NovelToon NovelToon
The Shadowed Psyche

The Shadowed Psyche

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Balas Dendam
Popularitas:694
Nilai: 5
Nama Author: De Veronica

Sinopsis Bab

Kedatangan Alexey Liebert ke kampus elite Icheon langsung mengguncang keseimbangan yang selama ini mapan. Sosoknya yang dingin, tertutup, dan mencolok dengan aura berbahaya segera menarik perhatian, sekaligus memicu bisik-bisik kagum dan rasa terusik di kalangan mahasiswa. Namun di balik statusnya sebagai mahasiswa baru rekomendasi internasional, Alexey menyimpan masa lalu kelam: putra pewaris dunia bayangan yang kembali ke Icheon bukan semata untuk kuliah, melainkan untuk tujuan tersembunyi yang berakar pada kematian ibunya delapan tahun lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon De Veronica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permainan Dua Predator

"Eh, kenapa marah?" sindir Yubin, senyumnya nakal. "Jangan-jangan kamu udah goyang juga sama Alexey."

Haerim langsung menumpuk Yubin dengan tasnya. "Yubin! Sembarangan banget ngomongnya!"

"Aduh, apaan sih, sensi banget." Yubin nyengir sambil mengusap lengannya.

Haerim menatapnya dengan wajah kesal. Yubin masih belum puas.

"Tapi beneran deh, masa kamu nggak pernah ngelakuin itu sama Alexey? Kalian kan pacaran."

"DIAM, YUBIN!"

Tak lama kemudian Lisa masuk ke kelas, langkahnya ceria. "Selamat siang semuanya!"

"Selamat siang, Miss Lisa!" jawab seluruh kelas serempak.

Yubin mencolok lengan Haerim pelan, matanya tertuju ke leher Lisa. Haerim melihatnya juga, ada bekas merah yang cukup jelas.

"Miss, Anda lagi tidak enak badan ya?" tanya Yubin khawatir.

Lisa mengernyit. "Tidak sakit kok. Kenapa bertanya begitu, Nona Yubin? Ada yang salah dengan penampilan saya?"

"Itu di—" Yubin mulai menunjuk.

Haerim langsung menutup mulut Yubin dengan cepat. "Tidak, Miss! Mungkin Yubin bertanya karena Miss terlambat lima menit hari ini."

Lisa tersenyum sedikit bersalah, menunduk kecil. "Maafkan saya, tadi ada sedikit kemacetan di jalan."

Di ruangan Minsook, suasana terasa tegang.

"Bagaimana kalau Tuan mencari pengacara dan memenangkan kasusnya?" saran Minsook hati-hati. "Bukankah Tuan bisa dengan mudah melakukan itu?"

"Kamu ini bodoh atau bagaimana?" potong Jinhwa tajam. "Aku sedang dalam masa kampanye pemilihan anggota dewan. Kalau aku lakukan itu, siapa yang masih mau percaya padaku?"

Minsook mengangguk pelan. "Lalu... apa yang ingin Tuan lakukan sekarang?"

Jinhwa terdiam sejenak, lalu menatap Minsook dingin. "Satu-satunya jalan adalah memenjarakan Junhwan."

"Memenjarakan Junhwan, Tuan?" Minsook tidak bisa menyembunyikan rasa herannya.

"Dengan menghukum putraku sendiri," jawab Jinhwa tenang, penuh perhitungan, "orang-orang akan semakin yakin bahwa aku adalah dewan yang adil. Sosok yang selama ini mereka harapkan."

Orang ini benar-benar mengerikan, gumam Minsook dalam hati.

"Kenapa diam?" tanya Jinhwa tajam. "Kamu tidak yakin dengan rencanaku?"

"Tidak, tidak, Tuan." Minsook menggeleng cepat. "Rencana Anda sangat mengagumkan." Ia sedikit condong ke depan. "Tapi... sampai kapan Tuan akan membiarkan Tuan Muda di dalam penjara?"

"Setelah pemilu," jawab Jinhwa dingin. "Baru aku bebaskan dia."

Pintu ruangan terbuka. Alexey melangkah masuk, melirik sekilas ke arah Jinhwa sebelum beralih ke Minsook.

"Rektor Minsook sedang sibuk?" tanyanya tenang, penuh keyakinan bahwa Minsook tidak akan berani membuka mulut.

"Ti— tidak, Tuan Liebert." Minsook gugup, senyumnya dipaksakan. "Saya hanya sedang berbincang dengan donatur."

Jinhwa menatap Alexey dengan sedikit curiga, namun tetap menjaga sikap. "Anda mahasiswa yang kemarin, bukan?"

"Benar, Tuan Kim." Alexey menatapnya santai. "Senang bisa bertemu dengan Anda."

Jinhwa belum memiliki bukti apa pun soal Alexey. Ia bersikap tenang. "Silakan duduk, Tuan Liebert. Mungkin Anda juga tertarik dengan pembicaraan pembangunan kampus."

"Terima kasih, Tuan Kim." Alexey menarik kursi di sebelah Jinhwa dan duduk santai. "Saya juga sangat ingin berbincang dengan Anda."

"Si... silakan duduk, Tuan Liebert." Minsook mempersilakan dengan senyum yang hampir roboh.

"Sepertinya kalian sangat serius." Alexey melirik keduanya bergantian, pura-pura tidak tahu. "Pasti ada pembangunan baru di kampus?"

"Benar sekali." Jinhwa menjawab penuh percaya diri. "Saya ingin mendonasikan dana untuk gedung baru." Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada penuh perhitungan, "Tapi itu akan sedikit sulit sekarang. Anda tahu sendiri kasus yang menimpa putra saya, orang-orang pasti mengira donasi ini untuk menutupi itu."

"Ah, itu tidak benar, Tuan Kim." Alexey menatapnya ramah. "Bagaimana mungkin orang-orang akan membenci seseorang seperti Anda? Anda bahkan sudah mengalokasikan sembilan puluh triliun won untuk negara ini."

Jinhwa terdiam. Matanya menyipit dingin. "Dari mana Anda tahu itu, Tuan Liebert?"

Alexey tetap ramah, tidak bergeming. "Kenapa, Tuan Kim? Apa saya salah? Saya hanya membacanya di mading dan dokumentasi sejarah kampus."

"Anda sangat hebat, Tuan Liebert." Jinhwa tersenyum tipis, nadanya halus tapi menggigit. "Belum genap dua bulan sudah membaca semua buku sejarah kampus."

Alexey tertawa kecil. "Hahaha, saya memang sedikit suka membaca."

Dua orang bermuka dua dalam satu ruangan, gumam Minsook dalam hati, keringat dingin mengalir di punggungnya. Ini benar-benar menakutkan.

Jinhwa berdiri, merapikan jasnya. "Kalau begitu saya permisi dulu, Pak Rektor, Tuan Liebert." Senyumnya lebar, tapi matanya menyimpan sesuatu yang lain. "Senang bisa berbincang dengan kalian."

Ia keluar, pintu tertutup pelan di belakangnya.

Begitu pintu tertutup, ekspresi Alexey langsung berubah. "Apa yang dibicarakan Jinhwa?"

"Ka— kami hanya membahas skandal Junhwan, Tuan," jawab Minsook gugup.

"Kamu membuka mulut sebagai rektor?"

"Tidak sama sekali, Tuan. Saya tidak menceritakan apapun tentang Anda."

"Apa yang direncanakan Jinhwa?"

Minsook menelan ludah. "Tuan Jinhwa... ingin memenjarakan putranya demi reputasinya."

*Pamanku sudah masuk perangkap,* gumam Alexey dalam hati.

"Tutup kasus itu dari kampus." Alexey berdiri. "Mulai sekarang bersikaplah seolah tidak terjadi apa-apa."

"Saya paham, Tuan. Saya akan—"

Alexey sudah lebih dulu keluar sebelum Minsook menyelesaikan kalimatnya.

Minsook menghela napas panjang, bersandar di kursinya. "Hufff... melelahkan sekali berurusan dengan orang-orang seperti mereka."

Sampai di kediaman keluarga Kim, Jinhwa langsung masuk ke ruangan pribadi Kim Hwaran.

"Kasus Junhwan sudah beres?" tanya Hwaran kasar, tanpa menoleh.

"Aku akan memenjarakan Junhwan," jawab Jinhwa langsung.

Hwaran menoleh tajam. "Kamu sudah gila? Junhwan itu putramu, satu-satunya pewaris keluarga ini."

"Ikuti saja rencanaku, Ibu." Jinhwa tidak bergeming. "Ini jauh lebih baik daripada berusaha membersihkan namanya."

Hwaran memijit pelipisnya, wajahnya penuh ketidaksukaan. "Terserah kamu, Jinhwa. Tapi Ibu tidak mau dengar ada isu tidak mengenakkan di media."

Sore hari di apartemen, Junhwan membanting ponsel ke sofa. "Dasar orang-orang bodoh. Tidak ada gunanya dibayar mahal-mahal."

Notifikasi masuk. Ia meraih ponselnya.

Junhwan, ayahmu mengadakan jumpa pers. dari Yubin.

Junhwan langsung menyalakan televisi. Di layar, Jinhwa berdiri di depan awak media dengan wajah penuh penyesalan yang dipoles sempurna.

"Saya sangat merasa bersalah atas tindakan putra saya yang tidak bertanggung jawab. Saya pastikan dia akan mendapatkan hukuman yang setimpal."

"Apakah tidak ada pembelaan dari pihak keluarga Kim?" tanya salah satu wartawan.

"Sampai sekarang kami belum melakukan pembelaan apapun," jawab Jinhwa tenang, "karena video tersebut sudah banyak dikonfirmasi sebagai asli."

Junhwan mematikan televisi.

Ternyata ucapan Hunter benar, gumamnya pahit. Tidak ada gunanya aku berharap pada orang-orang itu.

Junhwan meraih jaket dan melangkah keluar apartemen. Begitu ia membuka pintu mobil, beberapa polisi langsung menahan tangannya keras.

"Anda ditahan, Tuan, atas tuduhan penyebaran konten dewasa."

"Lepaskan aku!" Junhwan meronta, kakinya menghentak lantai. "Aku tidak bersalah, ini jebakan!"

"Anda bisa jelaskan semuanya di kantor, Tuan Muda Kim." Polisi lain merapikan borgol di pergelangan tangannya dengan dingin.

Junhwan menarik napas panjang. Bahunya jatuh. Melawan tidak ada gunanya, ia tahu itu. Ia membiarkan dirinya digiring ke mobil, duduk dengan tubuh kaku dan rahang mengeras.

Di dalam mobil, Junhwan menunduk. Jemarinya mengepal di pangkuan.

Kau benar-benar menyedihkan, Ayah. Matanya terpejam sejenak. Menjadikan aku kambing hitam demi reputasimu sendiri.

Aku akan membalasnya. Suatu saat nanti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!