NovelToon NovelToon
Serpihan Yang Patah

Serpihan Yang Patah

Status: tamat
Genre:Pernikahan Kilat / Balas Dendam / CEO / Tamat
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dua tahun terjebak dalam neraka pelecehan dan ancaman sang kakak ipar, Markus, membuat Relia kehilangan jiwanya—terlebih saat kakak kandungnya sendiri memilih berkhianat. Di titik nadir, Relia berhasil melarikan diri dan bertemu Dokter Ariel, seorang psikiater sekaligus CEO yang menjadi pelindungnya. Melalui pernikahan yang awalnya berlandaskan rasa aman dari ancaman Markus, Ariel membimbing Relia menyembuhkan trauma parah dan kecemasannya. Ini adalah kisah tentang keberanian seorang wanita untuk memecah keheningan dan merebut kembali hidup yang sempat terenggut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Mobil berhenti di depan pagar besi yang sudah berkarat.

Relia turun, namun baru beberapa langkah memasuki halaman, dadanya terasa dihimpit beban yang sangat berat.

Pemandangan ilalang yang tinggi dan dinding rumah yang mengelupas memicu kilas balik traumatis—suara teriakan, rasa sakit, dan dinginnya lantai rumah itu saat Markus menyiksanya.

"Nyonya! Tarik napas, Nyonya!" Satrio dengan sigap memegang bahu Relia yang mulai limbung.

Wajah Relia pucat pasi, keringat dingin bercucuran.

"Aku tidak kuat, Satrio. Bayangan itu, mereka kembali," bisik Relia dengan suara terputus-putus.

"Nyonya tunggu di sini saja, di dalam mobil. Biar saya yang masuk dan mengambil surat itu. Saya tidak akan lama," tegas Satrio.

Ia membantu Relia kembali ke dalam mobil dan mengunci pintunya dari dalam.

Satrio bergerak cepat. Dengan keahliannya, ia masuk ke rumah itu, membongkar lantai kayu yang dimaksud Sarah, dan menemukan amplop cokelat berisi surat tanah.

Tanpa membuang waktu, ia segera keluar, memacu mobil meninggalkan tempat terkutuk itu menuju rumah Ariel untuk memastikan Relia aman.

Namun, di belahan Jakarta yang lain, badai yang lebih besar sedang menerjang.

Ariel baru saja menyelesaikan sesi pertama seminarnya di sebuah hotel mewah.

Ia meminta izin ke kamar mandi untuk membasuh wajah.

Saat ia sedang menunduk di depan wastafel, bayangan seseorang muncul di cermin dari balik bilik toilet.

Belum sempat Ariel berbalik, sebuah lengan kekar melingkari lehernya dan sebuah kain yang telah dibasahi cairan kimia menyumbat hidung dan mulutnya.

Ariel mencoba meronta, namun tenaga penyerangnya sangat kuat.

Kesadarannya perlahan menghilang, dan dunianya menjadi gelap.

Seorang pria dengan sorot mata penuh kebencian menatap tubuh Ariel yang lunglai di lantai kamar mandi.

Pria itu melepaskan topi dan maskernya, menampakkan wajah yang seharusnya berada di balik jeruji besi.

"Kamu sudah mengambil milikku, Ariel. Milikku yang paling berharga," desis Markus dengan suara parau yang mengerikan.

"Sekarang, giliranku mengambil segalanya darimu."

Berkat bantuan dana dari sisa kekayaan yang dikelola Tino, Markus berhasil menyuap oknum sipir dan melarikan diri saat pemindahan tahanan.

Kini, predator itu telah lepas, dan ia haus akan balas dendam.

Rumah mewah keluarga Arkatama yang biasanya terasa hangat, sore itu berubah menjadi sunyi yang mencekam.

Di luar, langit Jakarta mulai menumpahkan hujan deras, menciptakan suasana yang semakin kelam.

Relia duduk di kursi makan, menatap nanar ke arah layar ponselnya yang gelap di atas meja marmer.

Rasa cemas mulai merambat di dadanya, lebih sesak daripada trauma yang ia rasakan di rumah lama tadi siang.

"Kenapa Mas Ariel belum menghubungi aku?" gumam Relia pelan, suaranya nyaris hilang ditelan suara guntur.

"Harusnya seminarnya sudah istirahat sekarang."

Ia mencoba menekan tombol panggil untuk kesepuluh kalinya.

Hasilnya tetap sama: Nomor yang Anda tuju tidak aktif atau berada di luar jangkauan.

"Kenapa teleponnya tidak aktif?" jemarinya mulai gemetar. Ariel tidak pernah mematikan ponselnya, apalagi saat tahu Relia sedang dalam kondisi emosional setelah mengunjungi Sarah.

Satrio, yang sejak tadi berdiri berjaga di dekat pintu ruang tengah, memperhatikan kegelisahan majikannya.

Ia melangkah mendekat dengan raut wajah yang juga mulai waspada.

"Ada apa, Nyonya? Anda tampak sangat cemas," tanya Satrio dengan suara rendah namun tegas.

Relia mendongak, matanya yang sembab menatap Satrio dengan penuh ketakutan.

"Satrio, dari tadi Mas Ariel belum telepon. Ponselnya mati total. Ini tidak seperti biasanya. Perasaanku tidak enak sekali."

Satrio terdiam sejenak. Insting keamanannya langsung bekerja.

Seorang dokter seperti Ariel tidak akan membiarkan ponselnya mati saat istrinya baru saja mengalami hari yang berat, kecuali jika terjadi sesuatu yang mendesak—atau berbahaya.

"Mungkin baterai ponsel Tuan habis, atau sinyal di hotel tempat seminar sedang buruk, Nyonya,"

Satrio mencoba menenangkan, meski di dalam hati ia mulai meragukan kata-katanya sendiri.

"Tidak, Satrio. Mas Ariel selalu membawa powerbank. Dia sudah berjanji akan memberi kabar begitu sampai di hotel," bantah Relia cepat.

"Tolong, Satrio. Coba hubungi pihak hotel atau rekan dokter yang ikut seminar itu. Aku merasa ada yang salah."

Tepat saat Satrio hendak merespons, ponsel Relia di atas meja tiba-tiba bergetar. Bukan sebuah panggilan, melainkan sebuah notifikasi pesan dari nomor Ariel.

Relia dengan cepat menyambar ponselnya. Namun, bukannya lega, wajahnya justru memucat pasi.

Tangannya gemetar hebat hingga ponsel itu nyaris jatuh.

Pesan itu berisi sebuah foto: Ariel yang terkulai lemas di kursi dengan tangan terikat, dan sebuah pesan singkat di bawahnya:

"Aku sudah kembali untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Datanglah ke dermaga lama sendirian dalam satu jam, atau suamimu ini akan menyusul orang tuamu ke alam baka."

Tubuh Relia mendadak kaku. Ponsel yang ada di genggamannya terjatuh ke atas lantai marmer dengan suara berdenting yang menyayat.

Napasnya mulai pendek dan cepat, matanya melotot kosong seolah oksigen di ruangan itu tiba-tiba habis.

Ia mulai mencengkeram dadanya sendiri, berusaha menghirup udara yang terasa mencekik.

Anxiety Relia kambuh dengan sangat hebat. Bayangan Markus yang kembali hadir seperti monster dari masa lalu meruntuhkan seluruh pertahanan mental yang baru saja ia bangun.

"Mas... Mas Ariel..." gumamnya dengan suara tercekat, hampir tidak terdengar.

Tepat saat itu, pintu depan terbuka. Mama Wahyuni masuk dengan wajah yang awalnya ceria karena ingin membawakan makanan, namun langsung berubah drastis saat melihat kondisi menantunya.

"Relia! Astaga, Relia!" Mama Wahyuni berlari sekencang mungkin, menangkap tubuh Relia sebelum gadis itu jatuh merosot ke lantai.

Mama Wahyuni memeluk Relia dengan sangat erat, menekan kepala Relia ke dadanya untuk memberikan rasa aman.

"Tarik napas, Sayang. Lihat Mama. Tarik napas pelan-pelan. Ikuti detak jantung Mama."

Satrio dengan cepat mengambil ponsel Relia dan membacakan pesan mengerikan itu kepada Mama Wahyuni dengan suara rendah.

Wajah Mama Wahyuni sempat menegang, namun sebagai seorang ibu yang pernah melalui banyak badai, ia tahu ia tidak boleh ikut runtuh.

"Relia, dengarkan Mama," ucap Mama Wahyuni dengan nada tegas namun penuh kasih, memegang kedua pipi Relia agar mata mereka beradu.

"Tenang. Kita akan menyelamatkan Ariel. Masmu itu pria yang kuat, dan kita punya Satrio di sini. Kita tidak akan membiarkan Markus menyentuh seujung kuku pun dari Ariel lagi."

Mama Wahyuni menoleh tajam ke arah Satrio.

"Satrio, hubungi semua koneksi keamanan keluarga Arkatama. Jangan ada yang lapor polisi dulu sampai kita tahu pasti titik koordinatnya. Kita tidak bisa gegabah."

Relia mulai bisa mengatur napasnya, meski isak tangisnya masih terdengar pilu.

"Ma, dia mau aku datang sendirian. Kalau aku tidak pergi, Mas Ariel..."

"Kamu tidak akan sendirian, Relia. Mama dan Satrio ada di belakangmu," tegas Mama Wahyuni, memberikan sorot mata yang penuh keberanian.

"Markus pikir dia bisa menghancurkan kita lagi, tapi dia salah. Kali ini, dia yang akan tamat."

Hujan deras yang mengguyur Jakarta seolah menjadi latar belakang yang sempurna bagi horor yang kembali menyelimuti keluarga Arkatama.

Di ruang tengah, suasana terasa sangat mencekam. Relia masih gemetar di pelukan Mama Wahyuni, sementara Satrio berdiri dengan wajah sedingin es, tangannya terus bergerak lincah di atas layar ponsel taktisnya.

​"Relia, dengarkan Mama," ucap Mama Wahyuni dengan nada otoriter namun tenang.

"Balas pesan itu. Katakan padanya kamu akan datang. Kita harus membuat dia merasa menang agar dia tidak gegabah."

​Dengan jari yang masih bergetar hebat, Relia mengetik pesan balasan di bawah pengawasan Satrio.

​“Jangan sakiti dia. Aku akan datang ke dermaga lama. Jangan sentuh suamiku.”

​Hanya dalam hitungan detik, ponsel itu kembali bergetar. Bukannya teks, sebuah kiriman video masuk. Begitu layar ditekan, isak tangis Relia pecah seketika.

​Di dalam video yang goyang dan gelap itu, Ariel terlihat terikat di sebuah kursi besi.

Wajahnya yang biasa tenang kini penuh luka lebam dan darah yang mengalir dari sudut bibirnya.

​Bugh!

​Suara hantaman keras terdengar di video itu.

Markus mendaratkan pukulan mentah ke perut Ariel hingga tubuh dokter itu tersentak ke depan.

​"Mmmph! Mmmph!" Ariel meronta, suaranya teredam oleh lakban hitam yang menutup rapat mulutnya.

Matanya yang sayu menatap tajam ke arah kamera, seolah memberikan isyarat agar Relia tidak datang.

​"Lihat ini, Relia!" suara parau Markus terdengar tertawa di balik kamera.

"Dokter kesayanganmu ini tidak sekuat kelihatannya. Satu jam, Relia. Terlambat satu menit, satu peluru bersarang di kepalanya."

​Video berakhir. Relia jatuh terduduk, tangisnya menjadi-jadi.

"Ma, Mas Ariel disiksa. Aku harus ke sana sekarang!"

​"Tenang, Nyonya!" Satrio memegang pundak Relia dengan mantap.

"Saya sudah menyiapkan tim. Tim penembak jitu sudah bergerak menuju koordinat dermaga lama. Mereka akan mengintai dari titik buta yang tidak bisa dilihat Markus."

​Satrio memberikan kode kepada dua anak buahnya yang sudah bersenjata lengkap di depan rumah.

"Nyonya akan berangkat menggunakan mobil yang sudah kami modifikasi dengan kaca tahan peluru. Saya akan bersembunyi di bagasi, dan tim sniper akan menunggu perintah saya. Markus pikir dia yang memegang kendali, tapi dia sedang berjalan menuju lubang kuburnya sendiri."

​Mama Wahyuni menggenggam tangan Relia dengan kuat.

"Ingat, Relia. Kamu adalah umpan, tapi kami adalah pemburu. Jangan biarkan ketakutanmu menguasai dirimu. Demi Ariel."

​Relia menghapus air matanya dengan kasar. Sorot matanya yang tadinya penuh ketakutan kini mulai menampakkan kilatan kemarahan yang besar.

"Ayo berangkat, Satrio. Aku tidak akan membiarkan iblis itu menyentuh suamiku lagi."

1
Yuningsih Nining
😭😭
Uthie
Awal cerita yg sudah sangat mengerikan 😰
Mundri Astuti
lagi napa ngga diborgol si, kan dah bahaya banget ...dari kemarin nafsu banget mau bunuh relia juga ..
Mundri Astuti
si Markus bener" ya, masih belum jera..miskinin sekalian dia biar ngga bnyk gaya ma ga berkutik
Mundri Astuti
usut sampe tuntas Ariel, siapa" aja dibelakang Markus yg ngebantu melrikan diri ..ringkus juga si Sarah.
mudah"an relia selamat
Herdian Arya
mungkin itu lebih baik, kalaupun lahir juga akan menderita punya bapak kelainan mental seperti Markus.
Mundri Astuti
lah relia kan belum nikah sama Markus, jatuhnya anak diluar nikah calon bayi relia, dan itu nasabnya pada ibu
my name is pho: iya kak.
total 1 replies
Herdian Arya
saking bencinya dengan Markus dan sarah pengen tak kremasi hidup hidup tuh 2 manusia iblis.
my name is pho: sabar kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!