NovelToon NovelToon
OFF SCRIPT LOVE

OFF SCRIPT LOVE

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Teen School/College / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:17.9k
Nilai: 5
Nama Author: Net Profit

Tama datang dengan satu tujuan: menjaga Lengkara.
Bukan untuk dimiliki, apalagi diperebutkan—cukup memastikan gadis itu baik-baik saja.

Namun mendekati Lengkara tak sesederhana rencananya.
Saat Tama sibuk mencari cara supaya selalu ada di dekat Lengkara, justru Sasa muncul tanpa aba-aba. Terlalu berisik, terlalu berani, dan terlalu sering menyebut namanya seolah mereka sudah sedekat itu.

Ironisnya, Sasa adalah adik dari laki-laki yang terang-terangan disukai Lengkara.

“Bang, 831 gimana? Yes or no?” Sasa menatapnya penuh harap.

Tama mendengus, menahan senyum yang tak seharusnya ada. “Apaan sih, nggak jelas banget!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Salahkaprah

Sasa kembali membongkar tasnya. Ia sudah beberapa kali memasukan satu persatu pakaian hingga semua kebutuhan yang harus dibawa dan hanya boleh menggunakan satu tas tapi nyatanya tak bisa. Akhirnya ia meminta tolong Lengkara. Beruntung calon kakak iparnya itu dengan senang hati membantunya meski Sasa tau hubungan Kara dengan kakaknya nampaknya belum membaik. Meski kakaknya berulang kali nimbrung tapi lagi dan lagi kakaknya hanya diabaikan. Sasa ingin mendamaikan keduanya dengan memberikan beberapa saran untuk sang kakak tapi yang ada dia malah kena semprot.

"Kayaknya bakalan awet nih marahan kali ini." batin Sasa.

Keesokan harinya Sasa dan Ridwan sudah siap dengan segala barang bawaan mereka untuk mengikuti kegiatan pramuka selama dua hari namun keduanya dibuat melongo dengan adegan di depan rumah. Lagi, kakak mereka ribut. Kali ini malah ada personil baru yang menyegarkan pandangan.

"Dia! itu kan! wah ternyata mereka satu sekolah." batin Sasa. Ia hendak menghampiri lelaki yang tempo hari kabur saat menghitung kacang ijo. Sayangnya lelaki itu sudah lebih dulu pergi dengan Lengkara.

"Ngapain malah bengong gitu? buruan masuk atau mau telat ke sekolah?" teriak Dirga yang membuat Sasa seketika berbalik pada kakaknya.

"Jaga diri baik-baik, kalo ada apa-apa telpon kakak." Sasa mendengarkan setiap pesan dari kakaknya,meskipun sepanjang jalan ia kena omel tapi Dirga tetap kakaknya yang selalu ada untuk dirinya. Dia juga tak lupa menitipkannya pada Ridwan.

Kegiatan pramuka yang terasa lama di hari pertama namun terasa kurang dihari terakhir itu akhirnya berlalu juga. Kali ini ia pulang bersama Ridwan dijemput papi Rama.

“Kaleeeng...” teriakan Sasa. Bukannya pulang ke rumahnya sendiri, Sasa malah masuk ke rumah tetangganya.

“Ririd, barang-barang Sasa keluarin juga sekalian yah.” Ucapnya pada Ridwan dan langsung berlari menghampiri Kara.

“Kangen banget Sasa sama Kaleng.” Ucapnya seraya memeluk Kara.

“Kangen Kara apa sama abangnya Kara?” celoteh Tama yang ada disana.

“Eh ada bang cogan.” Sasa melepas pelukannya dan menatap Tama.

“Apaan cogan?” tanya Tama.

“Cowok ganteng lah, Bang.” Balas Sasa sambil tertawa. Meskiun ngeselin karena tempo hari kabur saat menghitung kacang ijo tapi tak bisa dipungkiri teman calon kakak iparnya ini gateng juga.

Tama menggelengkan kepala melihat sikap receh Sasa. “lo tuh nggak usah gombal, udah punya calon laki juga. Bisa-bisanya gombalin cowok lain di rumah calon suami sendiri.”

Sasa tertawa mendengarnya, selama ini kan dia memang selalu bercanda untuk menikah dengan Ridwan guna menggantikan Kara dan Dirga yang selalu ribut.

“haha... Sasa kan calon istri yang nggak dianggap. Bang cogan jomblo nggak? Sama Sasa aja yuk!” jawabnya enteng.

“Astaga ini bocah! Lo kalo ngomong dijaga, ntar si Dirga makin kesel sama gue gara-gara calon istrinya ngegombal kayak gini.”

“Kok Sasa jadi calon istri kak Dirga sih? Kak Dirga itu kakaknya Sasa, bukan calon suami.” Jawab Sasa.

“Ini gimana sih, Ra? kok gue jadi bingung.” Ucap Tama.

“Elah bang Cogan gitu aja bingung. Sini biar Sasa jelasin deh. Sasa ini adiknya Kak Dirga, tetangga depan sana.” Sasa menunjuk rumahnya bertepatan dengan Dirga yang masuk ke halaman rumah Kara.

“Kak Dirga kok pake baju pramuka? Kakak mau pramukaan apa gimana?” lanjutnya saat melihat Dirga masuk ke halaman rumah Kara.

“Kenapa wajahnya kusut gitu? Kakak sakit?” Sasa beranjak berdiri dan meletakan punggung tangannya di kening Dirga.

Kara melihat sekilas ke arah Dirga yang masih mengenakan seragam hari kemarin, acak-acakan dengan wajah lusuh tapi tetap terlihat tampan.

“Kalo itu bocah adiknya Dirga berati calon istri Dirga itu?” Tama menunjuk Sasa kemudian berganti pada Kara.

“Iya, Kara calon istri gue. Ngapain lo jam segini udah di rumah calon istri gue?” ucap Dirga penuh penekanan. "balik sana!" lanjutnya.

“Beneran Ra , lo calon istri Dirga?” tanya Tama yang masih sedikit bingung.

“Yee Bang Cogan ini nggak bisa banget dibilangin. Iya lah Kaleng ini, Eh kak Lengkara maksud Sasa. Dia ini calon istrinya kak Dirga, Sasa ini calon adik iparnya Kaleng.” Sasa kembali berjongkok di dekat meja dan mengambil minuman milik Kara kemudian meneguknya sedikit. Kursi teras Kara memang hanya memiliki dua kursi dan satu meja di tengah-tengahnya, kini calon adik ipar Kara itu malah duduk lesehan dengan santai. “Mereka itu udah di jodohin dari kecil loh. Udah sering mandi bareng juga, bang.” Lanjutnya pada Tama yang hanya menahan senyum mendengar ocehan Sasa.

“Bibir lo, Sa. Kalo ngomong asal jeplak aja.” Ucap Dirga.

“Iya emang bener kan, kak? Dulu waktu masih bocil Kakak sering mandi bareng Kaleng. Dimandiinya di halaman sana, pake selang yang buat nyiram bunga.” Sasa menunjuk kran air di pojokan.

“Udah diem dulu deh lo, Sa. Gantian kakak yang ngomong. Ngoceh terus lo tuh.” Ucap Dirga yang berdiri di depan Kara, calon istrinya itu terlihat biasa saja.

“Lo kan sekarang udah tau kalo gue calon suami Kara. Jadi gue tegesin lo nggak usah deket-deket sama calon istri gue.” Ucapnya pada Tama.

“Sejak kapan lo ngakuin gue calon istri, Ga? Perjodohan kita udah batal, Ga. Perlu gue ingetin kalo sekarang kita ini mantan.” Ucap Kara. “Eh bukan mantan. Apanya yah sebutannya karena kita kan emang nggak pernah jadian.” lanjutnya.

“Heh? Kaleng sama Kak Dirga kenapa lagi? Cuma sehari semalem Sasa nggak di rumah kalian udah ribut lagi aja.” Sela Sasa.

“Ra, gue nggak mau perjodohan kita di batalin. Gue nggak setuju!” balas Dirga yang tak menghiraukan apa yang diucapkan adiknya. Sasa dan Tama akhirnya hanya menonton perdebatan calon suami istri yang batal jodoh itu.

“Terserah lo mau setuju atau nggak, yang jelas perjodohan kita udah batal. Mami sama Mommy juga udah setuju, papi sama daddy Ardi juga nggak masalah. Gue udah cape lah dianggap adek mulu, udah cukup gue ngejar lo bertahun-tahun Ga. Sekarang gue udah nyerah, mending cari cowok lain. Kata mami juga kalo perlu tujuh, biar gantian sehari satu.” Jawab Kara enteng.

“Apa? tujuh? Gila ini bocah.” Batin Dirga.

“Lo jangan macem-macem yah, Ra. Gue tau kemaren gue salah karena pergi sama Deva tapi itu juga cuma tugas dari bu Dini. Lo nggak mikir apa kalo selama ini lo juga salah? Lo jalan sama dia padahal gue nggak ngasih ijin. Berapa kali gue harus maklumin sikap lo yang kekanak-kanakan itu? sekali gue jalan aja lo langsung mutusin perjodohan. Ini nggak fair, Ra!” Finaly Dirga kembali tak bisa mengontrol emosinya.

Tama mendengarkan percekcokan diantara semuanya, kini ia mulai paham hubungan 4 orang di depannya. Rupaya ia sudah salah kaprah selama ini. Yang dikira adiknya ternyata malah calon istri dan sebaliknya.

“Ini semua tuh gara-gara lo!” Dirga menunjuk Tama dengan jari telunjuknya. “Kalo nggak ada lo, semua nggak bakal jadi kayak gini.”

“Ngapain lo masih di sini? Padahal udah tau Kara calon istri gue!” sentak Dirga.

“Mantan!” sela Kara. “dan lo nggak berhak ngusir tamu gue.”

“Ra!” sentak Dirga yang sudah tersulut emosi. Segala sesuatu tentang gadis itu jika tak sesuai dengan keinginannya memang selau membuat Dirga merasa kesal. Ditambah dengan kurang tidur dan perut yang masih kosong membuatnya lebih mudah tersulut emosi.

“Tuh dengerin! dia bilang mantan. Jadi mulai sekarang nggak ada alasan gue buat jauhin Kara. Apalagi pake minta ijin segala sama lo. Dasar abang-abangan!” Ejek Tama.

“Gimana kalo abis ini kita keliling Bandung, Ra? kemaren kan nggak jadi.” Lanjutnya pada Kara.

“Nggak boleh!” tegas Dirga.

“Iya boleh, Tam.” Jawab Kara.

“Lengkara!” Dirga kembali meninggikan suaranya.

“Kenapa pada ribut-ribut?” ucap Rama yang baru saja keluar, sejak tadi ia dan Jesi memang duduk di ruang tamu mendengarkan obrolan mereka. Cemas jika Kara kembali nangis kejer gara-gara ketemu Dirga lagi. “pada bubar sana! kalo mau ribut jangan disini!” sentak Rama. Lama-lama kerasa juga pusingnya punya anak gadis.

“Pi, aku cuma...”

“Pulang kamu, Dirga. Mandi sana dari kemarin itu baju belum ganti juga.” Sela Rama sebelum Dirga menyelesaikan kalimatnya.

“Iya pulang gih.” Sambung Tama, “pantesan dari tadi bau banget. Ternyata ada yang belum mandi dari kemarin.” Ejeknya.

“Kamu juga pulang!” Rama melirik sekilas pada Tama.

“Tapi Om, aku kan ...”

“Nggak ada tapi-tapian. Kalian semua bubar!” tegas Rama sambil bertolak pinggang.

Tama dan Dirga langsung menjauh menjauh dari teras, keduanya masih sempat sikut-sikutan sebelum Tama membuka pintu mobilnya.

“Balik lo! nggak usah datang ke rumah mertua gue lagi. Syukurin lo di usir!” ucap Dirga.

“Sesama di usir nggak usah so deh. Ngaku-ngaku mertua, inget udah mantan Ga!”

“Lengkara Ayudhia itu udah jadi takdir gue dari sebelum lahir. Lo nggak tau aja maminya udah ngidam buat jadiin gue mantu dari semenjak hamil Kara.”

“Ya itu kan karena mami nya Kara kagak tau kalo kelakuan lo pas udah lahir malah cuma bisa bikin anaknya nangis. Makanya dipecat kan lo jadi calon mantu.” Ejek Tama.

“Gue nggak bakal bikin Kara nangis kalo bukan gara-gara lo! Semua tuh gara-gara lo!”

“Nggak usah ngegas. Yang udah janur kuning melekung aja bisa kena tikung, apalagi lo yang baru calon mantu. Mana belum jadi mantu udah di pecat lagi.” Ejek Tama.

“Masih aja ribut kalian berdua! Bubar!” teriak Rama dari teras membuat Tama langsung masuk ke dalam mobil sementara Dirga berjalan ke luar.

"An jir bapak nya galak banget!" batin Tama.

.

.

.

Double up nih

Mana like komen sama vote nya buat Tamarin

1
Shee_👚
cie cie racun micin dah mulai masuk ini, bentar lagi menyerap ke urat-urat syaraf 🤣🤣🤣
Shee_👚
.bener ya sa, janji yang tertunda karena besok dengan senang hati bakalan nyariin micin biar masakan tam tam lebih gurih 🤣🤣🤣
Shee_👚
pahala ya sa🤣🤣
Rita
emang😂
Rita
awas hbs mkn tenaga lbh2 😂
Rita
😂😂😂😂😂😜
Rita
abang ktmu gede Kara k2😜😂😂😂
Dwisya Aurizra
si micin tuh biang rusuh, nyebelin tp ngangenin awas loh tam sebentar LG Lo bakal kecintaan sama si micin
Ummah Intan
boong banget si micin
Ummah Intan
cie cie ..jutek jutek perhatian
Ummah Intan
Dirga emang bucin brutal ma kara
Septi
cieee.. manis katanya 🤭
Septi
kalau inget Dirga inget di ledekin papa Rama, soal minum susu tiap hari. beda konsep yang diomongin papa mertua sama yang dialamin Dirga 😂😂🤭
Septi
siapa lagi yang nyuekin Sasa kalau bukan Tamarin🤣🤣
Septi
orang kayak Sasa nggak bakalan punya keruwetan hidup🤭
Septi
kok kita samaan Sa, cita-citanya 🤣🤣
👑yosha💣
semangat mengejar cinta y micin ......
aku jadi penasaran kayak apa ya Tama bucin sama Sasa🤔🤣🤣🤣
Defvi Vlog
bagus. ceritanya aku suka🥰👍
MACA
abang2 yg di tipu bocil🤭🤭
MACA
drama ini...turunan kaleng
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!