罪から生まれ、 遺産を求める血に追われる。 Tsumi kara umare, isan o motomeru chi ni owareru. (Born from sin. Hunted by blood that demands legacy) Nakamura Noa, gadis miskin yang bekerja serabutan sekaligus merawat ibunya yang sakit parah. Noa dan ibunya yang sedang dalam persembunyian, tidak sadar bahwa klan besar Yamaguchi-gumi telah mengawasi mereka sejak lama. Mereka beranggapan bahwa Noa adalah pewaris roh leluhur Yamaguchi: 'Kuraokami' yang bangkit saat berada diambang batas. Sampai akhirnya Noa dijemput paksa dan dibawa kembali ke dunia kelam para algojo. Ia harus memilih: tunduk pada mereka atau hancurkan warisan yang telah merenggut hidupnya. ⛔️"DILARANG KERAS menyalin atau mengambil ide, alur, plot twist, tokoh, dialog, maupun bagian cerita, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa izin penulis."⛔️ Copyright© 12/07/2025 - SAMSARA. Technical Advisor : Aimarstories Cover : pinterest Dark psychological thriller Dengan gaya sinematic noir - slow burn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samSara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11 - Junbi part I
...**...
...両刃の剣...
...-Ryōba no Ken-...
...'Pedang Bermata Dua'...
...⛩️🏮⛩️...
Tujuh hari berikutnya.
Malam ketujuh sejak irezumi dilakukan.
Angin dingin menyelinap masuk dari celah ventilasi di sudut ruangan karantina seperti napas dari dunia luar yang kini terasa asing, nyaris samar.
Selama tujuh hari tujuh malam, tubuhnya tidak pernah benar-benar sendiri. Tidak hanya pemulihan fisik yang Noa butuhkan tapi juga pemulihan mental.
Setiap pagi, pendeta Yagami datang bersama Yuta* dan tabib tradisional. Bukan untuk mengobati, bukan untuk menghibur, tapi untuk memeriksa. Meneliti. Membaca pola garis tinta darah di punggungnya, memastikan tidak ada infeksi yang bisa merusak segel.
Noa tahu, mereka bukan menjaga kesehatannya, mereka menjaga agar segel tidak rusak. Agar tubuh ini tetap layak menampung sesuatu yang lebih besar dari nyawanya sendiri.
Noa tidak bisa tidur malam itu.
Bukan karena tubuhnya yang tak mampu, tapi karena pikirannya mulai memberontak.
Di balik rasa nyeri yang terus mencengkeram punggungnya dan di balik denyut perih yang terasa seperti bara yang belum padam, tumbuh sesuatu yang sudah lama mati:
Hasrat untuk lari.
Bukan melawan. Bukan membalas.
Hanya lari. Kabur. Bertahan.
Noa sudah menghitung:
'Tiga langkah dari matras ke pintu logam.
'Dua langkah dari pintu ke kamera pengawas.
'Satu langkah ke titik buta—blind spot yang hanya muncul tujuh detik setiap kali sistem berganti saluran.
Tujuh detik.
Itu satu-satunya celah di mana ia tidak diawasi.
Dan itu cukup.
Cukup untuk merasa seperti manusia lagi.
Mungkin ini konyol.
Mungkin ini sia-sia.
Tapi malam ini, ia sudah bertekad, ia akan menyambut siapapun yang datang melalui pintu itu dengan serangan.
...⛩️🏮⛩️...
...20:47...
Arakawa Kaito berdiri di depan panel pengawasan bawah tanah. Dua layar besar memantau setiap sudut lorong dan sel. Di tangannya, secangkir teh pahit yang belum disentuh sejak disajikan. Ia tidak butuh kafein. Kaito hidup dari keheningan, dari presisi, dari kemungkinan terburuk yang biasa ia prediksi, sepuluh langkah sebelum musuh berpikir untuk bergerak.
Ia sudah menjaga banyak tahanan dalam hidupnya.
Tapi baru kali ini, ia menjaga seseorang yang... 'spesial'.
Dan itulah sebabnya Kaito tidak pernah melepaskan Noa dari radar matanya. Bahkan ketika ia tidak berada di depan kameranya, ia tahu irama napas gadis itu, pola langkahnya di lantai, dan suara gesekan matrasnya di malam hari.
Dan seperti biasa malam ini, sistem sempat lag lagi selama 7 detik, pergantian server ke backup karena lonjakan listrik kecil di panel barat.
Kaito segera mengecek ulang... tapi dalam 7 detik itulah segalanya berubah.
Hanya butuh satu pertukaran posisi di luar kamera.
Dan malam itu... presisi Arakawa Kaito kalah oleh satu hal yang tidak ia perhitungkan:
Rasa putus asa seorang tahanan.
...⛩️��⛩️...
...20:59...
Langkah itu datang, seperti biasa.
Satu... dua... tiga...
Noa menahan napas. Keringat dingin menetes dari pelipisnya. Pisau kecil dari sumpit kayu, diasah tiga hari dengan gesekan lantai batu—terselip di lengan bajunya.
Pintu dibuka setengah.
Sinar putih dari lorong masuk seperti cahaya neraka.
Pria jangkung dengan seragam hitam sederhana meletakkan baki camilan malam.
Tangan Noa melesat.
Satu tusukan, tidak sampai menembus. Tapi cukup membuat pria itu limbung.
Ia hantam kepala pria itu ke dinding, sekali, dua kali.
Tubuh penjaga jatuh dengan suara berat. Noa meraih kuncinya. Menutup pintu dari luar.
Detik-detik itu... terasa seperti mencuri napas dari dewa yang tertidur.
...⛩️🏮⛩️...
...21:03...
Lorong di luar kamar itu panjang, sempit, dengan lampu gantung temaram yang berkedip pelan. Dinding-dinding batu dan lantai logam berkarat, bau lembap dan oksidan memenuhi udara.
Noa berlari sekuat tenaga, tanpa sepatu. Tanpa sadar, kakinya sempat tergores ujung sudut lantai yang kasar.
Napasnya berat, darah dari telapak kakinya meninggalkan noda kecil di lantai.
Setiap detik adalah berharga.
Setiap belokan adalah teka-teki.
Setiap suara di kejauhan bisa berarti hidup atau mati.
'Keluar. Keluar. Keluar...'
Ia membatin seperti mantra.
...⛩️🏮⛩️...
...21:08...
Lorong bercabang. Kanan atau kiri.
Ia pilih kiri.
Lalu menyesalinya.
Di ujung lorong itu, sebuah pagar pengaman dari besi tua membentang setinggi dada. Noa nekat menaikinya, kedua tangan menarik tubuh, kaki mencari pijakan di lubang sempit. Tapi sebelum sempat mencapai puncak, kaki kirinya terpeleset.
Ia jatuh.
Benturan keras tak terelakkan lagi. Lutut dan pergelangan kaki kirinya menghantam lantai beton.
Rasa sakit itu menusuk seperti sengatan listrik, tapi Noa memaksakan diri untuk bangkit dan menyeret kakinya menjauh, dengan tertatih.
...⛩️🏮⛩️...
...21:11...
Saat ia balik badan, sesuatu bergerak cepat di belakangnya.
Sebuah bayangan. Lalu lima.
Mereka tidak terdengar. Tidak bersuara. Hanya muncul.
Gokaishū.
Kelima sosok bertopeng itu berdiri berjajar di ujung lorong, seperti bayangan yang telah menunggunya sejak awal.
Mereka hanya berdiri, diam, nyaris seremonial.
Yang paling depan mengenakan topeng burung hantu.
Noa berhenti. Mundur selangkah.
Tapi tidak ada ruang.
Dinding dingin di belakangnya seolah menutup celah terakhir.
"Aku takkan kembali," desisnya.
Suaranya pecah. Napasnya tercekat.
"Tolong... biarkan aku..."
Noa belum sempat menyelesaikan kalimat. Sosok bertopeng dengan rambut dikuncir, melesat maju—tanpa suara, tanpa ragu.
Satu tendangan lurus menghantam sisi rusuk Noa, tepat di bawah jantung.
Napasnya langsung terhempas.
Lidahnya kaku, paru-parunya seperti mengempis.
Sebelum ia jatuh, sosok topeng dengan tubuh paling pendek menyapu lututnya dari samping.
Gerakannya presisi, memutus keseimbangan kaki Noa tanpa mematahkan tulangnya.
Noa terjatuh. Tubuhnya menghantam lantai.
Kepalanya membentur beton, bunyi benturan tengkorak dengan logam sempat terdengar.
Cahaya di penglihatannya berdenyut merah. Pelipisnya terbuka, darah merembes keluar dengan lambat, bukan luka dalam, tapi cukup untuk menumbangkan.
Salah satu dari mereka yang memberikan serangan terakhir di lututnya, menyisipkan bisikan ke telinga Noa—suara perempuan, tenang, nyaris lembut:
"Yang mencoba kabur, akan selalu kembali. Tapi raganya tidak akan kembali utuh."
Kemudian dunia Noa mulai menghitam perlahan.
Seperti tenggelam ke dalam lumpur yang tebal, lambat, dan tanpa dasar.
Mereka tahu batasannya.
Mereka terlatih senyap, efektif dan efisien.
...⛩️🏮⛩️...
...21:25...
Noa dibopong kembali ke kamarnya.
Mereka membiarkan ia membuka matanya sendiri di atas lantai. Tidak membersihkannya. Tidak juga mengobatinya.
Mereka meninggalkannya dalam kesunyian, hanya ditemani cermin yang sudah retak—yang kini tidak bisa memantulkan wajahnya secara utuh.
...⛩️🏮⛩️...
...21:26...
Kaito berdiri diam di depan ruangan tahanan setelah dua anggota Gokaishu mengantar tubuh Noa kembali. Sorot matanya berkerut.
Torao menghampirinya dari lorong kanan.
"Kau kecolongan, Kaito-san," gumam Torao ringan. "Itu... pertama kalinya, bukan?"
Kaito tidak menjawab.
"Hanya Nakamura yang bisa membuat si bayangan neraka lengah. Harus kita beri selamat padanya."
Torao menepuk bahu Kaito, lalu berlalu sambil bersiul rendah.
Pandangan Kaito tidak bergerak sedikit pun dari pintu sel Noa yang tertutup.
Satu helaan napas keluar dari hidungnya. Pelan. Tapi dalam.
"Gadis yang menarik."
Lalu ia berbalik, berjalan ke tempat Oyabun berada.
...—つづく—...
...*yuta: Dukun/ penyembuh dari kepulauan Okinawa....
disisi lain, noa bener² berjuang bertahan hidup bersama bibi yang memang sebenarnya ibu kandungnya. kondisi yang cukup memprihatinkan untuk mereka berdua yang sebatang kara
sungguh alur cerita ini membuat penasaran untuk terus membacanya
kuat banget udahan, pengambilan konfliknya juga menarik. Geisha, si penghibur yang dihargai di Jepang. pasti si Rin ini cantik banget sampai kayaknya jadi pusat. Btw kakak Author kamu risetnya jalur film apa pernah kesana, bisa buat setting yang jepang banget 👍