NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Dokter Buangan

Kebangkitan Sang Dokter Buangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Mafia
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Velyqor

Kayra Ardeane mengasingkan diri ke desa sunyi bernama Elara demi mengubur trauma masa lalunya sebagai ahli bedah. Namun, ketenangannya hancur saat seorang pria bersimbah darah menerjang masuk dengan peluru di dada. Demi sumpah medis, Kayra melakukan tindakan gila: merogoh rongga dada pria itu dan memijat jantungnya agar tetap berdenyut.

Nyawa yang ia selamatkan ternyata milik Harry, seorang predator yang tidak mengenal rasa terima kasih, melainkan kepemilikan. Di bawah kepungan musuh dan kobaran api, Harry memberikan ultimatum yang mengunci takdir Kayra.

"Pilihannya sederhana, Dokter. Mereka selamat dan kau ikut denganku, atau kita semua tetap di sini sampai musuh mengepung. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke tempat di mana aku tidak bisa melihatmu."

Terjebak dalam pelarian maut, Kayra menyadari satu hal yang terlambat, ia memang berhasil menyelamatkan jantung Harry, namun kini pria itu datang untuk mengincar jiwanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Bayang-Bayang Proyek Genesis

Sinar matahari pagi yang pucat menembus celah jendela tinggi di The Citadel, menyinari debu-debu yang menari di udara dingin markas perbatasan itu. Kayra terbangun dengan perasaan berat di dadanya, seolah-olah pengakuan Harry semalam adalah batu besar yang kini menghimpit pernapasannya.

Ia menatap langit-langit kamar yang dihiasi ukiran kuno, mencoba mencerna kenyataan bahwa setiap tawa, setiap nasihat, dan setiap dukungan yang diberikan Direktur Aris selama belasan tahun hanyalah bagian dari sandiwara berdarah.

Ia bangkit dari tempat tidur sutra hitamnya, mengenakan jubah mandi satin yang disediakan, dan berjalan menuju jendela. Di bawah sana, hutan pinus yang diselimuti kabut tampak seperti lautan hijau yang tak berujung. Namun, pemandangan itu tidak memberikan ketenangan.

"Kau sudah bangun."

Kayra tersentak dan berbalik. Harry berdiri di ambang pintu yang menghubungkan kamar mereka. Pria itu tampak sudah siap untuk hari yang panjang, celana kargo hitam dan kaus taktis yang membalut tubuh tegapnya mempertegas aura otoritas yang ia miliki. Di tangannya, ia membawa sebuah baki berisi kopi hitam dan roti panggang.

"Aku tidak nafsu makan, Harry," bisik Kayra, suaranya masih serak karena tangis semalam.

Harry meletakkan baki itu di meja samping dan melangkah mendekat. Ia tidak memaksa, namun kehadirannya yang mendominasi memenuhi ruangan. "Tubuhmu butuh bahan bakar untuk kemarahanmu, Kayra. Kita tidak bisa menghancurkan Aris jika kau jatuh pingsan karena dehidrasi."

Kayra menatap cangkir kopi itu, lalu kembali menatap Harry. "Di mana Julian?"

Mata Harry berkilat dingin saat nama pengkhianat itu disebut. "Di ruang interogasi bawah tanah. Enzo sedang bersamanya, tapi dia belum bicara banyak. Dia tahu jika dia buka mulut terlalu cepat, Luca akan memastikan keluarganya di daratan utama berakhir tragis."

"Bawa aku ke sana," ujar Kayra tegas. "Dia seorang dokter. Dia tahu tentang anatomi, tapi dia juga tahu tentang kelemahan psikologis seorang tenaga medis. Aku yang akan membuatnya bicara."

Harry menatap Kayra selama beberapa detik, mencoba mengukur ketangguhan mental wanita itu. Akhirnya, ia mengangguk. "Ganti pakaianmu. Aku tunggu di lorong."

Ruang interogasi The Citadel terletak jauh di kedalaman tebing, sebuah ruangan beton kedap suara yang hanya diterangi lampu neon putih yang menyakitkan mata. Saat Kayra masuk, ia melihat Julian terikat di kursi besi. Wajah pria itu babak belur, napasnya tersengal, namun ia masih sempat menyeringai saat melihat Kayra.

"Lihat siapa yang datang ... Kayra Ardeane yang suci," ejek Julian dengan suara parau.

Kayra melangkah maju, berdiri tepat di hadapan pria yang selama setahun terakhir pura-pura menjadi koleganya di pulau itu. Ia tidak menunjukkan emosi, hanya tatapan dingin yang dipelajarinya dari Harry selama beberapa minggu terakhir.

"Nama belakangku Valeska sekarang, Julian. Dan kau tahu apa artinya itu," Kayra membungkuk, menatap pupil mata Julian yang melebar karena efek obat-obatan interogasi yang mungkin sudah diberikan Enzo. "Kau bekerja untuk Proyek Genesis, bukan hanya untuk Aris. Kau tahu di mana mereka memindahkan sisa riset orang tuaku."

Julian tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan tulang. "Ardeane ... orang tuamu benar-benar keras kepala. Mereka pikir mereka bisa menyelamatkan dunia dengan riset itu, padahal dunia hanya ingin menggunakannya untuk menghancurkan. Aris melakukan hal yang benar dengan menyingkirkan mereka."

PLAK!

Tamparan keras Kayra mendarat di pipi Julian, membuat kepala pria itu tersentak ke samping. Kayra menarik kerah baju Julian dengan tangan gemetar karena emosi. "Di mana laboratoriumnya?! Aku tahu ada satu fasilitas yang masih aktif setelah Elara dihancurkan!"

"Kayra, tenanglah," Harry meletakkan tangannya di bahu Kayra, mencoba menariknya sedikit ke belakang.

Julian meludah darah ke lantai. "Kalian terlambat. Luca sudah memulai fase final. Regenerasi saraf itu bukan untuk menyembuhkan orang lumpuh seperti Elena, Harry ... itu untuk menciptakan subjek yang tidak bisa merasakan empati, prajurit yang sistem sarafnya hanya mengenal satu perintah, bunuh."

"Lokasinya, Julian," suara Harry terdengar sangat rendah, jenis suara yang menjanjikan kematian jika tidak dipatuhi. "Atau aku akan membiarkan Enzo menggunakan teknik yang bahkan tidak diajarkan di sekolah medis manapun."

Julian menatap Harry, lalu beralih ke Kayra. Ada ketakutan murni di matanya saat ia melihat kegelapan yang mulai tumbuh di wajah Kayra. "Gudang garam di pelabuhan lama sektor tujuh ... di bawah tangki penyimpanan empat. Tapi percuma ... kalian tidak akan bisa masuk. Tempat itu dijaga oleh unit yang sudah disuntik serum prototipe."

Harry segera memberi isyarat pada Enzo untuk mengambil alih. Ia menarik Kayra keluar dari ruangan yang pengap itu. Begitu mereka sampai di lorong yang lebih luas, Kayra menyandarkan punggungnya ke dinding, napasnya memburu.

"Sektor tujuh ... itu sangat dekat dengan puskesmas lamaku sebelum aku dipindahkan ke Elara," bisik Kayra. "Semuanya selalu ada di depan mataku, dan aku terlalu buta untuk melihatnya."

Harry berdiri di depan Kayra, menutupi tubuh wanita itu dengan bayangannya. Ia tidak menyentuh Kayra, namun ia memberikan ruang aman yang sangat dibutuhkan. "Kau tidak butuh melihat saat itu, Kayra. Kau hanya butuh bertahan hidup. Sekarang, kau punya aku."

Kayra mendongak, menatap mata Harry yang kini tampak lebih lembut. Di tengah rencana perang yang sedang mereka susun, ada keheningan yang janggal di antara mereka. Kayra menyadari bahwa meski Harry adalah seorang monster di mata dunia, baginya, Harry adalah satu-satunya kejujuran yang tersisa.

"Harry, jika kita pergi ke sana ... ini bukan lagi tentang melindungi nyawamu atau nyawaku," Kayra menyentuh lengan Harry, merasakan otot yang mengeras di bawah kain kausnya. "Ini tentang menghentikan apa yang orang tuaku mulai secara tidak sengaja. Aku tidak ingin nama Ardeane atau Valeska diingat sebagai pencipta monster."

Harry meraih tangan Kayra, membawa jemari wanita itu ke bibirnya dan mencium punggung tangannya dengan lembut, sebuah gestur yang kini menjadi bahasa tanpa kata di antara mereka. "Kita akan menghancurkan tempat itu, Kayra. Dan kita akan melakukannya bersama."

Tiba-tiba, suara alarm dari pusat komando di lantai atas berbunyi nyaring. Getaran hebat terasa dari arah gerbang depan The Citadel.

"Tuan! Penyerangan di perimeter luar! Tiga helikopter tanpa tanda pengenal!" suara Enzo terdengar dari interkom dinding.

Harry segera menarik pistolnya dan mengokangnya dengan gerakan secepat kilat. Ia menatap Kayra, wajahnya kembali menjadi topeng kematian yang dingin. "Luca tidak menunggu kita menyerang. Dia datang untuk menjemput apa yang dia anggap miliknya."

"Aku ikut denganmu," ujar Kayra tanpa ragu.

"Tidak, Kayra! Masuk ke bunker medis!"

"Tidak! Aku bukan lagi dokter yang bersembunyi di bawah meja, Harry!" Kayra menyambar sebuah tas medis dan sebilah pisau taktis yang tergeletak di meja konsol lorong. "Kau bilang kita partner. Gunakan aku."

Harry menatap Kayra selama satu detik yang terasa abadi. Ia melihat api di mata Kayra, api yang sama yang ia lihat saat wanita itu menyelamatkan jantungnya di Elara. Harry menyeringai tipis, sebuah seringai yang penuh dengan rasa bangga yang gelap.

"Tetap di belakangku, Kayra. Jangan biarkan satu peluru pun menyentuhmu, atau aku akan membakar seluruh hutan ini untuk mencarimu."

Mereka berlari menuju lantai atas, siap menghadapi badai yang baru saja pecah di The Citadel. Di luar, suara ledakan mortir mulai menghantam dinding batu hitam markas tersebut, menandakan bahwa perang yang sebenarnya baru saja dimulai di ambang pintu mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!