Qiara adalah anak yatim piatu yang selalu dimanfaatkan oleh pamannya. Hidupnya begitu menderita. Bahkan dirinya juga disuruh bekerja menjadi pelayan tiga badboy kembar yang akhirnya menjamah dirinya. Hidupnya penuh penderitaan, sejak ke dua orang tuanya meninggal. Dia harus bekerja mencukupi kebutuhannya. Namun akhirnya, ketiga kembar kaya raya itu jatuh cinta pada Qiara. Bahkan saling berebut untuk mendapatkan cintanya? Siapakah dari pada kembar yang bisa bersama dengan Qiara? Apakah Nolan? Apakah Natan? Apakah Noah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13.
"Memangnya yang meninggal beneran Qiara? Astaga ... Qiara ..." ucap Natan di sertai dengan isak tangis lebay sesat setelah mendengar gumaman dari Nolan.
"Ya Tuhan, Qiara. Kenapa lo itu pergi secepat itu? Gue bener bener minta maaf. Karena tadi gue itu ninggalin lo di dalam bis," imbuh Noah tak kalah sedih.
"Qiara yang cantik dan juga bahenol. Gue mohon, lo tenang di sana ya. Gue bakal minta bokap gue buat ngasih tempat peristirahatan yang baik buat lo. Mengingat harga makam di kota Awan ini sangat mahal," ucap Natan dengan nada meninggi.
"Dan gue mohon. Kalau gue selama ini sering jahil sama lo, tolong jangan hantuin gue Qiara. Karena gue itu bener bener takut dengan yang namanya hantu," imbuh Natan dalam teriakan tangisnya. Sesekali dirinya juga terlihat menghirup ingusnya kembali.
Noah yang sebelumnya memasang wajah sedih, tiba tiba ekspresi wajah nya kembali berubah kesal. Saat melintas ekspresi di luar nalar yang di tunjukkan oleh Natan.
"Memangnya mayat tadi memang beneran Qiara Kak?" tanya Noah si bungsu pada kakak kembar pertamanya Nolan dengan nada berbisik.
"Kakak gak tahu," sahut Nolan cuek.
"Terus kenapa Kakak tadi mendoakan Qiara?" Noah benar benar di buat pusing dengan tingkah ke dua kakak kembarnya yang begitu aneh dan juga tidak jelas.
Nolan hanya menjawab ucapan adik kembar bungsunya itu dengan mengedikkan bahu, sebagai tanda kalau dia itu tidak tahu menahu.
Noah hanya bisa menepuk jidatnya sendiri.
"Gue itu di sini." Ucapan yang ntah datang dari mana.
Seketika ke dua bola mata ke tiga kembar membulat sempurna, bahkan ke tiga kembar itu saling melihat satu sama lain.
"Kok ... " Natan tidak mampu melanjutkan ucapannya, karena tiba tiba ia merasa jika kakinya itu lemas dan juga lunglai.
"Iya, itu seperti suara Qiara," sahut Nolan.
"Jangan jangan ... Itu jin qorin nya Qiara lagi," imbuh Noah, jika di bandingkan dengan ke dua kakak kembarnya.
Noah itu lebih mengerti agama.
"Njir, lo jangan takut-nakutin kenapa!" titah Natan sembari memeluk kakak nya Nolan dengan erat.
Dengan gerakan kasar, Nolan nampak menjauhkan tangan kekar Natan agar menjauh dari tubuh nya.
Lalu tangan Natan berpindah ke tubuh kembar bungsunya yaitu Noah. Namun, karena Noah itu paling kecil dan juga paling anti dengan olahraga. Tentu saja dan tidak akan mungkin dirinya itu bisa melawan apa yang dan lakukan oleh Natan.
"Astaga, lepasin tangan lo itu dari tubuh gue!" titah Noah dengan wajah kesal.
"Gak ... Soalnya gue itu takut," sahut Natan.
"Aw ... Aw ... Aw ... " teriak tiga kembar ketakutan dengan suara meninggi. Kala melihat Qiara yang berdiri di depan mereka dengan keadaan selamat, bahkan wajah dan tangan terlihat tidak lecet sama sekali.
Sebenarnya yang berteriak lebih dulu, Natan. Terus teriakan Natan di ikuti oleh Noah setelah Noah melihat Qiara. Kalau Nolan sendiri reflek berteriak karena mendengar ke dua adik kembarnya itu berteriak.
"Ampun hantu Qiara ... Tolong jangan ganggu atau pun balas dendam sama gue! Gue itu sangat takut sama hantu, dan kalau gue ada salah tolong di maafin." Natan berbicara sembari bersujud di kaki Qiara. Dengan wajah penuh penyesalan. Namun, rasa takut juga sedikit terpancar dari wajah tampan Natan.
"Kalau kaki Qiara menginjak tanah, itu tandanya memang dia itu manusia seperti kita," celetuk Noah yang mana langsung membuat Natan tersadar. Bahkan ke dua bola mata Natan sendiri langsung membulat sempurna.
Jika sebelumnya Natan memandang Qiara dengan tatapan takut. Sekarang tatapan nya berubah jengkel dan marah. Saat menatap Qiara, ia benar benar merasa seperti orang yang di bohongi.
Natan terlihat bangkit berdiri, lalu menatap Qiara dengan tatapan sengit dari atas ke bawah.
"Dasar otak udang. Lo mau takut nakutin gue!" bentak Natan dengan wajah merah padam.
"Astaga Kak Natan ... Kakak itu apa apaan sih! Qiara gak takut nakutin," seru Noah sembari menarik tubuh kakak nya yang terlihat ingin membuat perhitungan dengan Qiara.
"Dia yang mulai duluan!" Natan nampak bersikeras ingin membuat perhitungan dengan Qiara.
"Lah, bukanya Kakak sendiri yang ketakutan." Noah benar benar di buat pusing tujuh keliling dengan tingkah salah satu kakak kembarnya yang konyol.
Sementara Qiara sendiri yang baru sadar, nampak melongo kala melihat Natan yang berubah marah marah padanya.
"Sebelumnya sujud sujud gak jelas, sekarang tiba tiba berubah marah," gumam Qiara dalam hatinya.
Tadi, Qiara dibawa ke rumah sakit karena masih tidak sadarkan diri akibat syok menghadapi kecelakaan yang menimpanya. Selain itu, dia juga memiliki trauma yang mendalam terkait kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orangtuanya. Sembari berada dalam keadaan tak sadar itu, suara Natan terdengar keras di kamar kelas 3 tersebut, seakan-akan mengganggu pasien lain yang juga sedang dirawat di sana.
"Kenapa ini harus terjadi padaku?" gumam Qiara dalam hati.
"Apa yang sudah kulakukan sehingga harus mengalami hal seperti ini? Bukankah cukup sudah trauma yang ku alami saat kehilangan orangtua?"
Sementara itu, Nolan merasa bahwa suara Natan mungkin mengganggu pasien lain di ruang tersebut. Dengan bijaksana, dia meminta kedua adik kembarnya itu untuk keluar sejenak dari ruangan dan pergi ke kantin rumah sakit demi menenangkan diri. "Kalian harus bisa mengontrol diri," ucap Nolan lembut.
"Mendingan kalian berdua nenangin diri dulu di luar. Biar gue aja yang menjaga Qiara," imbuhnya.
***
*
*
Sudah lebih dari 20 menit, Qiara duduk di atas brangkar di temani oleh Nolan. Namun, hanya keheningan yang menyelimuti ke dua nya.
Inilah alasan walaupun Qiara belum sadarkan diri. Namun, ia sudah di ruang inap tanpa pengawasan.
"Qiara ... " panggil Nolan.
Qiara lantas menoleh, karena Nolan membuyarkan lamunannya sekarang ini.
"Gu ... Gue ingin meminta maaf sama lo!" titah Nolan dengan nada kaku.
"Minta maaf, apa maksud nya?" gumam Qiara dalam hatinya.
"Apakah dia itu memiliki salah?" Beberapa pertanyaan agaknya mengumpul di dalam hati Qiara.
Karena seingat Qiara, yang mempunyai banyak salah padanya itu Natan. Bahkan pagi tadi orang yang meninggalkan dirinya di bis adalah Noah.
Melihat tatapan penuh tanda tanya Qiara.
Nolan bingung bahkan menyipitkan matanya. Lalu ia nampak menghembuskan nafasnya itu dengan kasar.
"Qiara, gue benar-benar minta maaf atas apa yang terjadi semalam. Gue sada, kalau gue itu telah merebut sesuatu yang berharga dari diri lo, sesuatu yang seharusnya lo jaga hingga saat yang tepat nanti," ungkap Nolan dengan serius, membuat Qiara menatapnya dengan tatapan tajam.
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, lambat laun jatuh mengalir di pipinya. "Maafin gue, Qiara. Gue janji akan bertanggung jawab jika lo sampai hamil," tawar Nolan dengan hati-hati.