NovelToon NovelToon
Terms And Conditions

Terms And Conditions

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Obsesi / Bad Boy / Antagonis / Enemy to Lovers / Playboy
Popularitas:141
Nilai: 5
Nama Author: Muse_Cha

Dua ego yang bersinggungan. Dua imperium yang beradu. Satu perasaan yang dilarang.

Every adalah sang penguasa kampus, River adalah sang pemberontak yang ingin menggulingkannya. Mereka menyebutnya rivalitas, dunia menyebutnya kebencian.

"...semua yang terjadi di gubuk ini, jangan pernah lo anggap sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar cara lo membayar utang.."

River hanya menyeringai, "... gue tetap orang yang tahu persis gimana rasanya lo gemetar ketakutan di pelukan gue semalam."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Intensitas yang Berbahaya

Hari pertama River menjabat sebagai Kepala Keamanan dan Disiplin BEM dimulai dengan sebuah ledakan ego. Bukannya duduk manis di kursi yang disediakan, River justru memindahkan meja kerjanya—sebuah meja kayu tua yang penuh bekas goresan—tepat di depan pintu kayu jati kantor Every.

Setiap orang yang ingin menemui sang "Ketua BEM" harus melewati River terlebih dahulu.

Every keluar dari kantornya dengan setumpuk berkas, namun langkahnya terhenti saat ia nyaris menabrak dada bidang River yang sedang duduk santai sambil membersihkan sebuah rantai motor kecil di atas meja. Aroma oli dan maskulin yang kuat langsung mencemari udara kantor Every yang biasanya berbau parfum lily mahal.

"River! Apa-apaan meja ini? Pindahkan ke lantai bawah!" Every berteriak, suaranya melengking tajam, memicu perhatian anggota BEM lain yang mulai berbisik.

River tidak bergeming. Ia mendongak, menatap Every dengan mata yang tenang namun mengintimidasi. "Gue Kepala Keamanan, Eve. Tugas gue adalah memastikan pintu ini nggak dilewati oleh orang-orang yang pengen nyakar wajah sombong lo. Gue nggak bisa lakuin itu kalau gue duduk di lantai bawah sambil makan donat."

"Ini kantor formal, bukan bengkel kumuh lo!" Every menggebrak meja River. "Arogansi lo ini benar-benar tidak tertolong."

"Arogansi gue?" River berdiri, membuat Every terpaksa mendongak karena perbedaan tinggi mereka. "Lo yang nggak sadar, Eve. Lo itu ibarat boneka porselen di atas rak tinggi. Lo ngerasa aman karena nggak ada yang bisa nyentuh lo, tapi lo lupa kalau sekali jatuh, lo bakal hancur jadi kepingan yang nggak bisa disatukan. Gue di sini buat pastiin lo nggak jatuh."

"Gue nggak butuh pahlawan bertato kayak lo!"

"Lo nggak butuh pahlawan, lo butuh pawang," bisik River, mencondongkan wajahnya hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. "Karena mulut pedas lo itu butuh seseorang yang berani ngebungkamnya."

Ketegangan berlanjut di kantin pusat. Every sedang duduk sendirian—karena tidak ada yang cukup "level" untuk duduk bersamanya—saat River datang dan tanpa izin meletakkan nampan makanannya di depan Every.

"Siapa yang izinin lo duduk di sini?" Every bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari tabletnya.

"Gue nggak butuh izin buat duduk di tempat umum. Lagi pula, sekelompok mahasiswa di meja belakang itu sudah pegang telur busuk buat dilempar ke kepala lo. Gue di sini biar mereka mikir dua kali," River menyuap nasi dengan santai.

Every melirik ke arah yang ditunjuk River. Benar saja, beberapa mahasiswa dari faksi anti-Every tampak kasak-kusuk namun urung bertindak karena melihat River.

"Lo pikir dengan duduk di sini, gue bakal berterima kasih?" Every mencibir. "Kebijakan gue soal pengetatan anggaran UKM itu benar. Mereka hanya tidak punya otak untuk memahaminya."

River meletakkan sendoknya, wajahnya berubah serius. "Itu masalah lo, Eve. Lo pintar, tapi lo nggak punya empati. Lo anggap mereka angka, sementara bagi mereka, seratus ribu itu harga buat makan seminggu. Mulut pedas lo itu cuma topeng buat nutupi fakta kalau lo nggak pernah ngerasain hidup susah."

"Jangan sok tahu soal hidup gue, River Armani!" Every menutup tabletnya dengan keras. "Lo cuma anak orang kaya yang cari perhatian dengan jadi pemberontak. Lo nggak tahu rasanya harus selalu jadi yang nomor satu demi menjaga nama baik keluarga!"

"Gue tahu rasanya harus jadi nomor satu," River membalas dengan nada yang mendadak dingin dan dalam. "Tapi gue nggak perlu menginjak orang lain buat sampai di sana. Itu bedanya gue sama lo. Lo itu kesepian, Every. Di puncak rak porselen itu, lo sendirian. Dan lo takut kalau suatu saat lo turun, nggak ada tangan yang bakal nangkep lo."

Sore harinya, hujan deras mengguyur kampus. Listrik di gedung BEM tiba-tiba padam karena tersambar petir. Every masih di dalam kantornya, terjebak dalam kegelapan. Ia mencoba meraba jalan keluar, namun ia menabrak seseorang di depan pintu.

Sebuah tangan yang kuat dan hangat menangkap pinggangnya. Every tersentak, mencium aroma yang sangat ia kenal.

"Lepasin gue, River," Every berdesis, namun ia tidak benar-benar meronta.

"Gue bilang jangan jalan sembarangan kalau gelap, lo bisa jatuh," suara River terdengar tepat di atas kepalanya.

River menyalakan senter ponselnya. Cahaya redup itu menciptakan bayangan yang dramatis di antara mereka. River tidak melepaskan pinggang Every, justru menariknya sedikit lebih dekat hingga Every bisa merasakan detak jantung River yang stabil melalui kemeja tipisnya.

"Kenapa lo selalu pengen menang dari gue, Eve?" tanya River pelan.

"Karena kalau gue kalah, gue nggak punya apa-apa lagi," Every menjawab dengan jujur yang langka, suaranya sedikit bergetar.

River menatap bibir Every yang sedikit terbuka, lalu beralih ke matanya yang tampak rapuh dalam kegelapan. Ada kebencian yang nyata di antara mereka, namun ada tarikan gravitasi yang jauh lebih kuat.

"Gue benci mulut pedas lo," bisik River. "Tapi gue lebih benci lagi karena gue nggak bisa berhenti mikirin gimana caranya bikin lo diam."

Tepat saat River mencondongkan wajahnya, pintu utama gedung terbuka dan suara langkah kaki mendekat. Axel Emmerson masuk dengan payung di tangan, mencari Every.

"Every? Lo di dalam?" teriakan Axel memecah momen itu.

Every segera mendorong dada River, merapikan bajunya dalam kegelapan dengan napas yang memburu. "Gue di sini, Axel!"

River menyeringai di kegelapan, menyandarkan tubuhnya kembali ke mejanya yang penuh oli. "Lo aman buat sekarang, Tuan Putri. Tapi ingat... penjaga lo punya batas kesabaran."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!