NovelToon NovelToon
Silk&Steel: Cinta Dalam Kontrak Berbahaya

Silk&Steel: Cinta Dalam Kontrak Berbahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / CEO / Romantis / Mafia / Romansa / Nikah Kontrak
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Cerrys_Aram

Elara Vance mengira hidupnya di London akan tenang setelah lulus kuliah seni. Namun, satu kesepakatan rahasia ayahnya menyeret Elara ke dunia Julian Moretti—pengusaha muda dengan pengaruh luar biasa yang gerak-geriknya selalu dipenuhi misteri. Demi melindungi keluarganya, Elara setuju untuk masuk ke dalam sebuah pernikahan kontrak.

​Julian itu dingin dan penuh kendali, namun ia memiliki satu aturan: tidak boleh ada yang menyentuh Elara selain dirinya. Di balik kemewahan mansion Moretti, Elara harus mencari tahu siapa pria itu sebenarnya, sambil menyembunyikan cincin rahasia di jarinya yang menjadi tanda bahwa ia adalah milik sang penguasa bayangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: PELARIAN DALAM HUJAN

Dingin mulai menusuk hingga ke tulang, namun Julian tetap bergeming. Ia merapatkan selimut pemberian Elara—satu-satunya benda yang menghangatkan jiwanya saat ini. Ia mendengarkan keheningan dari dalam apartemen. Tidak ada suara langkah kaki. Elara pasti sudah tidur.

Baguslah, pikir Julian. Setidaknya dia bisa istirahat.

Julian menyandarkan kepalanya ke dinding, matanya terpejam sejenak. Ia tidak tidur; ia hanya mengistirahatkan sarafnya yang tegang. Ia tidak menyadari bahwa di dalam sana, Elara sedang berdiri di depan jendela kamar yang terbuka lebar.

Hujan angin menerobos masuk, membasahi lantai kayu, namun Elara tidak peduli. Ia menatap ke bawah, ke arah gang sempit di samping gedung. Sebuah mobil hitam dengan lampu redup sudah menunggu di sana.

“Dia membohongimu, Elara,” suara Kael terngiang kembali di kepalanya, tumpang tindih dengan pesan singkat di ponselnya. “Dia menjagamu bukan agar kau aman, tapi agar kau tetap dalam genggamannya.”

Elara melirik ke arah pintu depan. Ia membayangkan Julian yang duduk di sana, pria yang membalut lukanya sendiri dan menolak pergi. Sejenak, hatinya mencubit.

Ada rasa sesak yang hampir membuatnya mengurungkan niat. Namun, kilasan video interogasi yang dikirim Kael kembali muncul, membakar rasa percayanya menjadi abu.

"Aku harus tahu kebenarannya," bisik Elara.

Dengan gerakan yang lincah—sisa dari insting pelarian yang diajarkan Julian dulu—Elara memanjat keluar jendela, menuruni tangga darurat yang licin dan berkarat. Setiap langkahnya adalah pengkhianatan terhadap pria yang sedang menggigil di balik pintunya.

Satu jam kemudian.

Julian tersentak bangun karena suara petir yang sangat keras. Instingnya langsung waspada. Ia menempelkan telinganya ke pintu.

Terlalu sunyi.

Bahkan detak jam dinding yang biasanya terdengar samar pun kini terasa hilang. Julian berdiri, rasa cemas mulai merayap di tengkuknya. "Nona? Elara?"

Tidak ada jawaban.

Julian tidak lagi peduli pada amarah Elara. Ia mencoba memutar gagang pintu, namun masih terkunci. Dengan satu hantaman bahunya yang sudah memar, ia mendobrak pintu itu hingga terbuka.

Apartemen itu kosong.

Udara dingin menyeruak dari kamar tidur. Julian berlari ke sana dan menemukan jendela yang terbuka lebar. Gorden putih berkibar tertiup angin seperti bendera kekalahan. Di atas tempat tidur, selimut yang ia berikan tadi malam tergeletak rapi, tidak tersentuh.

Namun, yang paling menghancurkan hatinya adalah sebuah benda kecil di atas meja rias.

Sketsa kecil yang tadi siang Elara buat di studio. Elara telah merobek bagian wajah Julian di sketsa itu, menyisakan kekosongan yang kasar. Di bawahnya, tertulis satu kata dengan tinta yang agak luntur terkena air hujan:

PENIPU.

Julian jatuh berlutut di depan jendela yang terbuka. Hujan membasahi wajahnya, menyamarkan air mata yang akhirnya jatuh. Ia telah memberikan segalanya—ingatannya, keselamatannya, bahkan identitasnya—hanya untuk berakhir sebagai monster di mata wanita yang ia selamatkan.

"Kau menuju jebakan, Elara..." bisik Julian parau.

Ia bangkit dengan sisa tenaga yang ada. Ia tidak mengambil senjatanya; ia hanya mengambil ponselnya, mencoba melacak koordinat sistem Silk Elara yang kini telah dienkripsi oleh Kael.

Di dermaga yang gelap, Elara melangkah keluar dari mobil hitam itu. Kael berdiri di sana, memegang payung besar, menyambutnya dengan senyum yang tidak mencapai mata.

"Kau melakukan hal yang benar, Elara," ucap Kael. "Sekarang, mari kita hapus sisa-sisa racun Moretti dari kepalamu selamanya."

Elara menoleh ke belakang, ke arah kota yang gelap, merasa seolah-olah ia baru saja meninggalkan satu-satunya jangkar yang menjaganya tetap manusia. Namun, ia terus melangkah maju, masuk ke dalam hanggar tempat sebuah kursi medis dengan kabel-kabel rumit sudah menunggu.

1
YuWie
wis pasraho wae elara..
YuWie
hmm latar cerita luar negri ya
Cerrys_Aram: Iya, tadinya konsepnya Indo. Tapi setelah dipikir lagi, konflik dan karakternya lebih cocok kalau latarnya luar negeri.
total 1 replies
YuWie
mulai baca
Arifinnur12
Keren sih iniiiii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!