NovelToon NovelToon
Selir Palsu Dari Abad - 21

Selir Palsu Dari Abad - 21

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah sejarah / Reinkarnasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: inda

Song An, karyawan kantoran abad ke-21 yang meninggal karena lembur tanpa henti, terbangun di tubuh seorang selir bayangan di istana Kekaisaran statusnya setara hiasan, namanya bahkan tak tercatat resmi. Tak punya ambisi kekuasaan, Song An hanya ingin hidup tenang, makan cukup, dan tidak terseret drama istana.

Namun logika modernnya justru membuatnya sering melanggar aturan tanpa sengaja: menolak berlutut lama karena pegal, bicara terlalu santai, bahkan bercanda dengan Kaisar Shen yang terkenal dingin dan sulit didekati. Bukannya dihukum, sang kaisar malah merasa terhibur oleh kejujuran dan sikap polos Song An.

Di tengah kehidupan istana yang biasanya penuh kepura-puraan, Song An menjadi satu-satunya orang yang tidak menginginkan apa pun dari kaisar. Tanpa sadar, sikap santainya perlahan mengubah hati Kaisar Shen dan arah takdir istana dengan cara yang lucu, manis, dan tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 Setelah Lampion Padam

Istana terasa aneh keesokan paginya, bukan karena rusak dan bukan juga karena kacau tapi justru karena terlalu rapi.

Lampion masih tergantung, tapi tidak lagi menyala. Sisa-sisa bunga masih segar, namun aromanya sudah memudar. Pelayan berjalan lebih pelan, seolah takut menginjak sesuatu yang tak terlihat.

Song An berdiri di depan paviliunnya, menatap halaman kosong. “Rasanya seperti setelah hujan,” gumamnya.

Mei yang berdiri di belakang mengangguk. “Tenang, tapi dingin.”

“Dan tanahnya masih basah,” tambah Song An.

Mei tersenyum kecil. “Selir selalu punya cara aneh menjelaskan sesuatu.”

Song An menoleh. “Tapi kau mengerti.”

Mei tertawa pelan. “Iya.”

Selir Li datang lebih pagi dari biasanya.

Wajahnya pucat, tapi matanya jernih.

“Kau tidur?” tanyanya langsung.

“Sebentar,” jawab Song An. “Kau?”

“Hampir tidak.” jawab selir Li

Mereka duduk berdampingan.

Tak lama kemudian Selir Zhang muncul, membawa termos kecil. “Aku bawa teh,” katanya. “Yang pahit.”

Song An menerima cangkir itu. “Cocok.”

Selir Zhang mendesah panjang. “Aku masih tidak percaya semua itu terjadi.”

“Karena kita terbiasa pura-pura tidak melihat,” jawab Song An.

Selir Li menunduk. “Selir Chen… bagaimana keadaannya?”

“Ditahan,” jawab Song An jujur. “Masih hidup.”

Selir Zhang mengangguk pelan. “Syukurlah.”

“Aku tidak membencinya,” kata Selir Li lirih. “Aku hanya sedih.”

“Aku juga,” jawab Song An. “Karena dia memilih jalan itu.”

Istana mulai berbisik, bukan tentang pesta, bukan tentang tamu tapi tentang tiga selir yang semakin sering disebut bersama.

“Ada yang bilang kita terlalu dekat,” kata Selir Zhang sambil menyeruput teh.

“Ada yang bilang kita punya perlindungan khusus,” tambah Selir Li.

Song An mengangkat bahu. “Biarkan.”

“Tidak takut?” tanya Selir Zhang.

“Aku sudah pernah lebih takut dari ini,” jawab Song An ringan.

Siang itu, Kaisar Shen memanggil Song An sendirian. Bukan di aula tapi di paviliun kecil dekat kolam.

“Duduk,” katanya.

Song An duduk tanpa ragu.

“Kau lelah,” kata Kaisar Shen.

“Sedikit,” jawab Song An. “Yang Mulia juga.”

Kaisar Shen tersenyum samar. “Aku jarang mendengar itu diucapkan padaku.”

“Aku jarang menyaring.” ujar Song An

“Dan itu yang membuatmu berbahaya,” kata Kaisar Shen, tapi nadanya tidak dingin.

“Berbahaya karena jujur?” tanya Song An.

“Karena membuat orang berpikir,” jawabnya.

Hening sebentar.

“Kau tahu,” lanjut Kaisar Shen, “setelah malam itu, banyak hal berubah.”

“Seperti apa?” tanya Song An

“Orang-orang menjadi lebih berhati-hati,” jawab Kaisar Shen. “Dan lebih takut.”

Song An mengangguk. “Takut bukan solusi.”

“Tidak,” jawab Kaisar Shen. “Tapi kesadaran adalah awal.”

“Kau menyesal?” tanya Kaisar Shen tiba-tiba.

Song An menoleh. “Tentang apa?”

“Terlibat.” ujar Kaisar Shen

Song An berpikir sejenak. “Aku menyesal istana ini membuat orang harus memilih jalan buruk agar didengar.”

Kaisar Shen terdiam. “Itu bukan jawaban yang biasa,” katanya pelan.

“Aku memang bukan selir biasa,” jawab Song An.

Kaisar Shen tertawa kecil. “Aku tahu.”

Sore hari, Selir Li dan Selir Zhang dipanggil ke paviliun Song An.

“Katanya istana akan berubah,” kata Selir Zhang pelan.

“Perubahan kecil,” jawab Song An. “Tapi ini terlihat nyata.”

“Orang-orang menatap kita berbeda,” lanjut Selir Li. “Bukan menghina. Lebih… waspada.”

“Karena mereka tahu kita tidak mudah ditekan,” kata Song An.

Selir Zhang menatapnya. “Kau tidak pernah ingin memimpin?”

Song An menggeleng. “Aku hanya ingin hidup jujur dan tenang”

Malam kembali turun.

Istana kembali tenang.

Namun ketenangan itu berbeda.

Song An berjalan sendirian di taman.

Ia berhenti di dekat kolam.

Bayangannya terpantul di air.

“Dulu aku tidak berarti,” gumamnya. “Sekarang aku terlalu terlihat.”

Langkah kaki mendekat.

“Kau tidak pernah terlalu terlihat,” suara itu tenang.

Song An menoleh. “Yang Mulia.”

“Kau hanya akhirnya dilihat,” lanjut Kaisar Shen.

Song An tersenyum kecil. “Itu melelahkan.”

“Menjadi diri sendiri memang begitu,” jawab Kaisar Shen.

Mereka berdiri berdampingan.

Tidak ada jarak resmi.

Tidak ada sentuhan.

Namun ada sesuatu yang tumbuh pelan.

“Song An,” kata Kaisar Shen, “jika suatu hari kau ingin pergi…”

Song An menatapnya.

“…aku tidak akan menahanmu.”

Song An terdiam.

“Kenapa?” tanyanya.

“Karena kau tidak pernah menjadi milik istana,” jawab Kaisar Shen. “Kau memilih bertahan.”

Song An tersenyum tipis. “Itu jawaban yang berat.”

“Karena aku mulai peduli,” jawabnya jujur.

Song An menatap air lagi.

“Aku belum ingin pergi,” katanya pelan.

Dan itu cukup.

Di paviliun, Selir Li dan Selir Zhang duduk bersama.

“Menurutmu,” kata Selir Zhang, “Song An akan berubah?”

Selir Li menggeleng. “Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena justru karena dia tidak berubah, semua yang lain bergerak.”

Malam itu, istana tertidur.

Tanpa musik.

Tanpa lampion.

Tanpa topeng.

Dan di tengah keheningan itu, Song An menyadari sesuatu bahwa Ia tidak lagi sekadar selir bayangan. Ia juga bukan tokoh utama tapi ia adalah seseorang yang memilih jujur dan tanpa sadar, membuat dunia kecil di sekitarnya ikut berubah.

...****************...

Malam itu, Kaisar Shen tidak bisa tidur, lampu di kamarnya masih menyala ketika sebagian besar istana sudah terlelap. Gulungan laporan di mejanya belum disentuh sejak sore. Pikirannya tidak tertuju pada urusan negara.

Melainkan pada tiga wajah.

Song An.

Selir Li.

Selir Zhang.

Ia duduk di tepi ranjang, menatap lantai.

“Aneh,” gumamnya pelan.

Ia telah bertahun-tahun hidup di tengah banyak selir, banyak suara, banyak senyum yang dipaksakan. Namun baru sekarang, saat istana mulai sunyi, pikirannya justru dipenuhi oleh kejujuran yang sederhana.

Ia mengingat tatapan Song An yang tenang.

Nada suara Selir Li yang selalu berhati-hati.

Tawa kecil Selir Zhang yang sering menutupi luka.

“Kalian semua tidak memilih,” katanya lirih.

Dan untuk pertama kalinya, Kaisar Shen bertanya pada dirinya sendiri—

Apakah aku pernah memberi mereka pilihan?

Pagi itu, sebelum matahari benar-benar naik, perintah keluar dari dalam istana.

Song An, Selir Li, dan Selir Zhang dipanggil.

Tanpa penjelasan.

Tanpa embel-embel.

Mei membantu Song An merapikan rambutnya.

“Selir… gugup?” tanya Mei ragu.

Song An menggeleng. “Tidak.”

“Benarkah?” tanya Mei

“Aku hanya siap, jadi tenanglah tidak perlu khawatir” jawabnya ringan.

Di aula kecil yang biasanya digunakan untuk pertemuan singkat, Kaisar Shen sudah menunggu.

Tidak ada menteri.

Tidak ada pelayan.

Hanya mereka berempat.

Selir Li dan Selir Zhang melangkah masuk dengan sikap formal, meski wajah mereka jelas menyimpan kebingungan.

Song An masuk terakhir.

Ia memberi hormat singkat.

“Kalian duduk,” kata Kaisar Shen.

Nada suaranya tidak dingin. Tidak juga hangat.

Hanya jujur.

Mereka bertiga duduk.

Hening beberapa saat.

“Semalam,” kata Kaisar Shen akhirnya, “aku tidak tidur.”

Selir Zhang terkejut. Selir Li menunduk.

Song An tetap diam.

Bersambung

1
Cindy
lanjutt kak
Cindy
lanjut kak
Tiara Bella
bagus ceritanya berasa lg nnton dracin....
Cindy
lanjutt kak
Cindy
lanjut kak
Wulan Sari
lanjut
Wulan Sari
biyasa di dalam pasti ada intrik kekuasaan semoga kaisar Shen dan selir 2 bisa mengatasinya semangat 💪 salam
Wulan Sari
setelah baca cerita ini tentang Kekaisaran semakin menarik biyasa intrik kekuasaan semoga nanti selir yang mengungkap menjadi permaisuri dan akhir bisa bahagia Dan happy end semangat 💪 Thor salam sukses selalu ya cip 👍❤️🙂 trimakasih 🙏
Cindy
lanjut kak
@de_@c!h
kaisar Shen belum punya permaisuri Thor?...
Cindy
lanjut kak
Cindy
lanjut
Cindy
lanjut kak
miss blue 💙💙💙
selir nya banyak yg mau bebas, kaisar mulai tau, kenapa gak di kumpulin aja, di berikan pikihan yg mau bebas bisa bebas yg bertahan ya silahkan, tp yg pasti song an pasti bakalan di paksa. menetap walau mau bebas 🤣🤣
Eka Haslinda
sepertinya selir bayangan cocok menjadi calon permaisuri masa depan
Cindy
lanjut kak
Ma Em
Song an berhasil membuka topeng Selir Chen pasti kaisar Shen bertambah kagum sama Song an .
Ma Em
Semoga Song an , selir Li dan selir Zhang bisa mengungkap rahasia apa yg akan dilakukan oleh selir Chen dimalam pesta perayaan istana .
Cindy
lanjut
Cindy
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!