NovelToon NovelToon
Istri Pilihan Gus Azkar

Istri Pilihan Gus Azkar

Status: tamat
Genre:Romansa / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Muhammad Zaka Fauzian Azkar. Nama itu tak asing di telinga para santri Pondok Pesantren Al-Hikmah. Gus Azkar, begitu ia akrab disapa, adalah sosok yang disegani, bahkan ditakuti. Pribadinya dingin, irit bicara, dan dikenal sangat galak, baik oleh santri putra maupun putri. Tegas dan disiplin adalah ciri khasnya, tak ada yang berani membantah.

Namun, dinding es yang menyelimuti hati Gus Azkar perlahan retak saat seorang santriwati baru hadir di pondok. Rina, gadis pendiam yang sering menyendiri, menarik perhatiannya. Berbeda dari santri putri lainnya, Rina memiliki dunianya sendiri. Suaranya yang lembut, seperti anak kecil, kontras dengan tingginya yang mungil. Cadar yang menutupi wajahnya menambah misteri pada sosoknya.

Gus Azkar sering mendapati Rina tertidur saat pelajaran fiqih yang ia ampu. Setiap kali ditegur karena tidak mendengarkan penjelasannya, Rina hanya diam, kepalanya menunduk. Jawaban yang selalu sama keluar dari bibirnya yang tertutup cadar, "Maaf Ustadz, saya kan sant

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Perlindungan dan Rasa Bersalah

Langkah Rina limbung. Tangannya gemetar saat mencoba mengikat kembali tali cadarnya yang kotor terkena debu tanah. Air matanya mengalir deras, membasahi kain yang kini terasa kasar di wajahnya. Ia merasa harga dirinya telah diinjak-injak di depan umum. Di tengah isak tangis yang menyesakkan dada, sebuah suara lembut namun tegas terdengar di sampingnya.

​"Ayo, Rin. Nggak usah takut, ada saya di sini. Saya akan menemani kamu menyelesaikan ini," ujar Ustadz Zidan yang baru saja berlari mengejarnya.

Ustadz muda itu menatap Rina dengan pandangan yang sulit diartikan—ada rasa kasihan, namun juga ada binar kekaguman yang baru saja tumbuh setelah melihat paras asli gadis itu.

​Rina tidak menjawab. Ia hanya menunduk dalam, tangisnya masih terdengar sesenggukan di balik cadar. Dengan langkah gontai, ia berjalan mengikuti Gus Azkar yang berada di depan. Punggung Gus Azkar terlihat tegang, langkahnya lebar dan cepat, menandakan amarah yang sedang memuncak.

​Sesampainya di kantor pengasuh, suasana menjadi sangat mencekam. Gus Azkar duduk di kursi utamanya dengan wajah sedingin es. Di depannya, santriwati senior yang menuduh Rina tadi berdiri gemetar, tak berani mengangkat wajah.

Rina sendiri berdiri di pojok ruangan, masih dengan bahu yang naik turun karena sisa tangisnya, sementara Ustadz Zidan berdiri tak jauh dari Rina, seolah menjadi benteng pelindung bagi gadis itu.

​"Apa kamu sadar apa yang baru saja kamu lakukan?" suara Gus Azkar menggelegar, meskipun ia tidak berteriak. "Memfitnah seseorang di depan umum, memaksa membuka cadarnya... itu bukan akhlak santri Al-Hikmah!"

​"Ma... maaf, Gus. Saya benar-benar khilaf, saya kira dia orangnya..." santriwati itu mulai menangis ketakutan.

​"Khilaf tidak menghapus kesalahanmu! Kamu telah menjatuhkan kehormatan saudaramu sendiri," potong Gus Azkar tajam. Matanya sesekali melirik ke arah Rina yang masih menunduk. Ada rasa perih di hati Gus Azkar melihat cadar Rina yang kotor. "Sebagai hukumannya, kamu akan dijatuhi takzir berat. Kamu harus membersihkan seluruh area asrama putri selama satu bulan dan meminta maaf secara terbuka di depan seluruh santri besok pagi!"

​Santriwati senior itu hanya bisa mengangguk pasrah sambil terisak. Ia menyadari kesalahannya yang fatal. Setelah memberikan hukuman, Gus Azkar beralih menatap Rina. Tatapannya yang tadi tajam seketika melembut, meski suaranya tetap terdengar kaku.

​"Rina," panggil Gus Azkar pelan.

​Rina mendongak sedikit, matanya yang sembab menatap Gus Azkar dengan sayu.

​"Kamu tidak bersalah. Kamu tidak akan dihukum. Pulanglah, tenangkan dirimu. Besok, jika kamu masih merasa tidak nyaman, kamu boleh izin tidak masuk kelas saya," ucap Gus Azkar. Sebenarnya, ia ingin mengatakan lebih banyak lagi—ia ingin meminta maaf karena tidak bisa mencegah kejadian itu lebih cepat—namun lidahnya terasa kelu.

​Rina hanya mengangguk pelan, suaranya hampir hilang. "Terima kasih, Ustadz. Saya... saya permisi pulang."

​Saat Rina berbalik untuk keluar, Ustadz Zidan segera beranjak. "Saya antar sampai gerbang depan, Rin. Kondisi kamu sedang tidak stabil."

​Gus Azkar hanya bisa terdiam melihat Ustadz Zidan berjalan di samping Rina. Ada sedikit rasa tidak nyaman yang merayap di hatinya melihat perhatian yang diberikan Ustadz Zidan. Namun, ia sadar, posisinya sebagai putra kyai dan sifat dinginnya selama ini membuatnya sulit untuk menunjukkan perhatian secara terang-terangan seperti itu.

​Sepeninggal mereka, Gus Azkar menyandarkan punggungnya ke kursi. Bayangan wajah Rina tanpa cadar tadi kembali melintas. Kecantikan yang murni namun penuh luka. "Ya Allah... apa yang terjadi dengan hatiku?" bisiknya pelan, menyadari bahwa mulai detik ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!