NovelToon NovelToon
Kelas Paus

Kelas Paus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:23.1k
Nilai: 5
Nama Author: Chika cha

Cover by me.

Saat SMP Reani Sarasvati Ayuna pernah diam-diam jatuh pada Kadewa Pandugara Wisesa, sahabat kakaknya—Pramodya yang di ketahui playboy. Tapi bagi Kadewa, Rea cuma adik dari temannya, bocah kecil yang imut dan menggemaskan.

Patah hati saat Kadewa masuk AAL sambil menjalin cinta pada gadis lain dan kali ini cukup serius. Rea melarikan diri ke Jakarta, untuk melanjutkan kuliah dan setelahnya menetap dan berkarir disana sebagai encounter KAI, berharap bisa menjauhkan dirinya dari laut dan dari...

Kadewa..

Tujuh tahun berlalu, takdir menyeretnya kembali. Kadewa datang sebagai Kapten TNI AL yang lebih dewasa, lebih mempesona, dan lebih berbahaya bagi hatinya.

Rea ingin membuktikan bahwa ia sudah dewasa dan telah melupakan segalanya. Namun Kadewa si Paus yang tak pernah terdeteksi dengan mudah menemukan kembali perasaan yang telah ia tenggelamkan.

Mampukah cinta yang terkubur tujuh tahun itu muncul kembali ke permukaan, atau tetap menjadi rahasia di dasar samudra?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chika cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Plankton di Mulut Paus 1

Kini, menjelang akhir semester ganjil, hidup Rea sudah berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa ia definisikan.

Ia tidak lagi hidup seperti biasanya.

Ia hidup sebagai seseorang yang menyimpan rahasia di dadanya.

Rahasia itu bernama...

Kadewa.

Sejak hari ketika parfumnya diejek Kadewa sebagai wangi yang “mirip ibu-ibu”, Rea tak pernah lagi menyentuh botol parfum milik Umma. Botol itu tetap ada di tempatnya, tapi tidak lagi ia lirik dengan rasa bangga seperti sebelumnya.

Sebagai gantinya, Rea merengek minta dibelikan parfum sendiri.

Parfum yang manis.

Parfum yang ringan.

Parfum yang menurutnya cocok untuk anak seusianya.

Bukan karena ingin terlihat dewasa.

Tapi karena ia tidak ingin diejek lagi.

Tidak ingin lagi mendengar kata ibu-ibu keluar dari mulut orang yang diam-diam ia sukai.

Dan begitulah, tanpa ia sadari, perasaan kecil itu mulai mengubah hal-hal sederhana dalam hidupnya... mulai dari aroma yang ia pilih, hingga rahasia yang kini ia simpan rapat-rapat di dadanya.

Karena jika itu terjadi sekali lagi, Rea yakin wajahnya akan benar-benar mengajukan surat pengunduran diri.

Namun, meski begitu, rasa suka itu tidak menghilang.

Tidak mengecil.

Justru tumbuh diam-diam, seperti lumut yang menempel erat di batu.

Tenang.

Tak mencolok.

Tapi menetap.

Dan Rea menjaga perasaan itu dengan seluruh hidup kecilnya.

Tidak ada yang tahu.

Tidak kakaknya.

Tidak kedua orang tuanya.

Apalagi Kadewa.

Mereka semua menjalani hari-hari seperti biasa, tanpa pernah menyadari bahwa seorang bocah yang baru beranjak remaja, yang selama ini terlihat biasa saja, sedang jatuh cinta setengah mati pada teman kakaknya sendiri.

___________

Hari itu, suasana rumahnya sepi. Umma dan Baba masih belum pulang kerja.

Dan Pram yang entah kenapa hari ini sok rajin sedang belajar kelompok di ruang tengah bersama Joshua dan Kadewa.

Rea baru saja bangun dari tidur siangnya. Rambutnya masih berantakan, ujung-ujungnya mencuat ke segala arah, dan kaos rumahannya tampak kusut, bekas terlipat dan tertindih tubuh kecilnya selama tidur.

Matanya masih setengah terpejam ketika ia melangkah keluar kamar, belum sepenuhnya sadar bahwa di ruang tengah rumahnya… ada alasan baru kenapa jantungnya akan kembali berulah.

Rea turun dari tangga dengan langkah pelan, menyeret kaki seperti orang yang belum sepenuhnya kembali ke dunia nyata. Tangannya mengusap wajah, mencoba mengusir sisa kantuk yang masih menggantung di kepala.

Begitu kakinya menginjak lantai bawah, barulah ia mendengar suara penghuni-penghuni lain di rumah itu.

Terlambat.

Ujung tangga itu tepat menghadap ruang tengah.

Dan di sanalah Pram, Joshua, dan tentu saja Kadewa berada.

Tawa yang tadi pecah mendadak berhenti, seolah seseorang menekan tombol pause. Ketiganya menoleh hampir bersamaan.

Rea membeku sepersekian detik.

Rambutnya masih berantakan. Kaos rumahnya kusut. Dan ekspresinya jelas menunjukkan, baru bangun tidur.

Rea menelan ludah.

Sempat terlintas di kepalanya untuk langsung berbalik arah, naik lagi ke kamar, pura-pura lupa tujuan awalnya. Pura-pura salah jalan. Pura-pura nggak terjadi apa-apa.

Tapi itu mustahil.

Ia sudah terlanjur terciduk.

Tiga pasang mata sudah melihatnya dengan jelas, bahkan terlalu jelas. Mundur sekarang justru akan terlihat lebih memalukan.

Joshua adalah orang pertama yang bereaksi. Matanya membesar sedikit, lalu senyum jahil khasnya langsung muncul.

“Loh?” katanya sambil menyenggol lengan Pram. “Itu makhluk apa, Pram? Kok keluar dari sarang sore-sore?”

Rea ingin menghilang.

Pram melirik adiknya dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu mendengus kecil, senyum usilnya muncul tanpa ampun. "Ya ampun, Re. Tadi tidur mimpiin apa, sih? Jadi artis film horor terus syuting film kuntilanak gitu? Rambut mu kayak abis disambar petir, Dek.”

Joshua langsung ngakak. “Asli, ku kira hantu penghuni rumahmu ini loh, Pram.”

Mulut cina Jawa bibir minta di kuncir ini benar-benar, ya!!

“Ko Jojo!” Rea memprotes lirih, wajahnya langsung panas.

Kadewa tidak tertawa sekeras itu, tapi sudut bibirnya jelas terangkat, matanya mengamati Rea dengan ekspresi geli yang bikin jantung bocah itu makin tak karuan.

Hais, tahu gitu tadi Rea milih balik lagi naik aja deh ketimbang di roasting kombo maut Pram—Joshua.

Dan Pram tentu belum selesai sampai di situ saja. Ini adalah kesempatannya untuk meledek adik satu-satunya habis-habisan.

“Ya Allah, Re. Kamu tau nggak sih,” lanjutnya, bersandar santai di sofa, “kalau ada tamu tuh minimal cuci muka kek. Ini bukan jam bangunin sahur.”

Joshua menepuk lututnya sambil tertawa. “Fix, ini Rea versi belum loading.”

Rea menunduk cepat, pipinya memerah sampai ke telinga. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia mempercepat langkah menuju dapur, berharap lantai rumah itu bisa menelannya hidup-hidup.

Di belakangnya, tawa Joshua masih terdengar, disusul suara Pram yang puas.

Dan di antara semua itu, Rea bisa merasakan satu pasang mata yang masih mengikutinya pergi, tenang, diam, dan entah kenapa terasa paling memalukan dari semuanya.

Di dapur, Rea membuka kulkas dan berdiri terlalu lama di sana. Tangannya meraih botol air dingin. Pantulan samar di pintu kulkas memperlihatkan wajahnya sendiri dengan rambut masih berantakan, kaos rumah kusut, wajahnya yang...

Astaga…

Rea meringis.

Pantas saja Pram dan Joshua tadi meledeknya habis-habisan.

Kalau ia jadi orang lain dan melihat pemandangan seperti itu, mungkin ia juga akan tertawa.

Dengan dengusan kecil, Rea menutup kulkas, menuang air ke gelas, lalu meneguknya perlahan, berharap air dingin itu bisa sedikit menenggelamkan rasa malu yang masih menghangat di pipinya.

Baru akan meneguk air untuk yang kedua kalinya. Ia mendengar pembicaraan ketiganya.

Rea tidak berniat menguping.

Sumpah tidak.

Tapi kalimat yang keluar dari mulut Joshua setelah tawa mereka reda membuat tubuh Rea mendadak kaku, seolah kedua kakinya menancap ke lantai seperti akar pohon.

“Eh, Wa… yang kamu nembak anak kelas sebelas kemarin itu… kamu serius nggak sih?” kata Joshua santai, nadanya khas, setengah bercanda. “Kok gosipnya udah putus aja? Baru dua minggu jadian, lho!”

Gelas di tangan Rea terhenti di udara.

Airnya hampir menyentuh bibir, tapi tak jadi.

Detak jantungnya yang tadi sudah tenang, kembali berpacu tanpa aba-aba.

Rea tetap berdiri di tempatnya.

Diam.

Bahkan bernapas pun terasa aneh, seperti lupa caranya.

“He’em. Bosan,” jawab Kadewa ringan.

Kata itu pendek.

Tapi rasanya seperti menjatuhkan sesuatu di dada Rea.

Pram langsung melempar bantal sofa ke arah Kadewa. “Gila kamu, Wa! Yang anak IPA kemarin aja baru seminggu jadian udah kamu tinggalin.”

Kadewa cuma terkekeh kecil, sama sekali nggak kelihatan merasa salah.

Di dapur, Rea menunduk pelan.

Ia nggak langsung sedih. Nggak langsung pengin nangis. Perasaannya cuma… bingung, terasa hampa. Seperti baru sadar sesuatu yang seharusnya dari dulu sudah ia tahu.

Oh.

Jadi yang Mas Pram bilang dulu itu bukan ngibul.

Bukan bercanda.

Bukan cuma buat menjahili dia.

Rea menggenggam gelasnya lebih erat, lalu meletakkannya pelan di meja dapur. Air di dalamnya bergetar sedikit, seperti hatinya yang ikut goyah.

Belum sempat ia benar-benar mencerna kenyataan itu, telinganya kembali menangkap potongan percakapan dari ruang tengah. Dan entah kenapa, kali ini rasanya lebih menusuk.

“Kamu ya, Wa,” lanjut Joshua sambil menggeleng-geleng tak percaya, nada suaranya tetap bercanda tapi jujur. “Hobimu bener-bener ngerusak mental cewek-cewek di sekolah. Paling lama pacaran kamu berapa sih? Tiga minggu?”

Rea menahan napas.

Ada jeda singkat.

Lalu suara Kadewa terdengar lagi, santai, tanpa beban, seperti sedang membicarakan hal sepele.

“Empat minggu,” jawabnya ringan. “Waktu itu sama anak cheerleader. Sama Nadin yang paling lama sih… hampir setahun sampai sekarang.”

Setelah itu, tawa Kadewa mengudara.

Bukan tawa canggung.

Bukan tawa menyesal.

Tawa yang terlalu santai untuk seseorang yang baru saja membuka riwayat percintaannya sendiri di depan teman-temannya.

Rea menunduk, dadanya terasa aneh. Entah kenapa, sekilas rasa kagum dan sakit itu bercampur jadi satu.

Ternyata, cinta pertamanya, yang baru tumbuh, yang masih polos dan diam-diam jatuh pada seseorang seperti Kadewa.

Seorang playboy yang kelihatannya baik.

Atau… mungkin memang kebanyakan playboy itu modelannya seperti Kadewa?

Ramah.

Manis.

Bikin orang merasa spesial, padahal sebenarnya tidak pernah benar-benar jadi siapa-siapa.

Dan tak lama kemudian, suara umpatan Pram meledak dari ruang tengah.

“Ndasmu empat minggu!” serunya kesal. “Empat hari, iya! Dasar orang sedeng!”

Joshua langsung ngakak keras, sampai badannya nyandar ke sandaran sofa, sementara Kadewa cuma nyengir santai, sama sekali tidak merasa bersalah.

Bagi mereka, itu cuma bahan bercandaan.

Tapi bagi Rea…

itu seperti titik kecil yang pelan-pelan menegaskan sesuatu di dalam hatinya.

Setelah puas ngakak, Joshua kembali menimpali, masih dengan nada bercanda tapi menusuk.

“Kadang aku kasihan sama cewek-cewek yang jadi korbanmu, Wa. Sumpah,” katanya sambil menggeleng. “Kamu tuh manis di awal, terus pas mereka udah keburu baper, kamu ngilang. Kayak tuyul.”

Pram ikut mengangguk-angguk, sok bijak. “Dasar tukang ghosting. Hati-hati, Wa. Karma itu muter. Nanti pas giliran kamu jatuh cinta beneran, kamu yang ditinggalin.”

Kadewa hanya mengangkat bahu, santai, seolah semua itu bukan masalah besar. Tidak ada rasa bersalah sedikit pun di wajahnya.

“Lha, wong mereka juga enjoy-enjoy aja. Pacaran kan cuma buat have fun.”katanya ringan.

Kalimat terakhir itu seperti tamparan untuk Rea.

1
Esti 523
bha ha ha ha ya ampun aq baca sambil guling2 ngakak bgt
Ghiffari Zaka
kok aq senyum2 sendiri ya bacanya??🤭🤭🤭 laaaah AQ jadi baper malahan,duh mas paus gombalnya buat AQ ikut cengar cengir padahal siapa. yg di gombali 🤭🤭🤭.
ah pokoknya author is the best lah👍👍👍👍🥰🥰🥰🥰🥰
mey
makasih thor untuk upnya🥰🥰 I❤️U sekebon mawar🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Yani Sri
kopi untukmu kakak....
Lili Susanti
nyambung banget syg.....senyum2 sendiri dr awal sampai akhir baca nya ....yg rajin update ya..ku ksh gift nuch 😍
Niken Dwi Handayani
masih nyambung kok ...ini malahan lagi masa pdkt mas Paus 🤭🤭. Belum masuk yang tegang-tegang nich cerita nya
syora
cukup fokus ke si paus sm plakton
another story keep in save folder🤭
semangat thor gas pol
buat tmn mnyambut ramadhan
syora
nyambung
jgn coba" mlarikan diri xa 🤣
mey
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Esti 523
aq vote 1 ya ka syemangaddd
Esti 523
bagus bgt ceritanya,gak typo2
Esti 523
sekian purnama baru ketemu lg dgn novel yg reel bgt,gak typo2 good luc otor,syemangst
Chika cha: ada typo juga kak, tapi sebelum upload di cek dulu baru upload itu pun masih ada satu dua yang gak keliatan🤭
total 1 replies
falea sezi
jangan murahan re di gombalin gt aja km. uda basah yo heran deh jual. mahal donk di sakitin berkali kali. kok ttep oon meski dia g tau perasaan mu tp. dia penjahat kelamin
falea sezi
murahan
falea sezi
ini cerita nya emank bertele tele kah dr SMP dih lama amat thor
falea sezi
layu sebelum berkembang ya rea hiksss
falea sezi
sabar rea moga nanti ada cogan yg baik setia ya.. lupain cinta pertama yg jatuh pd orang yg salah
falea sezi
kok lucu gmbarnya
Nia nurhayati
dasar paus raja goombll kmu kadewaa
Ghiffari Zaka
di bab ini AQ benar2 gak bs kan men Thor,gak bs ngomong apa2 lagi,blenk AQ Thor karena fokus dan menghayati kata demi kata yg author tulis sehingga AQ merasa kayak bukan baca tp melihat suatu adegan di depan mata,sepertinya AQ ada di dlm situ buat nonton live,pokoknya cuman bisa bilang LUAR BIASA 👍👍👍👍👍🥰🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!