Eva sangat membenci ibunya yang terus-menerus membuat masalah, sementara ia harus bekerja keras seorang diri demi bertahan hidup.
Untuk meredakan stres, Eva gemar menari. Ia bekerja sebagai cleaning-service di sebuah perusahaan balet dan kerap mencuri waktu untuk menari sendirian saat gedung sudah kosong.
Hingga suatu malam, pemilik gedung yang tampan itu memergokinya, mengira Eva adalah penari balet sungguhan, dan Eva memilih tidak meluruskan kesalahpahaman itu. Pekerjaan ini terlalu penting untuk dipertaruhkan.
Farris Delaney.
Hampir semua perempuan di perusahaan itu tergila-gila padanya. Banyak yang berharap bisa menjadi kekasihnya. Eva berbeda. Ia hanya ingin rahasianya aman dan sebisa mungkin menjauh darinya.
Masalahnya, dosa-dosa ibunya kembali menyeretnya ke masalah yang lebih dalam. Dan perlahan Eva menyadari, Farris memiliki kuasa untuk mengubah hidupnya, bahkan menyelamatkannya dari kematian. Tetapi ia tidak tahu harus berbuat apa.
୨ৎ MARUNDA SEASON IV ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kartel Marunda
...୨ৎ──── F A R R I S ────જ⁀➴...
Saat rasanya Eva sudah pergi cukup lama, aku berdiri dan keluar dari auditorium buat mengecek apakah dia baik-baik saja.
Dia enggak ada di luar pintu. Waktu aku melangkah ke arah lobi, aku dengar ada yang HP berdering sebentar, kemudian mati.
Begitu sampai di meja resepsionis, mataku langsung tertuju ke Chaca yang tergeletak tak sadarkan diri di samping mejanya, dan HP itu berdering lagi.
Sial.
Aku menghela napas, mengabaikan HP itu dan lari ke arah satpam itu.
Begitu melihat darah yang menggenang di bawah sisi tubuh tempat dia terbaring, dadaku bergetar. Aku mengeluarkan HP dan menelepon rumah sakit, minta ambulans dikirim ke gedung balet.
Sambil memastikan enggak ada bahaya langsung di sekitarku, aku mendorong Chaca supaya telentang.
Dia mengerang pelan, ucapannya enggak bisa aku pahami.
"Enggak apa-apa. Ambulans lagi jalan ke sini," kataku, berharap dia bisa dengar. "Apa yang terjadi?"
"E … vaa," desahnya.
Tubuhku membeku, ada sesuatu yang menghancurkan dadaku.
"Kenapa dengan Eva?"
HP sialan itu terus berdering. Saat Chaca melirik ke arahnya, aku berdiri dan mengambil HP yang bergetar di lantai.
Begitu lihat nama Nasrin di layar, aku menyapu pandangan ke seluruh lobi, mencari Eva.
...📞...
"Ini Farris."
^^^"Sial. Bajingan-bajingan itu bawa dia. Telepon polisi. Mereka nyulik Eva pas aku lagi telepon sama dia!"^^^
Nasrin marah dan panik enggak terkendali.
Dingin menjalar di pembuluh darahku dan semuanya di dalam diriku terasa beku.
Nada suara aku datar.
"Siapa?"
^^^"Pengedar yang lagi nyari Mama bajingannya itu. Mereka mampir ke apartemen, nembakin gangster sini sebelum kabur lagi. Aku nelpon Eva buat bilang jangan pulang."^^^
"Aku bakal nemuin dia!"
Aku pastikan.
^^^"Aku bakal nelpon polisi."^^^
"Mereka enggak bakal nemuin dia tepat waktu."
"Marunda yang bakal ngurus ini!"
^^^"A—apa barusan yang kamu bilang?"^^^
Nasrin tersedak.
"Orang-orangku dan aku sendiri yang bakal beresin masalah ini!"
^^^"Hah ... Mafia. Kamu mafia?"^^^
Nadanya seperti enggak percaya.
"Iya. Jangan lakuin apa pun, Nasrin. Aku bakal nemuin Eva!"
Aku tutup telepon dan masukkan HP ke saku.
Saat ambulans berhenti di depan gedung, aku menunggu sampai mereka menangani Chaca sebelum akhirnya meninggalkan lobi.
Sambil jalan ke mobilku, aku mengirim pesan ke grup chat.
...📩...
Farris: Orang-orangnya Maliki nyulik Eva. Aku bakal kejar mereka.
Begitu aku masuk ke balik kemudi, satu demi satu pesan masuk, membuat HPku bergetar tanpa henti.
^^^Braun: Aku otw.^^^
^^^Tully: Tunggu kami.^^^
^^^Remy: Aku siapin orang-orang aku.^^^
^^^Cavell: Kita ketemu di rumah kamu dan ambil perlengkapannya di sana.^^^
Aku mengebut pulang tanpa peduli batas kecepatan dan bahkan enggak repot-repot buat parkir R8 di tempat yang semestinya.
Begitu turun dari mobil, aku lari ke lift dan menekan tombolnya berkali-kali.
Kesabaranku makin menipis sepanjang perjalanan naik. Saat pintu terbuka, aku langsung lari ke apartemenku.
"Ada apa?" teriak Rozalla saat aku menghindari Barbbie dan naik tangga dengan melangkah dua anak tangga sekaligus menuju kantorku, tempat sistemku dipasang.
Aku menyalakan semuanya. Begitu monitor hidup, aku lepas jaket dan membuangnya ke lantai.
Duduk di kursi, jari-jariku langsung menari di keyboard dan data mulai muncul di layar.
Aku tarik rekaman CCTV dari gedung balet. Setelah memindai foto Eva ke sistem, aku dapat rekaman di luar Starbucks.
Gambarnya buram dan gelap, tapi aku bisa lihat beberapa pria menyeret Eva keluar gedung, sebelum memasukkan dia ke sebuah Grand Max.
Karena tahu mereka bisa ganti pelat kapan saja, aku buru-buru masukkan nomornya ke sistem dan mulai melacak Grand Max itu dari satu CCTV ke CCTV lain.
Tiba-tiba Braun dan Tully masuk berlari ke kantorku.
"Apa yang kamu dapet?" tanya Braun.
"Aku lagi lacak Grand Max yang arahnya ke Penjaringan," gumamku, jariku enggak bisa berhenti sedetik pun.
"Gustav dan orang-orangku lagi menuju ke sana!" kata Braun.
"Gloom dan Jiiro juga ikut bawa pasukannya. Aku ninggalin satu tim buat jagain para perempuan kita, sementara kita ngurus ini," kata Tully.
Aku menyambungkan sistem ke tablet biar bisa melacak mereka sambil jalan, lalu berdiri dan lari ke lemari senjata.
Begitu pintunya terbuka, aku mengambil dua Heckler & Koch lengkap dengan amunisi cadangan.
"Farris," kata Braun, coba menarik perhatianku, tapi aku terlalu sibuk mengambil pisau K-Bar dan mengikatnya di pahaku.
"Farris!" teriak Tully sambil pegang bahuku.
Aku berbalik, dorong dia menjauh, lalu berlari keluar dari kantor.
"Astaga!" umpat Braun, aku dengar mereka menyusul di belakang. "Kita tunggu sampai semua orang berkumpul."
"Enggak!" gumamku.
Begitu turun tangga, aku lihat hampir setengah pasukan sudah memenuhi ruang tamu dan area pintu masukku.
Aku mengabaikan semuanya dan jalan ke arah lift, tapi Cavell berdiri menghalangi jalanku. Dia menggeleng, ekspresi gelap yang jarang aku lihat, muncul di wajahnya.
"Berhenti!" perintahnya, nadanya penuh wibawa.
Karena perintah itu keluar dari 'Capo dei Capi' yang artinya Boss dari para Big Boss, jadi aku berhenti di depan dia.
Dia taruh tangan di bahuku dan menatap mataku. "Kita lakuin ini sebagai keluarga."
Saat dia menepuk bahuku sebelum menjauh, aku sempat terdiam. Cavell bukan tipe orang yang gampang menunjukkan kelembutan.
"Tully dan Braun pergi bareng!" katanya. "Farris dan Remy ikut aku. Begitu kita dapat orang-orangnya Maliki, aku cuma butuh satu orang hidup buat diinterogasi. Sisanya, bunuh!"
Aku mengecek tabletku lalu bilang, "Kayaknya mereka enggak bakal berhenti di Penjaringan."
Cavell menoleh ke Vloo, tangan kanannya. "Pastiin jet pribadiku udah diisi bahan bakar dan siap berangkat kalau mereka coba kabur naik pesawat. Siapin juga helikopter dan kapal. Aku mau semua jalur melarikan diri, ditutup!" Dia berbalik dan jalan ke arah lift sambil bergumam, "Kita kejar mereka. Ke mana pun mereka pergi."
Saat aku masuk lift bareng para Boss lain dan beberapa anak buah kami, Cavell bilang ke Vloo, "Cari tahu di mana keluarga Maliki dan kirim orang buat jemput mereka."
Mataku menempel di layar tablet, melihat notifikasi demi notifikasi muncul, menunjukkan kalau mereka makin jauh membawa Eva dariku.
Kami datang, Sayang.
JD penasaran Endingnya