NovelToon NovelToon
Perjuangan Driver Ojol Poligami

Perjuangan Driver Ojol Poligami

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Selingkuh / Konflik etika
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Seorang Pria sederhana yang berprofesi sebagai Driver Ojol, ingin Berpoligami karena melihat teman SMA nya berhasil dalam poligami.

Namun Ia-Arman tidak mendapatkan restu dari Istrinya.

Berhasil kah Arman si Driver Ojol memperjuangkan Poligami nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Brotherhood of Harmony

Pagi itu, Arman memilih kemeja kotak-kotak biru muda yang paling rapi, meski sudah agak pudar. Celana chino hitam yang sama dari acara reuni, dan sepatu kulit yang ia poles seadanya dengan sisa cairan pembersih sepatu. Ia ingin terlihat presentable di hadapan Budi, calon bos potensialnya. Di dalam jaket ojol yang ia kenakan di atasnya, jantungnya berdegup campur antara harap dan was-was.

Showroom Budi ternyata tidak di tempat mewah seperti yang ia bayangkan. Berlokasi di sebuah ruko dua lantai di kawasan industri Cikarang, dekat dengan pusat pengolahan kayu. Tulisan “Wijaya Furnitur – Custom & Ready Stock” terpampang sederhana.

Di dalam, bau kayu, vernis, dan lem menyeruak kuat. Ruangan dipenuhi dengan contoh meja, kursi, dan lemari dengan desain yang cenderung tradisional namun tampak kokoh.

Budi menyambutnya di ruang kecil yang berfungsi sebagai kantor. Ia mengenakan kaus polo berlengan pendek dengan logo perusahaan, celana cargo, dan sepatu kets. Lebih santai dari kesan reuni, tetapi tetap memancarkan aura pemilik usaha.

“Arman! Tepat waktu. Mantap,” sambut Budi berjabat tangan erat. “Mari, duduk.”

Mereka duduk di dua kursi kayu jati yang terasa keras. Budi langsung menawarkan rokok, yang ditolak Arman.

“Jadi, soal kerjaan. Kebutuhan gue sederhana. Lo harus bawa mobil Avanza itu buat anter sample ke calon buyer, atau kadang nganterin keluarga. Kerja dari Senin sampai Jumat, jam 8 pagi sampai 5 sore."

"Kalau Sabtu ada kebutuhan, bisa overtime. Gaji… gue kasih 4,5 sebulan. Diluar bensin dan parkir yang gue ganti. Makan siang tanggung sendiri. Gimana?” Budi menyodorkan angka dengan enteng.

Arman mengangguk, pikirannya cepat berhitung. 4,5 juta. Itu hampir dua kali lipat dari rata-rata penghasilannya sebagai ojol yang tak menentu. Stabil. Tapi ada sesuatu yang mengganjal. Sopir pribadi biasanya tinggal di rumah majikan, atau setidaknya sangat fleksibel dengan waktu. Tawaran Budi terlalu terstruktur, seperti karyawan biasa.

“Untuk keluarga, maksudnya gimana, Bud? Nganter istri atau anak?” tanya Arman berhati-hati.

Budi tersenyum lebar. “Nah, ini dia. Kadang istri pertama mau jalan ke mall atau arisan. Kadang istri kedua perlu anter ke tempat les anaknya atau urusan lain. Mereka punya mobil sendiri sih, tapi kadang butuh supir kalau lagi males nyetir atau suaminya lagi sibuk,” candanya, sambil menyipitkan mata.

“Tenang, mereka baik-baik. Nggak rewel.”

Gambaran itu membuat Arman sedikit tidak nyaman. Ia akan menjadi saksi langsung dari kehidupan poligami Budi. Menjadi bagian dari mesin yang menjalankan sistem itu.

“Dan kalau lagi nggak ada tugas nganter, lo bisa bantu-bantu ringan di sini, bongkar muat barang, atau antar barang pesanan yang kecil-kecil pake motor lo juga boleh. Nanti ada uang tambahan,” tambah Budi.

Arman menghela napas. “Tawaran yang bagus, Bud. Tapi… boleh gue diskusiin dulu sama istri? Soalnya ini perubahan besar buat kami. Selama ini gue freelance, jadi lebih fleksibel urus rumah.”

Ekspresi Budi sedikit berubah, seperti kecewa tapi berusaha memahami. “Oh… iya iya. Wajar. Diskusi sama istri itu penting. Apalagi…” Ia berhenti, lalu senyumnya kembali mengembang.

“Gue ngerti. Istri pertama pasti banyak pertimbangan. Makanya komunikasi itu kunci.”

Pembicaraan kemudian beralih ke hal umum. Tentang bisnis furnitur yang lagi sepi karena ekonomi, tentang harga kayu yang naik. Namun, entah bagaimana, obrolan selalu terpeleset kembali ke topik rumah tangga.

“Lo tahu nggak, Man, kunci poligami yang harmonis itu apa?” tanya Budi tiba-tiba, tanpa diminta.

Arman menggeleng, meski dalam hati ia sudah punya daftar panjang ‘kunci’ dari sumber yang saling bertentangan.

“Manajemen waktu dan transparansi. Harus tegas. Hari Senin-Rabu di rumah pertama. Kamis-Minggu di rumah kedua. Atau bergantian mingguan. Tapi yang penting, janji harus ditepati. Kalau janji sama istri pertama jam 7 malam mau makan malam, ya harus ada di situ, nggak boleh ditunda karena istri kedua minta ditemani. Sebaliknya juga gitu.”

Budi berbicara seperti seorang pelatih motivasi. “Dan yang paling penting, kasih mereka kegiatan. Jangan dibiarkan kosong. Istri pertama gue aktif di pengajian dan arisan. Istri kedua buka online shop kosmetik. Jadi mereka sibuk, nggak banyak nuntut perhatian.”

Arman mendengarkan dengan perasaan campur aduk. Ia teringat kata-kata Mira: ‘Saya dapat keamanan finansial dan kemandirian.’ Ternyata, ‘kemandirian’ itu adalah strategi dari suami agar mereka tidak ‘banyak nuntut’.

.

“Tapi… pasti ada konflik, Bud,” sahut Arman lemah.

“Pasti! Mana ada hidup tanpa konflik? Tapi sebagai suami, kita harus jadi hakim yang adil. Dengarkan, beri solusi, dan tunjukkan kasih sayang yang setara. Misal, beli emas buat istri pertama, ya istri kedua juga harus dapet, meski modelnya beda.” Budi menepuk pundak Arman.

“Susah-susah gampang, sih. Tapi lo tahu nggak, ada komunitasnya. Banyak laki-laki seperjuangan. Kita bisa sharing, saling support.”

Sebelum Arman sempat berkata apa-apa, Budi sudah mengambil ponselnya. “Gue tambahin lo ke grup WhatsApp kita. Namanya ‘Brotherhood of Harmony’. Isinya para suami yang menjalankan poligami dengan baik, atau yang minat buat belajar serius. Banyak diskusi sehat di sana.”

Blip.

Notifikasi masuk di ponsel Arman sebelum ia bisa menolak. Ia melihat layar: “Budi Wijaya menambahkan Anda ke grup ‘Brotherhood of Harmony’. Seketika, beberapa sambutan hangat dari anggota lain mengalir. “Welcome brother!” “Selamat bergabung di keluarga harmonis.”

Arman merasa terjebak. Ia tidak mau masuk grup itu. Itu seperti mengikat dirinya pada sebuah identitas yang sudah ia coba tinggalkan. Tapi menolak di depan Budi akan terasa kasar, apalagi Budi adalah calon bos.

“Ini… thanks, Bud. Tapi gue mungkin cuma baca-baca dulu,” kata Arman, berusaha diplomatis.

“Gapapa. Silent reader juga boleh. Yang penting lo bisa lihat, kita bukan monster. Kita keluarga biasa yang memilih jalan yang mungkin berbeda,” ujar Budi sambil berdiri, menandakan pertemuan usai.

“Gue tunggu kabar lo soal kerjaan ya. Besok atau lusa gue harus tahu, soalnya ada beberapa yang minat juga.”

Perjalanan pulang terasa berat. Di motor, ponselnya terus bergetar karena notifikasi grup baru itu. Ia membuka sekilas. Ada yang share foto keluarga besar di taman. Ada yang bertanya tentang hukum waris untuk anak dari istri kedua.

Ada yang memamerkan kado ulang tahun untuk istri pertama dan kedua dalam satu hari. Semua terlihat begitu… terkendali. Tapi Arman kini bisa membaca di baliknya. Ia melihat ‘kegiatan’ yang sengaja diciptakan, ‘hadiah’ yang merupakan bagian dari neraca keadilan. Ia merasa seperti melihat panggung sandiwara yang megah, dan Budi baru saja menarik tirai belakangnya, menunjukkan tali-tali dan pulley yang rumit.

Sampai di rumah, Arman langsung mencari Rani yang sedang istirahat dari warung, menonton video memasak di laptop.

“Aku pulang. Tadi ketemu Budi,” katanya, mencoba bersikap terbuka.

Rani mematikan videonya. “Gimana?”

“Tawarannya… lumayan. Gaji 4,5 sebulan, tetap. Tugasnya anter barang sample sama kadang anter keluarganya.”

Rani mengernyit. “Keluarga? Maksudnya dua istri itu?”

Arman mengangguk, melihat reaksi istrinya.

“Iya. Tapi katanya nggak sering.”

“Lalu?” nada Rani mulai datar, pertanda buruk.

“Dan… dia masukin aku ke grup WhatsApp-nya. Grup para suami yang poligami.” Arman mengaku, karena kalau tidak, Rani bisa melihat notifikasinya nanti.

Rani terdiam sejenak. Lalu wajahnya yang tadinya netral, berubah menjadi merah oleh amarah yang tersulut cepat. “Jadi bener! Kerjaannya cuma kedok! Dia rekrut lo buat diajarin poligami! Mau dijadiin anak buah di bisnisnya yang nggak jelas!”

“Bukan, Ran! Kerjaannya beneran. Gajinya jelas. Grup itu… dia yang maksa masukin, aku nggak bisa nolak saat itu!” bantah Arman.

“Nggak bisa nolak? Lo dewasa atau bocah? Delete dan keluar dari grup itu sekarang juga!” teriak Rani, bangkit dari duduknya.

Arman menghela napas frustrasi. “Aku udah bilang, ini murni soal kerja. Gaji 4,5 juta, Ran! Itu bisa nambah napas panjang buat kita. Bayar cicilan lebih cepat, nabung buat Aldi!”

“Dengan harga jadi supir dua wanita yang nggak jelas? Jadi jongos di kehidupan poligami dia? No way, Arman! Aku nggak mau!” Rani berjalan mondar-mandir.

“Denger baik-baik. lo tetap jadi ojol aja! Nanti pasti ada peluang kerjaan lain yang lebih baik. Yang nggak nyeret-nyeret kita ke kehidupan orang yang nggak kita sepakati!”

“Peluang lain dari mana? Dari grup alumni yang pada diam aja? Dari nongkrong sama temen ojol yang sama-sama kejar setoran?” Arman membalas, suaranya juga mulai tinggi.

“Ini peluang nyata, Ran!”

“Nyata? Atau jebakan? Lo mikir, dia ngasih gaji segitu ke sopir yang cuma bisa bawa Avanza? Itu pasti ada embel-embelnya! Lo mau jadi proyek eksperimen poligaminya dia!”

Pertengkaran itu memanas. Aldi yang terbangun dari tidur siangnya mulai menangis di kamar. Suara mereka terdengar sampai ke tetangga.

“Kita butuh uang, Rani! Emas di lo itu banyak, tapi lo pake buat gengsi! Itu bisa jadi modal!” kata Arman tanpa berpikir, menyerang titik sensitif Rani.

Rani terhenti. Air matanya yang sudah mengambang akhirnya tumpah. Bukan karena marah, tapi karena sakit hati yang dalam.

“Jadi… selama ini lo lihat emas gue cuma sebagai… gengsi? Bukan sebagai tabungan terakhir kita? Benteng terakhir harga diri gue sebagai istri orang yang kerja keras?” suaranya bergetar.

Arman menyesal, tapi sudah telanjur. “Maksudku… kita bisa jual sebagian. Buat modal usaha. Tapi kita harus punya bisnis yang jelas dulu.”

Rani mengusap air matanya dengan kasar.

“Oke. Oke, Arman. Gue pengen tau dulu bisnis apa yang mau lo jalankan. Rencananya seperti apa? Hitung-hitungannya gimana? Jangan cuma ngomong ‘jual emas buat modal’ tanpa arah yang jelas! Kalo lo bisa kasih proposal yang masuk akal, yang nggak ada kaitannya dengan si Budi itu, gue bisa pertimbangkan untuk jual satu gelang. Tapi untuk kerja sama dia? Forget it!”

Ia masuk ke kamar, mengambil Aldi yang sedang menangis, dan menggendongnya. “Lo pikir gue pelit? Gue egois? Semua ini gue lakukan karena gue jaga sisa-sisa harga diri kita, Arman. Karena sekali kita masuk ke lingkaran itu, kita nggak akan bisa keluar dengan utuh.”

Rani meninggalkan Arman sendirian di ruang tamu. Ponsel di tangan Arman bergetar lagi. Dari grup ‘Brotherhood of Harmony’. Seorang anggota mengirimkan gambar meme: seorang suami dengan dua istri yang tersenyum, dengan caption “Double trouble, but also double blessing.” Di bawahnya, komentar: “Bener banget bro! Nikmatnya double!”

Arman menatap meme itu. Dulu, ia mungkin akan tersenyum. Sekarang, ia hanya melihat dua wajah perempuan yang mungkin, seperti Mira, sedang menjalani peran dalam sebuah sandiwara yang melelahkan.

Dan Budi, sedang mencoba menariknya untuk menjadi bagian dari produksi tersebut, baik sebagai kru (sopir) maupun mungkin sebagai pemain pendukung.

Ia mengetik di grup itu: “Maaf, saya mungkin salah masuk grup. Saya keluar dulu.” Lalu ia menekan ‘Keluar dari Grup’.

Langkah kecil. Tapi untuk Rani, ini belum cukup. Untuk dirinya sendiri, ini adalah penegasan bahwa ia memilih untuk berjuang di jalannya sendiri, seberapa berat pun itu.

Pekerjaan dengan Budi mungkin menggiurkan, tapi harganya terlalu mahal: kepercayaan istrinya yang sudah nyaris hilang, dan integritas dirinya sendiri terhadap keputusan yang sudah diambil.

Malam itu, di atas meja makan yang sepi, Arman mengambil selembar kertas dan pena. Ia mulai menulis. Judulnya: “Rencana Usaha”. Ia tidak tahu akan menulis apa, tapi ia harus mulai dari sesuatu. Sementara di kamar, Rani memeluk Aldi erat-erat, sambil memandangi gelang emas di tangannya.

Mungkinkah benteng terakhirnya ini harus ditukar dengan sebuah ketidakpastian? Pertarungan mereka bukan lagi melawan ekonomi yang sulit, atau melawan fantasi poligami. Tapi melawan ketidakpercayaan yang telah mengakar, dan mencari cara untuk membangun kembali fondasi yang sama-sama mereka injak-injak dalam kepanikan dan kekecewaan.

1
La Rue
ehm ngeri² sedap ya Man 🤣🤣🤣
Nihayatuz Zain
ya ampun pak
udah 3 kali konfliknya,
mbok udah😌 aku ngeri bacanya 💃
La Rue
ehm the sound not good
Nihayatuz Zain
wah pak arman
La Rue
Semangat Arman
Suhainah Haris
apa Sarah wanita terakhir di hidup Arman,kita serahkan ke tangan Bp.Juenk😄
Suhainah Haris
ya memang kelihatan timpang,Sarah di ruangan yang megah sedangkan Arman di ruangan tunggu gak ngapa-ngapain, apa takdirnya Arman gak bisa berhasil dengan wanita kaya?
La Rue
Semangatttt, ditunggu selalu kelanjutan kisah Arman yang berliku ini 😁👏👍
Bp. Juenk: terimakasih Kaka support nya 🙏
total 1 replies
Suhainah Haris
perjuangan poligami nya hanya segitu
Bp. Juenk: haha iya ka, Arman ny gak punya kemampuan untuk poligami
total 1 replies
La Rue
wah Arman pada akhirnya 😁
Bp. Juenk: hahahaha 🤭
total 1 replies
Lee Mbaa Young
Cerita sangat buruk sekali
Bp. Juenk: Yoi. di kehidupan nyata ada cerita yg lebih buruk dr ini
total 1 replies
Lee Mbaa Young
tidak rekomend banget mlh terkesan menjijikan. poligami ngawur.
Halwah 4g: dimna letak menjijikan nya??? kcuali anda puny pnglman pribadi jdi ngawur o
bahasanya kmna2..wong nmanya novel kok,semua ide imajinasi author nya lah g suka tinggal skip.. kok harus cerita org ngikutin mau u . mnusia aneh..klo mau yg lempeng aja bacanya buku edukasi Bu .jgn novel
total 1 replies
Suhainah Haris
malas ngomentari hidup lu Man,terserah kamulah mau hidup dengan siapa
Bp. Juenk: 🤭 sabar ka
total 1 replies
Suhainah Haris
mah kejadian lagi,kali ini Arman harus tegas,ingat lho Man,pilihanmu kali ini sangat menentukan masa depan keluargamu,memilih Sarah berarti kamu kehilangan Aldi dan Rani,tapi kalau kamu tetap memilih keluargamu,kamu masih punya pekerjaan bukannya Sarah janji tidak akan memecat mu,
Suhainah Haris
ini Arman masih nyadar ya,sadar kalau sudah ada rasa aneh,sadar sudah mulai sering mikirin Sarah,sadar kalau mereka sama-sama kesepian
Bp. Juenk: sadar Kk, 🤭
total 1 replies
La Rue
waduh gawat ni, ada yang suka Arman lagi 🤭🤭
Bp. Juenk: hehe iya nih Ka. Sarah nya lebih tegas
total 2 replies
falea sezi
kn janda gatel
Lee Mbaa Young
bu CEO jablay plus arman laki murah an gampang mau ma wanita asal berlobang dan ngasih uang banyak. pasangan Klop.
tinggal nunggu karma semoga kena penyakit
Lee Mbaa Young
Lihat bu CEO dah mulai gatal, lama gk di garuk mkne sama sopir ae PDKT curhat curhat. si laki juga asal si wanita punya lobang dan ngasih uang mau an. wes pasangan Klop.
Bp. Juenk: 💪 thanks supportnya kaka
total 1 replies
La Rue
Ayo Arman buktikan bahwa kamu bisa menjadi Ayah yang baik bagi Aldi dan suami yang bertanggungjawab untuk Rani. tapi hati² jangan mengulang kesalahan yang sama🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!