Di usia delapan belas tahun, saat gadis-gadis seusianya sibuk mengejar mimpi dan bangku perkuliahan, Gisella Amanda memilih jalan yang tak lazim: menjadi istri Arlan Bramantyo sekaligus ibu tiri bagi Keira Zivanna.
Baginya, Arlan bukan sekadar suami, melainkan pelindung dan tempatnya pulang. Namun, angan-angan tentang rumah tangga yang hangat perlahan luruh. Gisel justru terjebak dalam perang dingin melawan bayang-bayang masa lalu dan tumpukan kesalahpahaman yang tak kunjung usai.
Tanpa pamit, Gisel melangkah pergi membawa luka yang menganga. Ia mengubur identitas gadis ceria yang dulu dicintai Arlan, lalu membangun dinding kokoh di hatinya.
Kini, mampukah Arlan mengejar jejak yang sengaja dihilangkan? Dan ketika maaf terucap, apakah ia masih sanggup meruntuhkan dinding yang telah Gisel bangun dengan rasa kecewa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Langkah Awal
Kegelapan masih menyelimuti Kota Fauna ketika Arlan berdiri di balkon kamarnya, membiarkan angin dingin menyapu wajahnya yang tampak lelah. Di tangannya, sebuah ponsel masih tersambung dengan seseorang di seberang sana.
"Lan, ini jam berapa? Kenapa menghubungiku pagi-pagi buta? Apa bank milikmu itu baru saja dirampok?" tanya Rey di ujung telepon dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
Arlan tidak menanggapi gurauan itu. Tatapannya lurus ke depan, ke arah pagar tinggi yang kini terasa tidak cukup kuat untuk melindungi penghuninya.
"Bagaimana urusan yang aku minta, Rey? Semuanya?"
Mendengar nada bicara Arlan yang dingin, kantuk Rey lenyap seketika.
"Sudah beres. Berkas notaris dan surat nikah sudah siap di mejaku. Tinggal menunggu tanda tangan kalian berdua besok pagi." Jeda sejenak.
"Lan, katakan padaku sejujurnya... apa kamu dipaksa?"
Pertanyaan itu membuat Arlan terdiam. Rey adalah sahabatnya sejak kuliah, dan ia tahu betul betapa penasaran pria itu saat Arlan memintanya mengurus legalitas pernikahan dengan seorang gadis belia yang beralamatkan di Jalan Bunga, sebuah kawasan yang bagi orang-orang kelas atas seperti mereka, lebih baik dihindari.
"Tidak. Ini kemauanku," jawab Arlan pendek.
"Kemarin kamu mengatakan tidak mencari istri di sana. Sekarang kamu tiba-tiba menikahinya. Apa kamu terkena jebakan, Lan? Apa ini skema pemerasan?"
Jawabannya adalah iya. Arlan tahu ia terjebak oleh obat dan ambisi Om Arman. Namun, Arlan hanya menyimpan kejujuran itu dalam hatinya. Ia sudah berjanji pada Gisel untuk saling belajar, dan ia tak ingin membebani hubungan yang rapuh ini dengan label 'korban jebakan'.
"Rey, aku ingin belajar bela diri. Mulai besok malam," ujar Arlan mengubah topik secara paksa.
"Menikah tiba-tiba, lalu sekarang belajar bela diri? Kamu tidak seperti Arlan yang aku kenal. Kamu benci kekerasan, Lan."
"Dulu aku memang tidak membutuhkannya," bisik Arlan, matanya melirik ke dalam kamar di mana Gisel dan Keira terlelap.
"Tapi sekarang aku membutuhkannya. Aku harus punya cara untuk melindunginya jika hukum saja tidak cukup."
Rey segera menangkap urgensi dalam suara sahabatnya. Ia setuju. Namun, rasa penasarannya belum tuntas.
"Satu hal lagi, Lan. Kenapa tadi kamu bertanya soal Aldi Sanjaya?"
"Hanya ingin tahu seberapa besar pengaruhnya," kilah Arlan.
"Saranku, menjauhlah dari siapa pun yang bernama Sanjaya. Mereka bukan orang yang bisa diajak bernegosiasi. Separuh kota ini berada di bawah bayang-bayang mereka. Mereka adalah predator yang tidak mengenal kata 'cukup'."
"Sayangnya, aku sudah berurusan dengan mereka secara tidak langsung," gumam Arlan hampir tak terdengar.
Ia menutup telepon setelah menyuruh Rey kembali tidur, meninggalkan sahabatnya itu dalam kebingungan.
Keesokan harinya, alarm alami di tubuh Gisel berbunyi tepat saat cahaya fajar menyentuh tirai kamar. Selama bertahun-tahun hidup di bawah aturan ketat Om Arman, Gisel tak pernah diizinkan bangun terlambat. Ia mencoba meregangkan tubuhnya yang masih terasa sedikit pegal, namun ia merasakan sebuah beban hangat melingkari pinggangnya.
Gisel menahan napas. Saat penglihatannya menajam, ia menemukan lengan kekar Arlan melingkar protektif di tubuhnya. Posisinya saat ini berada di tengah, diapit oleh Arlan di sisi kiri dan Keira yang mendengkur halus di sisi kanan.
Ingatannya melayang pada teror pesan singkat semalam. Ia ingat Arlan memeluknya untuk menenangkannya, namun ia tak menyangka pria itu akan tetap memeluknya hingga mereka terlelap. Ada rasa canggung yang menjalar, namun anehnya, di balik ketakutan pada Sanjaya, pelukan ini memberikan rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Gisel bergerak perlahan, melepaskan tangan Arlan selembut mungkin agar tidak membangunkan pria itu. Setelah mandi seadanya dan mengganti pakaian, ia melangkah ke dapur. Ia ingin melakukan sesuatu untuk menunjukkan bahwa ia bukan sekadar "beban" di rumah ini.
Namun, ia justru termangu di depan kulkas yang kosong melompong. Saat ia memeriksa deretan kabinet dapur, matanya menangkap puluhan catatan kecil yang tertempel di sana. Catatan itu berisi instruksi mendetail: menu makanan harian, takaran camilan Keira, hingga bahan-bahan diet rendah fenol yang harus dipatuhi.
“Kebanyakan makanan ini... aku tidak menyukainya,” gumam Gisel sambil membaca satu per satu instruksi tersebut.
Gisel mengira jika yang melakukan semua ini adalah mendiang ibu Keira. Sepertinya rumah ini masih dijalankan dengan bayang-bayang aturan masa lalu. Pikir Gisel yang salah paham.
“Apakah Om Arlan juga dipaksa makan menu diet ini setiap hari?” batin Gisel.
Di dalam kamar, Arlan tersentak bangun. Tangan kirinya meraba sisi tempat tidur, hanya ada Keira di sana. Rasa panik seketika menyerangnya. Ketakutan bahwa Sanjaya telah masuk dan menculik Gisel membuatnya melompat dari ranjang tanpa sempat memakai alas kaki.
Ia menyisir seluruh sudut kamar hingga kamar mandi, namun Gisel tidak ada. Dengan jantung berdegup kencang, ia berlari keluar. Langkahnya baru melambat saat ia melihat sosok Gisel berdiri di dapur, sedang asyik membaca catatan-catatan di dekat kulkas.
"Gisel..." panggil Arlan dengan suara parau, berusaha menetralkan napasnya yang memburu.
Gisel menoleh, sedikit terkejut melihat Arlan yang tampak berantakan.
"Oh, Om sudah bangun?"
"Kamu... kamu tidak apa-apa? Kenapa bangun sepagi ini?" tanya Arlan, mendekat untuk memastikan Gisel benar-benar ada di depannya.
"Aku hanya lapar, Om. Aku ingin membuat sarapan untuk kita dan Keira, tapi kulkasnya kosong. Yang ada hanya catatan-catatan ini," jawab Gisel sambil menunjuk kertas-kertas kuning yang tertempel.
Arlan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa sedikit malu.
"Maafkan aku. Sejak Keira ikut Ibu, aku jarang berbelanja bahan segar. Aku biasanya hanya memesan makanan melalui aplikasi."
"Apa Om benar-benar suka makan ini setiap hari?" tanya Gisel polos.
“Itu khusus untuk Keira. Aku hanya sesekali ikut memakannya. Baiklah, aku akan pergi sebentar ke minimarket 24 jam di depan kompleks untuk membeli bahan sarapan. Apa ada yang kamu inginkan?"
"Terserah Om saja. Apa pun asal bukan makanan diet yang tertulis di sini," jawab Gisel dengan senyum tipis yang pertama kalinya terlihat tulus.
Arlan meraih kunci mobilnya. Namun, tepat saat ia hendak membuka pintu utama, suara Gisel kembali terdengar.
"Om..."
Arlan menoleh. Gisel berdiri di ambang pintu dapur, menatapnya dengan binar mata yang campur aduk antara cemas dan peduli.
"Hati-hati di jalan..." kata Gisel lirih.
Hanya dua kata sederhana, namun bagi Arlan, itu terasa lebih bermakna daripada ribuan dokumen transaksi di banknya. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya, sebuah motivasi baru yang memperkuat tekadnya. Ia mengangguk mantap.
"Aku akan kembali dalam lima belas menit. Kunci pintunya dari dalam, Gisel. Jangan buka untuk siapa pun kecuali kamu mendengar suaraku," pesan Arlan serius.
Saat mesin mobil menderu pergi, Gisel kembali ke dapur, membersihkan kulkas sebelum di isi bahan makanan.
Di sisi lain, Arlan mencengkeram kemudi dengan erat. Pesan dari Sanjaya semalam adalah peringatan perang, dan permintaan bela diri pada Rey adalah langkah awalnya. Ia tidak akan membiarkan mawar ini layu di tangannya. Apapun harganya, Arlan akan menjadi perisai yang tak tertembus.
maaf kak,
kayaknya bab nya terbalik ya🙏🙏