Ternyata, teori tentang benang merah itu memang ada. Sejauh dan selama apapun berpisah, jika ada yang belum selesai makan akan tetap bertemu dengan cara yang terkadang tak masuk dalam logika.
Siapa yang sangka, Bianca akan kembali bertemu , mantan tunangan yang dulu dijodohkan dengannya dalam keadaan Bianca yang sudah tidak seperti dulu lagi.
Tunangan yang dulunya pergi meninggalkannya karena alasan tidak mencintainya, kini justru selalu terlihat dalam hidup Bianca yang begitu pelik.
Padahal mantan tunangannya itu sudah memiliki wanita yang dicintai sejak dulu menjalin hubungan dengan Bianca.
"Bisakah kau melewatiku begitu saja saat melihatku? Jangan mendekat dan jangan ikut campur terlalu jauh ke dalam hidupku!" - Bianca -
Apa jadinya jika dua orang itu justru terikat oleh sebuah teori benang merah yang tidak pernah putus diantara mereka?
Apakah mereka akan kembali bersama meski benang merah sudah terlalu rumit mengikat mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manginap di apartemen Bianca
Sebelum pertunangan itu terjadi, Elgard ingin sekali melihat Bianca walau sebentar saja. Larut malam dia datang ke apartemen Bianca. Dia sudah memastikan kalau tidak ada yang mengikutinya. Dia juga tidak membawa mobilnya yang biasa, itu ia lakukan untuk mengelabui orang yang mungkin saja Ayahnya minta untuk memata-matainya.
Elgard sekarang berdiri di depan pintu, menunggu pemiliknya untuk membukakan untuknya.
"Kenapa kau datang ke sini?" Bianca terlihat terkejut melihat keberadaan Elgard di depan apartemennya malam-malam seperti ini.
Elgard mendorong pintu yang hanya dibuka sedikit oleh Bianca hingga kini dia bisa leluasa masuk setelah Bianca terdorong ke dalam. Seperti biasa, harum parfum racikan Bianca memenuhi tempat kecil itu.
"Apa ayang kau lakukan?!" Kesal Bianca.
"Pergilah dari sini!" Bianca menarik ujung jas yang dikenakan Elgard.
"Sebentar saja, aku hanya ingin di sini sebentar saja. Setelah itu aku akan pergi!" Elgard melepaskan tangan Bianca dari jasnya, kemudian meninggalkan Bianca yang masih berdiri untuk duduk di sofa.
Elgard melihat meja kerja milik Bianca berantakan karena Bianca tampaknya sedang meracik parfum.
"Bagaimana perkembangan parfummu? Apa yang kau dan Roy lakukan sejauh ini?"
"Roy baru menyetujui desain kemasan parfumku. Aku juga sudah membuat website resmi. Roy menawarkan produksi parfumku di pabriknya sendiri, dan setelah kemasannya jadi, langsung akan diproduksi!"
"Itu lebih bagus karena aku yakin kualitasnya akan lebih terjamin!"
"Hmm!" Angguk Bianca.
"Bee?"
"Hmm?" Elgard menatap Bianca yang masih berdiri tak jauh darinya. Tatapan yang begitu dalam hingga membuat Bianca memalingkan wajahnya.
"Besok aku akan bertunangan dengan Meriana!"
"Aku tau, selamat untuk itu. Akhirnya setelah begitu lama, hubungan kalian resmi juga!" Bianca sama sekali tak menatap Elgard. Entah kenapa dia begitu gugup saat ini karena tatapan Elgard itu.
"Tapi aku tidak menginginkan itu!"
"Menurutmu, jika orang tau kau menjalin hubungan dengan Meriana lebih dari delapan tahun, mereka akan percaya kalau kau tidak menginginkan pertunangan itu?"
Skakmat, Elgard terbungkam. Siapapun memang tak akan percaya kalau cinta yang ia miliki untuk Meriana perlahan layu dan mati mengingat hubungan mereka yang sudah terlalu lama.
"Sudahlah, sebaiknya kau pergi dari sini. Besok hari pertunanganmu dan aku tidak mau terlibat masalah kalau sampai tunanganmu tau kau ada di sini malam ini!"
"Bisa tolong buatkan aku makanan dulu? Aku lapar sejak tadi siang belum makan!" Pinta Elgard dengan wajah memelas. Dia tampaknya sengaja mengulur waktu agar tetap di apartemen Bianca.
"Setelah itu aku akan pergi!" Lanjutnya meyakinkan Bianca.
"Ck!"
Bianca berdecak namun dia berjalan ke lemari pendingin mencari bahan makanan yang bisa ia masak dengan cepat saat ini. Sekarang, lemari pendinginnya sudah tidak kosong lagi. Dia sudah mendapatkan gaji dari Kevin, jadi dia bisa makan dengan layak lagi.
Sebenarnya dia masih memikirkan hutang-hutang milik Davis, namun sudah beberapa waktu ini, para penagih hutang yang tak terhitung banyaknya itu tak lagi datang menemuinya dan meminta uang darinya. Entah kemana mereka semua tapi Bianca justru senang karena menjadi sedikit tenang.
Bianca memasak secepat mungkin yang ia bisa karena ini sudah larut malam. Dia ingin Elgard segera pergi dari apartemennya, selain itu, dia tidak mau mengganggu tetangga apartemennya karena memasak tengah malam begini.
Bianca membawa masakannya ke meja yang ada di depan sofa, tempat Elgard tadi duduk menunggunya.
Tapi tanpa Bianca duga, ternyata Elgard justru tidur dengan berbaring di sofa yang terlalu kecil untuk tubuhnya itu.
"El!" Panggil Bianca, tapi Elgard tak bereaksi sama sekali. Dia malah mendengar dengkuran halus dari pria itu yang menandakan kalau Elgard benar-bener tertidur.
"El, bangunlah! Kalau kau mau tidur, jangan di sini! Pulanglah!" Bianca kembali membangunkan Elgard namun tanpa menyentuhnya.
"Ck, susah sekali!"
"El! Bangun!" Bianca menyentuh lutut Elgard namun pria itu tak bergerak sama sekali. Bianca baru tau kalau pria itu susah sekali dibangunkan ketika tidur.
Kesal sendiri dengan Elgard yang tak kunjung bangun, Bianca lebih memilih melanjutkan pekerjaannya. Sekarang, dia sedang meracik parfum baru. Kata Roy, meski Bianca mengeluarkan satu karya terbaiknya, persiapkan hang lain juga, jangan hanya satu karena setiap orang memiliki selera yang berbeda. Mereka bisa memilih salah satu atau bahkan membeli semua dari pilihan yang Bianca berikan.
Cukup lama Bianca berkutat dengan pekerjaannya, dia melirik jam sudah menunjukan pukul tiga pagi, tapi Elgard belum juga bangun. Pria itu malah masih terlelap dengan suara dengkuran halusnya yang semakin teratur.
Rasanya malas sekali untuk membangunkan pria itu, Bianca lebih memilih menuju ke ranjangnya untuk tidur. Hingga dia hampir terhadap, tak ada tanda-tanda Elgard untuk bangun sedikitpun.
Ketika matahari baru saja menujukkan sinarnya sedikit saja, Elgard sudah terbangun. Dia memijat kepalanya yang terasa begitu berat. Namun dia langsung teringat dimana dia berada saat ini.
Elgard langsung saja terduduk dengan tegak dan melihat ke sekelilingnya, melihat Bianca yang masih tertidur di atas ranjang kecil tak jauh darinya.
Dia juga melihat masakan Bianca tersaji di atas meja. Semalam dia benar-benar lelah dan pusing, makanya tanpa.sadar tertidur begitu saja di tempat yang sebenarnya kurang nyaman itu. Tapi entah kemana, dia tertidur dengan begitu mudah untuk kedua kalinya di tempat yang sama.
Elgard berjalan mendekati Bianca, dia duduk di tepi ranjang, melihat wajah Bianca yang tetap saja cantik meski terlihat lebih tirus daripada dulu.
Tangannya bergerak menyisihkan anak rambut yang menutupi dahi Bianca. Jujur saja Elgard bisa melihat Bianca yang dulu saat Bianca terlelap seperti ini. Wajahnya terlihat menenangkan, bukan raut wajah yang dingin dan sering kali memberikan tatapan kekecewaan penuh kebencian kepadanya.
Tatapan Elgard tiba-tiba saja tertuju pada pergelangan tangan Bianca yang terdapat bekas luka. Sekali saja Elgard melihatnya, dia bisa tau bekas luka itu adalah bekas sayatan dari benda tajam.
Elgard kembali menatap Bianca yang masih terlelap dengan penuh tanda tanya.
"Sebenarnya berapa kali kau mencoba mengakhiri hidupmu Bee?" Pedih rasanya hati Elgard. Rasa bersalah itu kembali menyeruak menekan dadanya hingga terasa sesak.
Dia tidak pernah tau kalah Bianca berkali-kali mencapai titik terendah sampai menyerah pada hidupnya.
Dalam keadaan seperti itu, pasti Bianca butuh seseorang di sampingnya. Tapi kalau Ayahnya sudah tiada, Ibunya di rumah sakit jiwa, dan Davis justru membebaninya dengan begitu banyak hutang, Bianca pasti hanya seorang diri.
"Maafkan aku Bee!" Elgard menunduk menyesali perbuatannya. Air mata yang kini menerpa wajahnya dengan deras seolah menjadi saksi penyesalan Elgard.
Tak ingin mengganggu tidur Bianca, Elgard segera menghapus air matanya. Dia kembali ke sofa dan memakan masakan Bianca yang sudah begitu dingin.
Tapi air mata Elgard kembali menerobos pelupuk matanya ketika dia mengunyah makanan itu hingga tandas. Elgard benar-benar sudah sampai ditahap menangis saat makan. Ternyata benar kata orang-orang jika rasanya sangat menyesakkan ketika menangis saat makan, sampai makanan pun terasa berhenti di pertengahan lehernya.
andai masih hidup si janin akan mengikat lebih kuat hubungan Elgar Bianca
Kamu udh pernah mengalami hal tersulit, harusnya sekarang bisa lebih kuat.. gak mudah terpengaruh.. jadi makin terlihat lemah, gak ada apa2 nya km Bee..
Elgard jatuh saat sedang memperjuangkan km, harusnya jadi sumber kekuatan.. bukan malah jadi penoreh luka...
sadar banget Klo mereka saling cinta zaa
semoga kamu yg akhirnya melepaskan dan memudahkan Bianca kembali Pd El Royyy
jahat banget Ndak sie ini Bianca
jangan bohongi hatimu Beeee
ini akan membuat rumit
Royyyy Bianca tidak cinta sama kamu!
kamu menitipkan Bianca Pd Roy
gak kebayang hancurnya kamu 😬😬💔💔💔💔