Isabella Harper adalah wanita muda dan mandiri yang tidak pernah kalah dalam perdebatan. Dia merasa hidupnya akhirnya sesuai dengan keinginannya. Dia memiliki pekerjaan yang bagus dan rumah baru yang nyaman. Hidupnya sempurna.
Dia memiliki semua yang diinginkannya kecuali satu hal, seorang bayi.
Karena pengalaman pahit di masa lalu, Bella kesulitan mempercayai laki-laki, sehingga dia tidak punya pilihan lain selain donor sperma.
Lalu apa yang terjadi ketika dia mengetahui bahwa ada kesalahan penempatan, bahwa dia mengandung benih dari pewaris miliarder Rafael Mogensen?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana Rovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#13.
Rafael bergegas keluar dari rumah sakit dengan rahang mengeras. Amarah masih berdenyut di kepalanya. Ia tidak percaya pada ketidakbecusan orang-orang itu. Sebuah prosedur sederhana, menginseminasi wanita bahkan gagal mereka lakukan.
Masalah yang seharusnya bersifat sementara kini berubah menjadi rumit dan berlapis.
Rencananya jelas sejak awal, seorang wanita akan mengandung anaknya selama sembilan bulan, lalu menghilang dari hidupnya. Selesai. Tidak ada ikatan, tidak ada drama, tidak ada tuntutan emosional. Namun kenyataan berkata lain. Kini ia justru terikat dengan Bella, dan kemungkinan besar, untuk selamanya.
Memiliki ibu tunggal dalam hidup anaknya adalah variabel yang sama sekali tidak pernah ia perhitungkan. Terlalu banyak komplikasi, terlalu banyak celah untuk masalah. Rafael bukan tipe pria yang pandai berkomitmen, dalam bentuk apa pun. Dan situasi ini hanya akan membuat peran sebagai orang tua terasa semakin mustahil, bukan berarti ia pernah berniat menjalani peran itu sepenuhnya.
Satu-satunya jalan keluar yang masuk akal baginya adalah mendapatkan hak asuh penuh atas anak itu dengan cara apa pun. Setelah itu, Bella bisa menghilang dari hidup mereka. Itu rencana paling mudah.
Ia perlu menjernihkan pikiran. Satu hal yang ia yakini, Bella tidak akan menjadi bagian dari kehidupan anaknya.
Setidaknya untuk saat ini, Rafael tidak ingin memicu konflik baru. Ia tidak akan melakukan apa pun yang bisa membahayakan kesehatan bayi itu.
Ia membuka kunci mobil dan masuk ke dalamnya. Beberapa pasang mata sempat menoleh ke arah mobilnya, namun ia tidak peduli. Mesin dinyalakan, dan ia melajukan mobil meninggalkan area parkir rumah sakit.
Masih ada banyak urusan yang menunggunya, urusan yang tidak bisa ia abaikan.
Presentasi untuk para investor baru akan dilakukan dalam beberapa hari ke depan. Rafael menolak membiarkan seluruh hidupnya berantakan hanya karena satu kesalahan fatal. Jika ada satu hal yang masih bisa ia kendalikan, itu adalah bisnisnya.
Biasanya ia tidak bekerja di akhir pekan, tetapi kali ini jadwalnya sudah terlalu padat.
Staf kantornya termasuk asistennya bekerja enam hari seminggu, termasuk Sabtu, demi memastikan ia selalu mendapatkan laporan terbaru.
Beberapa menit kemudian, Rafael tiba di kantor pusat perusahaan. Ia melangkah cepat memasuki gedung dan langsung menuju kantornya.
“Selamat siang, Tuan,” sapa Rosa begitu ia masuk.
Rafael hanya memberi isyarat singkat agar wanita itu mengikutinya.
“Panggil Volker ke ruanganku sekarang,” perintahnya tanpa basa-basi. Rosa mengangguk dan segera keluar.
Volker adalah kandidat kuat untuk memimpin tim lapangan baru mereka di Rusia minggu depan. Para investor akan datang dari berbagai penjuru dunia. Beberapa model jet pribadi terbaru sudah disiapkan untuk dipresentasikan.
Jika semuanya berjalan sesuai rencana, proyek itu bisa mendatangkan miliaran dolar bagi perusahaan.
Beberapa menit kemudian, Volker masuk ke ruangan. Rosa menutup pintu di belakangnya.
Rafael mengangkat pandangan. Kini, saatnya kembali mengendalikan sesuatu yang masih bisa ia kuasai.
Rafael menyandarkan punggungnya pada kursi kerja dan menautkan kedua tangannya di atas meja. “Bagaimana perkembangan presentasinya?” tanyanya.
“Berjalan sangat baik, Tuan. Semua catatan yang Anda berikan sudah kami perbaiki. Tim siap untuk presentasi,” jawab Volker yakin.
Volker selalu seperti itu, efisien, disiplin, dan tidak pernah melenceng dari instruksi. Salah satu alasan Rafael memilihnya.
“Jika Anda berkenan, Tuan, Anda bisa meninjaunya. Kita masih punya dua hari untuk melakukan penyesuaian akhir,” lanjut Volker.
“Dua hari?” Rafael mengulang, alisnya berkerut.
“Presentasi akan dimulai tiga hari lagi,” jawab Volker.
Rafael terdiam sesaat. Ia benar-benar kehilangan banyak waktu. Ia sudah tertinggal hampir satu minggu dari jadwal awal.
Untungnya, timnya tidak pernah bergantung sepenuhnya padanya untuk mulai bekerja.
“Aku lupa,” gumam Rafael cukup pelan agar tidak terdengar oleh Volker.
Ia tidak ingin memberi kesan bahwa kelalaian adalah sesuatu yang bisa ditoleransi. Itu berarti ia harus berangkat ke Rusia besok pagi. Seluruh rangkaian acara akan memakan waktu sekitar satu minggu. Selain presentasi jet pribadi, akan ada pemaparan proyek lain mulai dari mobil super cepat hingga kapal pesiar mewah. Mungkin ia sempat menghadiri karnaval. Jika jadwal memungkinkan.
“Kau boleh pergi,”
Volker mengangguk singkat lalu meninggalkan ruangan. Begitu pintu tertutup, Rafael menekan tombol interkom.
“Rosa,” panggilnya.
Beberapa detik kemudian, asistennya masuk. “Anda memanggil, Tuan?”
“Hubungi penyelidik swasta itu. Katakan padanya aku ingin bertemu secepatnya,” perintah Rafael tanpa basa-basi.
“Baik, Tuan. Ada hal lain?”
“Tidak.”
Rosa keluar kembali, menutup pintu dengan hati-hati.
Rafael menyandarkan kepala ke sandaran kursi, tatapannya kosong sejenak. Ia perlu mengetahui segalanya tentang wanita yang mengandung anaknya. Situasi ini saja sudah cukup kacau, ia tidak akan membiarkan satu variabel pun luput dari kendalinya.
Setelah meninggalkan klinik dan pertemuan terakhir dengan Dr. Tina, Rafael memastikan setengah juta telah ditransfer ke rekening Isyana. Kesalahan ini bukan tanggung jawab wanita itu. Lagipula, ia memang membutuhkan uang tersebut.
Ia bukan tipe pria yang membayar seseorang sebelum pekerjaan selesai, tetapi kali ini ia membuat pengecualian. Karena Isyana mengingatkannya pada ibunya.
Rafael menghela napas pelan, lalu kembali fokus. Masih ada beberapa proposal yang harus ditinjau, kontrak yang perlu ditandatangani, dan cek yang menunggu persetujuannya termasuk proyek pembangunan bandara pribadi baru mereka di Florida.
Ia baru saja meraih pulpen ketika terdengar dentuman keras di pintu kantornya. Rafael mendongak, sorot matanya mengeras.
Tidak banyak orang yang berani mengetuk pintunya seperti itu.
Siapa pun itu, jelas bukan tamu biasa. Tidak ada seorang pun yang berani datang ke kantornya tanpa pemberitahuan, kecuali jika urusannya benar-benar mendesak.
Rafael bahkan belum sempat menyahut ketika gagang pintu berputar. Sebuah kaki melangkah masuk, disusul pintu yang terbuka lebar, memperlihatkan sosok Jack dengan ekspresi kesal.
Rafael mendecakkan lidahnya pelan. Ia seharusnya tidak terkejut. “Apa yang kau lakukan di sini?”
Ia sudah cukup sibuk. Kehadiran Jack jelas bukan sesuatu yang ia butuhkan saat ini.
“Aku ke rumahmu, tapi Jeny bilang kau belum pulang,” jawab Jack santai sambil melangkah masuk tanpa izin.
Ia bisa saja menelepon. Rafael tahu itu. Dan Jack juga tahu panggilannya kemungkinan besar akan diabaikan.
Jack menyipitkan mata, “Kau sedang bekerja, jadi aku berasumsi kunjunganmu ke dokter tadi tidak berjalan sesuai rencana.”
Jack mengenalnya terlalu baik. Rafael menjatuhkan pulpen di atas meja, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Kau bahkan tidak bisa membayangkannya,” ucapnya.
Jack duduk di kursi di seberang meja, menyilangkan lengannya. “Tidak apa-apa kalau dia tidak hamil. Kau selalu bisa mencoba lagi dengan wanita lain,” katanya enteng.
“Masalahnya, ada yang hamil. Hanya saja… bukan orang yang seharusnya,” jawab Rafael.
Jack terdiam ketika Rafael menjelaskan semuanya, tentang kesalahan klinik, tentang Bella, tentang bayi yang kini tumbuh di rahim wanita yang sama sekali tidak pernah masuk dalam rencananya. Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
“Kalau begitu ini justru sempurna,” ujar Jack tiba-tiba.
Rafael menatapnya tajam. “Apa kau benar-benar mendengarkan apa yang kukatakan?”
Jack mengangkat bahu. “Aku mendengarkan. Dan menurutku tetap sempurna. Kau memang tidak pernah berniat menjadi ayah sepenuhnya, kan? Rencanamu dari awal adalah anak itu diasuh orang lain. Dengan begini, anakmu akan terawat dengan baik, dan kau tidak perlu melakukan apa pun selain menjadi ayah yang rajin mengirim uang.”
Mudah baginya untuk mengatakan itu. Ayah Jack adalah tipe pria seperti itu, hanya muncul untuk memastikan ada seseorang yang kelak bisa mewarisi klub-klub malamnya.
“Dia mungkin tipe ibu yang melarang anakku main video game,” gumam Rafael dengan nada tidak senang.
“Video game memang buruk. Cobalah berpikir logis,” sahut Justin.
“Aku tidak suka berbagi,” Rafael mengoreksi.
Dan itu bukan sekadar pernyataan emosional, itu fakta. Ia akan memastikan mendapatkan hak asuh penuh atas anak itu.
Rafael mengalihkan pandangannya ke jendela, rahangnya mengeras. Ia berharap penyelidik swasta itu bisa menemukan sesuatu yang cukup buruk untuk membuktikan bahwa Bella tidak layak menjadi seorang ibu.
Seolah-olah waktu memang berpihak padanya, Rosa masuk ke ruangan sambil membawa seorang pria di belakangnya.
Jack langsung mengenali situasi itu. Ia menoleh ke arah Rafael dengan tatapan tak percaya, seakan baru saja membenarkan dugaan terburuknya.
“Katakan padaku kau tidak benar-benar melakukannya,” bisik Jack tajam.
“Ya,” balas Rafael sama pelannya.
“Silakan masuk,” ucap Rafael sambil memberi isyarat.
Pria itu melangkah masuk dan duduk di kursi di sebelah Jack.
Namanya Ludwig Zerkin—seorang penyelidik swasta yang direkomendasikan Richard bertahun-tahun lalu. Sejak saat itu, Ludwig telah terbukti sangat berguna. Ia dikenal mampu menggali informasi yang bahkan sengaja disembunyikan, didukung oleh tim yang solid, dan bekerja dengan kecepatan yang mengesankan. Jarang sekali sebuah investigasi memakan waktu lebih dari beberapa hari.
“Aku butuh kau menyelidiki seorang wanita,” kata Rafael langsung ke inti persoalan. “Namanya Isabella Harper.”
Ludwig mengeluarkan buku catatan kecil dari saku jasnya dan menuliskan nama itu tanpa bertanya. Jack menyandarkan tubuhnya ke kursi, menggeleng pelan, jelas tidak menyetujui apa yang sedang terjadi.
“Aku ingin tahu segalanya tentang dia,” lanjut Rafael.
“Semuanya?” Jack menyela, menatap Rafael tajam. “Bukankah itu sudah keterlaluan? Itu pelanggaran privasi.”
“Aku tidak peduli,” bentak Rafael. “Jika perlu, aku ingin daftar semua pria yang pernah tidur dengannya.”
Ludwig hanya mengangguk. “Terdengar cukup mudah. Saya seharusnya sudah mendapatkan sebagian besar informasinya malam ini.”
“Bagus,” jawab Rafael.
“Anda akan menerima paket lengkap malam ini. Di dalamnya ada seluruh data yang berhasil kami kumpulkan. Silakan hubungi saya setelah Anda menerimanya,” lanjut Ludwig profesional. Ia berdiri, mengangguk sopan, lalu meninggalkan ruangan tanpa basa-basi.
Jack mendecakkan lidahnya. “Jadi kau benar-benar akan sejauh ini?”
“Ya,” jawab Rafael tanpa sedikit pun rasa bersalah.
Ia memang tidak pernah memberi lawan kesempatan. Begitulah cara dunia bekerja menurutnya, jika seseorang punya cukup uang, tidak ada masalah yang benar-benar tak bisa diselesaikan.
“Kau sebaiknya pergi,” kata Rafael sambil kembali menatap dokumen di mejanya. “Aku masih punya pekerjaan.”
Jack menghela napas panjang. “Ini hari Sabtu. Dan sudah hampir malam.”
Rafael menyeringai tipis. “Aku masih punya pekerjaan yang harus diselesaikan. Tidak sepertimu, aku benar-benar bekerja,” ejeknya dingin.
Jack mendengus. “Kaulah bosnya, Rafael. Apa pun itu pasti bisa menunggu. Mereka lebih membutuhkanmu daripada kau membutuhkan mereka.”
Rafael tahu Jack tidak sepenuhnya salah. Kepalanya sudah terlalu penuh hari ini, dan memaksakan diri justru tidak akan menghasilkan apa-apa. Lagipula, besok pagi ia harus terbang ke Rusia.
“Baiklah,” akhirnya Rafael menyerah. Ia melirik jam tangannya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Rafael bangkit dari kursinya. Senyum puas langsung merekah di wajah Jack.
“Sebaiknya kau pulang,” kata Rafael kepada Rosa sambil melangkah keluar kantor.
Jack menuju mobilnya, sementara Rafael masuk ke mobil miliknya sendiri. Mereka melaju menuju penthouse Rafael. Mobil Jack mengikuti dari belakang.
Lalu lintas relatif lengang. Kota baru akan benar-benar hidup beberapa jam lagi, saat orang-orang mulai memadati restoran dan klub malam.
Mereka memarkir mobil di garasi pribadi penthouse, di antara deretan mobil sport milik Rafael yang tersusun rapi.
Begitu pintu terbuka, aroma masakan Jeny langsung menyambut mereka.
“Hm,” gumam Jack puas.
“Boys!” seru Jeny sambil muncul dari dapur. “Kalian lapar? Makan malam sudah siap.”
“Tidak, terima kasih. Aku tidak lapar,” jawab Rafael.
“Bicara untuk dirimu sendiri,” sela Justin cepat.
Jeny tersenyum ke arah Rafael. “Aku membuatkan kue favoritmu.”
Meski sudah bertahun-tahun berlalu, wanita itu masih memperlakukannya seperti bocah yang memanjakannya dengan makanan setiap kali ada kesempatan. Anehnya, Rafael tidak pernah benar-benar keberatan.
“Itu terdengar bagus,” jawabnya.
“Jack, bisa temani Rafael ke bar?” tanya Jeny.
Jack langsung berjalan menuju ruang bar, ruangan favorit mereka lengkap dengan meja biliar dan berbagai hiburan. Rafael dan Jack menghabiskan banyak waktu di sana ketika mereka tidak berada di klub atau kantor.
“Bir?” tanya Rafael sambil membuka kulkas.
“Ya,” jawab Jack.
Rafael mengambil dua botol bir dan menyerahkan salah satunya pada Jack. Mereka lalu mulai bermain biliar.
“Jadi,” Jack memulai sambil memukul bola, “apa sebenarnya rencanamu soal masalah bayi itu?”
“Masalah bayi?” suara Jeny tiba-tiba muncul dari belakang. Ia masuk membawa nampan berisi dua piring, satu berisi kue kering, satu lagi lasagna yang masih mengepul hangat.
Tanpa banyak basa-basi, Jack menceritakan semuanya. Dari kesalahan klinik, Bella, hingga kehamilan yang tak pernah Rafael rencanakan.
Bagi Jack, dan tampaknya juga Jeny, semua itu terdengar seperti kisah yang lucu.
Jeny tertawa terbahak-bahak, seolah yang dibicarakan bukanlah calon kehidupan baru, melainkan gosip ringan di meja makan.
Rafael hanya diam, menyesap birnya perlahan, pikirannya sudah melayang jauh ke depan, ke langkah berikutnya yang harus ia ambil.
“Inilah sebabnya seharusnya kau punya anak secara alami. Menikah, lalu membangun keluarga yang pantas,” ejek Jack sambil tertawa terbahak-bahak.
Rafael berdiri di sudut ruangan dengan tangan terlipat di dada, memperhatikan Jack dan Jeny yang masih tertawa. Tak lama kemudian, bel pintu berbunyi.
“Biar aku saja,” ujar Rafael cepat.
Biasanya ia tak pernah repot membuka pintu sendiri, tetapi kali ini ia rela melakukan apa pun agar bisa menjauh dari mereka berdua. Ada kemungkinan besar itu adalah paket yang ditunggunya, Ludwig memang selalu bekerja cepat.
Begitu pintu dibuka, seorang petugas pengiriman berdiri di depannya.
“Apakah Anda Tuan Mogensen?” tanya pria itu sopan.
“Ya,” jawab Rafael singkat.
“Kiriman dari Tuan Ludwig,” katanya sambil menyerahkan sebuah paket.
Rafael langsung tahu isinya adalah dokumen yang dibungkus rapi dengan kertas kado merah. “Terima kasih,” ucapnya sambil menerima paket itu.
Petugas itu tersenyum tipis lalu pergi. Rafael menutup pintu dan kembali masuk ke dalam penthouse.
Jeny sudah tidak terlihat. Jack kini bersantai di sofa, menikmati kue sambil menonton tayangan ulang pertandingan sepak bola di televisi.
“Sudah datang?” tanya Jack begitu matanya menangkap paket di tangan Rafael.
“Ya,”
Jack bangkit dan mendekat, jelas penasaran dengan isinya. Rafael meletakkan paket itu di atas meja biliar lalu merobek kertas pembungkusnya. Di baliknya, terungkap setumpuk dokumen tebal yang dijepit rapi seperti sebuah buku kecil. Di sampul depannya, terpampang foto Bella.
Tanpa berkata apa-apa, Rafael menekan nomor Ludwig di ponselnya dan menyalakan pengeras suara, lalu meletakkan ponsel itu di atas meja biliar.
Ia mulai membolak-balik halaman, membaca sekilas. Di seberangnya, Jack melipat tangan di dada, menatap Rafael dengan ekspresi tak setuju.
“Jadi, Anda sudah menerima informasinya, Tuan?” suara Ludwig terdengar dari pengeras suara.
“Sudah,”
“Saya sarankan Anda bersabar untuk yang satu ini,” kata Ludwig dengan nada serius, seolah sudah menduga reaksi yang mungkin akan muncul.
Rafael mengambil buklet itu bersama ponselnya, lalu duduk di sofa di sudut ruangan jauh dari tempat Jack tadi bersantai.
Jack mengikutinya, masih membawa piring berisi kue kering di tangannya.
“Awalnya, saat kami mulai menyelidikinya, semuanya tampak wajar. Dia memiliki sebuah kafe kecil, tidak memiliki catatan kriminal, bahkan tidak pernah terkena tilang karena ngebut. Itu justru yang membuat kami curiga, jadi kami menggali lebih dalam. Saya mengirim beberapa orang untuk mencari tahu lewat jalur tidak resmi.”
Rafael menunggu hingga informasi penting benar-benar muncul.
“Dan di situlah kami menemukan sesuatu,” lanjut Ludwig. “Beberapa tahun lalu terjadi kebakaran di sebuah rumah. Tetangga melihat dia yang membakar rumah itu. Anehnya, keesokan harinya dia justru melaporkan kejadian tersebut kepada pemilik rumah. Kasus itu tidak pernah berlanjut ke pengadilan. Dan kebetulan, pemilik rumah itu adalah mantan tunangannya. Peristiwanya terjadi tak lama setelah mereka putus.”
Di situlah titik yang ia cari. Senyum tipis terukir di wajah Rafael. “Bagus,”
“Itu satu-satunya hal mencurigakan yang berhasil kami temukan sejauh ini. Jika ada perkembangan lain, saya akan segera menghubungi Anda.”
“Terima kasih. Kompensasi besar menanti mu,” balas Rafael. Ia memutus sambungan telepon.
Jack menatapnya sambil bersandar santai. “Sepertinya kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan.”
“Ya,” jawab Rafael. “Dengan informasi ini, aku bisa membuktikan bahwa dia tidak stabil dan tidak layak mengasuh anakku.”
Jack mengernyit. “Tapi itu belum cukup. Kau butuh lebih dari laporan penyelidik swasta untuk membuktikannya di mata hukum.” Ia mengambil satu kue lagi dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
“Aku akan membayar mantan tunangannya jika perlu,” jawab Rafael tanpa ragu.
Setidaknya sekarang semuanya mulai bergerak sesuai rencananya. Setelah perjalanan ke Rusia selama seminggu ke depan, ia yakin akan memegang kendali penuh atas situasi ini. Ia memiliki pengaruh penuh atas hidup perempuan itu, dan kali ini ia tidak akan menyia-nyiakannya.