NovelToon NovelToon
Kubuat Kau Kembali Keasalmu, Saat Kau Selingkuhi Aku

Kubuat Kau Kembali Keasalmu, Saat Kau Selingkuhi Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Pelakor jahat / Selingkuh / Cinta Terlarang
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: niadatin tiasmami

Novel ini mengikuti perjalanan Rania menghadapi luka dalam, berjuang antara rasa sakit kehilangan, dendam, dan pertanyaan tentang bagaimana bisa seseorang yang dicintai dan dipercaya melakukan hal seperti itu. Ia harus memilih antara terus merenungkan masa lalu atau menemukan kekuatan untuk bangkit dan membangun hidup baru yang lebih baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 Mulanya Perhitungan

Suara dering telepon di meja kerja Rania terdengar tajam, memecah kesunyian ruangan yang baru saja diisi dengan tangisan dan nasihat dari Ibu Sarinah. Layar ponselnya menunjukkan nama yang sudah tidak asing lagi—Ibu Ratna. Rania menghela napas perlahan, menyeka sisa air mata di pipinya dengan jemari yang kini terasa lebih tegas. Ia menatap wajahnya sendiri di refleksi layar laptop, melihat sosok yang masih merah karena menangis tapi sudah mulai menunjukkan kilauan keputusan yang tak tergoyahkan.

“Tunggu sebentar, Bi,” ucap Rania lembut kepada Bu Sarinah yang masih berdiri di dekatnya. Ia mengambil telepon dengan tangan yang tidak lagi bergetar karena emosi, melainkan karena kesabaran yang ia kumpulkan dengan sengaja. “Halo, Bu?”

Suara Ibu Ratna terdengar ceria dari sisi lain, seolah tidak ada apa-apa yang terjadi, seolah ia tidak baru saja melihatnya memberikan persetujuan kepada perselingkuhan antara Arga dan Maya. “Hai, Rania sayang! Sudah lama tidak menelepon ya? Kamu baik-baik saja kan?”

“Baik saja, Bu. Ada apa ya Bu, telepon saya?” Rania menjawab dengan nada yang tetap sopan, namun tanpa ada rasa hangat yang dulu selalu ia pancarkan. Di dalam hatinya, ia mengingat bagaimana perempuan di ujung sana baru saja mengatakan bahwa Rania terlalu perhitungan dan tidak mengerti Arga. dan yang paling parah Rania mandul. Baiklah, mari kita lihat siapa yang akan merasakan dampak dari perhitungan yang sebenarnya, pikirnya dingin.

“Eh, betul saja kamu tahu kalau Ibu ada permintaan,” ucap Ibu Ratna dengan nada yang sedikit manja. “Kau tahu kan, minggu depan ada arisan. Biasanya setiap bulan kita kumpul dan ada yang harus jadi pemimpin arisan. Nah, bulan ini giliran Ibu lho! Dan mereka semua sudah sepakat kalau tema tahun ini adalah perhiasan emas klasik. Setiap orang harus membawa satu buah perhiasan baru untuk ditunjukkan dan juga untuk menyumbang ke dalam dana arisan.”

Rania menutup matanya sebentar, mencoba menahan amarah yang ingin muncul. Ia tahu betul bahwa arisan yang disebutkan Ibu Ratna bukanlah hal kecil—setiap peserta diharuskan menyumbang minimal lima juta rupiah, belum lagi biaya untuk membeli perhiasan yang mereka maksud. Dan seperti biasa, keluarga Arga tidak pernah punya uang sendiri untuk hal semacam ini, karena semua penghasilan mereka berasal dari usaha kecil yang sebenarnya selalu diimbangi dengan bantuan keuangan dari Rania.

“Selain itu, adikmu yang satu, Adi, baru saja cerita kalau dia mau mentraktir teman-teman kuliahnya karena lulus ujian akhir semester. Dia bilang mau mengadakan acara kecil di rumah makan favorit mereka di kawasan Simpang Lima. Kan kamu juga suka banget sama Adi kan, Rania? Pasti kamu tidak akan tega kalau dia harus mengeluarkan uang sendiri kan?” Lanjut Ibu Ratna tanpa memberi kesempatan Rania untuk berbicara, seolah sudah pasti bahwa permintaannya akan langsung dipenuhi.

Rania melihat ke arah Bu Sarinah yang berdiri diam, wajahnya menunjukkan rasa tidak senang mendengar apa yang dikatakan Ibu Ratna. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu membuka matanya dengan tatapan yang sudah penuh kepastian. “Bu, saya memang sayang sama Adi dan juga selalu mendukung apa yang dia lakukan. Tapi tentang uang untuk arisan dan juga untuk traktiran Adi… saya perlu berpikir dulu ya Bu.”

Ada jeda sebentar di sisi lain telepon sebelum Ibu Ratna menjawab dengan nada yang sedikit lebih tinggi. “Pikir dulu? Rania, kamu kan selalu membantu keluarga kita kan? Kalau bukan kamu, siapa lagi yang bisa membantu? Arga kan sedang sibuk dengan pekerjaannya, dan kamu tahu kan kalau penghasilannya tidak terlalu besar untuk menutupi semua kebutuhan keluarga.”

Padahal tadi pagi Arga bilang ada rapat di luar kota, padahal ia ada di rumahmu bersama Maya, bisik Rania dalam hati. Namun secara lisan, ia tetap menjaga nada bicara yang santai. “Saya tahu, Bu. Tapi saya harus memberitahu Bu sesuatu. Sejak tiga bulan terakhir, kondisi keuangan perusahaan saya tidak terlalu baik. Ada beberapa proyek yang batal dan juga ada masalah dengan pemasok yang membuat kita harus mengeluarkan uang lebih banyak dari yang direncanakan. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk tetap menjalankan segala sesuatu dengan baik, tapi sekarang sudah saatnya kita semua mulai berhemat dan tidak bisa lagi menghabiskan uang untuk hal-hal yang tidak terlalu penting.”

“Tidak penting? Rania, arisan ini adalah bagian dari hubungan sosial Ibu lho! Dan traktiran Adi adalah hal yang penting untuk masa depannya juga! Kalau dia bisa menjaga hubungan baik dengan teman-temannya, itu akan bermanfaat untuk kelak.” Ibu Ratna mulai menunjukkan nada kesal, sesuatu yang biasanya membuat Rania langsung menyerah dan memenuhi semua permintaannya. Tapi kali ini berbeda.

“Maafkan saya, Bu. Saya sudah memutuskan. Mulai dari sekarang, saya tidak bisa lagi membayar biaya kuliah Adi secara penuh. Saya bisa membantu sebagian saja, sisanya harus dia cari sendiri, mungkin dengan bekerja paruh waktu atau mendapatkan beasiswa. Selain itu, cicilan mobil dan rumah Bu juga tidak bisa saya tanggung lagi. Saya sudah membayarnya selama tiga tahun penuh, sekarang sudah saatnya keluarga Bu juga berusaha sendiri untuk memenuhi kewajiban tersebut,” jelas Rania dengan suara yang tetap tenang tapi tidak bisa dinafikan.

“APA? Rania, kamu tidak bisa melakukan hal seperti itu! Kamu adalah istri dari anak saya, kamu punya kewajiban untuk membantu keluarga kami!” Suara Ibu Ratna kini sudah sangat keras, bahkan bisa didengar oleh Bu Sarinah yang berdiri di dekatnya.

“Kewajiban saya sebagai istri adalah untuk membantu suami saya, Bu. Tapi jika suami saya sendiri tidak jujur dan tidak menghargai apa yang sudah saya berikan, maka saya tidak bisa terus memberikan apa yang tidak saya bisa berikan lagi. Selain itu, mulai hari ini, saya mengharapkan Arga untuk mulai menafkahi saya seperti yang seharusnya dilakukan oleh seorang suami. Jika tidak, maka saya tidak akan lagi membayar biaya listrik, air, dan kebutuhan rumah tangga kita yang sekarang. Saya sudah cukup lama mencukupi semua itu sendirian,” ucap Rania dengan tegas, tanpa ada rasa ragu sedikit pun.

Setelah itu, tanpa menunggu jawaban dari Ibu Ratna, Rania mengakhiri panggilan. Ia meletakkan telepon di meja dengan lembut, lalu menutup matanya sejenak. Rasanya seperti batu besar telah terangkat dari dadanya, meskipun ia tahu bahwa konsekuensi dari apa yang baru saja ia katakan tidak akan lama datang.

Diujung sana, bu Ratna mengeluarkan sumpah serapah nya "Dasar perempuan mandul, perempuan nggak berguna, dimintain uang sedikit saja tidak dikasih, awas aku bilang ke Arga biar dimarahi."

Tidak sampai lima menit kemudian, teleponnya berdering lagi, kali ini dari Arga. Rania melihat nama suaminya di layar, lalu mengambil telepon dengan wajah yang tidak menunjukkan emosi sama sekali. “Halo, mas?”

“Rania, apa yang kamu lakukan?! Ibu baru saja menelepon saya dan bilang kamu menolak untuk membantu keluarga kami bahkan sampai bilang tidak akan lagi membayar cicilan rumah dan mobil mereka! Kamu tahu kan bagaimana perasaan Ibu sekarang?! Dia menangis dan bilang kamu telah berubah menjadi orang yang tidak mengenal diri!” Suara Arga terdengar marah sekali, ia berteriak melalui telepon seolah Rania telah melakukan kesalahan yang tidak bisa dimaafkan.

Rania berdiri dari kursinya, lalu berjalan ke jendela ruang kerjanya sambil melihat pemandangan jalanan di luar sana. “Mas sudah tahu kan kondisi perusahaan saya sekarang? Saya tidak bisa lagi terus memberikan apa yang tidak saya miliki. Selain itu, mas sudah lama tidak memberikan apa-apa untuk rumah tangga kita sendiri. Saya sudah cukup lama bekerja keras dan mencukupi semua kebutuhan, baik untuk kita berdua maupun untuk keluarga mas. Sekarang sudah saatnya mas juga bertanggung jawab seperti yang seharusnya dilakukan oleh seorang suami dan seorang anak,” jawab Rania dengan nada yang sangat santai, seolah tidak merasa terganggu sama sekali oleh kemarahan Arga.

“Kondisi perusahaan? Rania, kamu selalu bilang perusahaan kamu baik-baik saja! Kalau memang ada masalah, kenapa kamu tidak bilang padaku duluan?! Dan tentang tanggung jawab saya, kamu tahu kan saya sedang berusaha untuk mengembangkan bisnis saya sendiri! Saya butuh waktu untuk itu!” Arga masih terus berteriak, mencoba untuk menyalahkan Rania atas semua yang terjadi.

“Karena mas tidak pernah peduli dengan apa yang saya lakukan, mas hanya peduli dengan apa yang bisa saya berikan untuk keluarga mas. Dan tentang bisnis mas yang sedang dikembangkan, saya sudah memberikan uang banyak kali untuk itu, tapi sampai sekarang tidak ada hasil apa-apa. Sekarang saya sudah tidak bisa lagi memberikan uang untuk hal itu. Mas harus mencari cara sendiri jika memang benar-benar ingin mengembangkan bisnis tersebut. Dan satu lagi, mulai besok, saya mengharapkan mas untuk memberikan uang nafkah minimal tiga juta rupiah setiap bulan. Jika tidak, maka saya akan mulai mengambil langkah-langkah yang perlu saya lakukan,” jelas Rania dengan tegas.

Ada jeda panjang di sisi lain telepon sebelum Arga menjawab dengan nada yang sudah tidak sekeras tadi, namun masih penuh dengan kemarahan. “Kamu benar-benar berubah, Rania. Saya tidak menyangka kamu bisa menjadi orang yang begitu keras hati seperti ini.”

“Kalau mas merasa begitu, itu adalah hak mas. Tapi saya hanya melakukan apa yang saya rasa benar dan apa yang perlu saya lakukan untuk melindungi diri saya sendiri dan juga masa depan saya. Saya sudah cukup lama mengorbankan banyak hal untuk keluarga mas, sekarang sudah saatnya saya juga berpikir untuk diri saya sendiri,” ucap Rania sebelum mengakhiri panggilan lagi.

Ia kembali ke kursinya, lalu melihat ke arah Bu Sarinah yang sudah mulai menangis melihat perjuangan yang dialami oleh majikannya. “Bi, kamu tidak perlu menangis ya. Saya sudah siap untuk semua konsekuensi yang akan datang. Mereka berpikir bahwa saya akan terus menyerah dan memberikan apa saja yang mereka inginkan. Tapi mereka salah besar. Saya akan menunjukkan kepada mereka bahwa kebaikan saya bukan berarti saya lemah dan bisa dipermainkan sesuka hati,” ucap Rania dengan tatapan yang penuh dengan tekad.

Bu Sarinah mendekat dan memeluk Rania dengan lembut. “Semoga Tuhan selalu melindungi mbak ya. Bibik akan selalu ada di sini untuk membantu mbak, apa pun yang terjadi.”

Rania tersenyum lembut, menyandarkan kepalanya ke bahu Bu Sarinah. Di balik senyum itu, ia sudah mulai merencanakan langkah-langkah selanjutnya. Ia akan memastikan bahwa setiap orang yang telah mengkhianatinya akan mendapatkan balasan yang setimpal. Dan kali ini, ia tidak akan lagi memberikan kesempatan bagi siapapun untuk memanfaatkan kebaikannya. Ia akan bermain dengan aturan mereka, tapi dengan cara yang jauh lebih cerdas dan terencana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!