NovelToon NovelToon
Bernafas Tanpamu

Bernafas Tanpamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:515
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

Udara terasa berbeda hari itu lebih berat, lebih sunyi. Ia mengucapkan sebuah kalimat yang telah lama ia simpan, berharap waktu masih cukup untuk mendengarnya kembali.

Tak ada balasan.

Hanya diam yang terlalu lama untuk diabaikan.

Detik demi detik berlalu tanpa perubahan, seakan sesuatu telah bergeser tanpa bisa dikembalikan. Kata cinta itu menggantung, tidak jatuh, tidak pula sampai, meninggalkan pertanyaan yang tak terjawab.
Apakah kejujuran memang selalu datang terlambat?

Atau ada perasaan yang memang ditakdirkan untuk tak pernah didengar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Slip of Pride

Malam di White Rose Mansion biasanya tenang, namun bagi Liora, setiap sudut rumah ini adalah medan perang dingin. Leo benar-benar menepati janjinya. Pria itu terus mengawasinya seperti elang, memberikan tatapan menghina setiap kali mereka berpapasan di koridor, dan sengaja meninggalkan komentar pedas tentang "aroma bus kota" yang menurutnya tertinggal di sofa sutra ibunya.

​Liora yang biasanya sabar mulai mencapai batasnya. Ia lelah menjadi samsak tinju verbal bagi pria yang merasa dirinya Tuhan itu.

​Pagi itu, Liora mengetahui bahwa Eleanor pergi ke acara amal hingga sore. Ini berarti mansion hanya dihuni olehnya, para pelayan yang sibuk di dapur belakang, dan si monster sombong, Leo Alexander Caelum.

​Liora baru saja selesai membersihkan vas bunga di area koridor lantai dua yang lantainya terbuat dari marmer Italia paling licin dan mahal. Saat itulah ide nakal melintas di kepalanya. Ia melihat botol sabun cair pembersih lantai yang ditinggalkan pelayan di dekat sana.

​"Kau ingin aku merasa rendah, Tuan Leo? Mari kita lihat siapa yang akan berada di bawah hari ini," bisik Liora pelan.

​Dengan gerakan cepat, ia menumpahkan sedikit sabun cair transparan tepat di depan belokan menuju tangga jalur yang selalu dilewati Leo dengan langkah angkuhnya setiap pagi. Setelah itu, Liora bersembunyi di balik pilar besar, memegang kemoceng seolah-olah sedang sibuk bekerja.

​Tak lama kemudian, suara langkah sepatu pantofel yang tegas terdengar. Leo muncul dengan setelan jas hitam sempurna, sibuk menatap layar ponselnya, mungkin sedang memaki bawahannya melalui email. Ia berjalan dengan dagu terangkat, penuh otoritas.

​Sret BRAK!

​Dalam satu detik yang dramatis, kaki kanan Leo tergelincir hebat. Ponsel mahalnya melayang ke udara, dan tubuh tegap sang CEO Caelum Empire mendarat dengan suara dentuman keras di atas lantai marmer. Posisi jatuhnya sangat tidak elit kaki terbuka lebar dan tangan menggapai-gapai udara.

​Liora keluar dari balik pilar, menatap pemandangan itu dengan wajah sedatar mungkin, meski di dalam hatinya ia ingin tertawa hingga sesak napas.

​"Aduhh..." umpatan rendah keluar dari bibir Leo. Ia mencoba bangkit, namun lantai yang licin karena sabun membuatnya kembali tergelincir. "Sialan! Lantai macam apa ini?!"

​Leo mendongak dan melihat Liora berdiri hanya dua meter darinya. Matanya menyala penuh amarah dan rasa malu yang luar biasa. "Kau! Jangan diam saja! Bantu aku berdiri!"

​Liora melipat tangan di dada, tidak bergerak seinci pun. "Maaf, Tuan Leo. Bukankah Anda bilang saya adalah parasit? Saya takut jika saya menyentuh tangan Anda yang berharga itu, kemiskinan saya akan menular."

​"Liora! Ini tidak lucu!" Leo mengerang, mencoba bertumpu pada lututnya, namun ia kembali merosot ke samping dengan posisi yang lebih memalukan. "Cepat bantu aku! Ini perintah!"

​"Perintah?" Liora mengangkat alisnya, memperlihatkan lesung pipinya yang kini nampak penuh kemenangan. "Saya hanya asisten Nyonya Eleanor, bukan asisten Anda. Dan seingat saya, Anda bilang saya harus tahu tempat. Tempat saya adalah di sini, berdiri tegak. Dan tempat Anda... sepertinya saat ini memang sedang di bawah."

​Leo menggeram, wajahnya memerah padam. Ia ingin sekali mengumpat lebih kasar, namun rasa sakit di pinggangnya dan rasa gengsinya yang setinggi langit sedang bertarung hebat. Ia mencoba bangkit sekali lagi dengan gaya angkuh yang dipaksakan, namun tangannya terpeleset cairan sabun lagi.

​"Brengsek... Liora, aku serius. Berikan tanganmu!" suara Leo mulai pecah antara perintah dan permohonan yang tertahan.

​"Kenapa? Tuan Besar yang terhormat tidak bisa bangun sendiri dari 'selokan' lantai ini?" Liora melangkah satu langkah lebih dekat, hanya untuk melihat penderitaan Leo lebih jelas. "Rasanya tidak enak ya, Tuan, berada di bawah dan tidak ada yang mau menolong?"

​Leo terdiam. Kalimat Liora menusuk telinganya. Ia menatap gadis itu dari lantai, menyadari betapa kuatnya Liora saat ini meskipun ia tidak memiliki kekuasaan apa pun. Untuk pertama kalinya, Leo merasa sangat kecil di hadapan gadis yang selalu ia hina.

​"Tolong..." gumam Leo sangat pelan, nyaris tak terdengar. Gengsinya terluka parah, tapi rasa sakit di tubuhnya lebih nyata.

​Liora tertegun sejenak mendengar kata langka itu. Namun, ia tidak segera menolong. Ia mengambil ponsel Leo yang terjatuh tak jauh darinya, meletakkannya di atas meja kecil, lalu berbalik pergi.

​"Bersihkan sendiri egomu yang tumpah itu, Tuan Leo. Saya ada pekerjaan di toko buku," ucap Liora tanpa menoleh.

​Leo ditinggalkan sendirian di lantai koridor yang licin, berjuang merayap menuju pegangan tangga dengan sisa-sisa harga diri yang hancur berkeping-keping. Pagi itu, Leo belajar satu hal: lantai marmer yang mewah bisa terasa lebih dingin dan kejam daripada jalanan, terutama saat kau telah membuang satu-satunya orang yang mungkin akan dengan tulus mengulurkan tangan padamu.

​"Bagi Leo, jatuh di lantai marmer adalah luka fisik, namun melihat Liora menolak menolongnya adalah luka abadi bagi kesombongannya."

​"Liora membuktikan bahwa orang yang paling tinggi sekalipun bisa terlihat sangat rendah saat mereka kehilangan kemanusiaannya."

​"Di atas lantai yang licin itu, kekuasaan Leo tidak ada gunanya; ia hanya seorang pria kesepian yang tidak punya tangan untuk digapai."

1
brawijaya Viloid
Thorr update setiap harii bintang 6 untuk author 🥰🥰
Ra H Fadillah: "Wow, terima kasih atas rating bintang 5 nya 💞! 🙏 Rasanya senang banget ceritanya bisa menyentuh hati kamu. Kalau penasaran dengan kisah lain yang penuh emosi dan drama, aku baru saja merilis ‘Breathing Without You’. Siap-siap terbawa perasaan, ya!"
total 1 replies
Anonymous
mo nangiss bgt wajib baca sihh 😢
Anonymous
jgn ngagantung dong authro plis 😭
Anonymous
awas menyesal leo 🥺
Anonymous
seru bgt mo nangisss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!