Yang Chi, seorang mahasiswi sekaligus penulis novel amatir, terbangun di dalam dunia ceritanya sendiri setelah menyelesaikan bab tragis tentang kematian sang Permaisuri, Yang Nan. Namun, bukannya menjadi pahlawan, ia justru terjebak dalam tubuh Xiao Xi Huwan, putri dari kerajaan tetangga sekaligus antagonis utama yang baru saja membunuh Permaisuri tersebut.
Kini, Yang Chi harus berhadapan dengan murka Kaisar Long Wei, pria yang seharusnya menjadi pelindung permaisurinya namun kini bersumpah akan memenggal kepala Xiao Xi dengan tangannya sendiri. Berbekal pengetahuannya sebagai penulis tentang rahasia istana dan plot masa depan, Yang Chi harus memutar otak untuk membersihkan namanya, menghindari hukuman mati, dan mengungkap konspirasi gelap yang ternyata jauh berbeda dari apa yang ia tulis di atas kertas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan Merpati dan Dendam yang Membara
Setelah diusir dari kamar Kaisar, Mei Lan berjalan dengan langkah tergesa-gesa. Air matanya sudah kering, digantikan oleh api dendam. Di tengah lorong istana yang remang, ia bertemu dengan seseorang yang memang sedang menunggunya: Li Xuan.
"Selir Mei Lan, kulihat kau baru saja mendapatkan perlakuan yang tidak adil," ucap Li Xuan dengan senyum tipis yang licik.
"Paman Li, wanita gila itu harus mati! Baginda benar-benar sudah tersihir olehnya," keluh Mei Lan penuh benci.
Li Xuan mendekat dan berbisik, "Kalau begitu, bantulah aku. Besok pagi di taman belakang, aku akan membereskan semuanya. Pastikan kau mengawasi dari jauh dan berikan sinyal jika ada pengawal yang mendekat." Mereka pun sepakat untuk menyingkirkan Yang Chi selamanya.
Keesokan paginya, saat matahari bahkan belum sepenuhnya muncul, Long Wei sudah menarik tali sutra merah di tangannya.
"Bangun, Xiao Xi. Hari ini pembuktian ucapanmu," bisik Long Wei.
Yang Chi yang masih mengantuk berat terpaksa bangun dengan rambut acak-adakan. Ia masih memakai jubah putih kebesaran milik Long Wei yang membuatnya terlihat seperti gumpalan awan berjalan. Mereka pun mengintai di balik semak-semak lebat taman belakang istana, tempat Li Xuan biasanya mengirim merpati rahasia.
"Sstt... Tuan, itu dia!" bisik Yang Chi sambil menunjuk ke arah Li Xuan yang tampak celingukan sambil memegang seekor merpati.
Long Wei bersiap menghunus pedangnya, namun tiba-tiba...
Kretekk! Sret!
"Aduhh!" pekik Yang Chi tertahan.
"Ada apa lagi?!" desis Long Wei dengan nada jengkel.
"Jubah ini... jubah Tuan yang kegedean ini tersangkut di semak-semak berduri! Saya nggak bisa gerak!" Yang Chi mencoba menarik jubahnya, tapi malah membuat semak-semak bergoyang hebat.
Li Xuan yang sedang mengikat surat di kaki merpati langsung menoleh ke arah semak-semak. "Siapa di sana?!" teriaknya waspada.
Long Wei tidak punya pilihan lain. Ia segera menarik Yang Chi dengan kuat agar terlepas dari duri, namun SREEEET! jubah putih itu robek di bagian bawah, membuat Yang Chi hampir terjungkal menimpa Long Wei.
"Maju sekarang atau kita kehilangan bukti!" perintah Long Wei. Ia pun melompat keluar dari persembunyian sambil tetap menarik Yang Chi yang terseret-seret karena kakinya masih tersangkut robekan jubah.
"Berhenti, Paman!" suara Long Wei menggelegar di taman yang sunyi itu.
Li Xuan terkejut bukan main. Merpati di tangannya terbang tanpa sempat membawa surat rahasia sepenuhnya. Namun, di saat kritis itu, Mei Lan muncul dari balik pilar dan berteriak, "Baginda! Hati-hati! Xiao Xi memiliki belati di balik jubahnya!"
Yang Chi melongo. "Belati apa? Ini isinya cuma sisa paha ayam semalam!" sahut Yang Chi sambil mengeluarkan paha ayam dari balik saku jubahnya.
Suasana yang tadinya tegang mendadak menjadi sangat canggung. Long Wei menatap paha ayam itu, lalu menatap Mei Lan dan Li Xuan dengan tatapan yang semakin curiga.
"Sepertinya banyak sekali sandiwara di taman ini pagi ini," ucap Long Wei dengan nada yang sangat dingin.
Long Wei tidak memedulikan paha ayam di tangan Yang Chi. Matanya fokus pada secarik kertas perkamen yang terjatuh dari kaki merpati saat Li Xuan panik.
Sret!
Dengan gerakan kilat, Long Wei berhasil merebut dan membuka surat itu. Matanya menyapu tulisan di dalamnya dengan cepat.
Untuk warga desa (Zhang yu)tetap tenang. Pasukan bantuan akan segera tiba. Jangan takut. — Tertanda: Li Xuan.
Long Wei mengerutkan kening. Surat itu berisi pesan kepedulian. Ini adalah surat untuk menenangkan warga desa yang dilanda kekhawatiran karena berita sabotase logistik semalam.
Li Xuan menyeringai penuh kemenangan. "Lihat, Baginda! Hamba sedang berusaha menenangkan rakyat. Wanita gila ini dan Selir Mei Lan hanya mencoba memfitnah hamba!"
Mei Lan panik. Ia tidak tahu isi surat itu. "Tapi... tapi Paman Li..."
Yang Chi yang berdiri di samping Long Wei, ikut membaca isi surat itu. Otaknya yang jenius sebagai penulis novel langsung bekerja. Sial! Aku ingat sekarang! Li Xuan memang licik! Dia selalu menggunakan surat-surat baik seperti ini untuk menutupi surat aslinya yang ditulis dengan tinta rahasia!
"Tuan! Tuan Kaisar yang Galak!" bisik Yang Chi panik sambil menarik-narik jubah Long Wei. "Surat itu tipuan! Di balik surat itu ada tinta rahasia! Coba bakar sedikit ujungnya!"
Long Wei menatap Yang Chi, ragu sesaat. Namun, melihat kepanikan di mata Yang Chi dan seringai aneh di wajah Li Xuan, ia memilih percaya pada "ramalan" gadis itu.
Long Wei mengeluarkan korek api batu giok kecil dari sakunya—alat modern yang ia miliki di dunia itu—dan membakar sedikit ujung kertas.
Fiuuh!
Api kecil menyala, dan tulisan baru muncul di balik surat kebaikan itu. Tulisan rahasia yang terbuat dari jus lemon mengering itu berbunyi:
Organisasi Burung Gagak, teruskan sabotase. Tentara Kekaisaran akan mundur di titik [Sensor]. Pastikan Kaisar terpojok. — LX.
Wajah Li Xuan langsung pucat pasi, seperti mayat hidup. Senyumannya membeku.
Long Wei menatap surat itu, lalu menatap Li Xuan. Matanya tidak lagi galak, tapi penuh dengan rasa kecewa dan amarah yang dingin.
"Paman," suara Long Wei sangat pelan dan berbahaya, "kau benar-benar mencoba mengkhianatiku dan kerajaan ini."
Li Xuan tidak bisa mengelak lagi. Ia melirik ke arah Yang Chi dengan pandangan membunuh. "Dasar wanita sialan! Kau tahu dari mana?!"
Yang Chi hanya menjulurkan lidahnya. "Kan aku sudah bilang, aku juru ramal kelas kakap! Di tahun ini , tinta rahasia itu sudah kuno, Om!"
Long Wei meremas surat itu hingga hancur. Ia menunjuk Li Xuan dengan pedangnya. "Tangkap dia! Hukum mati di lapangan eksekusi utama! Dan Selir Mei Lan, kurung dia di Istana Dingin seumur hidup!"