NovelToon NovelToon
A MotoGP Rebirth Story

A MotoGP Rebirth Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Crazy Rich/Konglomerat / Kelahiran kembali menjadi kuat / TimeTravel
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: meylisa

Michael Chandra Dinata adalah keajaiban yang lahir dari keterbatasan. Berasal dari Indonesia, dibesarkan oleh seorang ibu tunggal dalam kemiskinan, ia menembus batas yang dianggap mustahil—menjadi satu-satunya pembalap Asia Tenggara yang berhasil bertahan di kerasnya dunia MotoGP, di era ketika nama-nama besar seperti Valentino Rossi masih merajai lintasan. Balapan adalah hidupnya, satu-satunya cara untuk bertahan, satu-satunya tempat di mana ia merasa utuh.

Namun pada usia dua puluh tujuh tahun, di sebuah balapan yang seharusnya menjadi titik balik kariernya, Michael mengalami kecelakaan fatal. Aspal yang selama ini ia cintai merenggut nyawanya—dan segalanya berakhir di sana.

Atau begitulah yang ia kira.

Michael terbangun kembali di dunia lain, dalam tubuh seorang pemuda Inggris bernama Julian Ashford—anak tunggal dari keluarga konglomerat kelas dunia. Kaya raya, dicintai kedua orang tuanya, dan dikelilingi kemewahan yang tak pernah ia miliki sebelumnya. (bagus sinopsis lama:)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meylisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KETIKA EROPA MULAI MENATAP

CHAPTER 7

Sirkuit itu lebih ramai dari sebelumnya.

Bendera berbagai negara berkibar di atas paddock. Bahasa bercampur di udara—Italia, Spanyol, Prancis, Inggris—semua dengan aksen keras dan nada percaya diri. Ini bukan lagi ajang lokal. Ini tempat di mana pembalap muda Eropa membangun nama, dan tempat di mana mimpi sering kali patah tanpa peringatan.

Julian berdiri di antara mereka.

Tidak ada yang mengenalnya secara personal. Tapi beberapa pasang mata melirik—cukup lama untuk mengingat nama di fairing motornya.

Ashford.

“Itu anak Inggris yang katanya menang di regional?” tanya seorang pembalap Spanyol pada rekannya.

“Katanya,” jawab rekannya sambil menyeringai. “Anak orang kaya.”

Nada meremehkan itu sudah biasa. Julian tidak tersinggung. Ia bahkan tidak benar-benar mendengarnya.

Ia sedang menghitung angin.

Di tribun, penonton lebih banyak. Ada kamera kecil. Ada jurnalis independen. Tidak besar, tapi cukup untuk membuat suasana berubah.

Julian duduk di pit box, helm di sampingnya. Ia menutup mata sejenak.

Berbeda dengan balapan sebelumnya, kali ini dadanya terasa… penuh.

Bukan takut.

Bukan gugup.

Lebih seperti kesadaran: aku sudah di sini.

Michael dulu butuh bertahun-tahun untuk mencapai titik seperti ini.

Julian melangkah ke sini dengan tubuh baru, nama baru—dan kesempatan yang tidak akan ia sia-siakan.

Salah satu favorit balapan ini adalah Álvaro Ruiz.

Cepat, agresif, dan terkenal karena keberaniannya menyalip di tempat sempit. Ia berdiri di dekat motornya, memandangi Julian dari kejauhan.

“Yang itu?” tanyanya pada mekaniknya.

“Iya,” jawab sang mekanik. “Datanya rapi.”

Álvaro mengernyit. “Rapi itu membosankan.”

Mekaniknya tersenyum tipis. “Sampai kau kalah karenanya.”

Start balapan terasa lebih padat.

Begitu lampu padam, Julian bereaksi sedikit lebih cepat dari sebelumnya. Ia tidak lagi memberi posisi cuma-cuma, tapi juga tidak memaksakan diri.

Masuk tikungan pertama, ia berada di tengah rombongan. Motor-motor saling berdekatan. Sedikit sentuhan. Sedikit dorongan.

Bagi pembalap muda, ini momen panik.

Bagi Julian… ini biasa.

Ia menjaga motor tetap tegak sepersekian detik lebih lama sebelum menjatuhkan sudut. Teknik sederhana: delay lean-in. Dengan begitu, ia menghindari kontak dan menjaga traksi ban depan.

Satu pembalap melebar. Julian lewat.

Tanpa drama.

Dari POV penonton, Julian tidak terlihat mencolok.

Ia tidak menyalip dengan agresif. Tidak memotong garis orang lain. Ia hanya… selalu ada di tempat yang tepat.

Lap ketiga, ia sudah di posisi lima.

Lap kelima, posisi empat.

Álvaro memperhatikan dari depan.

“Dia naik pelan,” gumamnya. “Terlalu pelan.”

Tapi setiap kali Álvaro mencoba menambah jarak, jarum waktu berkata lain.

Julian tidak menjauh.

Julian mengunci jarak.

Teknik Julian mulai terlihat jelas bagi yang paham.

Ia menggunakan engine braking dengan sangat halus, mengurangi beban rem depan. Itu membuat motornya stabil saat masuk tikungan, dan bannya tidak cepat habis.

Di pertengahan balapan, ketika pembalap lain mulai kehilangan grip, Julian masih konsisten.

“Dia menjaga ban seperti balapan 20 lap,” kata seorang komentator kecil di streaming lokal. “Padahal ini cuma amatir.”

Clara, yang kembali memantau data, menatap layar dengan alis terangkat.

“Ini bukan gaya anak muda,” katanya pelan. “Ini gaya orang yang sudah… terlalu sering balapan.”

Lap terakhir.

Álvaro masih memimpin. Julian di posisi dua.

Penonton berdiri. Kamera mengikuti dua motor terdepan.

Álvaro tahu satu hal: kalau Julian dapat momentum keluar tikungan terakhir, balapan ini selesai.

Ia masuk tikungan lebih cepat dari biasanya.

Sedikit terlalu cepat.

Ban belakangnya kehilangan traksi sekejap.

Julian melihatnya.

Dan tidak langsung menyalip.

Ia tetap di jalurnya, menunggu motor Álvaro melebar sepersekian meter—cukup untuk membuka ruang.

Gas dibuka.

Motor Julian keluar tikungan dengan stabilitas sempurna.

Mereka sejajar di straight.

Penonton bersorak.

Álvaro memaksa.

Julian… tidak.

Ia hanya mempertahankan garisnya.

Dan garis itu menang.

Finish line dilewati.

Julian menang lagi.

Kali ini, tepuk tangan lebih keras. Kamera mendekat. Nama Julian Ashford disebut beberapa kali.

Di parc fermé, Álvaro menghampirinya.

“Kau bukan pembalap amatir,” katanya blak-blakan.

Julian membuka helm. Wajahnya tenang, sedikit berkeringat.

“Aku masih belajar,” jawabnya.

Álvaro tertawa kecil. “Kau bohong buruk.”

Tapi tidak ada kemarahan di sana.

Hanya pengakuan.

Media kecil mulai mendekat.

“Julian, bagaimana rasanya menang dua kali berturut-turut?”

Julian berpikir sejenak sebelum menjawab.

“Rasanya… tepat,” katanya. “Seperti berada di tempat yang seharusnya.”

Jawaban itu sederhana. Tapi entah kenapa, beberapa orang mencatatnya.

Di rumah, Richard menonton ulang rekaman balapan.

Tidak seperti sebelumnya, kali ini ia tidak ragu.

Ia memanggil Eleanor.

“Dia siap,” katanya pelan.

Eleanor menatap layar, lalu mengangguk perlahan. “Kalau begitu… kita harus siap juga.”

Malam itu, Julian menerima email resmi.

Undangan seleksi kejuaraan feeder menuju Moto3 Eropa.

Ia menutup laptop. Menarik napas panjang.

Lintasan yang dulu merenggut nyawanya kini membuka jalan baru.

Dan untuk pertama kalinya sejak terlahir kembali, Julian merasa:

Ia tidak sedang mengejar masa lalu.

Ia sedang menciptakan masa depan.

.

.

.

CHAPTER 8

Keheningan di rumah Ashford bukan hal yang aneh.

Rumah itu terlalu besar untuk suara-suara kecil, terlalu rapi untuk emosi yang tumpah begitu saja. Tapi pagi itu, keheningan terasa berbeda—lebih padat, seolah sesuatu sedang menunggu untuk diucapkan.

Julian turun ke ruang makan seperti biasa.

Tidak ada kamera. Tidak ada helm. Tidak ada lintasan.

Hanya meja panjang, cahaya matahari yang masuk dari jendela besar, dan kedua orang tuanya yang sudah duduk di sana.

Richard menutup tablet di depannya. Eleanor melipat tangannya pelan.

“Duduklah, Julian,” kata ibunya lembut.

Julian duduk.

Ia tahu percakapan ini akan datang. Ia hanya tidak tahu kapan.

Richard tidak berputar-putar.

“Kami menerima laporan lengkap dari Ducati,” katanya. “Termasuk undangan seleksi Moto3 feeder.”

Julian mengangguk. “Aku tahu.”

“Dan kau ingin ikut.”

Bukan pertanyaan.

“Iya,” jawab Julian tenang.

Beberapa detik berlalu. Eleanor menatap wajah anaknya—bukan seperti ibu yang takut kehilangan, tapi seperti seseorang yang mencoba memahami jalan hidup yang tidak bisa ia jalani sendiri.

“Kau sadar,” katanya pelan, “kalau ini bukan lagi balapan amatir. Ini dunia yang menelan orang.”

Julian menatap balik. Matanya jernih.

“Aku tahu, Mom.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara lebih pelan:

“Dan justru karena itu… aku tidak ingin lari darinya.”

Richard bersandar di kursinya.

“Kau tidak kekurangan apa pun,” katanya. “Kau punya masa depan yang aman. Kau bisa memilih jalur lain.”

Julian mengangguk lagi. “Aku tahu.”

“Tapi kau tetap memilih ini.”

“Iya.”

Satu kata. Tidak emosional. Tidak menantang.

Tapi kokoh.

Richard menghela napas panjang. Ini bukan napas seorang pebisnis. Ini napas seorang ayah.

“Aku pernah melihat orang seperti ini,” katanya akhirnya. “Orang yang kalau dipaksa berhenti… akan hancur pelan-pelan.”

Julian tidak menjawab.

Ia tidak perlu.

Eleanor berdiri, lalu berjalan ke belakang Julian. Tangannya menyentuh bahu anaknya.

“Kau tidak sendirian,” katanya lembut. “Apa pun yang kau pilih.”

Itu bukan izin formal.

Itu restu.

Richard mengangguk pelan. “Kami tidak akan menghalangimu. Tapi ada satu syarat.”

Julian menoleh.

“Kau tidak boleh terburu-buru,” lanjut Richard. “Kau naik kelas karena kau siap. Bukan karena kau bisa.”

Julian tersenyum kecil.

“Itu juga caraku.”

Untuk pertama kalinya pagi itu, Richard tersenyum balik.

Beberapa minggu kemudian, Julian resmi masuk program seleksi Moto3 feeder Eropa.

Lingkungannya berubah drastis.

Paddock lebih padat. Jadwal lebih ketat. Semua mata menilai. Tidak ada lagi “anak Ashford” yang dilindungi jarak—di sini, ia hanya pembalap lain yang bisa gagal kapan saja.

Di sesi latihan pertama, Julian tidak mencatat waktu tercepat.

Ia bahkan tidak masuk tiga besar.

Beberapa orang mencatat namanya, lalu menggeser fokus.

“Biasa saja,” kata seseorang.

Julian tidak peduli.

Ia sedang mempelajari motor baru. Karakter mesin. Respons rem. Perilaku ban saat dipaksa.

Ini bukan sprint.

Ini maraton.

Clara kini resmi menjadi bagian kecil dari tim teknis yang memantau program feeder.

Ia berdiri di pinggir lintasan, memperhatikan Julian lewat.

“Dia sengaja menahan,” katanya ke Marco.

Marco mengangguk. “Dia selalu begitu di awal.”

“Kenapa?”

Marco tersenyum samar. “Karena dia tahu… yang jatuh di level ini biasanya bukan yang lambat. Tapi yang tidak sabar.”

Di lintasan, Julian mulai menaikkan ritme sedikit demi sedikit.

Tekniknya tetap sama—bersih, efisien, nyaris membosankan bagi mata awam. Tapi data berbicara lain.

Setiap lap, waktunya turun konsisten.

Tidak melonjak.

Tidak anjlok.

Stabilitas itu membuat beberapa engineer saling melirik.

“Dia nggak kelihatan panik,” kata salah satu dari mereka.

“Justru itu yang bikin aneh,” sahut yang lain.

Malam hari, di kamar hotel sederhana, Julian duduk di tepi ranjang.

Tidak ada kemewahan rumah Ashford. Tidak ada keamanan berlapis. Hanya dirinya, helm, dan keheningan.

Ia memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya, bayangan Michael muncul lebih jelas dari biasanya.

Bukan sebagai trauma.

Bukan sebagai luka.

Sebagai pengingat.

“Aku masih di lintasan,” bisik Julian pelan. “Dan kali ini… aku tidak sendirian.”

Di hari terakhir seleksi, hasil diumumkan.

Nama Julian Ashford masuk daftar utama.

Bukan yang teratas.

Tapi cukup untuk melangkah.

Richard membaca hasil itu di ruang kerjanya. Ia menutup berkas, lalu tersenyum kecil.

“Pelan,” gumamnya. “Tapi jauh.”

Eleanor menatap foto Julian di lintasan.

“Dia bahagia,” katanya pelan. “Itu cukup.”

Julian berdiri di pit lane, memandangi lintasan kosong.

Langkahnya belum besar.

Namanya belum legenda.

Tapi jalurnya kini jelas.

Dan di dalam dirinya, sesuatu menguat:

Ia tidak lagi membalap untuk membuktikan siapa dirinya.

Ia membalap karena itulah hidup yang ia pilih untuk dijalani.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!