Aku hanyalah setetes air di tengah samudra luas.Melangkah di dunia ini semata-mata agar tetap merasa hidup.
Dengan pedang di tanganku, aku menolong mereka yang terjatuh.
Aku menebas musuh, menghabisi iblis, dan menghadang kegelapan.
Namun aku ragu…Mampukah aku menyelamatkan diriku sendiri?
Dengan kekuatan yang bahkan mampu menumbangkan naga,
Akulah legenda yang bangkit dari darah dan luka—Sang Legenda Naga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Retakan di Dalam Cangkang
Tian Shan berjalan keluar dari rimbunnya hutan dengan beban berat di pundaknya.
Kantong besar berisi sisik ular zamrud yang berkilauan dan inti energi yang berdenyut redup tersampir di punggungnya.
Ia mengharapkan keheningan yang biasa—suara tumbukan kedelai atau gumaman para petani.
Namun, yang menyambutnya adalah bau yang sangat ia kenal: bau anyir darah dan kayu yang terbakar.
Langkah kakinya terhenti di batas desa. Matanya yang kelabu menyipit.
Beberapa gubuk yang baru saja diperbaiki kini hangus menghitam.
Di tengah jalan desa, tubuh-tubuh yang baru saja ia beri makan kini tergeletak tak bernyawa.
Di antaranya adalah ibu yang tempo hari menyuapi anaknya; ia mati dengan tangan masih menggenggam mangkuk kosong.
Di sisi lain, beberapa pria tani yang ia ajari cara mencangkul dengan efisien, kini tewas dengan tombak tertancap di punggung.
Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, sesuatu di dalam dada Tian Shan bergetar. Bukan amarah yang meledak-ledak, melainkan sebuah denyut tajam yang tidak nyaman.
Sesuatu yang menyerupai empati yang menyakitkan. Kehampaan yang biasanya tenang kini terasa seperti air raksa yang mendidih.
"Oh, jadi ini pemimpin baru mereka?" sebuah suara sinis memecah kesunyian.
Sekelompok pasukan berseragam besi lengkap dengan lambang Kota Air Tenang berdiri di tengah lapangan desa.
Di depan mereka, seorang kapten dengan kumis melintang duduk di atas kuda perang, memegang surat perintah yang berlumuran darah.
"Gubernur tidak suka hartanya dikelola oleh pencuri," ucap sang Kapten sambil menunjuk mayat-mayat di tanah dengan pedangnya. "Kami membunuh mereka sebagai contoh. Dan kau... kau akan mati lebih lambat dari mereka."
Tian Shan menjatuhkan kantong buruannya ke tanah.
Suara debuman sisik ular itu menggetarkan debu di sekitarnya.
Ia perlahan membuka capingnya, membiarkan wajahnya terlihat sepenuhnya. Ada satu tetes air hujan yang jatuh di pipinya, atau mungkin itu hanya keringat dingin dari jiwanya yang mulai retak.
"Kalian membunuh mereka." suara Tian Shan sangat rendah, namun sanggup membuat kuda sang kapten meringkik ketakutan.
"Tentu saja. Pajak adalah hukum. Jika mereka tidak bisa membayar dengan perak, mereka membayar dengan nyawa." jawab sang kapten pongah.
Tian Shan melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah.
"Aku menghabiskan waktu untuk membangun sesuatu yang berguna dari puing-puing penderitaan mereka," gumam Tian Shan. Matanya kini mulai memancarkan cahaya ungu redup—tanda Qi yang tidak stabil karena emosi. "Lalu kalian datang dan menghancurkannya hanya karena secarik kertas dari pria gemuk di kota itu?"
"Serang dia!" perintah sang Kapten, menyadari ada yang salah dengan atmosfer di sekitar pemuda itu.
Sepuluh prajurit bertombak merangsek maju. Mereka adalah tentara terlatih, namun bagi Tian Shan, mereka hanyalah hambatan yang harus dilenyapkan dari pandangan.
SRET!
Tian Shan tidak lagi bergerak dengan efisiensi yang tenang.
Kali ini, gerakannya penuh dengan ledakan tenaga. Ia menangkap ujung tombak pertama, mematahkannya seperti ranting kering, dan menusukkan patahannya langsung ke jantung sang prajurit.
Tanpa berhenti, ia memutar tubuh, menghantamkan sikunya ke helm prajurit kedua hingga besi itu remuk ke dalam tengkorak pemiliknya.
Darah mulai membasahi jubah hitamnya. Namun kali ini, Tian Shan tidak merasa kosong. Ada rasa panas yang menjalar di nadinya.
"Kenapa kalian begitu senang menghancurkan?" raung Tian Shan. Ia mencengkeram wajah seorang prajurit dan menghantamkannya ke dinding batu hingga hancur. "Kenapa dunia ini selalu memilih untuk menjadi neraka?!"
Setiap pukulan Tian Shan dibarengi dengan filosofi keputusasaan.
Ia bukan sekadar bertarung; ia sedang mengamuk melawan ketidakadilan eksistensi itu sendiri.
Para prajurit itu mulai mundur, ketakutan melihat seorang pemuda yang bertarung seolah-olah ia sudah mati namun menolak untuk tumbang.
Terakhir, ia berhadapan dengan sang Kapten. Pria berkuda itu mencoba menebas dengan pedang besarnya, namun Tian Shan menangkap bilah tajam itu dengan tangan kosong. Darah mengucur dari telapak tangannya, namun ia tidak melepaskannya.
"Kau bicara tentang hukum?" Tian Shan menarik pedang itu hingga sang kapten terjatuh dari kudanya. "Maka hari ini, hukumku adalah ini: Siapa pun yang merenggut harapan dari mereka yang tidak punya apa-apa, tidak berhak memiliki napas."
Tian Shan mengangkat kakinya dan menginjak dada sang Kapten dengan seluruh berat Qi-nya.
Tulang rusuk pria itu hancur, menembus paru-parunya. Kapten itu hanya bisa menganga, mengeluarkan buih darah tanpa bisa berkata-kata.
Setelah semua prajurit itu tewas, desa kembali hening.
Warga yang selamat keluar dari persembunyian dengan gemetar. Mereka melihat Tian Shan berdiri di tengah genangan darah, napasnya memburu.
Anak kecil yang dulu ia selamatkan mendekatinya, memegang ujung jubahnya yang basah. "Tuan... Anda terluka?"
Tian Shan menatap tangannya yang robek karena menangkap pedang tadi. Rasa sakit itu nyata. Perih. Panas.
"Aku merasakannya," bisik Tian Shan pada dirinya sendiri. "Aku tidak lagi merasa kosong... tapi kenapa rasanya jauh lebih sakit daripada kehampaan?"
Ia menatap ke arah cakrawala, ke arah di mana Kota Air Tenang berada. "Gubernur itu... dia telah membangun neraka di dunia. Aku akan pergi ke sana dan memastikan dia adalah orang pertama yang terbakar di dalamnya."