Novel ini berkisah tentang kehidupan SMA yang sarat dengan cinta- cintaan, persahabatan, persaingan antar geng di sekolah, dll. dengan latar belakang olah raga bela diri seperti karate, tinju, kick boxing, muathai dsb
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Tidak Mau Jadi Penggantinya
Rommy malam itu tidak bisa tidur karena memikirkan perkataan papa Mauren yang katanya salah ucap itu. Otaknya berputar terus kaya jam dinding yang tak berhenti dan jantungnya berdegup keras serta tangan gemetar karena teringat ucapan papa Mauren tadi, “jangan biarkan Mauren memilih lagi”.
Rommy yakin ucapan itu bukan sekadar salah ucap.
Lalu dia coba buka Facebook dan mencoba mendapatkan info berharga tentang Mauren. Berjam-jam dia scrolling postingan-postingan lama Mauren. Tidak banyak yang dia temukan kecuali beberapa foto Jino bersama teman-temannya dan Mauren.
Tiba-tiba ada beberapa buah foto lama Mauren yang menyebabkan Rommy mengerutkan kening. Ada sesuatu yang penting.
Sepertinya ada salah satu teman Mauren yang meninggal dan foto-foto saat pemakamannya ditag ke Facebook Mauren. Mauren tampak menangis tersedu di foto itu, matanya sembab dan dalam beberapa foto nampak air matanya membasahi pipi, tapi ada yang kontras, karena Jino berdiri di dekatnya seperti tersenyum tipis? Apakah itu cuma ilusi atau cuma bayangan layar? Entah kenapa hatinya merasa kurang enak pada foto itu.
“Pasti ada sesuatu sama foto itu. Tapi ah, tidak terlalu penting,” kata Rommy dalam hati. “Skip saja.”
Tapi perasaannya terasa nggak enak dan bilang jangan di-skip, jadi Rommy memantengi foto demi foto pemakaman itu, coba menemukan kalau ada yang menarik.
Lalu dia klik akun Jino yang ditag dalam foto-foto itu. Beberapa foto pribadi dia dan banyak foto dia dalam pose-pose dan kostum karate. Makin lama dia menelusuri foto-foto lama milik Jino di Facebook, ada screenshot dari portal berita daerah Jino Tumangkeng vs Mauro Kalalo dalam Final Kejurda Karate Yunior Kota Manado tahun 2025. Jino dan Mauro bersaing dalam karate? Petunjuk pertama mungkin sudah Rommy temukan.
Dia lanjutkan scrolling. Dia menemukan postingan Jino yang ditag ke Mauro, “Gua boleh kalah dalam final karate itu, tapi gua tidak boleh kalah dalam balapan motor. Malam ini jam 23.00 aku tunggu di Jalan Boulevard.”
Mauro membalas di kolom komentar: “Siapa takut?”
Lalu Jino juga menambah komentar, “Yang kalah dalam balapan motor nanti, silakan menyingkir.” Berarti Mauro tewas karena balapan untuk taruhan berebut hati Mauren dengan Jino?
Rommy menjentikkan ibu jari dan jari telunjuknya. Tiga petunjuk penting tentang ucapan papa Mauren “jangan biarkan Mauren memilih lagi” itu sudah terpecahkan.
Berarti, dalam persaingan mengejar Mauren ini Jino tak bisa dianggap remeh. Dia adalah pesaing berat dan berbahaya bagi Rommy.
“Baik,” kata Rommy pelan kepada dirinya sendiri.
Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi, biasanya Rommy berlari menuju sekolah, tapi tidak kali ini, karena badannya terasa lunglai akibat tidak tidur semalaman. Dia hanya cuci muka dan tidak mandi, sarapan dan menstarter motornya ke sekolah.
“Tumben Rom, naik motor ke sekolah pagi ini?” tanya Mama Rommy.
“Badan Rommy kurang enak, Ma, pagi ini,” jawab Rommy. “Jadi skip lari dulu deh hari ini, Ma.”
Rommy tiba di sekolah dengan kepala penuh teka-teki dan mata sembab karena kurang tidur.
Sebelum jam pertama dimulai, Woro mendekati Rommy dan berkata, “Rom, karena keberhasilanmu dalam memimpin kegiatan sosial waktu lalu, dan serangkaian peristiwa, kelas ini mengajukan lu sebagai calon ketua OSIS dalam pemilihan ketua OSIS mendatang,” kata Woro.
“Serius kalian milih gua?” tanya Rommy. “Gua yang berandalan dan ketua geng sekolah kaya gini?”
“Kalau kamu terpilih jadi ketua OSIS, kamu harus mundur dari jabatan kepala geng Kelelawar Hitam, Rom,” kata Mauren yang ada di dekat mereka.
“Rasanya Mauren lebih pantas, Wor,” ujar Rommy kepada Woro.
“Kita sudah mengajukan nama Mauren, tapi Mauren menolak,” jawab Woro. Justru Mauren yang mengusulkan nama elu.
Rommy hanya diam dan tak bisa berkata-kata dan memandang Mauren.
“Tapi…” kata Rommy.
“Tidak ada tapi-tapian, pokoknya kelas ini sudah mencalonkan elu. Titik,” ujar Woro judes dan memaksa.
“Kalau aku terpilih jadi ketua OSIS, Kelelawar Hitam harus tetap hidup,” batin Rommy. “Tapi siapa yang bakal menggantikan aku? Erick? Tony?”
Sepulang sekolah, Rommy tidur sebentar karena semalaman tidak tidur karena kisah Jino-Mauro dan Mauren menghantui dirinya, dan setelah bangun dia segera bersiap menuju ke Sasana Tinju Bulungan tempatnya berlatih tinju. Dia segera berkemas, pamitan kepada Mamanya dan menstarter motornya.
“Coach, papanya Mauren info akan ada kejuaraan tinju Yunior se-DKI 3 bulan lagi,” ujar Rommy ke Coach Barda.
“Iya, betul,” jawab Coach Barda.
“Saya ingin ikut, Coach,” jawab Rommy.
“Iya, saya perhatikan kamu sejak ikut latihan tinju di sasana ini, kemajuanmu pesat, kamu kayaknya berbakat dalam tinju,” kata Coach Barda. “Nanti bisa mulai sparing, tapi sama saya dulu, soalnya supaya bisa ngontrol, jangan sampai bakat kamu rusak karena sparing yang gak terkontrol, Rom.”
“Siap, Coach,” jawab Rommy. “Omong-omong Mauren kok nggak kelihatan, Coach?”
“Kemarin dia pamit dari sasana ini karena mau fokus di karate,” kata Coach Barda. “Kenapa, kangen?”
Muka Rommy memerah, “Bukan begitu, Coach. Cuma aneh aja.”
Dalam hati Rommy, Jino teman lama Mauren yang karateka itu datang, lalu Mauren berhenti latihan tinju karena mau fokus di karate. Perasaan Rommy nggak enak. Apakah itu kebetulan saja? Atau Mauren sedang kembali ke lingkaran yang sama, lingkaran yang pernah merenggut nyawa Mauro? Dan apakah Rommy akan menjadi Mauro jilid 2?
“Kamu nggak usah bohongin saya, dari tatapan matamu saya sudah tahu kamu ada hati sama Mauren,” kata Coach Barda sambil menyiapkan peralatan latihan tinju. “Kalau mau merebut hatinya, tunjukkan dengan prestasi. Cepat pemanasan dulu!”
Rommy hanya tersenyum kecut mendengar perkataan Coach Barda, dan ia segera bersiap melakukan pemanasan dan melakukan shadow boxing.
“Coach Barda bisa baca, nggak bisa boong gua, hehehe,” kata Rommy dalam hati sambil melakukan shadow boxing.
“Setelah shadow boxing, latihan pukul samsak 3 ronde dan kemudian sparing sama saya nanti,” instruksi Coach Barda. “Perhatikan footwork!”
Setelah memukul samsak 3 ronde, Rommy dan Coach Barda mengenakan pelindung kepala dan gloves untuk sparing. Lalu mereka sparing ringan dan santai.
“Fokus kamu latihan footwork dan kecepatan,” kata Coach Barda sambil memukul Rommy dengan pelan. “Memukul keras itu gampang, yang penting dalam sparing itu melatih teknik.”
Ini pertama kali Rommy berlatih sparing, dan dia agak grogi karenanya. Tapi dia coba mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk berlatih semua pukulan, gerakan dan footwork.
Saat Rommy dan Coach Barda melakukan sparing, ada seseorang memperhatikan mereka dengan memakai hoodie, masker dan kacamata hitam. Siapa?