Di balik gerbang kemewahan keluarga terpandang, Putri tumbuh sebagai bayangan. Terlahir dari rahim yang tak pernah diinginkan, ia adalah noda bisu atas sebuah perasaan yang tak terbalaskan.
Warisan pahit dari ibu yang pergi sesaat setelah melahirkannya, ia dibesarkan di bawah tatapan dingin ibu tiri dan kebisuan sang ayah, Putri tak pernah mengenal apa itu kasih sayang sejati. Ia hanyalah boneka yang kehadirannya tak pernah diinginkan, namun keberadaannya tak bisa disingkirkan.
Ketika takdir kembali bermain kejam, Putri sekali lagi dijadikan tumbal. Sebuah skandal memalukan yang menimpa keluarga besar harus ditutup rapat, dan ia, sang anak yang tak pernah diinginkan dan yang tak berarti, menjadi kepingan paling pas dalam permainan catur kehormatan.
Ia dijodohkan dengan Devan, kakak kelasnya yang tampan dan dingin, pria yang seharusnya menikah dengan kakaknya, Tamara.
Di sanalah penderitaan Putri berlanjut, akankah ia menyerah pada takdir yang begitu pahit, atau bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Patahnya Harapan
Devan berjalan mendekat tanpa suara, lalu duduk di sofa, bukan di kursi samping ranjang seperti biasanya. Jarak itu terasa begitu jauh bagi Putri.
"Mas sudah makan?" tanya Putri lagi, mencoba mencairkan suasana beku yang tiba-tiba melingkupi ruangan. "Tadi suster anterin bubur kacang hijau, aku simpen buat Mas kalau mau..."
"Aku udah makan," potong Devan datar.
Putri terdiam, ia merasakan perubahan drastis itu. Namun, ia mencoba menepis firasat buruknya. Mungkin Devan hanya lelah bekerja.
Putri menggeser tubuhnya sedikit, mencoba meraih tangan Devan yang ada di sandaran tangan sofa.
Saat Putri condong ke depan, hidungnya menangkap aroma yang menguar dari kemeja suaminya.
Kening Putri mengernyit, biasanya Devan berbau maskulin bercampur minyak kayu putih, aroma khas yang selalu menenangkan Putri karena itu tanda Devan merawatnya.
Yang terjadi malam ini, itu jauh berbeda. Putri merasakan sesuatu yang tidak biasa, parfum suaminya berganti dengan aroma parfum wanita yang sangat menyengat. Aroma bunga mawar, manis, elegan, dan... familiar.
Ingatan Putri terlempar ke masa lalu. Itu aroma parfum Tamara, kakaknya.
Tamara selalu memakai parfum mawar mahal yang wanginya tertinggal di mana-mana.
Jantung Putri berdegup kencang, tangannya yang kurus melayang di udara, ragu untuk menyentuh Devan.
"Mas," ucap Putri, suaranya bergetar.
"Ada apa?" tanya Devan dingin.
"Mas habis ketemu siapa?"
Devan menatap tangan Putri yang menggantung, lalu menatap mata istrinya. Ia melihat kilat harapan di mata itu, dan entah kenapa, malam ini hal itu membuatnya muak.
Ia merasa bersalah karena telah memberi harapan palsu, dan cara terbaik untuk menebusnya menurut logika Devan yang kacau adalah dengan membunuh harapan itu sekarang juga
"Teman lama," jawab Devan singkat. Ia berdiri, menjauh dari jangkauan Putri, lalu melepas kemejanya dengan gerakan kasar, seolah ingin membuang aroma mawar yang menempel di sana.
"Mas, dokter bilang tadi leukosit aku membaik," ujar Putri cepat, berusaha mengalihkan fokus, berusaha menarik perhatian Devan kembali padanya.
"Kalau udah membaik kenapa?" tanya Devan dengan ekspresi malasnya.
"Dokter bilang, kalau semangat aku terus begini, kemungkinan remisi itu ada. Aku... aku janji bakal sembuh, Mas. Aku bakal jadi istri yang sehat buat Mas, biar Mas nggak repot lagi."
Putri menatap Devan penuh harap, menunggu seulas senyum atau setidaknya anggukan.
Namun, Devan justru mematung. Punggungnya menegang.
Kata-kata "Aku bakal jadi istri yang sehat buat Mas" itu terdengar seperti ancaman bagi rencana masa depannya dengan Tamara. Jika Putri sembuh, jika Putri bertahan, lalu... bagaimana dengan Tamara?
Devan berbalik perlahan, wajahnya datar tanpa emosi. Topeng egonya kembali terpasang sempurna, lebih tebal dari baja.
"Bagus kalau kamu sembuh," ucap Devan dingin, "tapi jangan salah paham, Put."
Putri menahan napas. "Salah paham... apa?"
Devan melangkah mendekati ranjang, mencondongkan tubuhnya hingga wajah mereka sejajar. Namun kali ini, tidak ada kasih sayang.
"Kamu sembuh, itu kewajiban kamu karena aku udah bayar mahal. Tapi soal kita..." Devan mendengus sinis. "Jangan pernah berpikir kalau kebaikan aku kemarin itu, karena aku mulai cinta sama kamu. Jangan pernah berpikir kalau aku mulai menerima kamu sebagai istri aku," ucap Devan dengan tegas.
Hati Putri mencelos, harapannya telah dibunuh berkali-kali.
"Itu cuma rasa kasihan, Putri. Murni kasihan! Aku ngelakuin itu semua cuma karena kamu kelihatan menyedihkan. Jangan pernah berharap lebih, karena kamu tetap tidak bisa menggantikan posisi Tamara di hati aku."
Devan menegakkan tubuhnya kembali, memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Dan satu lagi! Kamu harus ingat kesepakatan awal kita. Kamu ada di sini cuma untuk ngisi kursi kosong, dan kursi itu..." Devan menatap mata Putri tajam. "Pemilik aslinya bisa kembali kapan saja. Jadi, jangan terlalu nyaman duduk di sana."
Setelah mengucapkan kalimat yang menghancurkan itu, Devan mematikan lampu utama kamar, menyisakan lampu tidur yang remang.
"Tidur. Aku capek," pungkasnya.
Devan merebahkan diri di sofa, memunggungi Putri.
Di atas ranjang rumah sakit, Putri membeku. Harapan yang tadi menyala terang, kini padam seketika ditiup angin kenyataan. Aroma mawar yang tertinggal di udara seolah menertawakannya.
Putri menarik selimut sampai menutupi kepalanya. Di balik selimut itu, ia menggigit bibirnya kuat-kuat agar isak tangisnya tidak terdengar.
Darah kembali menetes dari hidungnya, membasahi bantal. Namun Putri membiarkannya. Rasa sakit di hatinya jauh lebih menyiksa daripada kanker yang menggerogoti tubuhnya.
"Pemilik aslinya bisa kembali kapan saja."
Kata-kata itu sangat kejam, masuk dan menembus tepat di ulu hatinya.
Malam itu, Putri sadar. Devan tidak pernah memberinya hati, Devan hanya meminjamkannya sebentar, dan kini ia bersiap mengambilnya kembali.
***
Hari-hari berlalu menjadi minggu, kamar rumah sakit yang tadinya sempat terasa hangat oleh kehadiran Devan, kini kembali dingin dan sepi.
Devan masih datang, tapi durasinya semakin singkat.
Pria itu seringkali datang saat Putri tidur, atau hanya mampir sebentar untuk meletakkan buah-buahan lalu pergi dengan alasan kantor sibuk. Padahal, Putri tahu, aroma parfum mawar yang semakin pekat menempel di jaket Devan bukanlah aroma kantor, itu aroma Tamara.
Tamara telah kembali sepenuhnya ke dalam hidup Devan. Mereka makan siang bersama, mengenang masa lalu, dan perlahan merajut kembali benang yang sempat putus.
Devan terombang-ambing. Di satu sisi, ia merasa bertanggung jawab atas nyawa Putri. Di sisi lain, kehadiran Tamara membuai egonya, membuatnya merasa pulang ke tempat yang seharusnya.
Akibatnya, Putri semakin terpinggirkan. Semangat sembuh yang sempat membara di dada Putri perlahan meredup.
Kemoterapi menghajar fisiknya habis-habisan, rambut indahnya kini telah gugur sepenuhnya, memaksanya memakai beanie rajut setiap saat.
Kulitnya kusam, dan berat badannya merosot tajam hingga tulang-tulangnya terlihat menonjol menyedihkan di balik baju pasien.
"Mas Devan nggak datang lagi ya, Sus?" tanya Putri lirih pada perawat yang mengganti infusnya sore itu.
"Pak Devan tadi telepon, Bu. Katanya ada meeting mendadak sampai malam," jawab suster itu dengan nada simpatik.
Putri tersenyum hambar mendengar kata meeting, itu adalah kata sandi untuk Tamara.
Ia menatap jendela, hujan turun lagi. Senyum tipis perlahan terukir, seakan itu adalah senyum terakhir yang penuh paksaan.
Di detik berikutnya, mata Putri terpejam. Wajahnya semakin pucat, suster yang tadi bicara dengannya menjadi panik, ia segera memanggil dokter untuk melihat keadaan Putri.
***
Sementara itu, di kantor pusat Pradipta Group.
Pak Brahma sedang membereskan berkas-berkasnya, pikirannya kusut.
Belakangan ini, ia merasa rumahnya terlalu sepi tanpa kehadiran 'kambing hitam' yang biasa dimarahi Anggun.
Ponsel pribadinya berdering, nomor tidak dikenal.
"Halo?"
"Selamat sore, apakah benar ini dengan Bapak Brahma Pradipta?" suara di seberang sana terdengar formal dan mendesak.
"Ya, saya sendiri. Ada apa?"
"Kami dari Rumah Sakit Harapan. Kami mencoba menghubungi suami dari pasien atas nama Putri Larasati, istrinya Bapak Devan. Namun, nomor beliau tidak aktif sejak siang. Karena kondisi pasien tiba-tiba kritis dan butuh persetujuan tindakan medis segera, kami menghubungi nomor darurat kedua yang tertera di data administrasi."
Jantung Brahma berdegup aneh mendengar nama anaknya disebut dalam satu kalimat dengan rumah sakit dan kritis.
"Putri? Dia sakit apa? Paling cuma tipes atau demam, kan?" tanya Brahma, masih dengan nada meremehkan. Anggun bilang Putri hanya cari perhatian.
Hening sejenak di seberang telepon.
"Maaf, Pak. Sepertinya Bapak belum tahu. Pasien Putri menderita kanker darah stadium lanjut, kondisinya drop drastis sore ini. Mohon Bapak segera datang."
Ponsel di tangan Brahma nyaris terlepas.
"Kanker? Stadium lanjut?"
Kata-kata itu menghantamnya lebih keras daripada pukulan fisik. Putri? Anak yang selalu ia anggap kuat, anak yang tak pernah mengeluh meski diabaikan, anak yang ia biarkan diusir istrinya saat hujan, kini sedang sekarat?
Tanpa banyak bicara, Brahma menyambar kunci mobilnya. Ia berlari keluar gedung kantornya dengan wajah pucat, mengabaikan sapaan karyawannya.
Yang terbayang dalam pikirannya sekarang adalah Putri, anaknya itu sedang melawan penyakitnya seorang diri di sana.
***