Cerita ini adalah tentang Regenerasi Hidayah. Dari Zain yang Bertaubat Karna pergaulan yang Salah saat masa remaja, Dan dikaruniai Anak yang bernama Zavier yang Pintar dan Tegas, Hingga Putri Kemnarnya Zavier Bernama Ziana dan Ayana yang menyempurnakan warisan tersebut. Dan Ditutup Dengan Kisah Anak Ayana, Gus Abidzar.
Ini adalah bukti bahwa meski darah berandalan mengalir dalam tubuh, cahaya agama mampu mengubahnya menjadi kekuatan untuk melindungi dan mengayomi sesama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gus Zayn
Berita tentang Abigail yang "tumbang" dan tidak bisa keluar kamar hingga siang hari menyebar secepat kilat di area pesantren. Di kantor ustadz, para pria hanya berdehem sambil tersenyum penuh arti, sementara di dapur asrama, para ustadzah berbisik-bisik heboh.
"Duh, Gus Zayn itu kelihatannya saja kalem dan dingin, ternyata gairahnya luar biasa ya," bisik salah seorang pengurus. "Sampai Abigail yang aslinya aktif begitu saja dibuat lemas tidak berdaya."
Najwa yang mendengar selentingan itu hanya bisa menunduk dengan wajah merah padam, sementara Ustadzah Aisyah hanya bisa menghela napas, menyadari bahwa adiknya benar-benar telah melampiaskan seluruh rindu dan cintanya yang terpendam selama enam bulan terakhir.
Di dalam kamar, suasana jauh lebih tenang. Abigail sudah sedikit bertenaga setelah minum madu dan dipijat oleh Zayn. Ia bersandar di dada bidang suaminya, sementara tangan Zayn mengusap rambutnya dengan posesif.
Rasa penasaran Abigail yang selama ini ia pendam akhirnya meledak. Ia mendongak, menatap mata Zayn dengan tatapan menyelidik.
"Zayn... can I ask you something crazy?" tanya Abigail pelan.
Zayn menaikkan satu alisnya. "Anything, Wifey."
"Jujur ya... waktu kamu masih urakan dulu, waktu masih pakai tindik dan balapan motor... apa kamu pernah berpacaran?" Abigail menjeda sebentar, lalu berbisik, "Apa kamu pernah... berciuman dengan gadis lain sebelum aku?"
Zayn terdiam sejenak. Ia meletakkan jemarinya di dagu, seolah sedang memutar kembali memori masa lalunya yang liar di kota besar sebelum ia memutuskan untuk menetap di pesantren.
"Abigail," suara Zayn merendah, "dulu saya memang nakal. Saya pernah minum, saya pernah berkelahi, dan saya dikelilingi banyak wanita di klub malam."
Jantung Abigail berdegup kencang. Ia merasa sedikit cemburu.
"Tapi," lanjut Zayn sambil menatap tepat ke mata Abigail, "demi Allah, saya tidak pernah memberikan bibir saya, apalagi tubuh saya, untuk wanita mana pun. Kenapa? Karena sedalam apa pun saya jatuh dalam lubang hitam, saya selalu ingat satu hal, saya ingin menyisakan sesuatu yang suci untuk istri saya kelak."
Abigail tertegun. "Lalu... kalau kamu belum pernah melakukannya, kenapa kamu bisa terlihat... so professional semalam? Kenapa kamu seolah tahu banget apa yang harus dilakukan sampai aku dibuat nggak berdaya?"
Zayn terkekeh pelan, tawa rendah yang terdengar sangat menggoda. Ia mendekatkan wajahnya, hidung mereka bersentuhan.
"Sweetheart, saya ini seorang Gus. Saya mempelajari ratusan kitab, termasuk kitab Qurratul Uyun dan Uqudul Lujain. Di sana dijelaskan secara detail tentang seni membahagiakan istri dari sudut pandang agama dan biologis. Saya bukan belajar dari film atau pengalaman buruk, saya belajar dari ilmu yang berkah."
Zayn mengecup ujung hidung Abigail. "Lagipula, naluri seorang pria akan muncul dengan sendirinya saat dia bersama wanita yang sangat ia cintai. Kamu itu candu buat saya, Abby. Jadi jangan heran kalau saya jadi sangat dominan."
Abigail tersipu malu, menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Zayn. "Jadi kamu belajar dari kitab? Aku kira kamu diam-diam playboy dulu."
"Kalau saya playboy, mungkin kamu nggak akan bisa bangun sampai minggu depan," canda Zayn sambil mengeratkan pelukannya.
Mendengar tantangan Zayn bahwa Abigail mungkin tidak akan bisa bangun sampai minggu depan jika ia benar-benar seorang playboy, adrenalin "New York" di dalam diri Abigail justru mendidih. Ia tidak merasa takut, sebaliknya, rasa penasaran dan gairahnya sebagai wanita modern yang kini menjadi istri seorang Gus justru semakin menjadi-jadi.
Abigail memutar tubuhnya, kini ia berada di atas dada Zayn, menatap suaminya dengan tatapan menantang yang berani. Ia merapikan kerah kaus Zayn, lalu berbisik dengan nada yang sangat serius namun menggoda.
"Oh ya? Jadi ini semua karena kitab-kitab itu?" Abigail menjeda, jemarinya menelusuri rahang tegas Zayn. "Zayn, aku mau tanya satu hal lagi. Di dalam kitab-kitab suci atau hukum yang kamu pelajari... apa hukumnya jika seorang suami memuaskan istrinya tidak hanya dengan... itu... tapi juga dengan mulut dan jari-jarinya? Seperti yang kamu lakukan semalam sampai aku hampir gila?"
Pertanyaan frontal Abigail membuat Zayn sempat tertegun sejenak. Ia tidak menyangka istrinya akan bertanya sevulgar dan seterbuka itu. Namun, Zayn tetaplah Zayn, ia tidak menghindar. Ia justru menarik pinggang Abigail agar semakin merapat, membiarkan Abigail merasakan detak jantungnya yang kembali memburu.
"Dalam Islam," suara Zayn terdengar sangat dalam dan berwibawa, namun penuh sensualitas, "segala sesuatu yang dilakukan suami-istri di atas ranjang adalah ibadah, selama tidak melakukan dua hal, lewat pintu belakang atau saat istri sedang haid. Selain itu? It’s a playground, Abigail."
Zayn mengusap bibir bawah Abigail dengan ibu jarinya. "Memuaskan istri dengan tangan atau mulut adalah bagian dari mula'abah, pemanasan dan seni bercinta. Itu diperbolehkan untuk menyenangkan pasangan. Jadi, kalau kamu merasa puas semalam karena perbuatan tangan dan mulutku... itu artinya aku sedang menjalankan ibadahku dengan sangat baik."
Abigail menggigit bibir bawahnya, merasa takjub sekaligus semakin jatuh cinta. "Jadi... kamu sengaja melakukan itu supaya aku nggak bisa berpaling?"
Zayn tersenyum miring, sisi bad boy-nya kembali muncul di balik matanya yang tajam. "Aku melakukan itu karena aku ingin kamu tahu, bahwa meskipun aku seorang Gus yang paham agama, aku tetaplah pria yang memiliki hasrat liar untuk memilikimu seutuhnya. Aku ingin memastikan setiap inci tubuhmu hanya mengenali sentuhanku."
Zayn kemudian membalik posisi mereka dengan gerakan secepat kilat, kini ia kembali berada di atas Abigail. "Tadi kamu bilang merasa tertantang, kan? Sepertinya stamina New York-mu perlu diuji lagi sebelum kita benar-benar terbang ke sana."
Abigail tertawa kecil di antara napasnya yang mulai berat. "Gus... nanti Umi masuk lagi..."
"Pintu sudah aku kunci ganda, darling," bisik Zayn tepat sebelum membungkam bibir Abigail dengan ciuman yang jauh lebih menuntut dari sebelumnya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
happy Reading😍😍