SINOPSIS
Feng Ruxue adalah Permaisuri dari Kekaisaran Phoenix yang dikhianati oleh suaminya sendiri, sang Kaisar, dan adik perempuannya yang licik. Mereka menjebak Ruxue, mencabut tulang sumsum phoenix-nya (sumber kekuatannya), dan membakarnya hidup-hidup di Menara Terlarang.
Namun, alih-alih mati, jiwa Ruxue justru bangkit kembali ke tubuh seorang gadis lemah berwajah buruk rupa yang sering ditindas di desa terpencil. Dengan ingatan masa lalunya sebagai kultivator tingkat tinggi, ia mulai berlatih kembali, menyembuhkan wajahnya, dan membangun pasukan rahasia. Ia kembali ke ibu kota bukan untuk meminta maaf, tapi untuk mengambil kembali mahkotanya dan membakar setiap orang yang pernah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mieayam(•‿•), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Gejolak di Menara Ujian
Dinding-dinding Akademi Phoenix Langit tidak hanya terbuat dari batu dan semen; mereka dibangun dengan sejarah darah dan kemuliaan selama ratusan tahun. Setiap sudut koridor yang dilewati Lin Xiao memancarkan aura tekanan spiritual yang halus, dirancang untuk mengingatkan para murid bahwa di tempat ini, hanya yang terkuat yang berhak mendongakkan kepala.
Lin Xiao, atau yang kini dikenal sebagai Xiao Lan, berjalan dengan langkah yang anggun melintasi aula utama. Gaun biru tuanya berkibar sedikit setiap kali ia melangkah, menciptakan kontras yang tajam dengan seragam putih-emas murid akademi lainnya. Kehadirannya seperti sebuah pedang yang terbungkus sutra—indah dipandang, namun mematikan jika disentuh.
"Lihat, itu dia gadis yang menghebohkan alun-alun kemarin," bisik seorang murid perempuan dari balik kipasnya.
"Tahap Pembentukan Inti di usia semuda itu? Aku sangsi. Jangan-jangan dia menggunakan obat terlarang untuk memanipulasi hasil Batu Ukur Energi," timpal seorang pemuda dengan lencana kelas elit di dadanya, tatapannya penuh dengan kecemburuan yang tidak disembunyikan.
Lin Xiao mengabaikan semua bisikan itu. Baginya, ocehan mereka tak lebih dari suara bising serangga di musim panas. Tujuannya saat ini adalah Aula Ujian Penempatan. Di akademi ini, murid dibagi menjadi tiga kelas: Kelas Perunggu untuk talenta biasa, Kelas Perak untuk mereka yang berbakat, dan Kelas Emas bagi para jenius yang menjadi wajah kekaisaran.
Di dalam Aula Ujian, ratusan murid baru telah berkumpul. Di atas panggung utama, berdiri tiga orang Tetua dengan jubah abu-abu yang memancarkan aura berat. Namun, yang menarik perhatian Lin Xiao adalah sosok yang duduk di kursi pengamat kehormatan di sisi panggung.
Itu adalah Feng Meili.
Wanita itu mengenakan gaun sutra merah api yang sangat mencolok, tangannya menggenggam cangkir teh giok dengan keanggunan yang dibuat-buat. Di sampingnya, beberapa murid senior dari Klan Feng tampak berdiri tegak seperti anjing penjaga. Tatapan Meili menyapu kerumunan murid baru dengan rasa bosan, sampai matanya terpaku pada sosok Lin Xiao.
Lin Xiao merasakan tatapan itu. Ia sedikit mendongak, membiarkan matanya yang ungu gelap bertemu dengan mata Meili. Untuk sesaat, udara di antara mereka seolah-olah meledak. Meili mengerutkan kening; ia merasa ada sesuatu yang sangat mengganggu dari gadis berbaju biru itu, sebuah perasaan benci yang muncul tanpa alasan yang jelas.
"Ujian penempatan akan segera dimulai!" teriak salah satu Tetua. "Tugas kalian sederhana. Di tengah aula ini terdapat 'Lonceng Jiwa Guntur'. Siapa pun yang bisa menggetarkan lonceng ini dengan energi spiritual mereka akan ditempatkan di Kelas Perak. Jika kalian bisa membuatnya berbunyi satu kali, kalian masuk Kelas Emas. Jika lebih dari itu... kalian adalah aset berharga akademi."
Satu per satu murid maju. Kebanyakan dari mereka hanya mampu membuat lonceng itu bergetar sedikit. Hanya beberapa murid dari klan besar yang berhasil membuat lonceng itu berbunyi satu kali, dan mereka segera disambut dengan sorak-sorai.
"Selanjutnya, Xiao Lan!" teriak penguji.
Suasana aula mendadak sunyi. Semua mata tertuju pada Lin Xiao saat ia berjalan menuju pusat aula.
"Tunggu sebentar!" sebuah suara nyaring memotong langkah Lin Xiao.
Seorang pemuda tinggi dengan wajah angkuh maju ke depan. Dia adalah Feng Jian, sepupu Feng Meili dan salah satu murid elit Kelas Emas. "Tetua, aku merasa ujian ini terlalu mudah untuk seseorang yang diklaim sebagai jenius Pembentukan Inti. Bagaimana kalau kita tambahkan sedikit tantangan?"
Feng Jian menatap Lin Xiao dengan senyum merendahkan. "Jika kau benar-benar hebat, biarkan aku mengalirkan energi gunturku ke dalam lonceng itu saat kau mencoba memukulnya. Jika kau tidak bisa menggetarkannya, itu artinya hasil pengukuranmu kemarin adalah palsu, dan kau harus merangkak keluar dari akademi ini."
Para Tetua tampak ragu, namun Feng Meili memberikan anggukan kecil dari kursinya. "Itu saran yang menarik, Tetua. Mari kita lihat apakah 'Mawar Biru' ini benar-benar memiliki duri, atau hanya sekadar bunga plastik."
Lin Xiao menatap Feng Jian dengan tatapan yang sangat dingin. "Kau yakin ingin melakukannya?"
"Kenapa? Kau takut, gadis desa?" Feng Jian tertawa, dan tangannya mulai memancarkan percikan listrik biru yang kuat.
Lin Xiao berjalan mendekati Lonceng Jiwa Guntur yang setinggi dua meter itu. Ia tidak memasang kuda-kuda bela diri. Ia hanya berdiri dengan santai, tangan kanannya perlahan terangkat.
Feng Jian segera meletakkan tangannya di sisi lain lonceng, mengalirkan energi guntur Tahap Pembentukan Inti tingkat satu dengan kekuatan penuh. Lonceng itu mulai bergetar hebat, memancarkan aura biru yang menekan siapa pun di sekitarnya. "Ayo! Coba pukul ini jika kau berani!"
Lin Xiao memejamkan matanya sejenak. Ia memanggil setetes Energi Nirwana Hitam dari Inti Jiwanya—hanya setetes, namun itu adalah esensi murni dari kehancuran. Ia tidak memukul lonceng itu; ia hanya menyentil permukaan logam lonceng dengan ujung jari tengahnya.
TING!
Bunyi pertama terdengar sangat jernih, menghentikan getaran energi guntur Feng Jian seketika.
DONG!
Bunyi kedua meledak, jauh lebih keras, membuat beberapa murid di barisan depan harus menutup telinga mereka.
BOOOMMMM!
Bunyi ketiga bukan lagi suara lonceng, melainkan ledakan energi ungu gelap yang terpental dari permukaan logam tersebut. Lonceng Jiwa Guntur yang terbuat dari logam kuno itu tiba-tiba retak di titik sentuhan jari Lin Xiao.
Feng Jian, yang masih menempelkan tangannya di lonceng, tidak sempat bereaksi. Energi pantulan dari Lin Xiao menghantamnya seperti palu raksasa.
"ARGH!"
Tubuh Feng Jian terpental jauh ke belakang, menabrak pilar aula hingga pilar itu retak, lalu tersungkur dengan mulut mengeluarkan busa dan darah. Energi guntur di tangannya telah padam sepenuhnya, digantikan oleh rasa sakit yang membakar nadinya.
Seluruh aula membeku. Para Tetua berdiri dari kursi mereka dengan wajah pucat. Feng Meili meremas cangkir tehnya hingga hancur berkeping-keping, matanya membelalak penuh kemarahan dan ketakutan yang tidak disadari.
Lonceng Jiwa Guntur... hancur hanya dengan satu sentilan jari?
Lin Xiao menarik kembali tangannya, meniup ujung jarinya dengan santai seolah-olah baru saja membersihkan debu. Ia menoleh ke arah Tetua penguji yang masih terpana. "Jadi, kelas mana yang akan kau berikan padaku?"
Tetua itu menelan ludah dengan susah payah. "Xiao... Xiao Lan. Kelas Emas Sempurna. Dan kau... kau akan diberikan paviliun pribadi di puncak bukit akademi."
Lin Xiao tidak mengucapkan terima kasih. Ia berbalik, matanya sekali lagi bertemu dengan Feng Meili yang kini gemetar karena amarah. Lin Xiao memberikan senyuman tipis—senyuman yang seolah-olah berkata: Ini baru permulaan dari nerakamu.
Ia berjalan keluar dari aula dengan punggung tegak, meninggalkan kekacauan dan nama yang akan menjadi mimpi buruk bagi Klan Feng mulai malam ini. Di balik bayang-bayang pilar aula, sesosok pria dengan jubah hitam mengamati kejadian itu dengan senyum penuh arti.
"Phoenix Hitam telah kembali ke sarangnya," gumam pria itu sebelum menghilang ditelan kegelapan.