke arah Rakes tanpa banyak bicara. Rakes menerimanya, mengangguk singkat. Mereka berdiri berdampingan beberapa saat, menikmati keheningan yang jarang terjadi.

“Lo sadar nggak,” Kale akhirnya bersuara, nadanya ringan tapi tidak main-main, “hidup kita tuh makin ke sini makin nggak cocok sama jurusan.”

Rakes mengangkat alis tipis. “Maksud lo?”

“Gue belajar bisnis, tapi yang gue hadapi silsilah. Lo hukum, tapi kasusnya lintas generasi. Hamu komputer, tapi error-nya sejarah. Saka fashion, tapi bahannya trauma kolektif.” Kale berhenti sebentar. “Zack paling normal. Kedokteran. Tubuh. Cuma ya… tubuhnya kayak nyimpen arsip rahasia.”

Rakes mendengus pelan, nyaris tersenyum. “Analisis lo makin hari makin ngawur.”

“Ngawur itu coping mechanism,” balas Kale cepat.

Di ruang bersama, Hamu dan Saka duduk berhadapan di lantai. Hamu sibuk membongkar sesuatu di laptopnya, sementara Saka melipat kain kecil dengan gerakan hati-hati. Tidak ada percakapan berat. Hanya komentar pendek, sesekali saling menyela, seperti dua orang yang paham bahwa diam terlalu lama justru berbahaya.

“Kalau nanti semuanya berantakan,” kata Hamu tiba-tiba, masih menatap layar, “kita tetep kuliah, kan?”

Saka menoleh. “Kenapa enggak?”

“Takut aja,” Hamu menyeringai. “Takut hidup kita berubah jadi full-time drama.”

Saka tersenyum kecil. “Tenang. Drama juga butuh outfit yang bagus.”

Malam semakin larut. Satu per satu lampu kamar dimatikan. Tidak ada sumpah, tidak ada janji, tidak ada keputusan yang diumumkan. Tapi tanpa disadari, sesuatu sudah berubah. Mereka tidak lagi berdiri sebagai individu yang kebetulan berada di tempat yang sama. Mereka mulai bergerak sebagai satu lingkaran, meski belum sepenuhnya menyadari bentuknya.

Rakes kembali ke kamarnya terakhir. Sebelum menutup pintu, ia menoleh ke lorong yang sepi. Wajah Damian sempat terlintas lagi di benaknya, tapi kali ini tidak memicu amarah seperti sebelumnya. Hanya kewaspadaan yang tenang, dingin, dan matang.

Ia tahu, cepat atau lambat, masa lalu akan berhenti menjadi bisikan dan mulai menuntut jawaban. Dan saat itu tiba, ia tidak ingin lagi menjadi satu-satunya yang berdiri paling depan.

Di kamar sebelah, Zack akhirnya tertidur. Napasnya masih dalam, tapi lebih teratur. Di balik tidur itu, ingatan bergerak pelan, belum membentuk gambar utuh, hanya garis-garis samar yang menunggu waktu.

Dan malam itu pun berlalu—bukan sebagai penutup, melainkan sebagai garis jeda sebelum cerita mereka benar-benar menuntut untuk dilanjutkan.

Pagi berikutnya datang dengan ritme yang lebih cepat, seolah kota dan kampus sepakat untuk tidak memberi mereka waktu terlalu lama untuk berpikir. Jadwal kuliah menumpuk, notifikasi grup bermunculan, dan aroma kopi instan kembali memenuhi asrama. Semuanya tampak normal—cukup normal hingga terasa dibuat-buat.

Zack bangun dengan kepala sedikit berat, bukan sakit, lebih seperti habis begadang padahal tidak. Ia duduk beberapa saat, menenangkan napas, lalu berdiri. Gerakannya terhenti sebentar ketika ia meraih gelas di meja dan tanpa sengaja menjatuhkannya. Bunyi pecahannya tajam, terlalu keras untuk pagi yang seharusnya santai.

“Maaf—” ucapnya refleks, lalu terdiam.

Pecahan kaca berkilau di lantai. Pantulannya membuat dadanya kembali terasa sempit, seakan ada tekanan yang menekan dari dalam. Bukan rasa sakit, melainkan desakan yang membuat napasnya pendek. Ia menunduk, berusaha mengatur napas, telapak tangannya menekan dada tanpa sadar.

Suara langkah kaki cepat terdengar dari luar kamar. Pintu terbuka hampir bersamaan.

Rakes berdiri paling depan, wajahnya langsung berubah saat melihat kondisi Zack. Kale menyusul dengan rambut masih berantakan, Hamu menguap lebar, dan Saka berhenti di ambang pintu, matanya menyapu keadaan dengan cepat.

“Gelas doang,” Zack mencoba bercanda, suaranya putus-putus. “Drama dikit, nggak apa-apa.”

“Lo lagi sesak,” kata Kale lugas. “Itu bukan drama.”

Hamu melirik pecahan kaca lalu ke Zack. “Gue bersihin. Lo duduk.”

Zack menuruti, duduk di tepi ranjang. Napasnya masih belum sepenuhnya teratur. Rakes berjongkok di depannya, tidak menyentuh, hanya berada cukup dekat untuk memastikan Zack fokus.

“Tarik napas pelan,” ucap Rakes, suaranya rendah dan stabil. “Nggak usah buru-buru.”

Zack mengikuti, meski keningnya berkerut. Beberapa detik berlalu sebelum dadanya terasa sedikit lebih longgar. Ia mengangkat pandangannya.

“Ini makin sering,” katanya jujur. “Gue nggak tahu kenapa.”

Hening singkat menyelimuti ruangan. Kale dan Hamu saling pandang, lalu melihat ke arah Rakes. Tidak ada tuduhan, tidak ada desakan. Hanya satu permintaan yang tidak diucapkan.

Rakes menarik napas panjang. Wajahnya menunjukkan kelelahan yang sudah lama ditahan.

“Gue jelasin,” katanya akhirnya. “Nggak sekarang, nggak detail. Tapi cukup biar kalian ngerti kenapa ini saling nyambung.”

Ia berdiri, menatap satu per satu. Tidak ada bahasa yang rumit. Tidak ada istilah asing. Hanya garis besar, hanya inti. Tentang masa lalu yang tidak selesai. Tentang nama-nama yang saling terkait. Tentang sebab yang membuat kondisi Zack dan Saka tidak berdiri sendiri.

Cerita itu tidak panjang, tapi berat. Ketika Rakes selesai, ruangan kembali sunyi, kali ini dengan jenis hening yang berbeda—hening orang-orang yang sedang mencerna.

Kale menyilangkan tangan, menatap lantai beberapa detik. “Jadi… kalau disimpulin,” katanya pelan, “ini bukan soal satu orang. Ini kayak… satu cerita lama yang nyeret generasi sekarang.”

Hamu mengangguk. “Dan kita kebetulan ada di tengahnya.”

Saka menatap Zack. “Makanya rasanya familiar. Bukan karena kita pernah ingat, tapi karena tubuh kita pernah tahu.”

Zack mengusap wajahnya pelan. Tidak panik. Tidak menyangkal. Hanya lelah. “Gue nggak minta ini,” katanya. “Tapi kayaknya juga nggak bisa pura-pura nggak ada.”

“Tenang,” Kale tiba-tiba menyela, nada suaranya kembali seperti biasa. “Setidaknya kita nggak sendirian. Dan jujur aja, gue lebih takut presentasi besok daripada kutukan apa pun.”

Hamu terkekeh. “Gue takut laptop gue crash.”

Saka menambahkan dengan serius tapi santai, “Gue takut desain gue jelek.”

Zack tertawa kecil. Ketegangan di dadanya terasa berkurang, meski tidak hilang sepenuhnya.

Rakes memperhatikan semuanya, diam-diam. Ia tahu ini belum selesai. Jauh dari selesai. Tapi untuk pertama kalinya, ia tidak merasa memikul semuanya sendiri.

Beberapa jam kemudian, mereka keluar asrama bersama. Tidak ada rencana besar diumumkan. Tidak ada tujuan dramatis. Hanya satu keputusan sederhana yang terbentuk tanpa suara: apa pun yang bergerak ke arah mereka, mereka akan menghadapinya bersama, sambil tetap menjalani hidup mereka sebagai mahasiswa yang punya jadwal, tugas, dan keluhan receh.

Diantara langkah kaki yang terdengar biasa itu, ada satu kesadaran yang pelan-pelan menguat—masa lalu mungkin berat, tapi masa sekarang tidak akan mereka lewati sendirian.

......................

Siang itu berlalu tanpa kejadian aneh, dan justru itulah yang membuat semuanya terasa ganjil. Tidak ada pusing mendadak, tidak ada suara di kepala Zack, tidak ada tanda-tanda tubuhnya kembali memberontak. Ia mengikuti kelas praktik seperti biasa, mencatat, mendengarkan, bahkan sempat bercanda ringan dengan teman sekelompoknya. Dari luar, ia tampak sepenuhnya normal.

Namun normal tidak selalu berarti tenang.

Ada momen-momen kecil yang luput dari perhatian orang lain, tetapi tidak dari dirinya sendiri. Cara tangannya berhenti sesaat sebelum menulis, seolah ragu. Cara pandangannya kosong sepersekian detik lebih lama ketika dosen menyebut istilah tentang memori tubuh. Hal-hal remeh, tapi cukup untuk menimbulkan pertanyaan yang terus berputar di kepalanya.

Sore hari, mereka kembali berkumpul di asrama. Tidak dengan formasi serius, tidak pula dengan suasana tegang. Hamu langsung menyalakan laptop, Kale menjatuhkan tasnya ke sofa sambil mengeluh soal tugas kelompok, dan Saka menggelar buku sketsanya di lantai, kali ini menggambar pola yang berulang—lingkaran yang saling berpotongan, tidak sempurna, tetapi konsisten.

Rakes berdiri di dekat jendela, memperhatikan semuanya tanpa ikut campur. Ia tidak lagi terlihat seperti orang yang siap menahan ledakan dari segala arah, tetapi juga belum sepenuhnya rileks. Seperti seseorang yang tahu badai akan datang, hanya belum tahu dari arah mana.

Zack duduk agak menyendiri. Ia tidak ingin terlihat menjauh, tetapi juga tidak ingin berpura-pura sepenuhnya baik-baik saja. Di dalam kepalanya, ada sensasi seperti pintu yang tidak terkunci rapat—tidak terbuka, tetapi cukup longgar untuk membiarkan angin masuk.

Ia menutup mata sebentar.

Bukan kilatan ingatan yang muncul, melainkan perasaan. Berat. Lama. Tua. Seperti berdiri di tempat yang pernah ramai, tetapi kini hanya menyisakan jejak. Ia membuka mata kembali, napasnya stabil, namun jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

“Kalian pernah ngerasa,” ucap Zack tiba-tiba, memecah suasana, “kayak badan lo tau sesuatu yang otak lo belum inget?”

Kale menoleh. “Gue ngerasa gitu tiap mau ujian.”

“Itu beda,” jawab Zack, nyaris tersenyum.

Hamu menggeser kursinya. “Kalau dari sisi logika, tubuh emang nyimpen kebiasaan. Otot, refleks, respon.”

Saka mengangkat pandangan dari gambarnya. “Kalau dari sisi lain, mungkin ada hal yang belum siap diingat, tapi sudah siap dirasakan.”

Tidak ada yang menertawakan kalimat itu. Tidak juga memperdebatkannya. Semua menerima begitu saja, seperti potongan puzzle yang belum bisa dipasang tapi jelas milik gambar yang sama.

Rakes akhirnya bersuara. “Apa pun yang muncul nanti, jangan dilawan sendirian. Nggak perlu buru-buru ngerti semuanya.”

Zack mengangguk pelan. Ia tidak bertanya lebih jauh. Untuk saat ini, itu sudah cukup.

Malam datang kembali dengan langkah pelan. Lampu asrama menyala satu per satu. Suasana kembali santai—terlalu santai, bahkan. Kale mengomentari makanan pesanannya yang datang terlambat, Hamu sibuk debat kecil dengan sistem operasi di laptopnya, dan Saka tertawa kecil melihat salah satu desain lamanya yang ia anggap berlebihan.

Rakes memperhatikan dari balik keheningan yang lebih jinak. Ia tahu, ini bukan jeda yang akan bertahan lama. Sesuatu di masa lalu telah bergerak, dan pergerakan itu tidak akan berhenti hanya karena mereka mencoba hidup normal.

Namun untuk malam ini, ia membiarkan semuanya berjalan seperti seharusnya. Tidak ada penjagaan berlebihan. Tidak ada larangan. Hanya kebersamaan yang dibiarkan tumbuh dengan ritmenya sendiri.

Di kamar, saat lampu sudah dimatikan, Zack berbaring menatap langit-langit. Dadanya terasa lebih tenang dibanding pagi tadi, tetapi pikirannya tidak sepenuhnya kosong. Ia tidak lagi bertanya apakah sesuatu itu nyata atau tidak. Pertanyaannya berubah menjadi kapan, bukan jika.

Dan di lorong asrama yang sunyi, langkah seseorang berhenti sejenak sebelum berlanjut lagi—tidak terlihat, tidak dikenali, tetapi cukup dekat untuk menjadi bagian dari cerita yang belum selesai.

Malam itu pun kembali menutup hari, bukan dengan jawaban, melainkan dengan kesiapan pelan-pelan yang mulai terbentuk di antara mereka.

...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...

1
Astari ques
🤣🤣🤣
Astari ques
iyalah rakes sangatlah mental baja💪
Astari ques
si rakes di luar angkasa emang🤭🤣🤣
Astari ques
alur ceritanya bagus dan penokohannya keren keren🤗🤗
Astari ques: Siap kak😄😄
total 2 replies
Astari ques
seru banget ceritanya😍
Astari ques
Wow cerita bagus banget mana ganteng2 lagi karakternya😍
Karamellatee Clandestories
lanjutt baca ajaa
Rectoverso
menarique.... /Applaud/
Junet-ssi
Zack punya penyakit mental kah?
Aarmaaa28
hi
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel
bagus sih buat cerita nya NIAT banget malah, tapi kurang promosi aja
Karamellatee Clandestories: terimakasihhhn
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!