Qiara adalah anak yatim piatu yang selalu dimanfaatkan oleh pamannya. Hidupnya begitu menderita. Bahkan dirinya juga disuruh bekerja menjadi pelayan tiga badboy kembar yang akhirnya menjamah dirinya. Hidupnya penuh penderitaan, sejak ke dua orang tuanya meninggal. Dia harus bekerja mencukupi kebutuhannya. Namun akhirnya, ketiga kembar kaya raya itu jatuh cinta pada Qiara. Bahkan saling berebut untuk mendapatkan cintanya? Siapakah dari pada kembar yang bisa bersama dengan Qiara? Apakah Nolan? Apakah Natan? Apakah Noah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7.
Noah yang sadar dengan sikap Qiara yang berubah pun memilih untuk menjauhkan tangannya.
"Qiara, gue minta maaf. Lo gak papa?"
Tanpa menjawab pertanyaan Noah, Qiara pun berlari dan pergi keluar dari rumah. Ia nampak menghentikan beberapa alat tranportasi umum yang lalu lalang di jalan tak jauh dari rumah para kembar.
Noah sebenarnya bisa mengejar Qiara. Namun, ia memilih untuk membiarkan apa yang di lakukan gadis itu.
"Aku mohon Qiara ... Maafkan aku!" gumam Noah.
**
Qiara sudah berusaha keras menghentikan beberapa angkutan umum yang melintas di depannya, namun tampaknya nasib baik tidak berpihak kepadanya hari ini. Dia melihat ke sekeliling, berharap menemukan solusi untuk situasinya.
Tiba-tiba, mata Qiara tertuju pada sebuah halte bis yang tidak jauh dari rumah kembar tersebut.
"Mungkin lebih baik aku naik bis saja," gumam Qiara dalam hati. Rasa sakit yang kian menjadi membuatnya merasa tak punya pilihan lain.
Dengan langkah tertatih-tatih, Qiara mulai berjalan menuju halte bis tersebut. Dalam perjalanannya, dia tidak bisa menahan air mata yang jatuh karena rasa sakit yang menjalar di bagian bawah tubuhnya.
Apa yang sudah terjadi padaku? Apakah ini hukuman yang harus aku terima karena beberapa kesalahan di masa lalu? Benarkah orang bilang karma itu pasti akan kembali? - pikir Qiara dalam hati yang sesak.
Qiara teringat saat dirinya masih bersekolah di sekolah sebelumnya. Dirinya pernah menolak seorang laki laki, bahkan Qiara yang jengkel karena terus di kejar kejar akhirnya tidak ada pilihan lain, ia membuat laki laki yang menyukainya jera dengan mempermalukan laki laki itu.
Tiba-tiba, sebuah motor berhenti tepat di depannya, membuat Qiara tersentak. Orang yang duduk di atas motor sport itu kemudian membuka kaca helmnya.
"Nolan?" panggil Qiara dengan bibir yang terkatup, mengejutkan dirinya sendiri. Meskipun tahu bahwa suaranya tidak akan terdengar, namun hatinya tetap merasa takut sekaligus penasaran dengan kedatangan Nolan.
"Ayo naik! Kita berangkat sekolah bersama," tawar Nolan dengan wajah datar dan nada bicara dingin.
Qiara menolak tawaran Nolan dengan angkuh dan tegas, membuat Nolan merasa kesal dan bingung. Kenapa ia menolak? Apakah ia tidak sadar bahwa tanpa bantuan ayahku, dia tidak mungkin dapat bersekolah? Pikiran itu terus menghantui Nolan, menciptakan kegemasan dalam dirinya.
Natan, yang melihat kejadian itu, tertawa terbahak-bahak. Tawanya sampai terdengar oleh Nolan, membuat wajah Nolan semakin kesal.
Natan tertawa? Karena dia begitu hafal dengan Kakak kembarnya yang terkenal sulit dekat dengan seorang gadis. Bahkan di kejar pun oleh beberapa gadis, Kakak nya itu tetap cuek dan sulit untuk di dekati.
Hal itu sungguh sangat jauh bertolak belakang jika di bandingkan dengan dirinya.
Namun hal yang sekarang ini terjadi, sungguh terasa sangat aneh bagi Natan. Kakak nya itu peduli dengan gadis asing yang baru di kenal, sungguh hal yang sangat aneh. Dan menggelikannya lagi, kepedulian Kakaknya itu hanya mendapatkan sebuah penolakan.
"Apakah lo itu tahu? Alamat dan juga nama sekolah yang akan lo datangi?" tanya Nolan dengan nada gemas, mencoba mengendalikan emosinya.
"Gak ... Tapi gue juga gak peduli," sahut Qiara ketus.
Nolan merasa terpukul, bagaimana mungkin gadis ini begitu keras kepala? Terlintas dalam benaknya, apakah dia salah memperlakukan Qiara? Namun, perasaan marah dan kecewa mendominasi pikirannya, membuatnya enggan untuk merenung lebih jauh.
Dengan perasaan frustasi yang meluap, Nolan memutar gas motor sport miliknya, meninggalkan Qiara tanpa kata-kata lagi.
Sementara itu, Qiara menatap punggung Nolan yang menjauh dengan ekspresi wajah yang memperlihatkan kesumat dendam.
Nolan bertanya-tanya dalam hatinya, apa yang sebenarnya ada di benak gadis itu? Kenapa harus menolak keinginan baik nya? Pertanyaan-pertanyaan itu menggelayut di pikirannya, meninggalkan ruang bagi keraguan dan penyesalan.
Tak berselang lama, akhirnya langkah kaki Qiara pun membawa nya ke halte sekolah yang berada tak jauh dari rumah para kembar.
Sesaat setelah Qiara masuk dalam bis, nampak seorang laki laki yang juga masuk dan juga mengekor di belakang Qiara.
Namun, seperti nya Qiara tidak menyadarinya.
"Akh... Kenapa sial sekali? Aku tidak mendapatkan tempat duduk. Padahal tubuh bagian bawah ku sekarang ini terasa sangat sakit," keluh Qiara dalam hatinya.
Namun, karena tak ada pilihan lain, Qiara memilih berdiri di dalam bis sambil berpegangan pada tali yang ada.
Bis mulai melaju, dan Qiara merasakan sakit semakin menjadi. Pikiran-pikirannya mengeluh tentang betapa sial hari itu baginya. Tiba-tiba, sang sopir menginjak pedal gas bis, menyebabkan Qiara terhuyung-huyung.
"Akh... Hampir saja terjatuh," gumam Qiara, seolah berbicara kepada dirinya sendiri dalam kegelisahannya. Ia merasa bersyukur tak jatuh di lantai bawah bis yang kotor itu.
"Untung gak jadi, jadinya tubuh ku itu gak kotor," pikir Qiara dalam gumamnya. Namun, ekspresi wajah Qiara perlahan berubah, kala dirinya merasa jika punggung bagian bawahnya seperti ada yang memegang dan juga terasa menghangat.
"Eh...," Qiara terkejut kala menyadari bahwa tubuhnya kini sedang ditopang seseorang. Pikirannya bercampur aduk antara terima kasih dan kebingungan,
"Siapa orang ini, dan kenapa dia menolongku?" Gumam Qiara kembali, berusaha mencerna situasi yang terjadi.
Akibat pengereman mendadak yang di lakukan oleh supir bis, Qiara melihat banyak sekali orang yang terjatuh.
"Kenapa tadi kamu menolak keinginan baik Kakak ku untuk memberi mu tumpangan ke sekolah?" Pertanyaan dari seseorang yang Qiara kenali suaranya.
"Noah," ucap Qiara bingung. Karena tadi ia melihat Noah berangkat lebih dulu dengan menaiki motor sport.
Semburat merah terlihat keluar dari ke dua pipi Qiara, lalu dengan gerakan yang terlihat begitu kasar. Qiara nampak berdiri tegak, menjauhkan tangan Noah yang sebelumnya menopang tubuh nya.
"Qiara, kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan yang baru saja aku ajukan?" tanya Noah lagi.
Qiara malah memalingkan pandangannya ke arah lain. Lagi lagi air mata keluar dari tubuh nya, kala teringat hal yang terjadi semalam.
"Qiara ... " panggil Noah.
"Gak papa," sahut Qiara singkat dan juga dengan nada dingin.
"Apa kamu marah? Dengan hal yang terjadi kemarin."
Ke dua bola mata Qiara nampak membulat sempurna.
"Apakah Noah itu tahu? Apa yang terjadi pada ku semalam?" gumam Qiara dalam hatinya.
"Qiara ..." Berkali-kali Noah terlihat memanggil nama Qiara.
Namun, gadis yang dipanggil malah semakin menjauhkan diri dan wajahnya. Mungkin ada yang salah dengan diriku, pikir Noah, merasa sedih karena panggilannya terabaikan.
"Mungkin dia marah, atau mungkin dia sedih, apapun itu, aku ingin tahu dan ingin menghadapinya," gumam Noah dalam hatinya. Dengan niat untuk melihat ekspresi wajah Qiara langsung.