Sekar Wening hidup sebagai gadis desa terbuang yang kelaparan di gubuk bocor dilereng bukit Menoreh. Ia dianggap pembawa sial, tak berguna, tak diinginkan.
Tak ada yang tahu, jiwanya adalah seorang profesor biohayati jenius yang mati dalam ledakan laboratorium.
Saat tanda lahir di jari manisnya bersinar, sebuah ruang ajaib terbuka. Tanah surga, air kehidupan, dan takdir baru menantinya. Dari gadis hina menjadi wanita yang mengguncang desa hingga Keraton, Sekar bersiap membalikkan nasib, dan tanpa ia sadari, di tengah kebangkitannya, hati seorang Pangeran Yogyakarta mulai terpikat padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Efek Anti-aging dan Brankas Spasial
Sekar membuka matanya di dunia nyata. Gubuk reyot itu masih gelap dan pengap, hanya diterangi sisa bara di tungku dan pelita minyak yang nyalanya bergoyang tertiup angin celah dinding.
Suara napas ibunya terdengar berat, tersendat-sendat seperti mesin tua yang kehabisan oli.
Sekar meraba sakunya. Di sana, ada kira-kira dua cangkir beras "Padi Emas" yang berhasil ia bawa keluar.
Dingin, padat, dan nyata.
Dia segera bangun, menyalakan pelita minyak kecil agar cahayanya sedikit lebih terang.
Sekar menuju sudut gubuk yang berfungsi sebagai dapur darurat. Hanya ada tungku tanah liat kecil dan panci loreng yang pantatnya sudah gosong.
Kayu bakar yang ada sedikit lembap sisa hujan, tapi Sekar berusaha menyalakannya dengan sabar. Dia meniup bara perlahan hingga api menjilat pantat panci.
Dia mencuci beras itu dengan sedikit air bersih dari gentong.
Ajaib. Air cucian berasnya tidak berwarna keruh seperti air tajin biasa, melainkan bening berkilauan. Seolah kotoran enggan menempel pada bulir suci itu.
Saat Sekar mulai merebus beras itu menjadi bubur, keajaiban kedua terjadi.
Aroma wangi yang tadi memenuhi ruang spasial, kini mulai menguar di dapur sempit itu.
Wanginya lembut, menenangkan, seperti aroma lemper yang dibungkus daun pisang muda, bercampur dengan wangi pandan dan sedikit manis vanila.
Sekar buru-buru menutup panci itu rapat-rapat dengan tutup kayu. Jantungnya berdegup kencang.
"Jangan wangi-wangi dulu..." bisik Sekar cemas, matanya melirik waspada ke arah celah dinding anyaman bambu. "Nanti tetangga bangun."
Untungnya, aroma itu tidak menyengat tajam seperti parfum atau dupa, melainkan menyatu dengan udara malam, memberikan efek relaksasi bagi siapa saja yang menghirupnya.
Sekar mengaduk bubur itu perlahan. Beras itu matang dengan sangat cepat. Teksturnya hancur menjadi bubur yang kental dan pulen dalam waktu kurang dari lima belas menit. Warnanya putih bersih, kontras dengan panci yang hitam legam.
Sekar menuangkan bubur itu ke dalam mangkuk batok kelapa yang retak di pinggirnya.
Dia tidak punya garam atau gula, tapi aroma bubur itu sendiri sudah sangat menggugah selera, seolah sudah berbumbu gurih alami dari sananya.
Sekar membawa mangkuk hangat itu ke amben bambu.
"Bu..." panggil Sekar lembut, menggoyangkan bahu ibunya yang terasa panas membara.
"Bangun, Bu. Makan dulu sedikit."
Rahayu mengerang pelan. Matanya terbuka sedikit, sayu dan merah dikelilingi lingkaran hitam. "Nduk... Ibu ndak lapar..." tolaknya lemah, suaranya parau nyaris habis.
"Kepala Ibu pusing... dada Ibu sesak..."
"Sedikit saja, Bu. Ini obat," bujuk Sekar sabar. "Sekar buatkan bubur spesial."
Rahayu mencoba bangun, dibantu oleh Sekar yang menyangga punggung ringkih itu dengan bantal lusuh yang bau apek.
Hidung Rahayu kembang kempis sedikit saat mencium aroma dari mangkuk itu. Keningnya berkerut.
"Wangi apa ini, Nduk?" tanyanya heran, suaranya parau. "Kok harum sekali... seperti nasi hajatan keraton..."
"Rejeki dari Gusti Allah, Bu. Sudah, ayo buka mulutnya."
Sekar menyendokkan bubur hangat itu ke mulut ibunya.
Begitu bubur itu menyentuh lidah Rahayu, mata wanita paruh baya itu membelalak sedikit.
Rasanya manis alami, gurih, dan hangat. Bubur itu seolah meleleh di mulut tanpa perlu dikunyah, meluncur lembut ke tenggorokan, dan langsung menghangatkan lambung yang perih karena kosong seharian.
Sensasi hangat itu tidak berhenti di perut. Rahayu merasakan aliran energi halus yang merambat cepat dari lambungnya, menyebar ke dada, lalu naik ke kepala, meredakan denyut nyeri yang menyiksanya sejak kemarin.
"Enak, Nduk... enak sekali..." bisik Rahayu. Air matanya menetes lagi. Kali ini bukan karena sedih, tapi karena rasa nyaman yang tiba-tiba melingkupi tubuhnya.
Rasa sakit di persendiannya seolah ditarik keluar.
Sekar tersenyum tipis, menyuapkan sendok kedua, ketiga, dan seterusnya.
Mata Profesor Sekar mengamati perubahan fisik ibunya secara real-time layaknya mengamati monitor pasien di ICU.
Warna pucat seperti kertas di wajah Rahayu perlahan memudar, digantikan rona merah samar yang sehat. Napasnya yang tadi pendek, berbunyi mengi, dan berat, kini mulai teratur dan panjang.
Keringat dingin berhenti keluar, digantikan oleh kehangatan kulit yang normal.
Analisis Cepat: Laju regenerasi selular dipercepat 500%. Respons imun meningkat drastis. Ini bukan sekadar karbohidrat, ini bio-stimulan murni.
Dalam hati, Sekar bersorak kemenangan. Padi Emas ini bukan sekadar komoditas dagang untuk membayar utang 50 juta. Ini adalah kunci kehidupan.
Malam itu, di bawah temaram lampu pelita, Sekar menyuapi ibunya sampai suapan terakhir. Mangkuk batok kelapa itu licin tandas.
Namun, saat suapan terakhir tertelan, Rahayu tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan Sekar. Cengkeramannya mengejutkan, cukup kuat untuk orang yang baru saja sekarat.
Mata Rahayu menatap Sekar dengan sorot ketakutan yang mendalam. "Sekar..." bisik Rahayu gemetar. "Jujur sama Ibu, Nduk."
"Inggih, Bu?"
"Kamu... kamu ndak minta tolong sama 'yang aneh-aneh' kan?" tanya Rahayu, suaranya bergetar. "Beras ini... rasanya bukan beras biasa. Rasanya seperti... seperti bukan makanan manusia."
Sekar tertegun. Insting orang desa ternyata tajam. Mereka peka terhadap hal-hal yang di luar nalar. Bagi Rahayu, kesembuhan instan dan rasa yang terlalu enak ini pasti berbau klenik.
Apalagi setelah tuduhan Eyang Marsinah tadi pagi soal "memelihara demit".
"Maksud Ibu?"
"Jangan sampai kita musyrik, Nduk," air mata Rahayu mengalir lagi. "Biar kita miskin, biar kita diusir, asal jangan menyekutukan Gusti Allah. Ibu takut kalau kamu... kamu bikin perjanjian sama penunggu gubuk ini buat balas dendam sama Eyang."
Hati Sekar mencelos. Ibunya lebih takut dosa daripada mati kelaparan. Sekar menarik napas panjang. Dia harus berbohong. White lie.
Kebohongan putih demi ketenangan jiwa ibunya.
Dia tidak mungkin menjelaskan konsep dimensi spasial, mutasi genetik, atau wormhole fisika kuantum.
Sekar memegang tangan ibunya erat-erat, menatap matanya dengan keyakinan penuh. "Mboten, Bu. Demi Allah, Sekar tidak main dukun," ucap Sekar tegas.
"Lalu beras ini?"
"Ini beras padi kuno, Bu," karang Sekar dengan cepat.
"Waktu Sekar pingsan di pinggir hutan kemarin dulu itu, Sekar nemu tanaman padi liar ini tumbuh di dekat mata air. Sekar ambil sedikit, Sekar simpan."
Sekar mengelus tangan ibunya. "Konon kata orang tua dulu, padi yang tumbuh di mata air hutan itu obat, Bu. Padi peninggalan leluhur yang belum kena pupuk kimia. Makanya rasanya enak dan bikin sehat."
Rahayu terdiam, mencerna penjelasan itu. Penjelasan tentang "tanaman kuno" dan "hutan" jauh lebih masuk akal bagi logika mistis orang Jawa daripada penjelasan ilmiah ataupun klenik. Itu terdengar seperti berkah alam.
"Benar begitu, Nduk?"
"Leres, Bu. Ini rejeki kita yang halal. Gusti Allah kasih jalan lewat padi ini supaya Ibu sembuh, supaya Ibu kuat nemenin Sekar bayar utang Eyang."
Bahu Rahayu merosot lega. Ketegangan di wajahnya sirna. "Alhamdulillah..." gumam Rahayu.
"Alhamdulillah kalau begitu. Pantesan rasanya nyamleng tenan. Badan Ibu rasanya enteng, Nduk. Batuk Ibu hilang blas."
Rahayu menarik napas dalam-dalam, membuktikan ucapannya. Tidak ada bunyi grok-grok di dadanya. Paru-parunya bersih seolah baru dicuci.
"Sekarang Ibu tidur lagi ya. Besok kita harus kerja keras," kata Sekar sambil membaringkan ibunya kembali.
Dalam hitungan menit, Rahayu sudah tertidur pulas.
Kali ini tidurnya tenang, tanpa igauan, tanpa kerut kesakitan di dahi.
Sekar memandangi wajah ibunya. Keriput halus di sekitar mata Rahayu tampak memudar.
Kulitnya yang tadi kusam dan kering kini terlihat lebih lembap dan bercahaya. Efek anti-aging dari Padi Emas ternyata nyata.
Sekar membereskan mangkuk dan panci bekas bubur. Saat melihat sisa kerak bubur di panci, sebuah pemikiran strategis muncul di benak Profesornya.
Masalah Logistik: Keamanan Aset. Dia punya satu hektar lahan di ruang spasial. Panen raya akan menghasilkan berton-ton beras emas.
Di mana dia akan menyimpannya?
Gubuk reyot ini tidak punya kunci yang benar. Dindingnya bolong-bolong.
Tikus, baik tikus hewan maupun tikus berbentuk manusia seperti Paman Rudi dan Rendi, bisa masuk kapan saja.
Jika Paman Rudi atau Bibi Mirna tahu dia punya beras sepremium ini, mereka pasti akan merampasnya. Mereka akan menuduhnya mencuri beras keraton atau memaksanya menyerahkan beras itu.
Uang hasil penjualan nanti juga tidak aman jika disimpan di bawah bantal.
Sekar menatap jari manisnya. Tanda lahir bulir padi itu berdenyut pelan. Dia tersenyum tipis.
Gubuk di Ruang Spasial.
Tempat itu bukan hanya lahan pertanian. Tempat itu adalah gudang penyimpanan paling aman di dunia.
Brankas tak kasat mata yang tidak bisa ditembus oleh siapapun kecuali dirinya. Tidak ada maling yang bisa masuk dimensi lain. Tidak ada Eyang Marsinah yang bisa menyita aset di sana.
"Brankas Spasial," gumam Sekar. Dia bisa menyimpan hasil panen di sana, dan hanya mengeluarkan sedikit demi sedikit sesuai kebutuhan pasar.
Dia bisa menyimpan uang hasil penjualan di dalam Ndalem Alit, jauh dari jangkauan tangan-tangan serakah keluarga Adhiwijaya.
Rencana itu sempurna.
Sekar memadamkan pelita minyak. Dia kembali berbaring di samping ibunya.
Cahaya bulan menerobos masuk lewat celah atap, menyinari wajah Rahayu yang tidur lelap.
Sekar menatap ibunya dengan takjub. Baru satu mangkuk bubur, dan ibunya tampak sepuluh tahun lebih muda. Rona wajahnya segar, rambutnya yang kusam tampak lebih hitam berkilau dalam kegelapan.
Jika satu mangkuk bisa begini, bayangkan jika ibunya mengonsumsi ini setiap hari selama sebulan. Ibu Rahayu tidak hanya akan sembuh.
Dia akan bertransformasi menjadi wanita yang cantik dan anggun, mengembalikan kecantikan masa mudanya yang direnggut oleh kemiskinan dan penderitaan.
Sekar memejamkan mata, bibirnya menyunggingkan senyum penuh tekad.
"Tunggu saja, Eyang," batin Sekar. "Sebulan lagi, Eyang tidak akan mengenali kami."
Di luar, angin malam menderu. Namun di dalam gubuk itu, ketakutan telah lenyap.
Digantikan oleh strategi dingin seorang ilmuwan dan kehangatan harapan yang baru tumbuh.
Besok, Sekar akan mulai menjual "keajaiban" ini ke dunia luar.