NovelToon NovelToon
Mahar Penebus Dosa Ayah

Mahar Penebus Dosa Ayah

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Perjodohan / Nikahmuda / Balas Dendam
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Ayah, kenapa Nin dipakaikan baju pengantin? Nin kan besok mau ujian matematika..."

Kalimat polos Anindya (10 tahun) menjadi pisau yang menyayat hati Rahardian. Demi melunasi hutang nyawa dan harta pada keluarga kaya di kota, Rahardian terpaksa menjual masa depan putri tunggalnya.

Anindya dibawa pergi, meninggalkan bangku sekolah demi sebuah pernikahan dini yang tidak ia pahami.

Di rumah mewah Tuan Wijaya, Anindya bukanlah seorang menantu. Ia adalah pelayan, samsak kemarahan ibu mertua, dan mainan bagi suaminya yang sombong, Satria.

Namun, di balik tangisnya setiap malam, Anindya menyimpan sebuah janji. Ia akan terus belajar meski tanpa buku, dan ia akan bangkit meski kakinya dirantai tradisi.

Ini adalah kisah tentang seorang bocah yang dipaksa dewasa oleh keadaan, dan perjuangannya untuk kembali menjemput martabat yang telah digadaikan ayahnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Bunga yang Tumbuh di Antara Karat

Bab 16: Bunga yang Tumbuh di Antara Karat

Delapan tahun telah berlalu sejak api di halaman belakang melalap habis harapan masa kecil Anindya. Namun, seperti pepatah yang mengatakan bahwa permata paling murni dibentuk di bawah tekanan yang paling hebat, begitu pulalah Anindya.

Gadis kecil yang dulunya gemetar saat memegang sikat kawat, kini telah bertransformasi menjadi seorang gadis berusia delapan belas tahun dengan aura yang sulit dijelaskan. Tubuhnya ramping namun tegap karena kerja keras bertahun-tahun. Rambutnya yang dulu kusam kini hitam berkilau, seringkali ia ikat rapi saat bekerja. Namun, yang paling menakutkan bagi Nyonya Lastri—meski wanita itu tak pernah mengakuinya—adalah sepasang mata Anindya. Mata itu jernih, tajam, dan seolah bisa membaca setiap kebusukan yang tersembunyi di balik dinding rumah megah keluarga Wijaya.

Anindya masih tinggal di gudang alat yang sekarang sudah ia sulap menjadi "istana" kecilnya yang bersih. Ia tidak lagi mengeluh. Baginya, gudang itu adalah benteng pertahanan terbaik di mana tidak ada yang berani mengganggunya.

Pagi itu, Anindya sedang berdiri di ruang kerja Tuan Wijaya. Tugasnya adalah merapikan dokumen-dokumen bisnis yang berserakan. Nyonya Lastri membiarkannya melakukan ini karena Anindya sangat teliti, jauh lebih teliti daripada sekretaris Tuan Wijaya yang mana pun. Tentu saja, Nyonya Lastri tidak tahu bahwa sambil merapikan, Anindya sedang membaca dan menghafal setiap angka, setiap nama investor, dan setiap celah dalam laporan keuangan perusahaan properti milik Tuan Wijaya.

"Anindya, berikan aku kopi pahit," suara berat Satria memecah keheningan.

Anindya menoleh tanpa ekspresi yang berlebihan. Satria berdiri di ambang pintu. Pemuda itu kini berusia dua puluh satu tahun, mahasiswa tingkat akhir di fakultas bisnis sebuah universitas ternama. Tubuhnya tinggi, wajahnya tampan dengan rahang tegas, namun sorot matanya selalu tampak gelisah setiap kali menatap Anindya.

"Tunggu sebentar, Mas Satria," jawab Anindya tenang.

Panggilan "Mas" adalah perintah Nyonya Lastri agar status Anindya tetap terlihat sebagai "istri simpanan" atau pelayan yang lebih rendah, bukan sebagai istri yang setara. Namun, bagi Satria, panggilan itu selalu terdengar seperti sindiran halus yang menyakitkan telinganya.

Beberapa menit kemudian, Anindya kembali dengan secangkir kopi hitam. Saat ia meletakkan cangkir itu di meja, Satria sengaja meletakkan sebuah buku tebal di dekat tangan Anindya. Itu adalah buku tentang Manajemen Investasi dan Analisis Pasar Modal.

"Aku sudah selesai membacanya. Kau boleh mengambilnya," bisik Satria. "Halaman empat puluh dua... ada catatan kecil yang mungkin kau butuhkan."

Anindya tidak menjawab, ia hanya mengangguk kecil sambil terus mengelap meja. Inilah komunikasi mereka selama bertahun-tahun. Di depan umum, mereka adalah tuan dan pelayan. Di balik bayangan, mereka adalah guru dan murid, atau lebih tepatnya, rekan dalam persembunyian.

"Satria! Kau masih di sini? Ayo berangkat, nanti kau terlambat masuk kelas!" Suara melengking Nyonya Lastri terdengar dari arah tangga.

Satria segera bangkit, menyambar tasnya, dan pergi tanpa menoleh lagi. Anindya segera menyelipkan buku itu ke dalam tumpukan koran bekas yang akan dibuang. Ia tahu persis apa yang harus ia lakukan.

Siang harinya, saat rumah sedang sepi karena Nyonya Lastri pergi ke butik, Anindya duduk di pojok gudang. Ia membuka halaman empat puluh dua buku pemberian Satria. Di sana, terselip sebuah brosur pendaftaran ujian paket C (ujian penyetaraan SMA) dan sebuah kartu peserta ujian atas nama Anindya.

Tangan Anindya bergetar. Selama ini, Satria secara diam-diam mendaftarkannya mengikuti berbagai ujian penyetaraan. Satria menggunakan uang sakunya untuk menyuap beberapa petugas agar Anindya bisa mengikuti ujian secara daring atau ujian khusus di waktu-waktu luang. Dan hari ini adalah puncaknya. Jika Anindya lulus ujian ini, ia secara legal memiliki ijazah SMA.

"Dia benar-benar melakukannya," bisik

Anindya. Air mata yang sudah lama tidak jatuh, kini menggenang di pelupuk matanya.

Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.

Sebuah bayangan menutupi lubang cahaya di pintu gudangnya.

"Apa yang kau sembunyikan di sana, Anindya?"

Anindya segera menutup buku itu dan menyembunyikannya di balik punggungnya. Nyonya Lastri berdiri di sana, wajahnya tampak lebih tua namun tetap penuh dengan riasan tebal yang angkuh. Ia masuk ke dalam gudang dengan ekspresi jijik, menutupi hidungnya dengan sapu tangan sutra.

"Bukan apa-apa, Bu. Hanya koran bekas," jawab Anindya tetap tenang. Kekuatan Anindya sekarang adalah ketenangannya. Ia sudah belajar bahwa reaksi yang berlebihan hanya akan membuat musuhnya merasa menang.

"Jangan bohong padaku. Aku melihat Satria masuk ke sini tadi malam saat aku pulang dari pesta. Apa yang kalian rencanakan? Apa kau mencoba merayu putraku lagi agar kau bisa naik kasta?" Nyonya Lastri mendekat, tangannya yang penuh cincin berlian mencengkeram dagu Anindya dengan kuat.

Anindya menatap mata Nyonya Lastri tanpa rasa takut. "Mas Satria hanya meminta saya merapikan beberapa berkas kuliahnya. Tidak lebih."

"Dengar, Gadis Pelayan. Kau mungkin sudah besar sekarang. Kau mungkin merasa cantik. Tapi di rumah ini, kau tidak lebih dari selembar kertas hutang bapakmu yang belum lunas. Jangan pernah bermimpi untuk memiliki Satria. Dia akan bertunangan dengan putri rekan bisnis Tuan Wijaya bulan depan. Seorang gadis yang sederajat dengannya, bukan sampah sepertimu."

Anindya merasakan perih di dagunya, tapi ia hanya tersenyum tipis. "Saya tidak pernah bermimpi memiliki Mas Satria, Bu. Karena bagi saya, memiliki diri saya sendiri jauh lebih penting daripada memiliki orang lain."

Nyonya Lastri tertegun sejenak. Kalimat itu terlalu berbobot untuk diucapkan oleh seorang pelayan. Ia melepaskan cengkeramannya dengan kasar. "Bagus kalau kau tahu diri. Sekarang, bersihkan mobil Tuan Wijaya. Pak Sopir sedang sakit, dan aku ingin mobil itu mengkilap sebelum Tuan pulang sore nanti."

Setelah Nyonya Lastri pergi, Anindya menarik napas panjang. Ia membuka kembali buku di pangkuannya. Ia mengambil kartu peserta ujian itu dan menciumnya.

"Tunangan ya?" gumam Anindya. "Silakan, Mas Satria. Menikahlah dengan siapa pun yang ibumu inginkan. Karena saat kau terjebak dalam pernikahan yang diatur itu, aku akan sudah berada jauh di depan, berlari menuju kemerdekaanku."

Selama empat jam berikutnya, Anindya bekerja di bawah terik matahari, mencuci mobil mewah Tuan Wijaya. Namun, setiap gerakan tangannya menyeka air adalah gerakan yang penuh energi. Ia membayangkan setiap noda di mobil itu adalah wajah orang-orang yang telah merendahkannya.

Malam harinya, Anindya mengeluarkan sebuah laptop tua yang layarnya sudah sedikit retak—barang bekas yang dibuang Tuan Wijaya tiga tahun lalu dan berhasil diperbaiki Anindya secara diam-diam dengan panduan dari buku teknik komputer. Ia menyambungkan laptop itu ke sinyal Wi-Fi rumah yang kata sandinya sudah ia retas sejak lama.

Ia mulai mengerjakan soal-soal latihan ujian paket C. Jarinya menari-nari di atas keyboard. Ia menguasai ekonomi, akuntansi, dan bahasa Inggris dengan sangat baik karena ia selalu membaca semua kontrak bisnis Tuan Wijaya.

Tanpa diketahui oleh siapa pun di rumah itu, "pelayan" yang mereka hina setiap hari sebenarnya adalah otak yang paling cerdas di dalam bangunan tersebut. Anindya sedang menabung. Bukan menabung uang, karena ia tidak punya, tapi menabung pengetahuan dan data. Ia sudah mencatat semua transaksi gelap Tuan Wijaya—penggelapan pajak, suap kepada pejabat tanah, dan manipulasi laporan keuangan perusahaan.

Itulah "mahar" yang sebenarnya sedang ia persiapkan. Bukan mahar untuk pernikahan, tapi mahar untuk menebus kebebasannya dan ayahnya.

"Satu tahun lagi," bisik Anindya pada kegelapan malam. "Dalam satu tahun, aku akan memastikan Tuan Wijaya berlutut di depan Ayah, dan Nyonya Lastri akan menyadari bahwa orang yang paling dia benci adalah orang yang memegang kunci kehancurannya."

Anindya menutup laptopnya saat mendengar suara mobil Satria masuk ke garasi. Ia mematikan senter dan merebahkan diri di atas karung goni. Ia menatap bintang-bintang dari celah atap gudang yang bocor. Bintang-bintang itu tampak sangat dekat sekarang. Masa kecilnya yang penuh air mata telah mengkristal menjadi tekad yang dingin.

Anindya bukan lagi bunga yang layu karena panasnya cobaan. Ia adalah mawar hitam yang tumbuh subur di antara karat dan debu, siap mengeluarkan durinya saat ada tangan yang mencoba memetiknya dengan paksa. Fase baru telah dimulai: Fase Pembalasan Diam-Diam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!