Shanaya berdiri di tepi taman halaman rumahnya, angin malam membelai sayap-sayap keabadiannya yang tersembunyi. Bintang mendekatinya, matanya memancarkan cinta yang tak terbantahkan. "Shanaya, aku tahu kita berbeda, tapi aku tidak peduli. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku denganmu," katanya dengan suara lembut.
Shanaya menoleh, mencoba menyembunyikan air matanya "Bintang, kamu tidak tahu apa yang kamu katakan. Aku...aku bukan seperti kamu. Aku memiliki rahasia yang tidak bisa kamu terima..." Shanaya mengangkat tangan, menghentikan Bintang yang ingin mendekat. "Tolong, jangan membuat ini lebih sulit daripada yang seharusnya. Aku tidak bisa menjadi yang kamu inginkan..."
Bintang terlihat hancur, tapi dia tidak menyerah. "Aku tidak peduli dengan apa yang kamu sembunyikan, Shanaya. Aku hanya ingin kamu..."
Apakah Shanaya akan membuka hatinya untuk Bintang atau justru pergi ke langit ketujuh dan meninggalkan Bintang seorang diri di malam yang sunyi ini? Ikuti terus kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Wilis , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11. "Kompetisi Tanya Jawab"
Pak Arhan memasuki kelas sastra A1 dengan senyum yang lebar yang dibelakangnya diikuti oleh keempat geng Garuda. Mereka berempat pun berjalan ke bangku perkuliahan yang ada di ruang kelas sastra A1.
"Selamat siang anak-anak! Apa kabar mahasiswa sastra A1 yang berbakat? Hari ini kita akan membahas tentang kewirausahaan dalam dunia sastra. Siapa di antara kalian yang bisa menjelaskan apa itu kewirausahaan dalam dunia sastra?"
Kelas langsung riuh dengan tangan yang terangkat satu sama lain yang saling berebut untuk menjawab pertanyaan dari pak Arhan itu.
"Saya, pak! Saya, pak!" seru Ray, Stephen, dan Shanaya hampir bersamaan
Pak Arhan tersenyum sembari menunjuk pada Ray, "Baik, Ray! Kamu dulu..."
Ray berdiri, "Kewirausahaan dalam dunia sastra adalah kemampuan untuk menciptakan nilai ekonomi dari karya sastra, pak. Seperti membuat buku, film, atau bahkan merchandise berdasarkan karya sastra..."
Pak Arhan mengangguk, "Benar. Nilai ekonomi dari karya sastra. Stephen, apa contoh konkret dari kewirausahaan dalam dunia sastra?"
Stephen berdiri dengan antusias, "Contohnya adalah J.K. Rowling, pak. Dia menciptakan Harry Potter dan kemudian membuat film, merchandise, dan bahkan taman tema berdasarkan seri itu..."
Pak Arhan tersenyum puas, "Benar! J.K. Rowling adalah contoh yang sangat baik. Shanaya, bagaimana menurutmu tentang peran penulis dalam kewirausahaan sastra?"
Shanaya berdiri dengan penuh semangat, "Penulis harus memiliki visi bisnis, pak. Mereka tidak hanya menulis, tapi juga harus memikirkan bagaimana karya mereka bisa dipasarkan dan dijual..."
Pak Arhan mengangguk, "Benar. Penulis harus memiliki visi bisnis. Nathaniel, apa risiko yang dihadapi oleh penulis dalam kewirausahaan sastra?"
Nathaniel berdiri dengan tenang ia menjawab, "Risiko utama adalah karya mereka tidak diterima oleh pasar, pak. Tapi jika mereka berhasil, maka hasilnya bisa sangat besar..."
Pak Arhan tersenyum, "Benar. Risiko dan hasil yang besar. Ok, siapa yang ingin mencoba menjawab pertanyaan berikutnya?"
Pak Arhan tersenyum saat melihat Dion mengacungkan tangannya, "Baik, Dion. Kamu dulu..."
Dion berdiri dengan tenang ia menjelaskan,"Pak, menurut saya, kewirausahaan sastra juga bisa berarti menciptakan komunitas atau platform untuk penulis dan pembaca berinteraksi, pak..."
Pak Arhan mengangguk, "Benar. Komunitas dan platform sangat penting. Leon, apa pendapatmu tentang peran teknologi dalam kewirausahaan sastra?"
Leon berdiri dengan penuh semangat ia menjawab, "Teknologi sangat membantu, pak. Dengan internet, penulis bisa mempublikasikan karya mereka secara online dan menjangkau pembaca yang lebih luas..."
Pak Arhan tersenyum puas dengan jawaban Leon, "Benar. Teknologi membuka banyak peluang. Diana, bagaimana menurutmu tentang pentingnya branding dalam kewirausahaan sastra?"
Diana berdiri dengan penuh semangat ia menjawab, "Branding sangat penting, pak. Penulis harus memiliki identitas yang kuat agar karya mereka mudah dikenali dan diingat..."
Pak Arhan mengangguk, "Benar. Branding yang kuat sangat penting. Viona, apa yang kamu pikir tentang peran penerbit dalam kewirausahaan sastra?"
Viona berdiri dengan percaya diri ia menjawab,"Penerbit memiliki peran penting, pak. Mereka bisa membantu penulis memproduksi dan mendistribusikan karya mereka ke pasar yang lebih luas..."
Pak Arhan tersenyum, "Benar. Penerbit memiliki peran yang sangat penting. Kelas, siapa yang ingin mencoba menjawab pertanyaan berikutnya?"
Bintang, Thalia, dan Zaneta langsung mengangkat tangan mereka. Kali ini Zaneta ingin berkompetisi dengan mereka dan tak ingin kalah.
"Saya, pak! Saya, pak!" seru mereka hampir bersamaan seperti orang yang berebut bansos
Pak Arhan tersenyum, "Baik, Bintang! Kamu dulu..." tunjuknya ke arah Bintang
Bintang berdiri dengan tenang ia menjawab seperti biasa,"Pak, menurut saya, pertanyaan berikutnya adalah tentang bagaimana penulis bisa memanfaatkan media sosial untuk meningkatkan penjualan buku mereka, pak..."
Pak Arhan mengangguk, "Benar. Pertanyaan yang sangat bagus. Thalia, apa pendapatmu tentang itu?"
Thalia berdiri dengan tenang namun elegan ia menjawab, "Penulis bisa memanfaatkan media sosial dengan membuat konten yang menarik, seperti teaser, review, atau bahkan live reading, pak. Ini bisa membantu meningkatkan kesadaran dan minat pembaca..."
Pak Arhan tersenyum, "Benar. Konten yang menarik sangat penting. Zaneta, apa yang kamu pikirkan tentang peran influencer dalam promosi buku?"
Zaneta berdiri dengan perasaan menggebu-gebu, "Influencer bisa membantu meningkatkan visibilitas buku, pak. Tapi, penulis harus memilih influencer yang sesuai dengan genre dan target pasar mereka..."
Pak Arhan mengangguk, "Benar. Pemilihan influencer yang tepat sangat penting. Ok, siapa yang ingin mencoba menjawab pertanyaan berikutnya?"
Bintang langsung mengangkat tangan kembali, "Saya, pak. Pertanyaan berikutnya adalah tentang bagaimana penulis bisa meningkatkan kemampuan menulis mereka, pak?"
Pak Arhan tersenyum, "Benar. Pertanyaan yang sangat bagus. Thalia, apa pendapatmu tentang itu?"
Thalia berdiri kembali dan menjawab dengan tenang, "Penulis bisa meningkatkan kemampuan menulis dengan membaca banyak buku, pak. Dan juga dengan menulis secara teratur, mereka bisa meningkatkan kemampuan mereka..."
Zaneta tidak ingin kalah, "Saya, pak. Saya punya jawaban lain. Penulis juga bisa meningkatkan kemampuan menulis dengan bergabung dengan komunitas menulis, pak. Mereka bisa mendapatkan feedback dan motivasi dari penulis lain..."
Pak Arhan tersenyum, "Benar. Kedua jawaban kalian sangat bagus. Bintang, Thalia, dan Zaneta, kalian semua benar..."
Pak Arhan tersenyum, "Baik, anak-anak! Sekarang, saya ingin kalian semua membuat sebuah karya sastra yang bisa dipasarkan dalam jangka waktu 30 menit. Bisa berupa puisi, cerpen, atau bahkan skenario film pendek. Yang penting, karya kalian harus memiliki nilai jual dan bisa menarik perhatian pembaca atau penonton. Selanjutnya karya kalian itu bisa kalian kirimkan ke bapak dalam bentuk soft file, bisa di mengerti?" ucap pak Arhan tegas
Kelas langsung riuh dengan suara mahasiswa mahasiswi yang mulai berpikir dan menulis. Bintang, Thalia, dan Shanaya juga yang lainnya langsung mengambil kertas dan pena, siap untuk menciptakan karya sastra mereka.
"Ingat, anak-anak! Waktu kalian mulai sekarang. 30 menit lagi, kita akan melihat hasil karya kalian," tegas Pak Arhan sambil menatap jam tangannya
Kelas menjadi sunyi seketika, hanya terdengar suara pena yang bergerak di atas kertas. Bintang, Thalia, dan Shanaya fokus pada karya mereka, berusaha menciptakan sesuatu yang terbaik.
...****************...
Waktu 30 menit pun berlalu dengan cepat, kini pak Arhan yang tengah terfokuskan pada layar monitor laptopnya beralih pada para mahasiswa dikelas sastra A1 untuk menagih tugas mereka.
Pak Arhan tersenyum hangat memindai mahasiswa mahasiswinya yang tampak antusias sekali, "Baik, anak-anak! Waktu sudah habis. Tolong kumpulkan hasil karya kalian kepada saya segera ya..." tegas pak Arhan
Mahasiswa-mahasiswa mulai mengumpulkan kertas mereka dan memberikannya kepada Pak Arhan. Bintang, Shanaya, Thalia, Zaneta dan yang lainnya juga menyerahkan karya mereka dengan bangga.
Pak Arhan mulai memeriksa karya-karya mereka, sambil memberikan komentar dan pujian.
"Wah, Bintang. Cerpenmu tentang kehidupan sehari-hari di kota sangat menarik. Thalia, puisimu tentang cinta sangat indah. Dan Shanaya, skenario film pendekmu tentang perjuangan seorang penulis sangat inspiratif..."
Setelah memeriksa semua karya, Pak Arhan berkata, "Baik, anak-anak! Hasil karya kalian sangat bagus. Sebagai tugas rumah, saya ingin kalian memfoto karya kalian dengan ponsel masing-masing dan membuatnya ulang dalam bentuk soft file dan mengirimkannya kepada saya melalui email. Dan jangan lupa, kita akan membahas karya kalian lebih lanjut pada pertemuan berikutnya. Ok sampai jumpa dilain waktu dan selamat siang..."
Mahasiswa-mahasiswi mengangguk dan mulai memfoto karya mereka. Bintang, Thalia, dan Shanaya tersenyum, merasa bangga dengan hasil karya mereka. Tak ada lagi jam perkuliahan mereka semua pun memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
Terlebih keempat sekawan itu juga yang tengah mempersiapkan diri untuk acara balap motor yang akan dilaksanakan besok malam sehingga mereka pun ingin melakukan latihan agar lebih maksimal. Siang ini Shanaya pulang bersama Thalia yang menumpang dimobil baru Shanaya.
Bersamboo dulu...
Maaf ya guys saya nulisnya tentang dunia sastra mulu soalnya saya ambil kuliah di prodi Sastra jadi sesuai dengan pengetahuan dan apa yang sudah saya pelajari selama di bangku perkuliahan gak jauh beda dengan yang di novel saya ini ya guys... 🙏😅🙃🌷🌹🌺