"Mumpung si tuli itu tidur, kamu harus mengambil barang berharganya." Ucap seorang wanita tua dengan dandanan menor yang sedikit menggelikan.
"Benar itu Mas, sebelum kamu beraksi pastikan alat pendengarnya sudah kamu buang." Ucap seorang gadis muda yang tidak kalah menor dari wanita yang ternyata Ibunya.
"Baiklah, kalian jaga pintu depan."
Suara dari dua wanita dan satu pria terdengar lantang untuk ukuran orang yang sedang merencanakan rencana jahat di rumah targetnya. Tapi siapa yang peduli, pikir mereka karena pemilik rumah adalah seorang wanita bodoh yang cacat.
Jika bukan karena harta kekayaannya, tidak mungkin mereka mau merendah menerima wanita tuli sebagai keluarganya.
Candira Anandini nama wanita yang sedang dibicarakan berdiri dengan tubuh bergemetar di balik tembok dapur.
Tidak menyangka jika suami dan keluarganya hanya menginginkan harta kekayaannya.
"Baiklah jika itu mau kalian, aku ikuti alur yang kalian mainkan. Kita lihat siapa pemenangnya."
UPDATE SETIAP HARI!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pikiran Cerdas Arimbi
Sejak dirinya dipecat dari Perusahaan, Arimbi tidak punya kegiatan positif. Setiap hari hanya duduk termenung. Memikirkan nasib masa depannya kelak. Kadang Arimbi rindu kehangatan keluarga. Karena sejak kecil, dia hanya tahu ambisi Ibunya yang tak pernah berhenti menginginkan menjadi kaya. Tapi Arimbi tidak pernah melihat Ibunya punya usaha sejak dulu.
Entah uang darimana yang dipakai untuk makan, yang Arimbi tahu mereka serba kekurangan tapi tidak ada rasa bersalah dari Ibunya. Dan yang paling Arimbi sesali, dia tidak pernah tahu Ayahnya. Ibu Arimbi tidak pernah memperlihatkan foto Ayahnya yang katanya sudah meninggal saat mereka masih kecil. Tapi ada yang Arimbi curigai.
Wajahnya dan kedua saudaranya berbeda. Garis rahang mereka tidak sama. Tapi, Ibu Arimbi tidak pernah mau menjelaskan apa pun pertanyaannya. Dan Arimbi masih tidak puas, hingga dia tahu yang sebenarnya.
Di dalam kamarnya, malam ini Arimbi tidak bisa tidur lantaran secara tidak sengaja dia mendengar obrolan Ibu Arumi dengan Agung.
Flashback On
"Bu... Kenapa membiarkan Mas Agung berselingkuh dengan Dara? Bahkan Ibu menyuruh mereka bercinta di kamar tamu, di rumah ini, rumah milik Mbak Dira. Apa Ibu tidak bersikap keterlaluan?" Tanya Arimbi saat dia membantu Ibunya masak untuk makan siang.
"Kamu diam saja, ini semua karena kamu yang go blok. Untuk apa jujur tentang uang itu, sampai kamu ambil semua perhiasan Ibu yang akan menjadi barang simpanan untuk hari tua. Kamu sudah lancang membuka kamar Ibu di saat Ibu tidak di rumah, kamu ambil semua perhiasan dan juga surat mobil. Kenapa kamu lebih membelanya? Kamu takut dengan perempuan tuli itu?"
Cecar Ibu Arumi dengan tatapan tajam yang sudah biasa dia dapatkan sejak kecil sampai sekarang.
"Karena aku takut dipenjara Bu. Kalian menikmati hasil curianku dengan tenang, sedangkan aku harus dihantui rasa bersalah dan ketakutan setiap saat karena Mbak Dira tidak main-main dengan semua ucapannya." Ucap Arimbi untuk membela diri.
"Kamu memang tidak pecus, rugi Ibu melahirkan dan pelihara kamu. Sudahlah pergi sana, daripada Ibu semakin enek lihat wajahmu itu." Ucap Ibu Arumi mengusir Arimbi.
Karena kesal, Arimbi pun masuk ke kamarnya dan mengunci diri. Tidak lama kemudian, pasangan zina itu keluar dengan wajah sumringah tanpa ada sedikit pun beban.
Dara bergelayut manja di lengan Agung, sedangkan Agung merangkul pinggang Dara yang hanya terbungkus lingerie.
"Gimana Dara? Sudah puas sekarang? Ingat jika Agung tidak ada, jangan coba-coba berbuat yang seperti kemarin. Itu sangat memalukan. Kamu harus bisa sedikit sabar, jangan berfantasi liar tanpa Agung." Ucap Ibu Arumi membuka rahasianya.
"Mas... Maaf." Ucap Dara dengan wajah menunduk takut Agung marah setelah mengetahui sedikit sisi liarnya.
"Sudah tidak apa-apa, Ibu sudah cerita dan aku maklum. Karena bagaimana pun hormon kehamilanmu membuat kamu selalu ingin bercinta. Dan mulai sekarang, kita akan sering melakukannya asal kamu mau sabar dan tetap memainkan sandiwara."
"Sekarang istirahatlah dulu di kamarmu. Nanti kalau masakan Ibu matang, kita akan makan siang bersama." Ucap Ibu Arumi dengan lembut. Entah mengapa Mertua Dira itu sangat menyukai Dara dibandingkan Dira. Apa hanya karena menginginkan cucu, atau karena Ibu Arumi teringat dengan masa lalunya saat hamil Arimbi yang bukan anak suaminya.
Setelah Dara pergi, Agung duduk di dekat dapur sambil mengobrol dengan Ibu Arumi dengan leluasa.
"Bu... Terima kasih sudah mengerti. Tanpa Ibu, aku tidak mungkin bisa seperti ini." Ucap Agung.
"Tapi kamu harus hati-hati, Ibu takut Dira tahu semuanya. Kamu tahu sendiri Arimbi sudah berpihak padanya." Ucap Ibu Arumi.
"Iya Arimbi itu... Bu... Kapan ibu jujur tentang Ayah Arimbi. Dia sudah dewasa, suatu saat butuh wali ketika mau nikah." Ucap Agung bertepatan saat Arimbi balik ke dapur ingin makan.
"Ya katakan saja kalau Ayahnya sudah mati, lagian siapa yang mau kembali ke Desa itu. Ibu tidak sudi ke sana."
"Tapi, Ayah Arimbi bukan orang sembarangan pasti punya warisan banyak."
"Warisan kalau anak SAH pernikahan, sedangkan Arimbi hanya anak haram. Sudah jangan bicara itu lagi. Ibu sudah kubur dalam-dalam. Kamu Agung, sampai kapan pun harus tetap menjaga rahasia ini. Jangan sampai kedua adikmu tahu, Ibu tidak mau ribet ngurusi hal yang tidak penting itu."
"Tapi... Ayahku Bu, harusnya aku pun dapat warisan sebagai anaknya. Ayah kerja di luar pulau, masak iya sepeser pun aku tidak dapat apa-apa darinya." Ucap Agung memikirkan harta warisannya.
"Cari saja dia di Kalimantan. Ibu tidak mau berurusan dengannya. Lagian dia sudah berkeluarga lagi. Kalau dia ingat punya anak, sebesar apa pun kesalahan Ibu. Pasti dia tetap mencari keberadaanmu. Nyatanya sudah bertahun-tahun dia lenyap bagaikan tubuhnya ditelan bumi. Kakek dan Nenekmu pun tidak ada yang mencari dimana kamu. Mereka hanya peduli dengan keluarga baru Ayahmu yang Ibu dengar keluarga kaya pemilik kebon sawit."
"Jika aku sudah jadi CEO, maka aku akan pamer pada Ayah dan keluarganya yang sudah menelantarkan aku puluhan tahun lamanya. Dan untuk Arimbi, Ayahnya pun harus mau memberikan warisan padanya. Tak peduli, mau Arimbi bukan nasabnya. Persetan semua aturan itu."
"Sudah... sudah... pergi sana temui Dara dan ajak dia makan. Ingat, Dara sedang berjuang mengandung darah dagingmu yang tidak bisa diberikan Dira meskipun dia kaya. Kamu harus lebih memprioritaskan Dara setelah kekuasaan ada di tanganmu. Tak apa misalkan Dira tidak kamu ceraikan untuk saat ini. Tapi lambat laun setelah semua aset beralih atas nama anakmu, tendang saja Dira."
Flashback Off
"Aku pikir kalimat surga di telapak kaki Ibu adalah benar. Tapi... Jika Ibunya seperti Ibu, apakah masih ada surga darinya. Ibu bahkan tidak pernah mengajari kami jalan yang menuju kebenaran. Aku pernah menjadi seorang pelacur hanya karena ingin lulus kuliah. Otakku yang pas-pasan menbuatku menghalalkan cara demi nilai bagus."
Kemudian Arimbi mengambil ponselnya, mengamati deretan angka di mobile bankingnya. Itu adalah uang belas kasih, karena yang sebenarnya Arimbi sudah dipecat tanpa pesangon oleh Dira. Tapi karena kejujuran membantu rencananya, Dira memberikan uang 50 juta yang katanya untuk modal usaha. Dan Arimbi tidak yakin jika Ibunya mau membuka usaha bersamanya.
"Tinggal dua minggu proses perceraian Dira dan Mas Agung selesai. Sebaiknya aku pergi daripada terseret gelombang masalah yang maha dahsyat. Lebih baik uang itu aku pakai sendiri, daripada nanti diminta Ibu untuk membiayai hidup mereka. Tidak... tidak... aku harus berkemas, malam ini juga aku akan pergi menjauh." Pikiran cerdas Arimbi.
Pada dasarnya, perilaku impulsif dilakukan pada waktu-waktu tertentu, seperti saat sedang menghadapi stres atau situasi genting yang memerlukan respons cepat.
Namun, jika perilaku ini dilakukan secara terus-menerus atau telah menjadi bagian dari kepribadian seseorang, perilaku ini bisa menjadi gejala dari suatu gangguan mental.
Berpikir panjang sebelum berkata atau bertindak adalah kunci untuk menghindari penyesalan di kemudian hari.
Banyak masalah muncul dari kata-kata atau tindakan yang dilakukan tanpa pertimbangan matang.
Sebuah kata yang diucapkan dalam emosi, atau tindakan impulsif, dapat memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk meluangkan waktu sejenak sebelum berbicara atau bertindak, merenungkan apa dampaknya bagi diri sendiri dan orang lain.
Dengan bersikap lebih hati-hati, kita bisa menjaga hubungan, menghindari konflik yang tidak perlu, dan menjadi pribadi yang lebih dewasa.
please thor jodohin elang sama dira🫶
kl g jodoh harus di jodohkan, kan author yang buat cerita😂