Gerard adalah seorang pria yang hidupnya jatuh hingga ke titik terendah. Saat ia nyaris mati kelaparan dan menjadi korban serangan tak dikenal, sebuah Sistem misterius tiba-tiba muncul, menyelamatkan nyawanya dan memulihkan tubuhnya sepenuhnya.
Dibawa ke dalam hutan yang asing, Gerard kini diberi tantangan oleh Sistem: bertahan hidup semalam untuk mendapatkan hadiah luar biasa—uang seratus juta dan sebuah rumah. Namun, di balik janji masa depan cerah itu, ancaman dari masa lalu dan identitas penyerangnya yang gelap masih mengintai, membuat setiap detik menjadi pertaruhan nyata.
Siapakah itu? Dan seberapa rumit masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Loorney, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 - Kelaparan
Gerard menatap kosong ke jalanan yang semakin lengang. Tubuhnya lemas, hanya mampu bersandar pada dinding ruko yang sudah gelap. Ia duduk di atas tumpukan kardus tipis—minimal itu lebih empuk daripada aspal basah yang dingin.
Dalam kekosongan yang telah lama merasuk, bayangan masa lalu—satu bulan silam—menyeruak tanpa diundang, menggerogoti sisa-sisa kewarasannya. Belum cukup sampai di situ, perutnya bergemuruh keras, menggema dalam kesunyian malam.
Grruurh~
“Ugh…” keluhnya pelan. Tangannya refleks memeluk perut, menekan sekuat tenaga, sia-sia saja. “Lapar…” gumamnya lagi, kali ini dengan tatapan sayu yang mulai kabur.
Matanya berkeliling—aspal basah berkilau, udara dingin yang lembap, dan di ujung jalan, sebentuk cahaya terang memancar dari sebuah bangunan. Dadanya berdegup kencang.
Perlahan ia mendorong tubuhnya untuk berdiri, gemetar, tangan meraba dinding untuk tumpuan. Perutnya terus menggeram, menuntut segera diisi. “Baik, baik… semoga masih ada sisa di sana,” bisik Gerard sambil matanya tak lepas dari restoran yang masih ramai itu.
Sudah lama ia tak menelan sesuap nasi, seteguk air pun tak membasahi kerongkongannya. Ini hidup yang pahit—dan ia tahu itu konsekuensi dari semua pilihannya sendiri.
Hanya bersandal jepit yang nyaris putus, Gerard berjalan pelan mendekati restoran. Langkahnya tertatih, pandangan terus awas mengamati sekitar, memastikan tak ada yang memperhatikannya.
Jantungnya berdebar kencang, tapi perutnya lebih nyaring berteriak. Tak ada lagi gengsi, tak ada rasa malu. Hidupnya kini cuma tentang selamat—harga diri yang selama ini penting sudah lama ia kubur.
Sesampai di dekat pagar, ia berhenti, mengintip lewat celah. Restoran itu penuh orang, parkiran dipenuhi mobil. Berisiko. Ia bisa dipukuli lagi seperti dulu. Tapi… lapar. Pikirannya bergejolak.
Pertarungan antara nyali dan takut berkecamuk dalam dadanya. Terakhir kali ia nekat minta izin—dan berakhir dengan tendangan dan pukulan. Sakit, ya. Tapi juga memberinya pelajaran: tak semua pintu terbuka untuk orang seperti dia.
Gerard menelan ludah. Tangan gemetar mencengkeram ujung bajunya yang kumal. Detak jantungnya keras, bersahutan dengan suara asam lambung yang menggerogoti. Ada dorongan kuat yang tiba-tiba mendesak: bertindak, atau mati kelaparan.
Ayo, Gerard. Sekarang juga. Maju, atau mengalah.
Bimbang. Pikirannya berpacu dengan detik. Namun setelah beberapa saat menunggu, sebuah mobil keluar dari parkiran, melintas begitu saja tanpa mengacuhkannya. Keberanian yang lama tertimbun pun meletus—mendesak tubuhnya untuk melangkah masuk.
Beruntung, tak seorang pun melihat. Ia menyelinap di balik riuh restoran yang hangat, menyusuri dinding dengan napas tertahan. Tujuannya cuma satu: dapatkan sisa makanan, lalu pergi. Dari ingatannya, makanan sisa biasanya dibuang di tong sampah belakang.
Saat berada di balik tembok, ragu-ragu sudah hilang. Langkah lambatnya berubah jadi cepat. Lalu, ia berlari. Tak peduli lagi siapa yang melihat—yang penting satu saja, satu makanan apa pun. Lalu ia akan kabur.
Pandangannya makin buram, menatap jalanan yang memanjang tanpa ujung. Aspal terlihat bergoyang, goyah. Kakinya terseok-seok, hampir kehilangan pijakan. Kuat… kuatlah sebentar lagi. Tidak boleh… tidak boleh berakhir di sini… Batinnya berdoa. Tangan meraba-raba, mencari pegangan untuk menyangga tubuh yang hampir tumbang.
Langkahnya semakin berat, namun ia terus maju. Perlahan, jarak itu terkikis. Saat ujung dinding restoran akhirnya tergenggam dalam genggamannya, ia tersenyum lemas. Napasnya tersengal, tubuhnya gemetar, tapi matanya berpendar. “Akhirnya…” gumamnya penuh harap.
Namun, senyum itu hanya sesaat. Tiba-tiba dunia berputar. Rasa pusing menusuk tajam ke pelipisnya. Kabut di matanya berubah jadi gelombang pusaran yang memusingkan. Lalu, rasa nyeri panas menjalar dari tengkuk ke seluruh tubuh—dan ia jatuh. Tubuhnya yang lemas tumbang ke aspal kasar tanpa perlawanan.
Dalam kabut nyeri yang menyelimuti, Gerard masih berusaha bertahan. Matanya yang buram mencoba fokus ke arah tong sampah belakang restoran—di sanalah, dalam khayalnya, makanan masih menunggu. Tapi tubuhnya sudah tak lagi menurut. Jari-jarinya pun tak sanggup digerakkan.
“Tidak… masih sedikit lagi…” desisnya parau.
Dan sebelum ia bisa bernapas lagi, sesuatu yang keras menghantam kepalanya dari belakang. Namun, tak ada rasa sakit yang tersisa. Kesadarannya sudah lebih dulu padam—menyelamatkannya dari penderitaan yang terakhir.
*•*•*
Gelap…
Sakit…
Kegelapan menyelimuti, dingin dan basah meresap hingga ke tulang. Angin malam berhembus menusuk, seolah berusaha membangunkannya—ia mendengar gemericik air mengalir di dekatnya, tapi matanya tak bisa melihat apa-apa. Tak ada cahaya, tak ada bentuk.
Tidak! Kenapa masih gelap?!
Seketika ketakutan meledak dalam dadanya—menggetarkan, merayapi seluruh tubuh. Ia mencoba menggerakkan tangan, tapi tubuhnya terasa kaku, seolah diikat. Rasa nyeri tajam menggerogoti tengkuknya.
Tidak, jangan… aku belum mau mati…
Kata “mati” itu sendiri menguras sisa tenaganya. Tapi entah mengapa, itu satu-satunya penjelasan yang mungkin. Ketakutan memuncak, lalu perlahan berubah jadi kepedihan yang dalam—pedih yang memaksanya untuk pasrah.
Gerard berhenti melawan. Tubuhnya lunglai. Tapi mulutnya bergetar. Sesuatu yang hangat mengalir dari pelipisnya, membasahi pipi. Dan saat itulah—isakan pilu pecah, meski ia berusaha menahannya. Tak ada lagi keluh, hanya tangis yang menyuarakan segala yang tak sanggup ia ucapkan.
Hampir sebulan ini, Gerard hidup tanpa atap di atas kepala, tanpa kehangatan yang menenangkan, tanpa tempat untuk sekadar merenggangkan badan. Hidupnya berpusar pada ketakutan dan kekhawatiran—tentang esok yang tak jelas arah. Setiap malam ia hanya menunggu langit gelap sepenuhnya, lalu meringkuk di atas tumpukan kardus tipis, berusaha melupakan dingin.
Bayangan masa lalu menyeruak lagi—kenangan tentang kehidupan yang damai. Ia teringat tawa kecil ibunya, sosok yang selalu menyambutnya dengan pelukan hangat. Lalu, wajah-wajah yang dulu ia percayai, yang ternyata menghujamkan belati dari belakang.
Tak pernah terbayang olehnya bahwa hidup akan berujung seperti ini: mati di jalanan, sambil berjuang mencari sisa makanan. Semua terasa tak nyata, sekaligus tak terhindarkan. Inilah takdirnya, barangkali—menjadi orang yang tersingkir, menanggung segala karma.
Kenapa harus aku…?
Ketika pikiran itu melintas dengan getir, tiba-tiba sebuah dentingan lembut bergema di telinganya—suara yang berbeda dari gemericik air yang selama ini ia dengar. Tubuhnya terkejut, dan isakannya pun terhenti, perhatiannya tersedot sepenuhnya.
[Karena Andalah yang terpilih.]
Suara itu bukan lagi sekadar bunyi mesin—ia terdengar seperti seseorang, terdengar langsung di dalam benaknya. Lembut, hangat, dan penuh pengertian. Berbeda dari semua suara yang pernah ia dengar, yang hanya menyakitinya.
Gerard tertegun. Kali ini, bukan ketakutan yang ia rasakan, melainkan kehangatan yang telah lama hilang. Ia ingin bertanya, ingin mengungkap semua keraguan, tetapi lidahnya terasa kaku, tak bisa digerakkan. Hanya satu pertanyaan yang menggumpal di hatinya.
Tapi kenapa harus sampai seperti ini? Aku… tidak siap…
Hening. Tak ada jawaban. Saat Gerard hampir yakin itu hanyalah halusinasi, ilusi dari tubuh yang sekarat—suara itu kembali terdengar. Kali ini lebih dekat, lebih manusiawi, seakan bisikan langsung ke dalam jiwanya.
[Karena Anda sanggup.]