"Ketika cinta datang disituasi yang salah"
Rieta Ervina tidak pernah menyangka, jika keputusannya untuk bekerja pada Arlan Avalon, pria yang menjadi paman dari suaminya justru membuat ia terjebak dalam lingkaran cinta yang seharusnya tidak ia masuki.
Pernikahan tanpa cinta yang awalnya ia terima setulus hati berubah menjadi perlawanan saat Rieta menyaksikan sendiri perselingkuhan suaminya bersama wanita yang menjadi rekan kerjanya. Dan di saat yang sama, paman dari suaminya justru menyatakan peraasaannya pada Rieta.
"Cinta ini adalah cinta yang salah, tapi aku tidak peduli." Arlan.
Apa yang akan Rieta lakukan setelahnya? Akankah ia menerima cinta yang datang? Atau tetap bertahan pada pernikahan bersama suami yang sudah mengkhianati dirinya?
Ikuti kisah mereka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Apakah aku salah melihat?
Langkah Rieta saat akan memasuki lift terhenti ketika ia teringat akan sesuatu yang seharusnya ada di saku blazernya ternyata tidak ada, sedangkan ia sangat yakin jika ia sudah membawanya pagi ini. Salinan pekerjaan kantor yang ia kerjakan di rumah dalam bentuk flashdisk.
"Apakah itu terjatuh di mobil?" Rieta bergumam pelan sambil meraba saku blazer serta saku celana panjangnya yang ternyata tidak ada apapun.
Rieta berbalik cepat, setengah berlari menuju pintu keluar kantor dengan harapan Evan belum pergi. Dan betapa leganya Rieta begitu ia sampai di ambang pintu, mobil Evan masih terlihat di sana entah apa yang suaminya itu lakukan.
Langkah cepat Rieta perlahan melambat, lalu berhenti. Senyum lega di bibirnya memudar dan sirna kala netranya menangkap mobil suaminya yang masih terparkir di depan gedung perusahaan tetapi suaminya tidak sendirian.
Rieta memiliki kebiasaan yang sulit untuk ia hilangkan. Saat ia berada di dalam mobil, ia terbiasa membuka sedikit kaca mobil sebelum mobil yang ia tumpangi berjalan tak peduli mobil itu milik siapa. Dan kali ini lupa untuk menutup kaca mobil sebelum turun.
Tidak sampai setengah, tetapi dengan posisi Rieta berdiri saat ini, yang mana lantai yang ia pijak berada di posisi lebih tinggi dari jalan membuat ia bisa melihat seorang wanita duduk di jok depan bersama sang suami dengan posisi membelakangi dirinya. Punggung wanita dengan surai sebahu yang terasa familiar.
"Apakah aku salah lihat?"
Rieta bergumam pelan, berusaha menepis apa yang mengganggu pikirannya. Ia melangkah mendekati mobil suaminya dengan jantung berdegup kencang, gerakan saat dua insan di dalam mobil saling mendekatkan wajah terekam begitu jelas. Namun, saat jarak hanya tinggal beberapa langkah lagi, mobil itu melaju pergi. Meninggalkan Rieta yang terpaku di tempatnya berdiri dengan pandangan nanar menatap mobil suaminya yang menjauh.
"Aku tidak boleh membuat kesimpulan tanpa melihat lebih jelas apa yang mereka lakukan. Mungkin wanita itu hanya rekan kerja yang kebetulan lewat, mungkin mereka hanya..."
Kalimat Rieta menggantung, menghibur diri sendiri menggunakan sebaris kalimat manis mungkin dengan pandangannya tertuju pada jalan tempat mobil itu menghilang, adegan yang baru saja ia lihat terus berputar di pelupuk mata.
"Lebih baik aku tanyakan saja daripada aku terjebak dalam asumsiku sendiri," gumam Rieta kemudian.
Wanita itu berbalik, kembali masuk ke dalam kantor untuk bekerja. Memilih membohongi dirinya sendiri bahwa ia telah salah melihat. Ia hanya melihat sebentar, belum tentu apa yang ia lihat seperti apa yang ia pikirkan. Begitulah menurutnya.
Di saat yang sama, Arlan berdiri di balik kaca yang menjadi dinding ruang kerjanya dengan tangan yang ia masukkan ke saku celana, menyaksikan apa yang baru saja terjadi dalam diam. Saat Rieta keluar dari mobil, saat wanita lain keluar dari taksi lalu masuk ke dalam mobil yang baru saja Rieta tumpangi, dan saat mobil itu meninggalkan Rieta yang terpaku di tempatnya berdiri.
Sayangnya, ia tidak bisa melihat wajah wanita lain yang masuk ke dalam mobil keponakannya dari tempat ia berdiri saat ini. Ia bisa dengan mudah mengenali sosok Rieta karena terbiasa, tapi tidak dengan wanita itu.
"Liam."
"Saya, Tuan?" sambut Liam segera berdiri dari duduknya, mengesampingkan pekerjaan yang sedang ia tangani.
"Periksa CCTV di lantai bawah dan teras kantor, cari tahu siapa wanita yang masuk ke dalam mobil Evan. Apakah dia pegawai di kantor ini atau bukan," perintah Arlan tanpa berbalik.
"Aaa...?" dahi Liam mengernyit bingung, tapi segera mengangguk kala tatapan tajam atasanya menghunus ke arahnya.
"Saya mengerti," sahut Liam. "Apakah sekarang, Tuan?"
"Ya. Tinggalkan pekerjaanmu sementara."
"Baik, segera saya lakukan," sahut Liam seraya menundukkan kepala singkat sebelum berbalik pergi.
"Bocah itu..." Arlan menggeram, kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya.
Arlan menatap pemandangan kota yang terbentang di hadapannya dari balik dinding kaca, tetapi pandangannya menerawang. Kalimat yang Rieta ucapkan tadi malam terus mengusik hatinya. Sungguh, ia tidak memiliki niat seperti itu, ia hanya terlalu payah dalam mengendalikan hatinya sendiri.
"Haahh..."
Hembusan napas Arlan terdengar berat. Ia berbalik, melangkah pelan menuju meja kerjanya dan menjatuhkan tubuhnya di kursi, meletakkan punggung tangannya di dahi dengn posisi bersandar, memejamkan mata, lalu bergumam pelan,
"Salahku karena tidak menyelidiki bocah itu lebih jauh. Aku terlalu fokus padamu. Maafkan aku..."
.
.
.
"Rie."
Wajah Rieta yang sebelumnya menekuni layar komputer seketika terangkat, lalu tersenyum kala netranya menemukan sosok penuh Rihana berdiri di depan meja kerjanya.
"Pagi, Kak Rihana," sapa Rieta
Rihana tersenyum, lalu menyodorkan gelas yang ia bawa pada Rieta. "Ini, ku belikan kopi untukmu."
Rieta tidak segera menerima gelas itu, netranya melirik ke arah jam tangan yang ia pakai, lalu kembali menatap Rihana yang belum menarik tangannya.
Dua puluh menit.
Itu waktu yang Rieta hitung sejak mobil Evan meninggalkan kantor bersama seorang wanita yang belum ia ketahui siapa. Dan Rihana muncu di waktu yang sangat tepat untuk disebut kebetulan. Tapi ia tidak ingin berasumsi tanpa bukti.
Rieta berdiri, tersenyum manis seraya menerima gelas yang Rihana sodorkan.
"Terima kasih, Kak. Aku memang terbiasa meminum kopi setiap pagi, dan pagi ini aku lupa membawanya," kata Rieta seraya menyesap kopi yang baru saja ia terima. "Bagaimana kakak bisa tahu kopi favoritku?" tanyanya dengan sorot takjub.
"Hanya menebak berdasarkan kebiasaanmu," jawab Rihana. "Kamu tidak menyukai sesuatu yang terlalu manis, jadi kupikir white flat adalah kopi yang kamu suka karena cenderung pahit."
"Insting Kakak luar biasa," puji Rieta tersenyum, kembali menyesap kopi di tangannya.
Tapi di balik senyum yang Rieta perlihatkan, ia menutupi perasaannya yang mulai berkecamuk. Ia mencium aroma parfum familiar dari tubuh Rihana saat menerima kopi, dan itu adalah aroma parfum suaminya. Benaknya mulai berspekulasi mungkinkah wanita yang ia lihat di dalam mobil suaminya adalah Rihana?
Rihana yang tidak pernah bertanya tentang Rieta layaknya rekan kerja yang lain, Rihana yang tidak pernah sekalipun bertanya tentang apakah Rieta memiliki kekasih atau belum, dan Rihana yang tidak pernah bertanya di mana ia tinggal. Semua menjadi masuk akal bagi Rieta sekarang, terdengar sederhana tapi terasa aneh di waktu yang sama. Itu karena Rihana sudah mengetahui semua tentang dirinya.
Berbeda dengan Rieta yang tengah sibuk dengan spekulasinya sendiri, Rihana justru tersenyum mengingat pertemuannya dengan sang kekasih pagi ini. Setelah memastikan Rieta masuk ke dalam gedung kantor dan tidak ada yang melihat ia turun dari taksi, ia masuk ke dalam mobil Evan, dan pria itu membawanya pergi demi menghindari rasa curiga.
"Perhatian untuk semua!"
Seruan supervisor dari departemen Rieta menggema, menarik perhatian semua staf untuk mengehentikan sejenak pekerjaan mereka dan segera mengarahkan pandangan pada sosok pria yang kini berdiri di depan semua orang. Menungu informasi apa yang aakan disampaikan, termasuk Rieta dan Rihana.
"Akan ada acara ulang tahun perusahaan yang diadakan dua minggu mendatang. Undangan ditujukan untuk semua orang, dan acara digelar di NYC Hotel..."
Semua karyawan saling pandang di tengah pemberitahuan yang tengah supervisor sampaikan. Beberapa dari mereka saling melempar pandangan dengan tatapan penuh arti, beberapa yang lain terseyum sambil menggerakkan alis mereka, beberapa lagi tanpa ragu bertepuk tangan sebagai bentuk antusiasme mereka terhadap acara yang selalu mereka tunggu-tunggu.
"Kami pasti datang."
Beberapa orang menjawab serempak setelah supervisor selesai berbicara, bersorak senang setelah supervisor pergi dan kembali ke pekerjaan mereka masing-masing.
Namun, baru beberapa saat sang supervisor pergi, pria itu kembali lagi. Tapi kali ini pria itu mendekat ke meja kerja Rieta, tersenyum hangat pada Rieta dan menyampaikan sesuatu yang membuat Rieta menyemburkan kopi yang baru saja ia minum.
. . ..
. . . .
To be continued...