"Aku yang menghancurkan keluargaku sendiri."
"Aku yang membuat semua orang mengetahui tentang hubungan gelap kalian."
"Aku yang membuatmu berlutut meminta ampun saat ini."
Fransisca menikahi seorang milyarder yang mengalami cacat mental hanya untuk membalaskan dendam kematian ibunya. Menganggap lebih baik hidup sebagai pengasuh pria cacat, tapi mendapatkan kekuasaan mutlak.
Karena cinta baginya hanya... Bullshit!
Tapi mungkin tanpa disadarinya mata pria yang dianggapnya mengalami cacat mental itu hanya tertuju padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surprise
"Hubungi ambulance saja, kita ke rumah sakit Indah!" Wijaya memberikan saran. Mengepalkan tangannya, benar-benar ingin Fransisca disalahkan atas semuanya.
"Ayah begitu menyayangi adik sepupu. Seharusnya memberikan yang terbaik. Dokter Prass itu punya rumah sakit sendiri. Lulusan luar negeri! Alumni universitas Harvard. Dengar baik-baik... alumni universitas Harvard." Ucap Fransisca penuh penekanan dengan mulut dipenuhi makanan.
Dirinya memang pintar mencari informasi. Syukurlah ada security rumah yang digaji olehnya. Punya pacar pembantu tukang gosip, hingga dirinya diberikan informasi tentang dokter spesialis kandungan terdekat.
Matanya melirik ke arah Naya. Wanita itu begitu fanatik dengan kalimat lulusan luar negeri. Jadi sudah pasti...
"Benar! Tunggu dokter Prass saja. Bawa Mira ke kamar, dokter Prass adalah lulusan salah satu universitas terbaik. Pasti dapat menolong Mira dan cucuku." Kalimat yang diucapkan Naya, kala Doni menggendong Mira ala bridal style menuju kamar.
Akh! Sial! Kenapa dapat seperti ini. Seharusnya dirinya dapat membuat Fransisca dipermalukan, setidaknya dipukuli dan dipenjara.
"A...aku sudah tidak apa-apa." Ucap Mira kala tubuhnya diletakkan di atas tempat tidur.
"Benar? Apa rasa sakitnya sudah reda?" Tanya Doni lembut, menaruh perhatian pada lelembut ini.
Mira mengangguk lemah, air matanya mengalir. Sungguh hebat akting wanita yang mungkin sudah pernah menelan piala Oscar ini."Walaupun Fransisca tidak sengaja, jangan marah padanya. Aku yang memang salah merebut posisinya. Jangan memarahi Fransisca lagi."
Pandangan mata kekesalan semua orang kembali tertuju padanya. Ini memang sebuah bakat alami, keahlian seorang Mira.
"Jika terjadi sesuatu pada cucuku, aku akan mengirimmu ke penjara. Atas penyerangan!" Bentak Naya meninggikan nada bicaranya.
"Kerena itu, aku yang pelit ini berbaik hati menghubungi dokter Prass, bersedia membayar, berapa pun yang dia minta. Anak Mira begitu berharga.... cucu kandung satu-satunya dari kakak ipar." Sengaja Fransisca mengucapkannya penuh penekanan. Cucu kandung? Bahkan tidak memiliki hubungan darah sedikitpun. Doni adalah anak kandung selingkuhan Johan. So... stupid.
Semua orang tentunya sama sekali tidak mengerti dengan sindiran yang diucapkan oleh Fransisca. Mengingat Johan tidak ada di tempat saat ini. Entahlah, kerja siang malam lembur untuk anak istrinya. Johan benar-benar berusaha.
"Fransisca tidak usah repot-repot! Perutku sudah tidak sakit lagi!" Ucap Mira gelagapan.
"Mira...Mira... Mira... keponakanku tersayang, kamu adalah korban. Dan aku adalah tersangka. Jadi aku tidak mau bertanggungjawab semaksimal mungkin. Jangan menolak ya sayang..." Fransisca begitu berwelas asih.
Mira memilih jemari tangannya sendiri terlihat cemas. Bagaimana jika dirinya ketahuan pura-pura sakit sebelumnya? Hamil... dirinya memang hamil dan itu adalah anak Doni. Hanya penyakit kanker darah yang merupakan kebohongannya. Tidak ada penyakit yang dapat sembuh 100% setelah usai pengobatan. Dokter yang memeriksanya pasti akan mengetahuinya.
Hingga pada akhirnya seseorang masuk diantar oleh pelayan. Seorang pria yang sepertinya dokter Prass.
"Dokter, tolong periksa keadaan keponakanku yang sedang hamil ini. Aku cemas hanya dengan sentuhan ringan dia seperti mengalami sakit tidak tertahankan. Takutnya selain sakit kanker darah dia memiliki penyakit lain." Ucap Fransisca mencemooh.
Sang dokter mendekat, menggunakan sarung tangan karet. Keadaan Mira diperiksa dengan seksama.
Mulut Fransisca terus mengoceh, mengatakan tentang kondisi kesehatan Mira. Dirinya ingin membongkar kebohongan tentang kesembuhan atas kanker darah stadium akhir.
"Dokter Prass, keponakanku Mira, dia sebelumnya menginap kanker darah stadium akhir. Tapi karena pengobatan tradisional sekali, tiba-tiba saja dia sembuh total. Bahkan ada laporan hasil pemeriksaan tesnya. Bagaimana menurut dokter keadaan janin...dan sel kankernya..." Tanya Fransisca pelan, benar-benar dengan nada cemas, lebay yang dibuat-buat. Sementara sang dokter konsentrasi memeriksa dan menanyakan beberapa hal pada Mira.
Kini Doni dan Naya akan mengetahui wajah sebenarnya dari seorang Mira yang melakukan banyak kebohongan.
Matanya sedikit melirik ke arah Wijaya yang juga terlihat cemas. Sudah pasti tidak ingin kebohongan Mira terbongkar. Mana ada kanker darah stadium akhir dapat berlenggak-lenggok ala koboi di atas tubuh Doni.
"Bagaimana dok?" Tanya Fransisca.
Sang dokter mengernyitkan keningnya terlihat cemas setelah memeriksa keadaan Mira. Seperti...ada hal yang juga menakutkan bagi sang dokter.
"Keadaan janinnya stabil..." Ucap sang dokter sedikit menjauh dari Mira.
"Lalu... dulunya Mira mengidap kanker darah putih. Leukimia stadium akhir, sekarang bagaimana?" Fransisca menelan ludahnya.
Dirinya menunggu saat-saat fantastis ini. Dimana kejahatan dan kebohongan Mira serta Wijaya terbongkar. Dimana dirinya akan tertawa, sementara Doni memohon untuk minta maaf padanya. Karena mengetahui penyakit Mira adalah kebohongan.
"Sebelumnya stadium akhir? Aku tidak tau pasti, jika kanker mungkin gejalanya seperti stadium awal." Sang dokter menghela napas.
"Sta... stadium awal?" Kenyataan gila apa lagi ini? Fransisca kembali mengunyah martabaknya. Mengira ini akan berakhir.
Sedangkan Mira membulatkan matanya, menatap ke arah sang dokter. Dokter Prass memang menanyakan beberapa hal padanya. Dan jawabannya apa adanya. Kanker? Dirinya benar-benar mengidap kanker?
"Tapi hasil ini menunjukkan Mira sudah sembuh total." Ucap Naya menunjukkan hasil yang didapatkannya asal dari internet.
"Begitu? Mungkin hanya sedikit gejala yang tersisa. Atau karena fisiknya sedang lemah saja. Bagaimana kalau melakukan pemeriksaan total di rumah sakit. Aku akan..." Kalimat sang dokter disela.
"Tidak usah!" Teriak Mira, beranggapan ini mungkin keberuntungan baginya. Dokter ini terlalu lelah hingga salah melakukan diagnosa.
Sedangkan tubuh Fransisca sedikit lemah. Dari yang pada awalnya bersemangat kini seperti kerupuk layu disiram air. Banyak hal yang ada di otaknya. Apa Mira juga menyuap dokter Prass? Tidak disangka Mira dapat bertindak lebih cepat darinya. Memang dasar sial.
"Ini hanya saran dari saya. Boleh diikuti, boleh tidak, tapi pemeriksaan menyeluruh amat sangat penting. Ini baru tri semester pertama kehamilan, belum terlambat untuk pemeriksaan. Saya akan membuatkan resep penguat kandungan." Dokter Prass mulai menuliskan resepnya. Pria yang seperti sedikit ragu melakukan kontak dengan Mira. Seperti sedikit menjauh...atau ini hanya perasaan Fransisca?
Tapi, tidak masalah. Yang masalahnya apa dokter ini juga disuap? Atau memang benar salah diagnosa. Tidak mungkin rasanya orang sehat seperti Mira mengidap kanker darah.
Doni menerima resep dari sang dokter, mungkin pemuda ini yang akan menebusnya. Sedangkan Fransisca sendiri yang mengantar dokter Prass hingga area depan rumah, sekaligus membayar jasanya.
Udara yang cukup dingin. Usia dokter Prass mungkin kini berusia sekitar 50 tahunan.
Fransisca mengangkat salah satu alisnya."Apa dokter disuap oleh keponakan saya?" Tanyanya terus terang.
"Tidak! Mana mungkin saya disuap. Tapi... maaf, saya benar-benar minta maaf jika menyinggung." Dokter Prass terlihat ragu.
"Katakan saja, dokter tidak akan menyinggung saya." Ucap Fransisca masih memakan martabak telur.
Sang dokter menghela napas."Saya tidak yakin, karena diperlukan tes darah untuk memastikannya. Tapi ada beberapa gejala dari pengidap HIV pada nona Mira. Dan ada beberapa keadaan dimana leukimia dapat mengikuti dari penyakit HIV. Walaupun tidak selalu. Jadi mohon dilakukan tes secara menyeluruh. Maaf jika ini menyinggung..."
"Seni adalah ledakan..." Gumam Fransisca menghela napas, kembali mengunyah.