Di usia delapan belas tahun, saat gadis-gadis seusianya sibuk mengejar mimpi dan bangku perkuliahan, Gisella Amanda memilih jalan yang tak lazim: menjadi istri Arlan Bramantyo sekaligus ibu tiri bagi Keira Zivanna.
Baginya, Arlan bukan sekadar suami, melainkan pelindung dan tempatnya pulang. Namun, angan-angan tentang rumah tangga yang hangat perlahan luruh. Gisel justru terjebak dalam perang dingin melawan bayang-bayang masa lalu dan tumpukan kesalahpahaman yang tak kunjung usai.
Tanpa pamit, Gisel melangkah pergi membawa luka yang menganga. Ia mengubur identitas gadis ceria yang dulu dicintai Arlan, lalu membangun dinding kokoh di hatinya.
Kini, mampukah Arlan mengejar jejak yang sengaja dihilangkan? Dan ketika maaf terucap, apakah ia masih sanggup meruntuhkan dinding yang telah Gisel bangun dengan rasa kecewa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Gisel?
Deru mesin motor Om Arman membelah angin malam yang menusuk tulang. Di sepanjang jalan pulang dari perumahan itu, suasana terasa tegang. Arlan memang telah membawa Keira kembali, tapi aroma dunia pria itu seolah masih menempel di jaket Gisel.
"Kamu harus hati-hati dengan laki-laki, terutama yang modelan Alan itu," ucap Om Arman, suaranya parau tertelan angin.
"Arlan, Om," ralat Gisel singkat, mencoba memperbaiki posisi duduknya di boncengan.
"Terserah! Alan, Arlan, bagiku tidak ada bedanya. Kalau bisa, jangan berhubungan lagi dengannya. Orang-orang seperti dia punya dunia yang berbeda dengan kita. Jangan sampai kamu cuma jadi mainan atau beban buat mereka."
Gisel menghela napas panjang, menatap lampu-lampu jalan yang memudar di balik helmnya. "Aku tidak sengaja mencari hubungan dengannya, Om. Aku kenal dia karena Keira. Anak itu... dia sepertinya kesepian."
"Lebih-lebih karena gadis kecil itu! Dia pintu masuk yang paling licin. Kalau kamu mau cari pendamping nanti, setidaknya carilah yang seperti Om-mu ini," sahut Om Arman, kali ini dengan nada sedikit lebih santai, meski tetap tegas.
Gisel terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana. "Percaya diri sekali, Om."
"Jelas! Om bisa menafkahi, bisa melindungi, dan sangat bisa diandalkan. Tidak perlu jas rapi untuk jadi laki-laki sejati."
"Iya, iya. Tapi aku belum terpikirkan untuk mencari pendamping. Bukankah Om sendiri yang bilang aku harus fokus dengan sekolahku? Katanya aku harus kuliah dan keluar dari tempat itu?"
"Ya. Itu yang utama. Jangan sampai kamu menjadi bodoh seperti pamanmu ini... atau ayahmu itu!"
Gisel mendadak bungkam. Jika pembahasan sudah menyentuh almarhum ayahnya, ia lebih memilih untuk menulikan telinga. Om Arman menyimpan dendam yang berkarat karena menganggap ayahnya adalah penyebab kematian ibunya—satu-satunya kakak perempuan yang Arman miliki.
Kebenaran pahit itu menghantam Gisel saat ia masih kelas 6 SD. Di depan nisan ibunya, keluarga pihak ayah justru memakinya sebagai "anak pembawa sial". Pukulan mentah Om Arman hari itu mengakhiri perselisihan, sekaligus memutus hubungan Gisel dengan garis keturunan ayahnya. Sejak saat itu, Gisel bersumpah untuk hanya percaya pada Om Arman, meski itu berarti dia harus hidup di jantung Jalan Bunga.
Sesampainya di rumah, tak ada lagi kata-kata. Mereka kembali ke kesibukan masing-masing dalam diam, seolah apa yang terjadi tadi hanyalah mimpi buruk yang lewat.
Keesokan harinya, saat sekolah libur, Gisel memutuskan untuk menepi sejenak dari bisingnya Jalan Bunga. Ia ingin berziarah ke makam ibunya. Kali ini, ia ditemani oleh Fajri, putra sulung Om Arman yang hanya terpaut dua tahun darinya.
"Menginap di tempat biasa, dan pesan satu kamar saja!" pesan Om Arman dengan nada otoriter sebelum mereka berangkat.
Fajri sempat memprotes, "Tapi Yah, kami sudah sama-sama dewasa. Masak iya satu kamar?"
"Kalau beda kamar, kamu tidak bisa menjaga kakakmu. Jangan membantah!"
Fajri berangkat dengan wajah ditekuk, namun begitu roda motor mereka menyentuh aspal kota sebelah, Gisel langsung mengambil kendali.
"Kita pesan dua kamar," cetus Gisel saat mereka sampai di penginapan sederhana yang biasa mereka singgahi saat berziarah.
"Kakak yakin? Nanti kalau Ayah tahu dan marah, bagaimana?" tanya Fajri ragu.
"Asal kamu tidak bercerita, Om tidak akan tahu. Aku sudah cukup besar untuk punya privasi, Fajri. Dan kamu juga butuh tempat sendiri."
Fajri akhirnya setuju. Ia menggerakkan tangannya di depan mulut, menirukan gerakan menutup ritsleting. "Oke, rahasia aman."
Tanpa mereka sadari, jaring-jaring informasi Om Arman jauh lebih luas dari yang mereka bayangkan. Pemilik penginapan itu adalah kawan lama Om Arman di dunia hitam. Tak sampai satu jam, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Om Arman: "Dua kamar."
Arman hanya menatap layar ponselnya sambil menyesap kopi hitam tanpa gula. Ia tidak marah, tapi ia menyimpan fakta itu. Baginya, pembangkangan sekecil apa pun tetaplah utang yang harus dibayar saat mereka kembali besok.
Di sisi lain
.
Dalam ruang kerja yang dingin dan sunyi, Arlan sedang memijat pelipisnya. Layar ponselnya menampilkan wajah ibunya, Bu Ratna, melalui panggilan video.
"Kenapa wajahmu terlihat lesu sekali, Nak?" tanya Bu Ratna khawatir.
"Keira menolak semua pengasuh yang aku cari, Bu. Tiga kandidat hari ini gagal total. Mereka punya sertifikat, punya pengalaman anak autis, tapi Keira bahkan tidak mau satu ruangan dengan mereka."
"Lalu kamu mau bagaimana? Pengasuh lamamu di sini sudah punya pekerjaan baru."
"Tidak bisakah Ibu kemari sebentar saja? Hanya sampai aku menemukan orang yang tepat."
"Kalau bisa, Ibu sudah ikut bersamamu sejak hari pertama, Arlan! Tapi ayahmu... kondisinya sedang menurun. Beliau lebih membutuhkan Ibu di sini."
Arlan menghela napas berat. Ia merasa terjepit di antara kewajiban sebagai anak dan tanggung jawab sebagai ayah.
"Apa aku minta Gisel saja untuk menjadi pengasuh?" gumam Arlan tanpa sadar.
"Siapa Gisel?" suara Bu Ratna mendadak tajam karena penasaran.
Arlan terpaksa menceritakan sosok gadis berseragam itu. Ia menceritakan bagaimana Keira yang biasanya tertutup, bisa tertidur pulas di pangkuan Gisel. Ia menceritakan tentang panggilan "Mama" yang membuat dadanya sesak. Namun, Arlan sengaja menyimpan rahasia tentang Jalan Bunga. Ia tak ingin ibunya tahu bahwa cucunya menempel pada gadis dari lingkungan lokalisasi.
"Kalau dia bisa membuat Keira nyaman, tidak ada salahnya dicoba, Arlan," saran Bu Ratna.
Arlan merutuki ide konyolnya itu dalam hati. Bagaimana mungkin aku mempekerjakan anak sekolah? Latar belakangnya bisa mempengaruhi Keira. Dan apa kata orang nanti jika kepala cabang bank berurusan dengan gadis dari Jalan Bunga?
"Aku akan mencoba memikirkannya lagi, Bu," jawab Arlan demi menenangkan ibunya.
Tepat setelah panggilan berakhir, Nancy menelepon. "Arlan, aku punya kabar baik. Aku mengenal seorang fisioterapis profesional yang mau menjadi pengasuh Keira. Dia ahli dalam menenangkan anak tantrum."
Arlan merasa sedikit beban terangkat dari bahunya. "Terima kasih, Nancy. Kuharap kali ini benar-benar berhasil."
Ia menutup telepon dengan harapan tipis. Ia ingin menjauhkan Keira dari Gisel. Baginya, Gisel adalah "mawar" yang tumbuh di tempat yang salah—indah namun durinya bisa melukai reputasi dan masa depan Keira.
Namun, Arlan belum menyadari, bahwa di dunia Keira yang sunyi, bukan sertifikat atau profesionalisme yang dicari, melainkan sebuah pelukan yang tulus.
maaf kak,
kayaknya bab nya terbalik ya🙏🙏