NovelToon NovelToon
Bloom In Rot

Bloom In Rot

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Psikopat / Enemy to Lovers / Dark Romance / CEO
Popularitas:779
Nilai: 5
Nama Author: Leel K

"Orang bilang cinta itu membebaskan. Tapi bagi kami, cinta adalah rantai. Dan aku tidak akan pernah melepaskannya."

Elara Vance telah kehilangan segalanya—keluarga, masa depan, dan harga diri. Dibuang oleh kerabatnya yang kaya raya, dia bertahan hidup di selokan kota, menolak untuk mati dalam diam. Hingga satu malam yang berdarah, takdir menyeretnya kembali ke hadapan Ciarán Vane.

Ciarán bukan pangeran penyelamat. Dia adalah raja bisnis yang dingin, kalkulatif, dan tak punya hati. Dia tidak menawarkan cinta; dia menawarkan kepemilikan. Dia membawa Elara masuk ke dalam sangkar emasnya, memberinya makan, dan membalut lukanya dengan sutra mahal.

Namun, Ciarán melakukan satu kesalahan perhitungan: dia mengira dia memelihara seekor domba yang lemah.

Ini bukan kisah tentang penyembuhan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa rusak yang memutuskan bahwa neraka terasa lebih nyaman jika dinikmati berdua.

Mereka busuk. Mereka hancur. Dan mereka sempurna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lapar Tengah Malam

Lapar itu memiliki suara.

Bukan suara keroncongan perut yang lucu seperti di film kartun. Lapar yang sebenarnya, lapar yang sudah mendarah daging selama bertahun-tahun, memiliki suara berdenging tinggi di telinga, seolah ada serangga yang terperangkap di dalam kepalamu.

Lapar itu juga memiliki rasa. Rasanya seperti asam lambung yang naik membakar kerongkongan, disertai kram tajam yang memelintir usus seolah-olah organ dalammu sedang memakan dirinya sendiri karena tidak ada lagi yang bisa dicerna.

Jam dinding antik di kamar mewah ini berdetak lembut. Tik. Tok. Tik. Tok.

Jarum pendek menunjuk angka dua. Pukul dua pagi.

Aku berbaring melingkar di atas kasur sutra yang empuk, memeluk lututku erat-erat ke dada, mencoba menekan rasa sakit di perutku.

Tadi malam, di meja makan neraka itu, aku tidak makan satu suap pun.

Setelah insiden garpu jatuh dan komentar kejam Isabella, tenggorokanku menutup rapat. Rasa malu telah menyumbat saluran cernaku. Aku hanya duduk di sana mematung, menatap potongan daging steak di piringku menjadi dingin dan lemaknya membeku, sementara orang-orang di sekitarku makan dengan lahap.

Sekarang, tubuhku menagih hutangnya.

Aku mencoba memejamkan mata, memaksa diriku tidur. Besok pagi ada sarapan, bisikku pada diri sendiri. Tahan lima jam lagi.

Tapi tubuhku tidak mau mendengar logika. Tubuhku panik. Trauma masa lalu mengambil alih. Bagi tubuhku yang terbiasa kelaparan, "nanti" itu tidak ada jaminannya. "Nanti" bisa berarti dua hari lagi. "Nanti" bisa berarti tidak sama sekali.

Keringat dingin mulai membasahi dahiku. Tanganku gemetar. Gula darahku anjlok drastis.

Aku tidak bisa bertahan.

Aku melempar selimut tebal itu ke samping. Aku duduk di tepi tempat tidur, napasku memburu di ruangan yang hening.

Aku harus makan. Apa saja. Roti kering, kulit apel, sisa makanan di tempat sampah dapur... aku tidak peduli. Insting bertahan hidupku lebih kuat daripada rasa takutku.

Perlahan, aku berdiri. Kakiku yang terkilir masih sakit, tapi adrenalin membuatnya terasa tumpul.

Aku berjalan menuju pintu kamar. Lantai karpet meredam langkahku. Tanganku menyentuh gagang pintu emas yang dingin. Aku memutarnya dengan gerakan sangat lambat, menahan napas, takut engselnya akan berderit dan membangunkan seisi rumah.

Klik.

Pintu terbuka tanpa suara.

Lorong di luar gelap gulita. Hanya ada cahaya bulan pucat yang masuk dari jendela-jendela tinggi di ujung koridor, menciptakan bayangan panjang yang menakutkan di lantai. Lukisan-lukisan leluhur Vane di dinding tampak seperti hantu yang mengawasi dalam kegelapan.

Mansion ini sunyi senyap. Kesunyiannya berbeda dengan panti asuhan. Di panti, sunyi berarti kosong. Di sini, sunyi terasa berat, seolah-olah rumah ini sendiri sedang menahan napas, mengawasi setiap gerakanku.

Aku melangkah keluar.

Jantungku berdegup kencang di telinga. Aku merasa seperti pencuri di rumahku sendiri—ah, ralat, ini bukan rumahku. Aku memang pencuri di sini. Pencuri yang akan mengendap-endap ke dapur untuk mengais sisa makanan tuannya.

Aku berjalan menyusuri dinding, menggunakan jari-jariku untuk meraba jalan dalam kegelapan, menuruni tangga marmer yang dingin dengan sangat hati-hati.

Setiap bayangan terlihat seperti monster. Setiap suara angin di luar jendela terdengar seperti langkah kaki Ciarán.

Tapi rasa sakit di perutku mendesakku maju. Ke dapur. Ke sumber kehidupan.

Aku menemukan dapur itu di sayap timur lantai satu, mengikuti aroma samar sisa makan malam.

Ketika aku mendorong pintu ayunnya, aku ternganga.

Ini bukan dapur. Ini adalah laboratorium kuliner. Ruangan itu didominasi oleh stainless steel yang berkilau dingin di bawah cahaya bulan. Ada meja island raksasa di tengah, kompor tanam enam tungku, dan peralatan masak tembaga yang tergantung rapi seperti senjata yang dipamerkan.

Lantai ubinnya dingin di bawah telapak kakiku yang telanjang. Aku berjingkat menuju benda terbesar di ruangan itu: sebuah kulkas dua pintu setinggi dua meter yang permukaannya seperti cermin.

Tanganku yang gemetar meraih gagangnya.

Sreeet. Pintu kulkas terbuka, segel karetnya terlepas dengan suara mendesis pelan.

Cahaya putih terang dari dalam kulkas langsung menyembur keluar, menyinari wajahku. Udara dingin menerpa kulitku, tapi pemandangan di dalamnya menghangatkan darahku.

Makanan.

Begitu banyak makanan.

Ada rak penuh dengan buah-buahan segar. Apel merah, anggur ungu, pir yang ranum. Ada keju blok besar, daging asap, sosis, dan wadah-wadah kaca berisi sisa makan malam. Ada sebotol susu segar yang masih penuh. Dan di rak pintu, ada selai berbagai rasa.

Air liurku menumpuk di mulut. Perutku meraung girang.

Aku tidak mengambil piring. Aku tidak mencari pisau. Logika beradabku sudah mati, digantikan oleh insting hewan pengerat.

Tanganku bergerak cepat, liar, dan rakus.

Aku menyambar sebungkus roti tawar gandum. Aku menyambar sebongkah keju cheddar. Aku menyambar dua butir apel.

Aku tidak memakannya di tempat. Di kepalaku, aku tidak punya hak untuk makan di sini. Aku harus membawanya pergi. Aku harus menyembunyikannya di liangku.

Dengan panik, aku menjejalkan makanan-makanan itu ke balik piyama sutraku.

Roti itu kuganjal di ketiak. Keju yang dingin menempel langsung di kulit perutku, membuatku menggigil, tapi aku tidak peduli. Apel-apel itu kumasukkan ke dalam saku celana piyama, membuat kain sutra halusnya menggembung aneh.

Aku terlihat konyol. Aku terlihat gila. Seorang wanita dewasa berbaju mahal, mencuri makanan seperti tikus got yang ketakutan.

Tapi rasa aman memiliki "stok" makanan ini memberiku kepuasan yang aneh. Ini milikku sekarang, pikirku. Mereka tidak bisa mengambilnya dariku jika aku menyembunyikannya.

Aku menutup pintu kulkas dengan sikuku karena tanganku penuh memegangi "harta karun" di balik baju. Cahaya surga itu padam, mengembalikan kegelapan dapur.

Aku berbalik cepat, berniat lari kembali ke kamar sebelum ada yang melihat.

Tapi langkahku terhenti.

Jantungku melompat ke tenggorokan.

1
marchang
lanjuttt thorr inii baguss banget
Leel K: Hehe, tenang... ini udah aku tamatin kok. Cuma lupa-lupa aja kapan mau up. Makasih ya, jangan lupa tinggalin like 😘
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!