DILARANG KERAS PLAGIAT!!!
Murni ide author sendiri!!!
Bagi Aluna, Arlan adalah musibah berjalan. Ketua OSIS yang kaku, sok suci, dan hobi memberinya hukuman hanya karena masalah sepele.
Aluna bersumpah tidak akan pernah mau berurusan dengan cowok itu seumur hidupnya. Namun, takdir punya selera humor yang buruk.
Hanya karena gerendel pintu toilet sekolah yang macet dan sebuah aksi penyelamatan yang salah waktu, Aluna dan Arlan terjebak dalam satu bilik yang sama selama tiga puluh menit. Sialnya, mereka tidak ditemukan oleh teman-temannya, melainkan oleh Bu Lastri guru BK paling kejam seantero sekolah.
Tuduhan melakukan hal tidak pantas langsung meledak. Penjelasan mereka dianggap bualan. Dan yang lebih gila lagi, kedua orang tua mereka yang ternyata sahabat lama memutuskan bahwa satu-satunya cara menutupi skandal ini adalah dengan pernikahan.
follow IG author:qilla_kasychan
semoga kalian suka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kasychan_A.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34- kecoa
Aluna kemudian beralih ke wajah Arlan. Ia mengambil kapas baru, meneteskan antiseptik, lalu kembali mendekatkan wajahnya. Arlan bisa merasakan jemari Aluna yang dingin menyentuh rahangnya dengan lembut, menuntun wajahnya agar menghadap cahaya lampu balkon yang remang-remang.
"Tahan, mungkin ini bakal lebih perih dari yang di tangan," bisik Aluna.
Saat kapas itu menyentuh sudut bibir Arlan yang robek, Arlan refleks memejamkan matanya rapat-rapat. Tubuhnya menegang, namun ia berusaha keras untuk tidak bersuara. Aluna kembali meniup sudut bibirnya dengan pelan, sangat telaten, seolah ia sedang menangani barang pecah belah yang sangat berharga.
Arlan membuka matanya perlahan dan mendapati Aluna juga sedang menatapnya. Sorot mata gadis itu tidak lagi ketus, melainkan tampak sayu dan menyimpan kelelahan yang sama dengannya. Selama beberapa saat, hening yang menyelimuti mereka terasa sangat berbeda. Bukan hening yang penuh permusuhan, melainkan hening yang mengakui keberadaan satu sama lain di rumah ini.
"Udah," ucap Aluna tiba-tiba sambil menjauhkan tubuhnya dengan canggung. Ia buru-buru merapikan sisa kapas dan menutup kotak P3K-nya.
Aluna segera bangkit, menghindari kontak mata yang terlalu lama dengan Arlan. Ia sibuk menata botol antiseptik dan sisa kapas ke dalam kotak, meskipun tangannya sedikit gemetar karena rasa canggung yang mendadak menyerang.Tanpa sepatah kata pun, Aluna langsung melangkah cepat masuk ke dalam rumah, meninggalkan Arlan yang masih mematung di balkon.
Arlan hanya diam. Ia menatap punggung Aluna yang menghilang di balik pintu kaca, lalu menyentuh plester di sudut bibirnya. Ada keheningan yang aneh menyelimuti hatinya, tapi ego dan gengsinya menahan lidahnya untuk tidak memanggil gadis itu. Ia hanya bisa mengembuskan napas panjang, menatap langit malam sebentar sebelum akhirnya bangkit untuk kembali ke kamarnya sendiri.
Di sisi lain, Aluna menutup pintu kamarnya dengan jantung yang masih berdebar tidak keruan. Ia meletakkan kotak P3K di atas meja belajar, lalu merebahkan tubuhnya di kasur. "Gila ya, kenapa gue jadi deg-degan sendiri sih?" gumamnya sambil menatap langit-langit kamar.
Baru saja Aluna hendak memejamkan mata dan menarik selimut untuk mengakhiri malam yang melelahkan ini...
Srrrttttt... pukk!
Suara kepakan sayap yang kasar mendarat di atas bantalnya. Aluna tersentak, ia menyalakan lampu tidur dan seketika matanya membelalak horor. Seekor kecoa berukuran besar sedang asyik hinggap di ujung bantalnya, antenanya bergoyang seolah sedang mengejeknya.
"Astaga... jangan terbang, jangan terbang..." bisik Aluna dengan suara bergetar. Ia mencoba bangkit pelan-pelan, bermaksud mengambil sandal untuk senjata.
Namun, kecoa itu seolah tahu rencana Aluna. Tanpa peringatan, serangga itu lepas landas dan terbang berputar-putar di atas kepala Aluna.
"AAAAAA!! KAKKK ARRLAAANNN!!"
Teriakan Aluna pecah begitu saja. Masa bodoh dengan harga dirinya yang tadi sempat sok ketus, sekarang yang ada dipikirannya hanyalah makhluk cokelat mengkilap yang sedang melakukan manuver udara di atas kepalanya.
Arlan yang baru saja melangkah masuk ke dalam kamar tersentak hebat. Suara teriakan Aluna benar-benar merobek kesunyian malam. Tanpa pikir panjang, ia langsung berlari ke arah ranjang tempat Aluna berada.
"Apaan Al!berisik tau ga!" seru Arlan dengan nada waspada, matanya tajam menyapu seisi kamar, mencari ancaman serius yang mungkin masuk.
"I-itu! Di bantal gue! Terus terbang, Kak! Usir nggak?!" Aluna menunjuk ke arah udara dengan jari gemetar. Tubuhnya sudah meringkuk di pojok kasur, membungkus diri dengan selimut tebal sampai hanya matanya saja yang terlihat.
Arlan mendongak, matanya mengikuti arah telunjuk Aluna yang gemetar. Begitu melihat seekor kecoa sedang hinggap santai di atas lemari, Arlan langsung mengembuskan napas panjang. Ekspresi waspadanya seketika berubah jadi tatapan malas yang sangat datar.
"Gue kira ada apa," gumam Arlan dingin. Ia berdiri diam, menatap Aluna yang masih meringkuk di balik selimut dengan tatapan meremehkan. "Cuma kecoa, Al. Nggak usah lebay."
"Lebay lo bilang, geli tau ga. Cepetan usir! "
Arlan masih bergeming di tempatnya, menatap Aluna dengan raut wajah yang sama sekali tidak bersahabat. "Usir sendiri"
"Kak Arlan! Gue serius! Usir nggak?! Kalau dia terbang ke arah gue gimana?!" pekik Aluna lagi, suaranya naik satu dan gemetaran karena si kecoa mulai menggerakkan sayapnya lagi.
Arlan mendengus kasar. Meskipun wajahnya tetap kaku seperti kulkas dua pintu, ia sebenarnya tidak tega melihat Aluna yang sudah gemetar hebat di pojok kasur. Dengan langkah malas, ia menyambar sebuah buku tulis tebal dari atas meja belajar.
"Awas lo, minggir," perintah Arlan pendek.
Ia menunggu momen yang tepat. Begitu si kecoa mengepakkan sayap dan terbang rendah menuju arah jendela, dengan gerakan refleks yang sangat cepat sisa-sisa adrenalin dari perkelahian tadi Arlan mengayunkan buku itu.
Puk!
Makhluk itu jatuh terkapar di lantai. Arlan tidak menunjukkan ekspresi jijik sedikit pun. Ia mengambil selembar tisu, memungut bangkai serangga itu dengan santai, lalu membuangnya ke tempat sampah di sudut kamar.
"Udah mati. Puas?" tanya Arlan pendek sambil membuang tisu itu ke tempat sampah. Ia berdiri tegak, merapikan kaosnya yang sedikit berantakan, lalu kembali menatap Aluna dengan tatapan dinginnya yang khas.
Aluna perlahan menurunkan selimutnya, memastikan musuh cokelatnya benar-benar sudah lenyap dari pandangan. Ia mengembuskan napas lega yang sangat panjang, membiarkan jantungnya kembali ke detak normal. Namun, begitu ia mendongak dan melihat Arlan yang masih berdiri di depan ranjangnya, rasa malu mendadak menyengat wajahnya.
KLIK!
Suasana kamar seketika berubah menjadi gelap gulita. Tidak ada cahaya sama sekali, seolah-olah seseorang baru saja mematikan saklar utama listrik dengan sengaja. Keheningan yang mencekam mendadak menyelimuti ruangan itu.
"K-kak Ar-Arlan?" suara Aluna terdengar mencicit di tengah kegelapan.
Pikirannya yang tadi penuh dengan kecoa, kini beralih pada ketakutannya terhadap gelap. Kegelapan ini terasa tidak wajar. Jantung Aluna yang baru saja mau tenang, kini berpacu jauh lebih kencang. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Sreeek...
Suara gesekan halus dari arah pintu membuat Aluna kehilangan akal sehatnya. Dalam keadaan buta karena gelap, ia refleks berlari ke arah di mana terakhir kali ia melihat Arlan berdiri.
Bruk!
Aluna menabrak dada bidang Arlan dengan keras. Ia langsung melingkarkan kedua tangannya di pinggang cowok itu, memeluknya dengan sangat erat seolah Arlan adalah satu-satunya pegangan hidupnya. Tubuhnya gemetar hebat, jauh lebih parah daripada saat melihat kecoa tadi.
Arlan tersentak. Tubuhnya yang kaku seperti kulkas dua pintu itu membeku seketika. Ia bisa merasakan napas Aluna yang memburu di dadanya dan tangan gadis itu yang mencengkeram kaosnya hingga kusut.
"Jangan dilepas kak.. Aluna takut... gelap banget" bisik Aluna dengan suara bergetar ketakutan.
Arlan terdiam di tengah kegelapan. Tangannya yang bebas menggantung di udara, ragu-ragu untuk membalas pelukan itu. Meskipun wajahnya tetap datar, detak jantungnya sendiri mulai tidak karuan. Ia merasa ada seseorang yang sedang mempermainkan mereka, tapi di satu sisi, posisi ini membuatnya mendadak kehilangan kata-kata ketusnya.
"Diem, Al. Gue di sini," ucap Arlan sangat rendah, hampir seperti bisikan yang berusaha menenangkan, meski suaranya tetap terdengar kaku.